Bismillahirrahmanirrahim
Ku mulai tulisan ini di awal perjumpaan fajarMu, shobahul khair..
Hanya sebuah renungan kecil bahkan teramat kecil tp bisa merubahku dlm segala hal, hebat bkn? Ya memang Allah terlalu hebat untuk semuanya, Dia adalah sutradara terbaik yg aku punya. Saking terbaiknya Allah sudah memberiku penjelasan bagaimana indahnya jln ukhuwah krnNya. Sebuah jln yg tak pernah sedikitpun terpikir oleh nalarku, bagaimana tdk? Allah menjadikanku wanita yg biasa menjadi wanita yg beruntung krn segala hidayahNya, semua hanya krn 1 hal. Yaitu TAKDIR Nya. DitunjukanNya ketika aku salah melangkah, melangkah dlm kemaksiatan. Allah menepukku, menegurku, dan menyadarkanku akan segala khilafku. Aku menangis! Ya aku menangisi dosa2ku, aku malu dgn Allah, malu dgn diri sendiri, malu dgn mereka yg tdk mempunyai apa2 tp mampu untuk selalu menjaga diri di hadapanMu ya Rabb, mampu untuk selalu istiqomah dijlnMu. Aku malas menghafal surat cinta dr Mu sementara aku sibuk bermain dgn waktu dunia dan memberiMu waktu sisa, tak akan terbayang bila sedetik berikutnya Engkau memanggilku. Aku malu ya Allahu, aku malu setelah aku memahami semuanya. Kini aku masi bisa merasakan nikmatnya segala cinta drMu pertanda hati ini blm buta untuk memahami, menghafal, dan mempelajari setiap baris ayat dlm kalamMu. betapa hebatnya Engkau mengatur segala kejadian demi kejadian. Memantaskan diri untuk segala hal terbaik, agar nanti Engkau memberiku segala yg pantas untukku..
Sabtu, 30 November 2013
Memahami Makna Kehidupan
Rasulullah menyebutkan "bahwa sesungguhnya kehidupan dunia tiada lain adalah bagaikan permainan dan senda gurau, di dalamnya penuh dengan perhiasan dan kesenangan yang serba menipu diri manusia". beliau juga sering memberikan hikmahnya, bahwa dunia adalah bagaikan ladang untuk kita menabur dan menanam benih-benih kebaikan yang nantinya akan kita petik pada saat-saat kita membutuhkan, yakni di kehidupan akhirat. bila kita tidak menyadari hakikat kehidupan dunia yang sebenarnya, maka secara tidak sadar kita bisa masuk dalam arus "permainan dan senda gurau". kita sering tidak menyadari dan melupakan bahwa benih-benih kebaikan amal yang kita perbuat dalam hidup, walaupun bentuknya kecil dan remeh, jika dilakukan dengan niat yang tulus serta dilandasi oleh kesadaran dan kearifan ternyata akan membuahkan hasil yang membawa kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat. belajar kehidupan terkadang lebih berhasil dengan menyimak dan melihat langsung perjalanan kehidupan itu sendiri.
Agar Bisa Menikmati Indahnya Jalan Dakwah
Engkau hanya memerlukan kesadaran, bahwa yang engkau lakukan seluruhnya dalam dakwah ini adalah untuk Allah.
Kerjamu untuk Allah.
Keringatmu untuk Allah. Waktu yang engkau habiskan untuk Allah. Harta yang engkau alokasikan dalam dakwah adalah untuk Allah. Pikiran yang engkau curahkan untuk Allah. Tenaga yang engkau sumbangkan untuk Allah. Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya, untuk Allah. Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, untuk Allah. Suaramu saat engkau menyampaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah. Mengawali dan mengakhiri rapat dan semua pertemuanmu, untuk Allah. Program kerja yang engkau tunaikan, untuk Allah. Berlelah-lelahmu untuk Allah. Berpagi-pagimu untuk Allah. Bermalam-malammu untuk Allah.
Engkau hanya memerlukan kesetiaan, bahwa segala yang engkau pikirkan adalah untuk Allah. . Segala yang engkau kerjakan adalah untuk Allah. Segala yang engkau rancang adalah untuk Allah. Segala yang engkau inginkan adalah ridha Allah.
Engkau tidak perlu memusingkan dirimu akan mendapatkan apa dalam jalan dakwah ini, karena itu urusan Allah. Engkau tidak perlu merisaukan posisimu seperti apa dalam organisasi dakwah karena telah diatur oleh Allah. Mungkin saja engkau mengetahui ada sebagian orang yang hasad kepadamu, kepada posisimu, kepada kedudukanmu, namun engkau telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Engkau tidak perlu menyimpan rasa iri dengki atas posisi, kedudukan, jabatan, dan harta benda yang dimiliki saudaramu di jalan dakwah, karena engkau lebih menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah. Engkau tidak perlu resah memikirkan omongan dan sikap orang kepadamu, selama engkau selalu bersandar kepada Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk berharap-harap jabatan, posisi, kedudukan, kekuasaan tertentu dalam perjalanan dakwah, karena telah dikelola oleh Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari-cari gemerlapnya pujian dalam mengemban amanah dakwah, karena segala puji hanyalah milik Allah.
Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu membawa kesadaran Rabbaniyah dalam segala langkah. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu mengingat Allah dalam segala kegiatan. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk memberikan kontribusi terbaik di jalan dakwah, dengan segala potensi dan kemampuan yang engkau miliki, karena Allah. Engkau hanya perlu menyadari bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah. Bukan pada jabatan, posisi, kedudukan, harta dan materi duniawi. Engkau hanya perlu memupuk dan menguatkan kecintaan kepada Allah, karena pada sisi Allah terdapat segala kekuatan dan kesempurnaan. Tidak ada orang terhina selama dia mendekat kepada Allah. Tidak ada orang mulia dalam menjauhi Allah.
Maka resapilah setiap saat, betapa nikmat berada di jalan dakwah ini. Karena proposalmu adalah kepada Allah, bukan kepada manusia. Proposalmu adalah kerja di jalanNya, bukan untuk posisi dunia. Selamat menempuh jalan dakwah..
Kerjamu untuk Allah.
Keringatmu untuk Allah. Waktu yang engkau habiskan untuk Allah. Harta yang engkau alokasikan dalam dakwah adalah untuk Allah. Pikiran yang engkau curahkan untuk Allah. Tenaga yang engkau sumbangkan untuk Allah. Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya, untuk Allah. Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, untuk Allah. Suaramu saat engkau menyampaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah. Mengawali dan mengakhiri rapat dan semua pertemuanmu, untuk Allah. Program kerja yang engkau tunaikan, untuk Allah. Berlelah-lelahmu untuk Allah. Berpagi-pagimu untuk Allah. Bermalam-malammu untuk Allah.
Engkau hanya memerlukan kesetiaan, bahwa segala yang engkau pikirkan adalah untuk Allah. . Segala yang engkau kerjakan adalah untuk Allah. Segala yang engkau rancang adalah untuk Allah. Segala yang engkau inginkan adalah ridha Allah.
Engkau tidak perlu memusingkan dirimu akan mendapatkan apa dalam jalan dakwah ini, karena itu urusan Allah. Engkau tidak perlu merisaukan posisimu seperti apa dalam organisasi dakwah karena telah diatur oleh Allah. Mungkin saja engkau mengetahui ada sebagian orang yang hasad kepadamu, kepada posisimu, kepada kedudukanmu, namun engkau telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Engkau tidak perlu menyimpan rasa iri dengki atas posisi, kedudukan, jabatan, dan harta benda yang dimiliki saudaramu di jalan dakwah, karena engkau lebih menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah. Engkau tidak perlu resah memikirkan omongan dan sikap orang kepadamu, selama engkau selalu bersandar kepada Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk berharap-harap jabatan, posisi, kedudukan, kekuasaan tertentu dalam perjalanan dakwah, karena telah dikelola oleh Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari-cari gemerlapnya pujian dalam mengemban amanah dakwah, karena segala puji hanyalah milik Allah.
Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu membawa kesadaran Rabbaniyah dalam segala langkah. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu mengingat Allah dalam segala kegiatan. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk memberikan kontribusi terbaik di jalan dakwah, dengan segala potensi dan kemampuan yang engkau miliki, karena Allah. Engkau hanya perlu menyadari bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah. Bukan pada jabatan, posisi, kedudukan, harta dan materi duniawi. Engkau hanya perlu memupuk dan menguatkan kecintaan kepada Allah, karena pada sisi Allah terdapat segala kekuatan dan kesempurnaan. Tidak ada orang terhina selama dia mendekat kepada Allah. Tidak ada orang mulia dalam menjauhi Allah.
Maka resapilah setiap saat, betapa nikmat berada di jalan dakwah ini. Karena proposalmu adalah kepada Allah, bukan kepada manusia. Proposalmu adalah kerja di jalanNya, bukan untuk posisi dunia. Selamat menempuh jalan dakwah..
Haruskah Pernikahan Didasari Rasa Cinta?
“Namaku Mariani, orang-orang biasa memangilku Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum lengkang dalam benakku.Sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya, sebab aku sendiri menyangka bahwa di dunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.
Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya. Kak Arfan adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu.Usia kami terpaut 4 Tahun. Yang aku tahu bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa.
Aku merasa risih sendiri dengan Kak Arfan apabila berpapasan dijalan, sebab sopan santunya sepertinya terlalu berlebihan pada orang-orang. Geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget gelagatnya…, Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun Kak Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yaah, pasti kalau dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan di mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah sekali mencari Kak Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota Gorontalo.
Kak Arfan sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah.Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan.Secara fisik memang Kak Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan.
Sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa.Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah sosok yang tidak istimewa.Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampunga banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada.
Selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah riang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke biosokop kek, ngumpul bareng teman-teman kek stiap malam minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam kamisnya. Apalagi setiap malam kamis dan malam minggunya ada acara curhat kisah yang TOP banget disebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio Herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, akupun demikian.Aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby.Masa-masa indah kulewati bersama Boby.Indah kurasakan dunia remajaku saat itu.Kedua orang tua Boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami.Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal.Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak Arfan lewat pamanku.
Orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan itu. Mendengar penuturan mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kenca ngnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya Kak Arfan. dan dengan terang- terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby. Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh tersungkur kelantai.
Akupun tak menduga kalau sikapku yang egois itu akan membuat mama shock. Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya Kak Arfan.Hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu.Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku Boby.Hatiku sedih saat itu.
Dengan berat hati dan penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumapaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan kesedihanku.Meskipun kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus merelakan aku menikah dengan Kak Arfan.Karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun digelar.Aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku.
Air mataku tumpah di malam resepsi pernikahan itu.Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa.Karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan yang paling membuatku tak bias menahan air mataku, mantan kekasihku boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut.
Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap.Hingga usailah acara resepsi pernikahan kami.Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami.Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya.
Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku.Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur. Tiba-tiba di sepertiga malam, aku tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku.Dadaku berdegup kencang.Aku hampir saja berteriak histeris, andai saja saat itu tak kudengar serua takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu.
Perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingku itu adalah Kak Arfan suamiku yang sedang sholat tahajud.Perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat tahajud.Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan.Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku.Saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun kembali teridur.Hingga pukul 04.00 dini hari, kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah dibawah ranjang pengantin kami.Dadaku kembali berdetak kencang kala mendapatinya.Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami.Tapi ada sebuah pertanyaaan terbetik dalam benakku.
Mengapa dia tidak tidur di ranjang bersamaku.Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati. Hari-hari terus berlalu.Kami pun mejalani aktifitas kami masing-masing, Kak Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya.Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku.
Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan kami.Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar kami.Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku.Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu mafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhan.
Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali mengungkit- ungukitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu kamar, Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyetuhku. Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki normal?kenapa dia begitu dingin padaku? apakah aku kurang di matanya? atau? pendengar, jujur merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Ada apa dengan suamiku? bukankah dia adalah pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah kewajibannya? ada apa dengannya? padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan di mesjid.
Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya.Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar dan berkata-kata keras padaku.Bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku.Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah batinku.Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan- lahan melupakan masa laluku bersama Boby.Aku bahkan mulai merindukannya tatkala dia sedang tidak dirumah.
Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i.Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar.Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarnah hitam dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz.
Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya.Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun.Kukenakan busana itu agar diatahu bahwa aku mulai menganggapnya istimewa.Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti.Kadang ceramah-ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekan di rumah.Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya.Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku.Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat tahajud.Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit.Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya.
Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..Malam itu aku tidur dalam kegelisahan.Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak.Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas.Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya.
Ingin sekali aku merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar mengompresnya.Tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya.Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya. Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? kenapa ada di bawah? nanti kau kedinginan? ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu.Dadaku sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan teriakan.
Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung juga. ”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? kau bahkan tak pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? bukankah aku ini istrimu? bukankah aku telah halal buatmu? lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? apa artinya diriku bagimu kak? apa artinya aku bagimu kak? kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar kami.
Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku: ”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu.Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri.Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak?kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kaka selama ini begitu dingin padamu.
Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakk kabarkan padamu malam ini.Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?" ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup.“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini pada saya?tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur?dan apa pekerjaan seorang pelacur? afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak.
Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek. Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu.
Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kaka melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah mermpas kebahagiaanmu.Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa.Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan.Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu.
Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak? Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku.Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kaka.Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu.Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i.Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata.Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.”Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku.
Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku.Aku bahkan telah melupakan Boby.Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia.Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Arfan mendatangiku sebagai seorang suami.Hari-hari kami lalui dengan bahagia.Kak arfan begitu sangat kharismatik.Terkadang dia seperti seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua.Darinya aku banyak belajar banyak hal.Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku.Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua.Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama.
Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua. Di akhir tahun 2008, Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang.Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut.
Aku sangat kehilangannya.Aku seperti kehilangan penopang hidupku.Aku kehilangan kekasihku.Aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku.Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku: “Dek..pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik.Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat.Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia. Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu.Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak .
Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya Allah kakak akan senantiasa menantimu..”Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan meninggalkan dunia ini.Hatiku sangat sedih saat itu.Aku merasa sangat kehilangan.Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik.Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, aamiin.
Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya. Kak Arfan adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu.Usia kami terpaut 4 Tahun. Yang aku tahu bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa.
Aku merasa risih sendiri dengan Kak Arfan apabila berpapasan dijalan, sebab sopan santunya sepertinya terlalu berlebihan pada orang-orang. Geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget gelagatnya…, Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun Kak Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yaah, pasti kalau dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan di mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah sekali mencari Kak Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota Gorontalo.
Kak Arfan sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah.Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan.Secara fisik memang Kak Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan.
Sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa.Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah sosok yang tidak istimewa.Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampunga banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada.
Selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah riang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke biosokop kek, ngumpul bareng teman-teman kek stiap malam minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam kamisnya. Apalagi setiap malam kamis dan malam minggunya ada acara curhat kisah yang TOP banget disebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio Herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, akupun demikian.Aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby.Masa-masa indah kulewati bersama Boby.Indah kurasakan dunia remajaku saat itu.Kedua orang tua Boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami.Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal.Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak Arfan lewat pamanku.
Orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan itu. Mendengar penuturan mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kenca ngnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya Kak Arfan. dan dengan terang- terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby. Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh tersungkur kelantai.
Akupun tak menduga kalau sikapku yang egois itu akan membuat mama shock. Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya Kak Arfan.Hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu.Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku Boby.Hatiku sedih saat itu.
Dengan berat hati dan penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumapaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan kesedihanku.Meskipun kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus merelakan aku menikah dengan Kak Arfan.Karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun digelar.Aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku.
Air mataku tumpah di malam resepsi pernikahan itu.Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa.Karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan yang paling membuatku tak bias menahan air mataku, mantan kekasihku boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut.
Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap.Hingga usailah acara resepsi pernikahan kami.Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami.Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya.
Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku.Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur. Tiba-tiba di sepertiga malam, aku tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku.Dadaku berdegup kencang.Aku hampir saja berteriak histeris, andai saja saat itu tak kudengar serua takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu.
Perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingku itu adalah Kak Arfan suamiku yang sedang sholat tahajud.Perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat tahajud.Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan.Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku.Saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun kembali teridur.Hingga pukul 04.00 dini hari, kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah dibawah ranjang pengantin kami.Dadaku kembali berdetak kencang kala mendapatinya.Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami.Tapi ada sebuah pertanyaaan terbetik dalam benakku.
Mengapa dia tidak tidur di ranjang bersamaku.Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati. Hari-hari terus berlalu.Kami pun mejalani aktifitas kami masing-masing, Kak Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya.Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku.
Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan kami.Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar kami.Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku.Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu mafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhan.
Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali mengungkit- ungukitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu kamar, Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyetuhku. Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki normal?kenapa dia begitu dingin padaku? apakah aku kurang di matanya? atau? pendengar, jujur merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Ada apa dengan suamiku? bukankah dia adalah pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah kewajibannya? ada apa dengannya? padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan di mesjid.
Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya.Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar dan berkata-kata keras padaku.Bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku.Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah batinku.Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan- lahan melupakan masa laluku bersama Boby.Aku bahkan mulai merindukannya tatkala dia sedang tidak dirumah.
Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i.Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar.Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarnah hitam dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz.
Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya.Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun.Kukenakan busana itu agar diatahu bahwa aku mulai menganggapnya istimewa.Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti.Kadang ceramah-ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekan di rumah.Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya.Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku.Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat tahajud.Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit.Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya.
Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..Malam itu aku tidur dalam kegelisahan.Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak.Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas.Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya.
Ingin sekali aku merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar mengompresnya.Tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya.Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya. Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? kenapa ada di bawah? nanti kau kedinginan? ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu.Dadaku sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan teriakan.
Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung juga. ”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? kau bahkan tak pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? bukankah aku ini istrimu? bukankah aku telah halal buatmu? lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? apa artinya diriku bagimu kak? apa artinya aku bagimu kak? kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar kami.
Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku: ”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu.Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri.Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak?kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kaka selama ini begitu dingin padamu.
Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakk kabarkan padamu malam ini.Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?" ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup.“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini pada saya?tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur?dan apa pekerjaan seorang pelacur? afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak.
Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek. Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu.
Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kaka melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah mermpas kebahagiaanmu.Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa.Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan.Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu.
Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak? Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku.Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kaka.Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu.Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i.Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata.Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.”Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku.
Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku.Aku bahkan telah melupakan Boby.Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia.Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Arfan mendatangiku sebagai seorang suami.Hari-hari kami lalui dengan bahagia.Kak arfan begitu sangat kharismatik.Terkadang dia seperti seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua.Darinya aku banyak belajar banyak hal.Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku.Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua.Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama.
Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua. Di akhir tahun 2008, Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang.Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut.
Aku sangat kehilangannya.Aku seperti kehilangan penopang hidupku.Aku kehilangan kekasihku.Aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku.Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku: “Dek..pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik.Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat.Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia. Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu.Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak .
Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya Allah kakak akan senantiasa menantimu..”Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan meninggalkan dunia ini.Hatiku sangat sedih saat itu.Aku merasa sangat kehilangan.Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik.Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, aamiin.
Kamis, 07 November 2013
Menyemai Cinta Dari Palestina
Sinar bulan purnama turut menemani indahnya malamku yang terasa begitu sunyi. Kulirikkan mata ini pada indahnya maha karya sang penguasa alam. Ingatanku kembali merayap kemasa-masa indahku di Jogja. Bersama sanak saudaraku disana. Namun kini aku sendiri di Jakarta, tempatku mencari ilmu dan sekaligus untuk berdakwah serta menjadi seorang musafir yang ingin mencari sebuah jati diri.
Dengan ditemani secangkir coklat hangat dan beberapa bungkus cemilan, kumainkan jari jemariku diatas laptopku. Ku jelajahi dunia internet yang terkenal begitu luas. Setelah mendapatkan informasi, aku terfikir untuk membuka facebookku yang bernama “ Ukhty Riana Anggraini“ yang sudah hampir tiga minggu tidak ku update. Setelah menanggapi beberapa permintaan pertemanan, aku membuka sebuah pesan dari seorang akhwat.“Assalamu’alaykum.wr.wb. ini Ukhty Riana Anggraini kan?”
Kebetulan dia sedang online juga, aku pun mereply pesan darinya.“Wa’alaykumsalam, warahmatullahh. . , na’am ukh, ana Riana.”
Kemudian ia membalas“begini ukh, ana ingin ikut jadi relawan palestina, ukhty panitia para akhwatkan?”“na’am ukh, Alhamdulillah nambah satu mujahidah lagi nih”“ afwan ukh, masmuki?”“oh iya, ana Dina Alfath ukh, ana min Jakarta syarqiyyah”“jazakallahhu khayran katsiir ya ukh atas partisipasinya, ruuhul jihad ukh!. untuk lebih lanjutnya, nanti ana kerumah anty, ini no ana, 0852468664xx, sms alamatnya ya. assalamu’alaykum”“wa’alaykumsalam”
Memoriku kembali berputar menuju sebuah penindasan penindasan yang pernah kulihat pada saudara saudaraku. Saudara saudariku yang tengah menghadapi para zionis terlaknat dan biadab.“Negeri para nabi, tempat para rasulKini tlah berubah jadi kuburYahudi, kau terlaknat!”Para zionis biadab yang telah membuat anak anak kehilangn sanak saudaranya. Dan kini menjadi yatim dan piatu. Kini ragaku tengah terpatri untuk membantu mereka. Kalaupun aku harus syahid, aku ikhlas. Karena jiwaku benar benar perih melihat pedihnya penderiataan saudara saudaraku di Palestina,“pokoknya, Palestine will be free” gumamku dalam hati.
Dengan ditemani kesibukanku sebagai seorang dokter dan mengasuh sebuah panti asuhan, waktu seakan begitu cepat. Tiga hari lagi aku akan berangkat ke sebuah negeri yang sangat membutuhkan sebuah bantuan.
Surat cuti selama dua minggu telah ku ajukan pada rumah sakit yang sebenarnya adalah rumah sakit milik Ayahku yang kini diurus oleh Mas Rian, kakak kandungku. Dan kini aku tinggal meminta do’a restu pada kedua orang tuaku.“Aby, Umy, Insya Allah tiga hari lagi Riana berangkat. Mohon do’anya ya by, my.”“ iya anakku, insya Allah aby sama umy sudah merestuimu. Semoga Allah menjagamu dan teman-temanmu ya. Jangan lupa shalat dan berdo’alah padanya, semoga langkah kalian semua dipermudah!”“aamiin, syukran ya by. Assalamu’alaykum warahmatullahh. . ’“Wa’alaykumsalam warahmatullahh. . . ”Dari perbincanganku dengan aby dan umy, aku tahu bahwa ada sebuah kekhawatiran disana. Kekhawatiran pada seorang anak “gadis” semata wayangnya.
Setelah persiapan selesai, aku berangkat menuju bandara bersama teman-temanku yang semenjak kemarin menginap dirumahku. Dengan menggunakan taksi hampir selama 45 menit, akhirnya kami tiba dibandara.“afwan kami agak terlambat, jalanan agak macet.” Ucapku.“tak apa.” Jawab seseorang dengan singkat dan tenang.Entah mengapa, perasaanku tak karuan mendengar suara itu. Suara yang sepertinya telah lama tidak kudengar.
Pesawat kami mengudara tepat pada pukul tiga siang. Sungguh betapa indahnya maha karyaNya yang begitu sempurna. Yang takkan pernah tertandingi oleh siapapun, bahkan oleh seorang professor dan manusia terjenius sekalipun.Temanku Airin nampak tertidur setelah beberapa lama ia mendengarkan murattal dari mp3 playernya. Hanya aku dan beberapa orang yang saja yang masih tak terbuai dalam sebuah mimpi. Karena kali ini aku sengaja membawa novel favoritku “ Diorama Sepasang Albanna”, yang telah kubaca berulang-ulang kali. Sebuah buku yang kurasa begitu kompleks, dan tak pernah bosan untuk dibaca. Dengannya, kunikmati perjalanan yang tenang dalam dendangan pesawat yang menabrak awan.
Setelah beberapa jam, akhirnya pesawat kami mendarat. Para rombongan pun segera menuju sebuah bus yang akan membawa kami menuju posko untuk para relawan. Sesampainya diposko, ritual pun dimulai dengan mandi bergantian. Selepas mandi, kami shalat berjamaah disebuah mesjid dekat posko.“Subhanallah, indah sekali ya ukh lantunan ayat dari imam tadi.” Ucap Ratih.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk, tanda setuju.“tapiii, kayanya ana kenal suara itu loh ukh.” Timpal Rena sembari mengingat-ingat.“aha, ana tau itu suara siapa.” Ucapnya lagi.“siapa ukh?” Tanya Ratih.“Akhy Rasyiid!” jawabnya.“ohhh” sahutku dan Ratih beriringan.Sehabis shalat, kamipun tertidur dengan lelapnya.
Pagi yang cerah nan sejuk dinaungan bumi Palestina. Namun tiba-tiba terdengar ledakan keras dari arah luar mesjid. Kami yang telah menunaikan shalat subuh berjamaah berlarian menuju keluar mesjid.“Mungkin ini sudah waktunya, bismillahh” gumamku sembari berlari menuju seorang anak kecil yang terkapar ditanah. Aku menggendongnya menuju posko pengobatan. Seorang anak laki-laki yang menggunakan baju koko dan peci. Dari pakaiannya, aku tahu bahwa ia baru selesai shalat bersama kami. Ia menangis dan mencoba menahan rasa sakit akibat terkena ledakan. Kakinya berlumuran darah dan kemungkinan ia. . . akan kehilangan kakinya.
Aku mengobatinya dengan hati-hati, karena aku tahu ia sedang kesakitan.“Masya Allah, kasihan sekali anak ini.” lirihku.Kakinya diamputasi setelah dilakukan operasi selama hampir tiga jam. Dan kini, kaki kananya telah hilang tak berbekas.“Ya Rabbi, kuatkan ia.” Do’aku.****
Satu jam kemudian, ia siuman dan mulai membuka matanya secara perlahan. Aku segera mendekatinya dan kuberi salam padanya.“Assalamu’alaykum warahmatullahhi wabarakaatuh.”“wa’alaykum. . . salllam warahma. . tullahh..i wabarakaatuh” sahutnya dengan terbata-bata.
Untuk beberapa saat, ia terdiam dengan sesekali melihatku.“maa haazha mustasfha?” tanyanya“Na’am, haazha mustasfha!” sahutku.Ia terdiam dan sesekali memperhatikanku yang tepat berdiri disampingnya. Kemudian ia bercerita tentang keluarga, teman-temannya, dan banyak hal. Dengan cepat kami akrab bagaikan sepasang saudara. Darinya, aku tahu bahwa ia telah kehilangan sanak saudaranya. Dari ayah, ibu, kemudian adiknya yang bernama Aisyah. Bahkan hampir saja kuteteskan air mataku dihadapannya. Tapi aku tak tega menangis dihadapannya hingga akhirnya kutahan air mata ini agar tetap terjaga diperaduannya.
Setelah ia selesai bercerita, aku menawarinya untuk makan siang.“ Anta jai’?” tanyaku dengan tersenyum padanya.Ia tersenyum dan mengangguk. Akupun menyuapinya hingga akhirnya ia tertidur dalam dekapanku.
Tanpa setahu Riana, ada seseorang yang sedang memperhatikannya dibalik dinding yang cukup transparan. Sesosok manusia itu adalah seorang ikhwan tampan yang bernama Rasyid Fikri. Seseorang yang semenjak di LDk dulu mengagumi sepak terjang Riana. Namun ia tak pernah mempunyai kesempatan untuk mengatakan maksud hatinya pada murabbi Riana. Karena begitu sibuknya ia dalam memimpin LDK sekaligus kuliah dan bekerja. Hingga akhirnya ia diwisuda dan lulus kuliah.Hari demi haripun berlalu hingga akhirnya tepat satu tahun semenjak ia tak pernah melihat Riana lagi. Ia berjumpa kembali dengan Riana di Rumah sakit, tempat Ibunya dirawat karena penyakit diabetesnya dan Rianalah yang merawat Ibunya. Bahkan Ibunya menyukai sosok dokter muslimah seperti Riana. Yang begitu anggun dengan jilbab besarnya. Ujung-ujungnya, ia kembali meminta Rasyid untuk segera menikah dan mencari isteri seperti Riana.“Rasyid, Ibumu ini sudah tua dan sakit-sakitan, Bapakmu sudah nda ada, usahamu sudah punya banyak cabang, adikmu sudah hampir lulus kuliahnya. Umurmu juga sudah 28 tahun, sudah waktunya untuk melengkapi separuh agamamu…” jelas ibunya.Rasyid hanya terdiam dan merenungi apa yang dikatakan Ibunya.####
Tanpa terasa, sudah tiga hari Riana dan teman-temannya di Palestina. Riana semakin akrab dengan masyarakat disana yang sungguh ramah. Ia membantu mengobati para korban yang terluka, ia mengajak anak-anak bermain, dan mengajari mereka tentang banyak hal. Namun tiba-tiba terdengar ledakan yang semakin lama semakin terdengar mendekat. Dengan sigap, ia membawa anak-anak itu menuju tempat berlindung dengan menggendong dan menggandeng tangan mereka satu persatu. Mereka menangis dan sesekali menyemarakkan kalimah Allah. Namun tanpa sepengetahuan Riana, ada seorang pria berkaos hitam dan bertopeng mengintainya dari kejauhan dengan sesekali berjalan mendekatinya. Dan tiba-tiba. . .“dorrr!!”Terdengar bunyi tembakkan dengan keras dari belakang yang beriringan dengan teriakan Airin. .“ka Riana. . .awas!!”Riana terjatuh dan seorang anak dalam dekapannya menangis. Tembakkan itu tepat mengenai kaki kanannya yang berusaha berlari menuju tempat untuk melindungi anak-anak yang ketakutan.
Melihat Riana terjatuh, Airin segera meminta pertolongan dari teman-temannya. kemudian datanglah Erna, Nadia, Aisyah dan Rina. Mereka membawanya kesebuah tenda khusus untuk mengobati korban yang terluka. Darah segar terus menetes dari kakinya sedangkan ia tak sadarkan diri untuk beberapa saat. Hingga beberapa jam kemudian, akhirnya Riana siuman. Dengan perlahan-lahan ia buka matanya yang telah beberapa jam tak terbuka.“afwan ya ukhty kalau ana merepotkan antum” ucapnya pelan.“gak papa ko ukh, gimana keadaan ukhty?” jawab Nadia dengan lembut.“Alhamdulillah sudah enakan ko, insya Allah ana sudah gak papa.” Jawab Riana.“ya sudah, anty istirahat saja dulu. Semoga cepat sembuh ya ukhty.” Do’a teman-temannya.“aamiin” ucap mereka serentak.****
Lima hari kemudian, Riana dan relawan lain kembali menuju Indonesia. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba dibandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Para keluarga mereka juga telah menunggu kedatangan mereka disana. Dengan sedikit tertatih, Riana menuju kedua orang tuanya yang telah menunggunya. Terlihat gurat-gurat kerinduan dan kekhawatiran disana.“Masya Allah Na, kakimu kenapa to nduk?” Tanya Ibunya, khawatir.“Kaki Riana gak kenapa-napa ko umy, Cuma sakit sedikit saja.” Jawabnya dengan tersenyum dan mengajak kedua orang tuanya untuk segera menuju restoran.
Sesampainya direstoran, tanpa sengaja mereka bertemu dengan teman lama Ibunya.“Hai jeng, ngapain disini?” ucap seorang Ibu-ibu dengan seorang anak kecil disampingnya.“ini, habis jemput Riana.” Jawab Ibunya, seadanya.“oh..ini Riana….? Yang seumuran sama anak saya Lisa kan?” Tebak Ibu itu.“iya.” Sahut Ibu Riana dengan tersenyum.“loh, suaminya ko gak jemput?” Tanya Ibu itu lebih detail.“anak saya belum menikah Ci, ini cucumu ya? Putrinya Lisa?”“belum nikah jeng? Umurnya sudah 26 to? Wah bisa-bisa gak…”“Bu, makanannya keburu dingin tuh. Ayo dimakan dulu.” Ucap Riana, mencoba mendinginkan suasana.
Seminggu setelah kepulangan Riana dari Palestina, budenya datang kerumahnya.“to the point aja ya Na, sebenarnya bude kesini untuk mengantarkan berkas ta’aruf untukmu.”“ha? Si…siapa bude?” koment Riana dengan tergagap.
Karena ia hampir tak percaya mendengar ucapan yang baru saja disampaikan padanya.“Namanya Rasyid Fikri Na, dua hari yang lalu dia meminta tolong pada Pamanmu untuk mencarikannya calon isteri. Setelah Pamanmu bilang bahwa kami memiliki keponakan yang belum menikah dan kami berikan berkas ta’arufmu, dia langsung menyetujuinya Na.” jelas budenya.“a..apa? Rasyid Fikri?” Tanya Riana, tergagap.“iya, insya Allah dia adalah lelaki yang baik, sopan, bertanggung jawab, mapan, dan insya Allah sholeh..” jelas Budenya lagi.“Insya Allah..Riana mau bude.. !” ucapnya, mantap.
Riana terkejut melihat siapa yang berada dibalik pintu yang ia buka.“wa’alaykumsalam warahmatullaahh.. silahkan masuk. Saya panggil Bapak sama Ibu dulu ya Pak, Bu. Silahkan duduk dulu..” pintanyaRiana hanya terdiam dikamarnya dengan sesekali mendengarkan pembicaraan dua keluarga yang sedang merancang masa depannya.
Tiga minggu berlalu….
Akhirnya, hari yang telah ditunggu-tunggu telah menjemput Riana yang kini tengah berdebar-debar hatinya. Hatinya gelisah, rasa takut dan bahagia bercampur padu. Hingga tepat pukul 8 pagi, Rasyid dan keluarganya tiba dirumahnya. Acarapun dimulai setelah 15 menit kemudian. .“saya terima nikah dan kawinnya, Riana Anggraini binti Ahmad Yani dengan maskawin sebuah tasbih mutiara dan seperangkat alat shalat dibayar tunai!!” ucap Rasyid dengan lantang, mantap dan tenang.“bagaimana para saksi?”Tanya penghulu.“sah!!” ucap semua saksi.“barakallahhulakuma wa baraka’alaykuma bikhayr. . .” do’a penghulu yang menikahkan.
Riana menangis bahagia dikamarnya, mendengar sebuah perjanjian yang diucapkan oleh seorang laki-laki yang kini telah sah menjadi suaminya. Sebuah perjanjian yang dimana arsy-pun ikut berguncang karena beratnya perjanjian yang dibuat olehnya didepan Allah, dan dengan disaksikan para malaikat dan manusia, kini mereka telah sah menjadi sepasang suami isteri.Pohon-pohon menjadi saksi bisu pertautan cinta mereka. Sebuah cinta yang telah lama terpendam didasar hati yang teramat dalam. Tak ada satupun orang yang tahu selain mereka dan Allah tentunya. Kini, biarkan mereka menyemai benih-benih cintanya menjadi cinta yang sempurna karenaNya.
Dengan ditemani secangkir coklat hangat dan beberapa bungkus cemilan, kumainkan jari jemariku diatas laptopku. Ku jelajahi dunia internet yang terkenal begitu luas. Setelah mendapatkan informasi, aku terfikir untuk membuka facebookku yang bernama “ Ukhty Riana Anggraini“ yang sudah hampir tiga minggu tidak ku update. Setelah menanggapi beberapa permintaan pertemanan, aku membuka sebuah pesan dari seorang akhwat.“Assalamu’alaykum.wr.wb. ini Ukhty Riana Anggraini kan?”
Kebetulan dia sedang online juga, aku pun mereply pesan darinya.“Wa’alaykumsalam, warahmatullahh. . , na’am ukh, ana Riana.”
Kemudian ia membalas“begini ukh, ana ingin ikut jadi relawan palestina, ukhty panitia para akhwatkan?”“na’am ukh, Alhamdulillah nambah satu mujahidah lagi nih”“ afwan ukh, masmuki?”“oh iya, ana Dina Alfath ukh, ana min Jakarta syarqiyyah”“jazakallahhu khayran katsiir ya ukh atas partisipasinya, ruuhul jihad ukh!. untuk lebih lanjutnya, nanti ana kerumah anty, ini no ana, 0852468664xx, sms alamatnya ya. assalamu’alaykum”“wa’alaykumsalam”
Memoriku kembali berputar menuju sebuah penindasan penindasan yang pernah kulihat pada saudara saudaraku. Saudara saudariku yang tengah menghadapi para zionis terlaknat dan biadab.“Negeri para nabi, tempat para rasulKini tlah berubah jadi kuburYahudi, kau terlaknat!”Para zionis biadab yang telah membuat anak anak kehilangn sanak saudaranya. Dan kini menjadi yatim dan piatu. Kini ragaku tengah terpatri untuk membantu mereka. Kalaupun aku harus syahid, aku ikhlas. Karena jiwaku benar benar perih melihat pedihnya penderiataan saudara saudaraku di Palestina,“pokoknya, Palestine will be free” gumamku dalam hati.
Dengan ditemani kesibukanku sebagai seorang dokter dan mengasuh sebuah panti asuhan, waktu seakan begitu cepat. Tiga hari lagi aku akan berangkat ke sebuah negeri yang sangat membutuhkan sebuah bantuan.
Surat cuti selama dua minggu telah ku ajukan pada rumah sakit yang sebenarnya adalah rumah sakit milik Ayahku yang kini diurus oleh Mas Rian, kakak kandungku. Dan kini aku tinggal meminta do’a restu pada kedua orang tuaku.“Aby, Umy, Insya Allah tiga hari lagi Riana berangkat. Mohon do’anya ya by, my.”“ iya anakku, insya Allah aby sama umy sudah merestuimu. Semoga Allah menjagamu dan teman-temanmu ya. Jangan lupa shalat dan berdo’alah padanya, semoga langkah kalian semua dipermudah!”“aamiin, syukran ya by. Assalamu’alaykum warahmatullahh. . ’“Wa’alaykumsalam warahmatullahh. . . ”Dari perbincanganku dengan aby dan umy, aku tahu bahwa ada sebuah kekhawatiran disana. Kekhawatiran pada seorang anak “gadis” semata wayangnya.
Setelah persiapan selesai, aku berangkat menuju bandara bersama teman-temanku yang semenjak kemarin menginap dirumahku. Dengan menggunakan taksi hampir selama 45 menit, akhirnya kami tiba dibandara.“afwan kami agak terlambat, jalanan agak macet.” Ucapku.“tak apa.” Jawab seseorang dengan singkat dan tenang.Entah mengapa, perasaanku tak karuan mendengar suara itu. Suara yang sepertinya telah lama tidak kudengar.
Pesawat kami mengudara tepat pada pukul tiga siang. Sungguh betapa indahnya maha karyaNya yang begitu sempurna. Yang takkan pernah tertandingi oleh siapapun, bahkan oleh seorang professor dan manusia terjenius sekalipun.Temanku Airin nampak tertidur setelah beberapa lama ia mendengarkan murattal dari mp3 playernya. Hanya aku dan beberapa orang yang saja yang masih tak terbuai dalam sebuah mimpi. Karena kali ini aku sengaja membawa novel favoritku “ Diorama Sepasang Albanna”, yang telah kubaca berulang-ulang kali. Sebuah buku yang kurasa begitu kompleks, dan tak pernah bosan untuk dibaca. Dengannya, kunikmati perjalanan yang tenang dalam dendangan pesawat yang menabrak awan.
Setelah beberapa jam, akhirnya pesawat kami mendarat. Para rombongan pun segera menuju sebuah bus yang akan membawa kami menuju posko untuk para relawan. Sesampainya diposko, ritual pun dimulai dengan mandi bergantian. Selepas mandi, kami shalat berjamaah disebuah mesjid dekat posko.“Subhanallah, indah sekali ya ukh lantunan ayat dari imam tadi.” Ucap Ratih.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk, tanda setuju.“tapiii, kayanya ana kenal suara itu loh ukh.” Timpal Rena sembari mengingat-ingat.“aha, ana tau itu suara siapa.” Ucapnya lagi.“siapa ukh?” Tanya Ratih.“Akhy Rasyiid!” jawabnya.“ohhh” sahutku dan Ratih beriringan.Sehabis shalat, kamipun tertidur dengan lelapnya.
Pagi yang cerah nan sejuk dinaungan bumi Palestina. Namun tiba-tiba terdengar ledakan keras dari arah luar mesjid. Kami yang telah menunaikan shalat subuh berjamaah berlarian menuju keluar mesjid.“Mungkin ini sudah waktunya, bismillahh” gumamku sembari berlari menuju seorang anak kecil yang terkapar ditanah. Aku menggendongnya menuju posko pengobatan. Seorang anak laki-laki yang menggunakan baju koko dan peci. Dari pakaiannya, aku tahu bahwa ia baru selesai shalat bersama kami. Ia menangis dan mencoba menahan rasa sakit akibat terkena ledakan. Kakinya berlumuran darah dan kemungkinan ia. . . akan kehilangan kakinya.
Aku mengobatinya dengan hati-hati, karena aku tahu ia sedang kesakitan.“Masya Allah, kasihan sekali anak ini.” lirihku.Kakinya diamputasi setelah dilakukan operasi selama hampir tiga jam. Dan kini, kaki kananya telah hilang tak berbekas.“Ya Rabbi, kuatkan ia.” Do’aku.****
Satu jam kemudian, ia siuman dan mulai membuka matanya secara perlahan. Aku segera mendekatinya dan kuberi salam padanya.“Assalamu’alaykum warahmatullahhi wabarakaatuh.”“wa’alaykum. . . salllam warahma. . tullahh..i wabarakaatuh” sahutnya dengan terbata-bata.
Untuk beberapa saat, ia terdiam dengan sesekali melihatku.“maa haazha mustasfha?” tanyanya“Na’am, haazha mustasfha!” sahutku.Ia terdiam dan sesekali memperhatikanku yang tepat berdiri disampingnya. Kemudian ia bercerita tentang keluarga, teman-temannya, dan banyak hal. Dengan cepat kami akrab bagaikan sepasang saudara. Darinya, aku tahu bahwa ia telah kehilangan sanak saudaranya. Dari ayah, ibu, kemudian adiknya yang bernama Aisyah. Bahkan hampir saja kuteteskan air mataku dihadapannya. Tapi aku tak tega menangis dihadapannya hingga akhirnya kutahan air mata ini agar tetap terjaga diperaduannya.
Setelah ia selesai bercerita, aku menawarinya untuk makan siang.“ Anta jai’?” tanyaku dengan tersenyum padanya.Ia tersenyum dan mengangguk. Akupun menyuapinya hingga akhirnya ia tertidur dalam dekapanku.
Tanpa setahu Riana, ada seseorang yang sedang memperhatikannya dibalik dinding yang cukup transparan. Sesosok manusia itu adalah seorang ikhwan tampan yang bernama Rasyid Fikri. Seseorang yang semenjak di LDk dulu mengagumi sepak terjang Riana. Namun ia tak pernah mempunyai kesempatan untuk mengatakan maksud hatinya pada murabbi Riana. Karena begitu sibuknya ia dalam memimpin LDK sekaligus kuliah dan bekerja. Hingga akhirnya ia diwisuda dan lulus kuliah.Hari demi haripun berlalu hingga akhirnya tepat satu tahun semenjak ia tak pernah melihat Riana lagi. Ia berjumpa kembali dengan Riana di Rumah sakit, tempat Ibunya dirawat karena penyakit diabetesnya dan Rianalah yang merawat Ibunya. Bahkan Ibunya menyukai sosok dokter muslimah seperti Riana. Yang begitu anggun dengan jilbab besarnya. Ujung-ujungnya, ia kembali meminta Rasyid untuk segera menikah dan mencari isteri seperti Riana.“Rasyid, Ibumu ini sudah tua dan sakit-sakitan, Bapakmu sudah nda ada, usahamu sudah punya banyak cabang, adikmu sudah hampir lulus kuliahnya. Umurmu juga sudah 28 tahun, sudah waktunya untuk melengkapi separuh agamamu…” jelas ibunya.Rasyid hanya terdiam dan merenungi apa yang dikatakan Ibunya.####
Tanpa terasa, sudah tiga hari Riana dan teman-temannya di Palestina. Riana semakin akrab dengan masyarakat disana yang sungguh ramah. Ia membantu mengobati para korban yang terluka, ia mengajak anak-anak bermain, dan mengajari mereka tentang banyak hal. Namun tiba-tiba terdengar ledakan yang semakin lama semakin terdengar mendekat. Dengan sigap, ia membawa anak-anak itu menuju tempat berlindung dengan menggendong dan menggandeng tangan mereka satu persatu. Mereka menangis dan sesekali menyemarakkan kalimah Allah. Namun tanpa sepengetahuan Riana, ada seorang pria berkaos hitam dan bertopeng mengintainya dari kejauhan dengan sesekali berjalan mendekatinya. Dan tiba-tiba. . .“dorrr!!”Terdengar bunyi tembakkan dengan keras dari belakang yang beriringan dengan teriakan Airin. .“ka Riana. . .awas!!”Riana terjatuh dan seorang anak dalam dekapannya menangis. Tembakkan itu tepat mengenai kaki kanannya yang berusaha berlari menuju tempat untuk melindungi anak-anak yang ketakutan.
Melihat Riana terjatuh, Airin segera meminta pertolongan dari teman-temannya. kemudian datanglah Erna, Nadia, Aisyah dan Rina. Mereka membawanya kesebuah tenda khusus untuk mengobati korban yang terluka. Darah segar terus menetes dari kakinya sedangkan ia tak sadarkan diri untuk beberapa saat. Hingga beberapa jam kemudian, akhirnya Riana siuman. Dengan perlahan-lahan ia buka matanya yang telah beberapa jam tak terbuka.“afwan ya ukhty kalau ana merepotkan antum” ucapnya pelan.“gak papa ko ukh, gimana keadaan ukhty?” jawab Nadia dengan lembut.“Alhamdulillah sudah enakan ko, insya Allah ana sudah gak papa.” Jawab Riana.“ya sudah, anty istirahat saja dulu. Semoga cepat sembuh ya ukhty.” Do’a teman-temannya.“aamiin” ucap mereka serentak.****
Lima hari kemudian, Riana dan relawan lain kembali menuju Indonesia. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba dibandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Para keluarga mereka juga telah menunggu kedatangan mereka disana. Dengan sedikit tertatih, Riana menuju kedua orang tuanya yang telah menunggunya. Terlihat gurat-gurat kerinduan dan kekhawatiran disana.“Masya Allah Na, kakimu kenapa to nduk?” Tanya Ibunya, khawatir.“Kaki Riana gak kenapa-napa ko umy, Cuma sakit sedikit saja.” Jawabnya dengan tersenyum dan mengajak kedua orang tuanya untuk segera menuju restoran.
Sesampainya direstoran, tanpa sengaja mereka bertemu dengan teman lama Ibunya.“Hai jeng, ngapain disini?” ucap seorang Ibu-ibu dengan seorang anak kecil disampingnya.“ini, habis jemput Riana.” Jawab Ibunya, seadanya.“oh..ini Riana….? Yang seumuran sama anak saya Lisa kan?” Tebak Ibu itu.“iya.” Sahut Ibu Riana dengan tersenyum.“loh, suaminya ko gak jemput?” Tanya Ibu itu lebih detail.“anak saya belum menikah Ci, ini cucumu ya? Putrinya Lisa?”“belum nikah jeng? Umurnya sudah 26 to? Wah bisa-bisa gak…”“Bu, makanannya keburu dingin tuh. Ayo dimakan dulu.” Ucap Riana, mencoba mendinginkan suasana.
Seminggu setelah kepulangan Riana dari Palestina, budenya datang kerumahnya.“to the point aja ya Na, sebenarnya bude kesini untuk mengantarkan berkas ta’aruf untukmu.”“ha? Si…siapa bude?” koment Riana dengan tergagap.
Karena ia hampir tak percaya mendengar ucapan yang baru saja disampaikan padanya.“Namanya Rasyid Fikri Na, dua hari yang lalu dia meminta tolong pada Pamanmu untuk mencarikannya calon isteri. Setelah Pamanmu bilang bahwa kami memiliki keponakan yang belum menikah dan kami berikan berkas ta’arufmu, dia langsung menyetujuinya Na.” jelas budenya.“a..apa? Rasyid Fikri?” Tanya Riana, tergagap.“iya, insya Allah dia adalah lelaki yang baik, sopan, bertanggung jawab, mapan, dan insya Allah sholeh..” jelas Budenya lagi.“Insya Allah..Riana mau bude.. !” ucapnya, mantap.
Riana terkejut melihat siapa yang berada dibalik pintu yang ia buka.“wa’alaykumsalam warahmatullaahh.. silahkan masuk. Saya panggil Bapak sama Ibu dulu ya Pak, Bu. Silahkan duduk dulu..” pintanyaRiana hanya terdiam dikamarnya dengan sesekali mendengarkan pembicaraan dua keluarga yang sedang merancang masa depannya.
Tiga minggu berlalu….
Akhirnya, hari yang telah ditunggu-tunggu telah menjemput Riana yang kini tengah berdebar-debar hatinya. Hatinya gelisah, rasa takut dan bahagia bercampur padu. Hingga tepat pukul 8 pagi, Rasyid dan keluarganya tiba dirumahnya. Acarapun dimulai setelah 15 menit kemudian. .“saya terima nikah dan kawinnya, Riana Anggraini binti Ahmad Yani dengan maskawin sebuah tasbih mutiara dan seperangkat alat shalat dibayar tunai!!” ucap Rasyid dengan lantang, mantap dan tenang.“bagaimana para saksi?”Tanya penghulu.“sah!!” ucap semua saksi.“barakallahhulakuma wa baraka’alaykuma bikhayr. . .” do’a penghulu yang menikahkan.
Riana menangis bahagia dikamarnya, mendengar sebuah perjanjian yang diucapkan oleh seorang laki-laki yang kini telah sah menjadi suaminya. Sebuah perjanjian yang dimana arsy-pun ikut berguncang karena beratnya perjanjian yang dibuat olehnya didepan Allah, dan dengan disaksikan para malaikat dan manusia, kini mereka telah sah menjadi sepasang suami isteri.Pohon-pohon menjadi saksi bisu pertautan cinta mereka. Sebuah cinta yang telah lama terpendam didasar hati yang teramat dalam. Tak ada satupun orang yang tahu selain mereka dan Allah tentunya. Kini, biarkan mereka menyemai benih-benih cintanya menjadi cinta yang sempurna karenaNya.
Langganan:
Postingan (Atom)