Rabu, 23 September 2015

Rokok Itu Penopang Hidupku

Kerasnya mencari penghidupan di kota metropolitan ini membuat kita harus menegakkan badan, menguatkan pundak. Seperti yang dialami seorang bapak tua yang aku temui beberapa pekan lalu di sekitaran jalan tebet, depan duren addict tepatnya. Aku berlari kecil menghampirinya, "Pak jualan apa?" Tanyaku tidak menyadari keranjang kecil serupa nampan tergantung di leher keriputnya
"Ini... " Ragu bapak tua tersebut meneruskan kalimatnya.
Aku tertegun dan segera menyadari apa yang tengah ada di hadapanku kala itu. Keranjang kecil itu berisi rokok berbagai jenis, "Bapak jual ini?"
"Iya, ini ada rokok-rokok"
Aku sempat bingung apa yang harus ku lakukan, awalnya berniat membeli dagangannya. Tapi ternyata? Aku sama sekali tidak membutuhkan barang itu. Orang-orang di sekeliling mulai memperhatikan kami, "Cewek berjilbab kok beli rokok?!" Mungkin seperti itu tanggapan mereka saat itu, entahlah aku tidak perduli.
"Bapak kenapa jualan ini?" Tanyaku bergetar
"Abis gimana, nanti cucu-cucu saya gak bisa makan. Saya jual yang gampang aja, kalau jual kue gak laku. Kasian cucu saya nanti gak makan dek" Jawabnya pasrah dan lirih
Dadaku mulai terasa sesak dan mataku menahan buliran bening
"Berapa ini pak harganya?" Tanyaku sambil menyeka sedikit ujung mataku. Dia menjelaskan satu persatu harga dari jenis barang tersebut. Aku mengutak-atik barang dagangannya seraya bertanya sedikit. "Bapak tinggal dimana? Kesini naik apa? Anak-anak bapak pada kemana"
"Di Penggilingan Jakarta Utara, naik angkot dek. Anak mah ada" Jawabnya
Ku perhatikan dirinya, badannya sudah agak membungkuk dengan sekeranjang kecil berisi rokok-rokok dia kalungkan dengan tali seadanya di leher keriputnya, tas ransel di pundak belakangnya. Peci yang sudah lusuh dan agak menguning yang dikenakannya serta koko pendek, celana sedengkul dengan sendal jepit yang menghiasi kaki tuanya. Allah... terasa begitu sesak dadaku melihatnya, kemana anak-anaknya yang dulu dibesarkan dengan tangan kokohnya yang kini tertatih-tatih berjalan di sepanjang sudut kota menjajakan barang tersebut?!
Aku perhatikan barang dagangannya tidak utuh bungkusannya, yang membeli mungkin tidak semua. "Apa iya mereka yang membeli membayar dengan jujur? Sementara bapak ini pandangannya mungkin sudah kabur" Pikirku
Kutunjuk bungkusan paling ternama diantara dagangannya, "yang ini berapa pak harganya?"
"Itu delapan belas ribu dek, mau beli?" Tanyanya seolah tidak yakin
"Ini pak" Aku menyodorkan duit dua puluh ribu rupiah terakhir di dompetku, bapak tersebut menerimanya seperti kebingungan.
"Kenapa pak? Kembalinya ya pak?"
"Iya, bapak bingung kembaliannya"
"Ini dua puluh ribu pak uangnya, kembalinya dua ribu gak usah pak. Awas pak ini uangnya dimasukin di tas, nanti ilang"
"Iya dek, makasih ya"
Bapak tersebut kembali meneruskan langkahnya, seperti tidak ingin ditanya lebih lama lagi.
"Mau aku kemanakan barang ini, ingin aku kasih ke pegawai martabak yang sedang duduk santai di depan tokonya sore itu. Tapi.. ah jangan! Sama saja dengan aku menyuguhi mudharat untuk orang lain. Akan ku buang saja nanti di tengah jalan". Pikirku

Berkaca pada kehidupan orang lain, kehidupan yang terkadang kita inginkan namun tak sejalan dengan apa yang kita hadapi. Menyadari setiap tetes lelah adalah bentuk ikhtiar kita pada kehidupan, sejatinya tak ada seorangpun yang hidup di bawah garis kemiskinan. Namun Allah telah menempatkan segala sesuatunya sesuai dengan porsinya tersendiri. Mari tengok sedikit kembali kisah para sahabat yang tidak terkenal di bumi namun terkenal di penjuru langit tersebab amalannya. Mungkin sebagian dari kita terasa sempurna dari segi penampilan, tapi lihatlah mereka yang berpenampilan lusuh. Barangkali amalan mereka berkali-kali lipat lebih baik dibanding kita.
Karena rezeki itu bukan kita yang beli, tapi Allah yang akan bagi.

Catatan kecil perjalanan pendosa, jakarta menjelang senja

Minggu, 13 September 2015

Ketika Aku Dan Kamu Menjadi Kita

Ketika kita akan menikah maka hal paling besar yang kita harapkan dari Allah adalah berkah. Kebahagiaan sejati tentu hanya ada di akhirat. Kebahagiaan terasa sempurna bila diselingi dengan air mata kita, mencekamkan kesedihan atau kehilangan ke dalam dada kita. Sebab Allah telah mensumpahkan akan ada bala ujian dalam hidup kita dan itu akan terjadi dengan timbulnya rasa takut, resah, merasa lemah, kehilangan dll.
Ketika menikah ada yang mendoakan 'semoga bahagia dan banyak anak' sebenarnya ini adalah doa yang tidak diajarkan Rasul, karena bahagia bukan menjamin berkah. Karna ketika menikah yang kita cari adalah berkah. Maka bahagia bukan hal yang selalu ada di dalam pernikahan, bukan seperti ending pangeran yang bersama dengan putri. Tapi pangeran yang bertemu dengan putri kemudian berjihad dan berjuang di jalan Allah bersama hingga syahid.
Maka sudah diajarkan Rasulullah doa untuk orang yang menikah
با ر ك الله لك و برك عليك و جمع بينكم في خير
"Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan" (H.R Abu Daud)
Bertambahnya ketaatan diantaranya, bertambahnya rasa sayang dan cinta di keduanya, bertambahnya segala hal yang disebut sebagai musibah tetapi di dalamnya banyak keberkahan.
Maka akhwat, jangan pilih suami karena pekerjaannya, jangan pilih suami karena penghasilannya. Tapi pilihlah suami yang potensi rezekinya besar 
Ada orang yang mengira rezeki adalah sesuatu yang dapat dibeli, sungguh salah. Ada salah satu maskapai penerbangan yang mempunyai pesawat begitu banyak, tapi ternyata ia memiliki hyperphobia; takut pada ketinggian. Bisa dibayangkan bagaimana seseorang yang ingin menikmati pesawat sendiri tapi tidak bisa.
Maka rezeki itu Allah yang bagi, bukan kita yang beli. Yang kita harapkan adalah Allah himpun kita dalam ketaatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat bersama ridha Allah. Menikah bukan untuk bahagia, tapi untuk keberkahan. Biarlah kebahagiaan menjadi makmum yang mengikuti kemana saja.
Seperti dalam Q.S Ar-Rum : 21
"Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir"
Tanda kebesaran Allah yang diletakkan di ufuk, tanda kebesaran yang membawa arak menjadi hujan, tanda kebesaran Allah yang berasal dari air mani sampai terbungkusnya dengan otot-otot (lahm) sampai terbentuknya warna dengan segala rupa, itu adalah segala hal yang menakjubkan. Tanda kebesaran yang lebih besar, Allah menciptakan kalian berpasang-pasangan. Allah mencipta Adam dan pasangannya.
Jangan mencari laki-laki yang sempurna, jangan mencari wanita yang sempurna. Karena keduanya akan saling menyempurnakan, saling mendukung bahu-membahu dalam ketaatan. Karena hubungan suami istri seharusnya bukan hanya hubungan raga tapi juga hubungan jiwa.
"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah akar kecocokan jiwa, dan jika itu tidak pernah ada cinta tidak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia" -Kahlil Gibran-
Mengapa dalam agama diutamakan yang sekufu? Karena sebagai penyeimbang agar tidak terjadi keterjompangan, tapi kalau bisa saling menjaga dan menghormati tidak masalah berdampingan.
Kufu dalam agama adalah kesekufuan yang amat penting. Sekarang ta'aruf dapat dikatakan sebagai bid'ah, bid'ah dalam tanda kutip. Zaman dulu ta'aruf tidak ada. Ketika Aisyah r.a menikah maka yang di dekati adalah ayahnya. Kini ikhtiar dapat dilakukan dengan ta'aruf, proses mengenal pasangan YANG AKAN MENIKAH. Rumus jodoh: kalau sama-sama mereka taat pada Allah, sama-sama berjuang dan syahid untuk Allah dan karena Allah. Seharusnya pernikahan itu seperti nafas.
"Nikah itu sunnahku, barang siapa yang tidak menyukai maka dia bukan bagian dari golonganku" (H.R Ibnu Majah, dari Aisyah r.a)
Pernikahan sebagai Mitsaqan Ghalizan. Perjanjian yang setara dengan perjanjian Allah dengan Ulul Azmi, perjanjian antara Allah dengan Bani Israil dengan diangkatnya bukit Tursina dan perjanjian langsung antara kita dengan Allah.
Makna dari SAKINAH:
1. Supaya kalian bisa menjaga kesucian diri dengan pasangan. Bukan tentang terhindar dari percekcokan tapi terjaga dari hal keji dan munkar.
2. Supaya kalian bisa membangun ikatan lahir dan batin dengan pasangan kalian. Kala itu Rasulullah masuk ke masjid Nabawi kebetulan dalam keadaan rambut masih basah setelah mandi janabat, kemudian Rasulullah berkata kepada sahabat
"Jika engkau melihat seorang wanita lalu memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu. Sesungguhnya istrimu memiliki seluruh hal seperti yang dimiliki wanita itu" (H.R Tirmidzi)
3. Supaya kalian senantiasa cenderung kepada hati dan keluarga.
4. Supaya kalian tentram ketika bersama dan berjauhan. Bukan hanya ketika bersama tapi merasa tidak tenang ketika pasangan sedang diluar. Seperti Aisyah r.a dan Nabi Saw yang saling menguatkan, tentram muraja'ah bersama, tentram bersama duduk di pangkuan Rasulullah dan tentram ketika pasangan berjihad fii sabilillah.
Makna dari MAWADDAH:
1. Mawaddah berarti cinta yang bergelora, cinta yang menggebu-gebu.
2. Terkadang yang jadi masalah adalah bukan karena tidak cinta, namun tidak mengetahui ilmu atau cara mengungkapkan cinta.
Misalnya ketika istri menangis, Rasulullah tidak pernah menghentikan tangis istrinya, namun Rasulullah memberikan tempat untuk istrinya menangis di pundak beliau.
Ketika Rasulullah mendapat wahyu yang pertama badan Rasulullah menggigil, ketika sampai dirumah Rasulullah langsung dipapah Khadijah r.a ke kamar lalu diselimuti, selanjutnya keluar dan berdoa "Ya Allah, saya tau dia ada masalah namun Engkau lebih mampu menjaganya"
Makna dari RAHMAH
Rahmah berarti Cinta. Proses memahami sebelum dijelaskan.
Proses memaafkan sebelum meminta maaf.
Sungguh indah ketika aku dan kamu menjadi kita dibingkai dengan iman dan sama-sama memandang yang sama tentang kehidupan, tentang kematian, tentang kehidupan setelah kematian dan memandang Allah.
Barakallah...






Masjid Agung Al-Azhar
Oleh Ustadz Salim A.Fillah

Jumat, 11 September 2015

Perihal Langkah

Bila saja menunggu itu hanya selangkah jalannya, maka dapat dipastikan tidak ada ruang untuk sebuah pengharapan.
Bila saja menyamakan langkah adalah hal yang mudah bagi setiap orang, maka satu diantaranya tidak akan tertinggal lalu menyerah pada akhirnya. Bukan karena tak mampu menyamai, tapi karena pernah berada di langkah yang sama namun memilih mengambil langkah sendiri.
Bukan sebuah perjalanan namanya bila tidak ada terjal dan sandungan
Bukan sebuah perjalanan namanya bila hanya landai yang kita temui
Bukan sebuah perjalanan namanya bila ego kita tetap sama
Bagaimana pun perjalanan itu tetap ada dan berlanjut walau; satu diantaranya memutuskan mengambil langkahnya sendiri, satu diantaranya terluka karena sebab tertentu, satu diantaranya kembali pulang dan menghentikan perjalanannya.

Ko - Lian; Dermaga Kenangan

Langit mulai berubah jingga di waktu penghujung lelah para pekerja, nelayan-nelayan merapikan temali dan merapatkan kapal mereka. Seorang gadis sedang duduk di tepian dermaga memangku kelinci kesayangannya
"Mbak, lagi apa disini? Hari sudah mulai gelap loh, laut juga dah ga keliatan. Nunggu orang ya mbak?" Sahut seorang kakek yang tengah membereskan bak-bak penampung ikan
"Iya.." Jawab gadis tersebut seadanya
Sementara si kakek bingung dengan gadis tersebut karena pertanyaannya hanya dijawab dengan meng-iya kan. Gadis tersebut hanya fokus pada pemandangan di hadapannya.

Dia berparas sedikit Tionghoa, rambut sebahunya selalu diurai, mempunyai sorot mata yang tajam. Orang terdekatnya memanggilnya Lian. Sudah beberapa hari terakhir ini dia rutin mengunjungi dermaga ketika malam akan merapat, entah apa yang tengah dipikirkannya. Beberapa orang yang tinggal di tepian dermaga yang terlihat memperhatikannya pun bertanya-tanya siapa gadis berparas Tionghoa ini yang beberapa hari terakhir ini selalu menghabiskan penghujung sore di dermaga ditemani kelincinya dan kertas origami yang dibentuknya menjadi burung dan perahu

Lian Adara, seorang gadis yang berasal dari keluarga berada mempunyai cerita tersendiri. Tidak banyak orang yang tau akan penyebab dirinya sering menyendiri di dermaga. Beberapa orang yang mencoba mendekatinya untuk sekedar mengenalnya pun kini merasa enggan untuk bertanya-tanya kembali perihal kehidupannya. Mereka hanya tau bila Lian suka dengan tempat tersebut.
***

Dedaunan berjatuhan di halaman sebuah rumah mewah kala itu, seorang kakek yang sudah berusia senja mengambil sapu untuk membersihkannya.
"Li, ayo kejar aku li sini cepat. Kamu pakai sepeda mu aku lari" Sahut seorang laki-laki remaja
"Jangan lewat dekat situ, kakek sedang membersihkan daun-daun"
Mereka berlarian di sepanjang halaman berukuran luas tersebut, saling menangkap dan memeluk satu sama lain. Yang satu menjaga dan melindungi, yang satunya lagi menyayanginya begitu dalam.
"Li, kalau li besar nanti ingin jadi apa?"
"Li ingin jadi seperti yang koko mau". Ucapnya polos
"Kalau Li jadi burung Li tetap mau?"
"Li mau jadi apa saja yang koko inginkan, karena koko orang yang paling Li sayang setelah papa"
"Li, ketika Li besar nanti jadilah Li yang selalu taat pada peraturan Tuhan, jadilah gadis yang pemurah dan pemaaf, dan jadilah Li seperti burung-burung yang terbang dengan sayapnya yang indah. Koko siap jadi perahu kecil yang akan membawa Li kemana saja ketika sayap Li terluka" Ucapnya tersenyum kecil seraya mengelus rambut dan memeluk Li.
***

Belasan tahun berlalu, namun luka itu sepertinya sudah terlanjur dalam. Lian kini tengah tumbuh menjadi gadis istimewa, tapi di lain sisi terkadang keadaan psikisnya membuat dirinya tanpa sadar sering menarik diri dari keramaian dunianya. Dunia barunya kini menjelma menjadi sebuah dimensi dan ruang sunyi, tak ada siapapun kecuali Lian dengan kertas origaminya berbentuk burung dan perahu yang dia lepaskan di dermaga ketika malam akan memeluknya.