Kerasnya mencari penghidupan di kota metropolitan ini membuat kita harus menegakkan badan, menguatkan pundak. Seperti yang dialami seorang bapak tua yang aku temui beberapa pekan lalu di sekitaran jalan tebet, depan duren addict tepatnya. Aku berlari kecil menghampirinya, "Pak jualan apa?" Tanyaku tidak menyadari keranjang kecil serupa nampan tergantung di leher keriputnya
"Ini... " Ragu bapak tua tersebut meneruskan kalimatnya.
Aku tertegun dan segera menyadari apa yang tengah ada di hadapanku kala itu. Keranjang kecil itu berisi rokok berbagai jenis, "Bapak jual ini?"
"Iya, ini ada rokok-rokok"
Aku sempat bingung apa yang harus ku lakukan, awalnya berniat membeli dagangannya. Tapi ternyata? Aku sama sekali tidak membutuhkan barang itu. Orang-orang di sekeliling mulai memperhatikan kami, "Cewek berjilbab kok beli rokok?!" Mungkin seperti itu tanggapan mereka saat itu, entahlah aku tidak perduli.
"Bapak kenapa jualan ini?" Tanyaku bergetar
"Abis gimana, nanti cucu-cucu saya gak bisa makan. Saya jual yang gampang aja, kalau jual kue gak laku. Kasian cucu saya nanti gak makan dek" Jawabnya pasrah dan lirih
Dadaku mulai terasa sesak dan mataku menahan buliran bening
"Berapa ini pak harganya?" Tanyaku sambil menyeka sedikit ujung mataku. Dia menjelaskan satu persatu harga dari jenis barang tersebut. Aku mengutak-atik barang dagangannya seraya bertanya sedikit. "Bapak tinggal dimana? Kesini naik apa? Anak-anak bapak pada kemana"
"Di Penggilingan Jakarta Utara, naik angkot dek. Anak mah ada" Jawabnya
Ku perhatikan dirinya, badannya sudah agak membungkuk dengan sekeranjang kecil berisi rokok-rokok dia kalungkan dengan tali seadanya di leher keriputnya, tas ransel di pundak belakangnya. Peci yang sudah lusuh dan agak menguning yang dikenakannya serta koko pendek, celana sedengkul dengan sendal jepit yang menghiasi kaki tuanya. Allah... terasa begitu sesak dadaku melihatnya, kemana anak-anaknya yang dulu dibesarkan dengan tangan kokohnya yang kini tertatih-tatih berjalan di sepanjang sudut kota menjajakan barang tersebut?!
Aku perhatikan barang dagangannya tidak utuh bungkusannya, yang membeli mungkin tidak semua. "Apa iya mereka yang membeli membayar dengan jujur? Sementara bapak ini pandangannya mungkin sudah kabur" Pikirku
Kutunjuk bungkusan paling ternama diantara dagangannya, "yang ini berapa pak harganya?"
"Itu delapan belas ribu dek, mau beli?" Tanyanya seolah tidak yakin
"Ini pak" Aku menyodorkan duit dua puluh ribu rupiah terakhir di dompetku, bapak tersebut menerimanya seperti kebingungan.
"Kenapa pak? Kembalinya ya pak?"
"Iya, bapak bingung kembaliannya"
"Ini dua puluh ribu pak uangnya, kembalinya dua ribu gak usah pak. Awas pak ini uangnya dimasukin di tas, nanti ilang"
"Iya dek, makasih ya"
Bapak tersebut kembali meneruskan langkahnya, seperti tidak ingin ditanya lebih lama lagi.
"Mau aku kemanakan barang ini, ingin aku kasih ke pegawai martabak yang sedang duduk santai di depan tokonya sore itu. Tapi.. ah jangan! Sama saja dengan aku menyuguhi mudharat untuk orang lain. Akan ku buang saja nanti di tengah jalan". Pikirku
Berkaca pada kehidupan orang lain, kehidupan yang terkadang kita inginkan namun tak sejalan dengan apa yang kita hadapi. Menyadari setiap tetes lelah adalah bentuk ikhtiar kita pada kehidupan, sejatinya tak ada seorangpun yang hidup di bawah garis kemiskinan. Namun Allah telah menempatkan segala sesuatunya sesuai dengan porsinya tersendiri. Mari tengok sedikit kembali kisah para sahabat yang tidak terkenal di bumi namun terkenal di penjuru langit tersebab amalannya. Mungkin sebagian dari kita terasa sempurna dari segi penampilan, tapi lihatlah mereka yang berpenampilan lusuh. Barangkali amalan mereka berkali-kali lipat lebih baik dibanding kita.
Karena rezeki itu bukan kita yang beli, tapi Allah yang akan bagi.
Catatan kecil perjalanan pendosa, jakarta menjelang senja