Bismillahirrahmanirrahim
Apa kabar yaa kalian adik-adik kecil? sudah sampai dimana hafalan kalian saat ini?
Itulah pertanyaan yang mengusik benak ku hampir setiap hari akhir-akhir ini. Aku bertanya pada diri bagaimana kalian meneruskan hafalan dan mengeja setiap huruf demi huruf saat ini, berlanjutkah atau hilangkah ilmu yang sudah kalian dapatkan selama ini.
Aku rindu mereka, aku rindu ketika aku berdiri di depan mereka untuk menjelaskan apa-apa yang belum mereka mengerti, rindu ketika aku membacakan sirah Nabi kepada mereka. Aku rindu ketika aku memarahi sebagian dari mereka, aku rindu ketika aku mendengarkan mereka mengucap huruf demi huruf dengan caranya mereka yang belum fasih benar, aku rindu mendengar hafalan mereka. Aku rindu ketika sebagian dari mereka ada yang mengeluh karena malas untuk menyetor hafalan, aku rindu ketika mereka pertama kali memasuki mushola dengan wajah riangnya sambil berucap "Assalamualaikum kakaaaaa". Aku rindu ketika mereka sedang praktek sholat, rindu menatap wajah-wajah kekanakan mereka yang beragam. Rindu ketika mereka sedang bersemangat untuk bersaing menghafal setiap surat yang aku berikan, rindu ketika mereka beradu pendapat karena masalah setoran mereka, rindu ketika aku mengajarkan mereka yang masih sangat kecil untuk bernyanyi, menggambar lafadz Allah, dan mengajarinya bagaimana menggoreskan pensil warna di kertas gambar mereka, rindu bagaimana mengajarkan mereka memegang pensil untuk menulis rangkaian dari huruf-huruf hijaiyah.
Tak perduli seberapa lelah aku dengan urusanku, bila tiba waktunya aku bertemu mereka maka dengan cepat aku beberes demi melihat mereka mengeja alif, ba, ta, tsa, jim, ha, kho...
Bagiku waktu yang sudah mereka luangkan tidak boleh tidak ada yang mengisi.
Aku rindu ketika mereka lanjut bacaannya lalu dengan wajah sumringah mereka bilang "lanjut kan ka? asiiikkk Alhamdulillah". Melihat mereka seperti itu seperti melihat diriku ketika dulu seusia mereka, terenyuh mengenang masa-masa seperti mereka. Terlebih ketika ramadhan tiba, semangat mereka luar biasa untuk selalu berada dimushola tempat kami bertukar banyak ilmu. Mereka begitu ontime dibanding kami kakak-kakak diatas mereka.
Sering kali aku tertawa sendiri melihat tingkah mereka yang beragam, ketika mereka bergilir maju ke depan untuk berlatih menjadi da'i. Mereka tertawa aku pun tertawa, ada kesenangan tersendiri ketika aku bisa selalu meluangkan waktuku untuk mereka, untuk melihat mereka berisik dalam berlomba-lomba mengejar target mereka. Tak perduli dengan lembaran rupiah, yang terpenting bagiku mereka mampu menyelesaikan dengan baik setiap baris huruf hijaiyah yang aku ajarkan, mampu untuk mengajarkannya kembali kepada adik-adik mereka kelak nanti, dan mampu mengaplikasikan semua yang telah aku berikan.
Yaa Allahu, tak terasa butiran bening ini keluar dari tempatnya, ikut merasakan bagaimana rindunya akan sosok-sosok mereka yang selama ini menemani penatnya urusanku. Sosok riang mereka, sosok wajah mereka. Terbayang begitu jelas wajah-wajah mereka menginjakan kakinya di mushola dengan sarung, koko, dan peci mereka. Juga dengan gamis yang anggun beserta Alquran dan iqra di tangan-tangan mungil mereka. Jadikan mereka pecinta kalamMu yaa Rabb, aamiin
Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu?” Nabi Saw menjawab, “Majelis-majelis taklim.” (HR. Ath-Thabrani)
"Temukanlah setiap sisi keindahan Alquran, tancapkanlah pada hati yang kosong"