Ketika dirimu sedang lalai akan segala peraturanNya, ketika dirimu merasa jauh dariNya, ketika hatimu luput akan asmaNya. Percayalah bahwa Allah selalu siap bila kita memerlukanNya, selalu ada bila kita membutuhkan topangan untuk bersandar kepada sesama makhluk bila tidak ada lagi yang bisa meminjamkan pundaknya untuk kita bersandar. Beda dengan Allah yang senantiasa ada dikala kita membutuhkanNya, bahkan dalam keadaan sempit sekalipun. Tanamkanlah pikiran bahwa 'Allah tidak pernah ragu akan permintaan setiap hambaNya'. Hanya saja kita yang terlalu lelah untuk meminta
Tengoklah pada mereka yang senantiasa tak pernah berhenti untuk menegakan kalimatNya, untuk percaya bahwa tidak ada yang lebih baik dijadikan sebagai sandaran selain kepadaNya. Mungkin terkadang kita malu untuk menghadapNya, merasa tak pantas meminta kepadaNya, merasa ragu bahwa kita terlalu banyak berbuat maksiat sehingga takut setiap doa yang kita sampaikan kepadaNya tidak akan diijabah. Padahal Allah telah menjamin dengan ayatnya, "ud'uni astajiblakum: berdoalah kepadaKu maka akan ku kabulkan". Lalu apalagi yang membuat setiap diri takut meminta kepadaNya? Sebenarnya untuk semua ini hanya memerlukan pemahaman yang lebih. Jangan pernah kita salahkan Allah yang tak pernah mengabulkan setiap doa, jangan sangka Allah tak mau mendengar segala keluhan kita hanya karena kita merasa bahwa diri tidak pantas karena terlalu banyak dosa yang diperbuat dibanding dengan amalan yang kita lakukan. JANGAN PERNAH SEKALIPUN MEREMEHKAN KEKUATAN DOA!
Bangunlah di setiap sepertiga malam kita untukNya, adukanlah segala beban yang menghimpit kita, ceritakanlah apa-apa yang ingin kita ceritakan kepadaNya. Air mata dan sajadah panjang yang akan menjadi saksi kebenaran terhadap apa-apa yang telah kita ceritakan padaNya.
Ada kalanya kita merasa bosan dengan dunia kita, merasa sesak atas apa-apa yang terjadi di kehidupan kita, dan ketika itulah Allah INGIN kita kembali menyapaNya. Persembahkanlah kembali ayat-ayat dari surga untukNya, gelarlah sajadah panjang kita di setiap 5 waktunya, jalankanlah kembali setiap sunnah-sunnah yang sempat terlupakan, ajak diri kita kembali untuk bersenandung lirih menyebut setiap nama-namaNya, biarkanlah tubuh kita melepaskan segala kepenatannya dengan Alquran dan berikanlah kesempatan untuk telinga kita mendengarkan ayat-ayat cinta dariNya.
Sebagaimana manusia selalu menghampiri Allah dengan dosanya, maka Allah pun akan selalu menjemput dengan fasilitas TaubatNya
"Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, perbaikilah hubunganmu dengan Allah maka Allah akan memperbaiki hubunganmu dengan orang-orang yang engkau sayangi"
Minggu, 29 Desember 2013
Kamis, 26 Desember 2013
Dalam Dekapan Cinta
Dia hidup dalam limpahan kemewahan. Apapun yang ia inginkan pasti didapatkannya. Kemana-mana selalu mengenakan sedan mewah dengan sopir pribadi yang setia mengantar jemputnya. Dia adalah Silvia, anak seorang konglomerat di sebuah kota. Orangtuanya tidak pernah mengurusinya sehingga ia bebas kemanapun ia suka bersama teman-temannya. Sang Ayah sibuk dengan bisnisnya sehingga sering ke luar kota, sedangkan sang Ibu sibuk pula dengan butiknya sehingga sering bolak-balik Singapur-Indonesia. Untungnya ada pak Parno dan istrinya, pembantu dirumah konglomerat tersebut yang sering mengawasinya.
Ia sering jalan-jalan bersama teman-temannya ke mall, tempat rekreasi, dan kemanapun yang ia inginkan. Sampai pada suatu ketika sampailah ia pada satu titik dimana ia merasakan kejenuhan dengan segala apa yang ada. Limpahan kekayaan itu tidak membuat ia merasakan suatu kebahagiaan yang diinginkannya.
Suatu saat setelah pulang dari berbelanja begitu banyak barang-barang yang tidak begitu dibutuhkan olehnya, ia langsung menghempaskan diri diatas ranjang bersama barang-barang belanjaannya yang tergeletak di samping tubuhnya. Lalu ia terbangun di tengah keheningan disepertiganya malam. Ia lalu menatap wajahnya di cermin merasakan sebuah kepenatan yang mendalam. Ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Sebuah ketentraman pada jiwa. Selama ini ia jauh dari tuhan. Ia lalu mengambil mukena dan sholat malam setelah berwudhu.
“Ya Allah selama ini aku jauh dari-Mu.”
“Aku Lupa akan fitrahku sebagai hambaMu”
“Aku lalai dengan limpahan kemewahan ini”
“Berilah aku petunjuk dalam menggapai keridhoanMu ya Allah.”
Lirih suaranya dalam melantunkan lirik-lirik do'a di tengah keheningan malam disertai butiran air mata ketulusan.
Besoknya ia lalu menemui pak Parno lalu mengatakan padanya kalau ia ingin belajar tentang agama lebih dalam lagi. Ia butuh seseorang yang bisa membimbingnya menjadi lebih baik lagi.
Melihat raut wajahnya Pak Parno dapat membaca kalau dia sedang dalam kegelisahan untuk mencari ketenangan batin. Lalu Pak Parno menawarkan padanya untuk menikah.
“Menikahlah, carilah pemuda sholeh yang bisa membimbingmu menjadi seorang muslimah yang sholehah.”
“Lalu pemuda seperti apa yang harus aku pilih.” Tanya Silvia.
“Pemuda yang takut pada Allah. Karena apabila ia mencintai, dia akan menyayangimu dan apabila ia benci, dia tidak akan menyakitimu.
Imam Hasan Al-Bashri ketika ditanya seseorang, “Dengan siapa aku harus menikahkan putriku?”, beliau menjawab, “Dengan laki-laki yang takut kepada Allah. Karena jika ia menyukainya ia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya ia tidak akan menganiayanya”.
“Adakah pemuda yang seperti itu?” Tanya Silvia lagi.
“Ada ” Ucap Pak Parno. “Di seberang jalan sana ada seorang pemuda yang kerjaannya adalah menjahit sepatu. Dia begitu hanif dan bijaksana. Selain seorang mahasiswa, dia juga menjadi Takmir masjid Al-Hidaiyah di kampung sini.” Sambung pak Parno.
Karena jarang pergi ke masjid sehingga dia tidak mengetahuinya kalau di masjid yang ia merupakan salah satu jama'ahnya ada seorang pemuda sholeh yang sering menjadi imam sekaligus menjaga masjid itu.
Pemuda tersebut adalah salah seorang mahasiswa jurusan tekhnik informatika di sebuah Perguruan Tinggi negeri. Sehari-harinya adalah menjual-beli dan memperbaiki sepatu-sepatu bekas guna menambah keringanan orangtua. Selain itu dia tinggal di masjid turut memakmurkan masjid dengan berbagai program untuk meperdayakan jama’ah dalam mengelola masjid. Karena bagi dia, pemberdayaan jamaah dari sebuah masjid dan masjid lain pun melakukannya merupakan sebuah dasar kebangkitan islam.
Semenjak kehadirannya di daerah tersebut, ia membawa perubahan yang luar biasa. Dengan berbagai upaya ia mengusahakan agar semua umat muslim berjamaah di masjid. Meski tidak semua yang datang namun setidaknya cukup banyak yang telah mau bergegas ke masjid bila mendengar Adzan ketimbang duduk santai di rumah. Dia sangat mengutamakan hal tersebut karena selain menambah ukhuwah sesama muslim, juga menambah rasa persaudaraan.
Rasulullah Salallahu’alaihiwasallam bersabda: "Sesungguhnya Serigala tidak akan memakan jika Kambing tidak sedang bersendirian"
Rasa ingin tahu Silvia terhadap pemuda itu pun semakin menguat. Ia lalu menyuruh Pak Parno untuk mengenalkannya dengan pemuda tersebut. Ia hanya sekedar ingin melihat pemuda itu. Maka suatu saat pak parno mengajaknya mengikuti kajian mingguan yang sering diadakan tiap minggu malam di masjid tersebut guna menambah pengetahuan agama pada warga. Silvia datang bersama pak Parno dan istrinya. Mereka kedua pembantu di rumah Silvia yang telah menjaga Silvia semenjak kecil karena kedua orangtuanya sibuk akan urusan dunianya.
Pada malam itu ust. Jalil yang seharusnya ngisi tausyiah pada malam itu berhalangan hadir. Biasanya kalau pengisi tausyiah berhalangan hadir maka mereka yang menjadi takmir yang menggantikannya. Dan pada malam itu seorang pemuda berbusana muslim cokelat dengan kopiah hitam dikepalanya berdiri dihadapan para jamaah menggantikan posisi pak Jalil kerna berhalangan hadir. Cara penyampaiannya begitu menarik. Hanya satu hadits yang ia bahas pada malam itu namun pembahasannya begitu meluas. Pada malam itu dia bahas tentang “ Enam Kewajiban Muslim Terhadap Muslim Yang Lain”
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia mengundangmu penuhilah undangannya; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)" -H.R Muslim
Dia pun mulai membahas satu demi satu hadits di atas kemudian ia berikan pula tips bagaimana membina hubungan yang baik antara sesame saudar kita. Diantaranya ia menjelaskan bahwasannya apabila kita mendengar berita tentang aib saudara kita cukuplah berita itu sampai pada diri kita. Jangan mengumbarkannya lagi. Setiap manusia pasti pernah mempunyai kesalahan dan sebaik-baiknya manusia adalah yang mau mengakui dosanya dihadapan Allah dan berjanji takkan mengulanginya kembali. Termasuk kita, kita pun pasti pernah mempunyai kesalahan dan tak ingin untuk diumbarkannya. Maka dari itu kita pun harus menutupi aib saudara kita.
Seusai mengikuti kajian tersebut mereka lalu kembali ke rumah. Dalam perjalanan pak Parno menanyakan sesuatu pada Silvia.
“Neng Silvia, tahukah kamu siapa pemuda yang mengisi kajian tadi?” Silvia hanya menggelengkan kepalanya. Sementara Bu Darmi istri pak parno hanya tersenyum menatapnya.
“Dia adalah Raihan pemuda yang bapak ceritakan kemarin.” Sambung pak parno.
Silvia sedikit salah tingkah setelah mendengar apa yang disampaikan pak Parno. Sesampai dirumah dia lalu menghempaskan badannya kembali ke atas ranjangnya.
“Apa mungkin wanita yang berlumurkan dosa, jauh dari keshalihan seperti aku bisa mendapatkan lelaki sholeh seperti itu? Selama ini aku melihat pemuda sholeh tidak ingin mendapatkan istri yang begitu jauh dari agama seperti aku ini? Yang Hina lagi keji. Lalu pantaskah wanita seperti aku diperistrikan orang yang sholeh?” Pertanyaan itu yang terus hadir dibenaknya. Ia merasa sungguh tidak pantas wanita seperti dia mendapatkan lelaki shesholeh Raihan. Apalagi Ia pernah mendengar firman Allah bahwa Lelaki baik-baik hanya diperuntuk wanita baik-baik dan lelaki keji diperuntuk wanita keji pula.
Walaupun dia merasa dirinya hina hina lagi keji, namun dia tidak ingin mendapatkan lelaki seperti itu pula. Batinnya semakin menangis membayangkan semua itu. Lalu suatu hari dia menemui ustadzah sofi, Guru agamanya ketika masih SMA dahulu. Ia lalu menyampaikan keluh dan kesahnya pada ustadzah tersebut.
“Batinku telah rindu untuk menikah ya ustadjah. Lelaki yang aku inginkan Ialah dia yang sholeh, yang takut pada Allah dan mencintai Rasulnya. Namun bagaimana mungkin wanita seperti aku bisa mendapatkan lelaki seperti itu?” Tanya Silvia
“Mayyahdillahu fahuwal muhtadi wamayyudhlil falantajidalahu waliyyammursida”
“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
“Ketika Allah berkehendak, tak ada satu makhlukpun yang mampu mencegahNya. Seseorang yang buruk dimata manusia, belum tentu buruk pula dimata Allah. Siapa tahu kamu mempunyai suatu sisi positif yang bisa diandalkan dihadapan Allah. Tidak ada yang tak mungkin bagiNya. Jika Ia telah mengatakan Jadi, maka jadilah. Kamu menginginkan untuk kembali kepadaNya itu sudah baik.” Cakap Ustadzah Sofi.
“Tapi.. Bukankah lelaki sholeh mereka hanya menginginkan wanita yang sholehah?” Tanyanya lagi.
“Kenakanlah jilbab yang menutupi hingga ke dadamu anakku. Lalu jiwailah apa yang engkau kenakan itu. Mulai sekarang, mendekatlah pada Allah kerna sesungguhnya Allah itu dekat denganmu. Kalau memang Allah menghendaki lelaki itu padamu maka dialah petunjuk Allah bagimu untuk menuntunmu menjadi wanita yang lebih dekat padaNya.” Jelas ustadzah Sofi.
Kita sering melihat adakala seorang suami begitu terlihat baik sedangkan istrinya tidak, ataupun sebaliknya. Pemikiran kita pun mulai terbalik dari surat Annur : 26. Padahal orang yang terlihat baik di mata kita belum tentu baik pula dimata Allah. Begitupun orang yang terlihat buruk dihadapan kita belum tentu buruk pula di hadapan Allah. Siapa tahu orang yang baik itu mempunyai satu sisi buruk yg membuat Allah murka terhadapnya. Siapa tau pula orang yg terlihat buruk itu mempunyai satu sisi kebaikan yang membuat Allah sayang padanya. Atau jika seorang lelaki itu benar baik dan wanita benar burk, maka itu ujian baginya untuk bagaimana mengubah pasangannya itu menjadi lebih baik lagi
Silvia lalu beritahukan itikad baiknya itu pada kedua orangtuanya saat mereka telah berkumpul dirumah. Ia menyampaikan bahwa ia telah ingin menikah dan kedua orangtuanya pun menyetujuinya. Setelah mendapatkan persetujuan dari orangtua, lewat bantuan pak parno akhirnya Raihan menikahi wanita cantik anak konglomerat kaya tersebut. Raihan mampu menuntunnya menjadi wanita yang sangat sholehah. Ia paham akan kewajibannya sebagai seorang istri serta tanggungjawabnya terhadap suami.
Setelah menikah, ia mengikuti suami pulang ke kampung halaman dan meninggalkan segala bentuk kemewahan yang selama ini dinikmatinya. Ia lalu memilih untuk hidup dengan segala kesederhanaan bersama suami. Ia sangat merasa bahagia berada dalam dekapan cinta seorang suami yang setia. Yang sederhana dan mencintainya dengan setulus hati. Meski pun kemana-mana tak lagi memakai mobil sedan. Tak lagi punya uang yang cukup tuk berbelanja apa yang di inginkannya namun ia tetap mensyukurinya kerna islam telah menjadi pedoman baginya atas tuntunan suaminya.
Namun, seseorang takkan sampai pada puncak keimanan sebelum ia diuji oleh Allah. Takkan sampai pada kebahagiaan sejati sebelum ia melewati ujian dari Sang Khalik.
Pada suatu ketika ibu dari sang suami jatuh sakit sehingga harus dirawat Rumah Sakit hingga ia menemukan ajalnya. Sang suami harus membayar administrasi Rumah Sakit serta biaya pengobatan sang bunda hingga uang simpanannya habis. Uang untuk makan dirumah pun tak seberapa yang di pegang sang Istri. Raihan lalu mencari pekerjaan sampingan sebagai buruh di perusahaan penyuplai semen yang mengangkut semen keluar masuk gudang. Kerna gajinya sebagai tenaga honorer di Perusahaan Listrik Negara (PLN) tak cukup untuk biaya makan ditambah perawatan sang bunda yang masih tertunggak di Rumah Sakit.
Melihat suaminya pulang dengan segala kelelahan, Silvia merasa kasihan. Ia selalu mengusap keringat di wajah sang suami yg lelah seusai bekerja tersebut dengan penuh haru. Ia selalu menyambut suaminya pulang dengan senyuman tulusnya lalu memasakkan air panas untuk suaminya mandi. Seusai mandi Raihan lalu membuka penutup saji diatas meja makan namun tak ada makanan apapun. Ia menyadari kalau sudah tak ada pegangan pada istrinya. Ia lalu menatap kebelakang setelah mendengar suara dibelakangnya.
“Kita puasa ya Zaujie..” Kata silvia sambil mendekat kearah sang Suami. Raihan lalu mengangguk seraya berkata insya Allah esok dia akan mencarikan uang untuk makan mereka besok.
Besok pagi Silvia tak bisa melihat suaminya pergi bekerja dengan perut kosong yang hanya berbekalkan air putih hangat. Ia lalu pergi ke rumah tetangga meminta menyuci baju mereka yang kotor demi mendapatkan uang yang halal agar ketika suami pulang nanti sudah disajikan makanan untuk suaminya. Sungguh hal ini sangat sulit tuk ia lakukan. Anak seoarang konglomerat kaya berubah menjadi seorang tukang cuci. Namun ini harus ia lakukan demi rasa sayangnya pada suami. Meskipun ketika mencuci ia sering meneteskan airmata.
Ketika suaminya pulang betapa kagetnya Ia. Banyak makanan yang dihidangkan diatas meja.
“Darimana engkau mendapatkan semua ini ya Zaujati?” Tanya Raihan.
Silvia lalu menjelaskan apa yang dilakukan olehnya saat suaminya berangkat kerja.
“Walillahi aku tidak bisa memakan makanan ini.” Cakap sang suami kerna merasa malu pada dirinya sendiri yg tak mampu menafkahi istri dengan baik.
Sang istri lalu menunduk seraya berkata
“Maafkan aku ya Zaujie. Aku melakukan ini tanpa sepengetahuanmu.”
“Kamu tidak salah., aku yang salah. Aku tidak mampu menjadi suami yang baik untukmu.”
Suaminya lalu mendekatinya memegang kedua tangannya. Ia yang tertunduk pun mengangkat kepalanya menatap mata suaminya yang sangat disayanginya itu. Lalu suaminya berkata padanya.
“Maafkan aku yang telah menikahimu. Aku hanya bisa membawamu ke dalam jurang kesengsaraan. Namun aku berjanji aku takkan pernah menyakitimu dengan fisikku ini.”
“Bagiku akhunlah lelaki terbaik yang Allah berikan untukku. Dan aku patut untuk menjaganya.. Engkaulah petunjuk Allah sebagai jalan hidaiyah untukku. Dan aku menyayangimu.”
Sang suami lalu memeluknya dengan airmata haru, Allah telah memberikannya seorang istri yang sangat tegar. Dan ia akan terus mensyukurinya
Cinta yang tulus mampu mengalahkan segalanya. Untuk apa harta berlimpah jika tanpa cinta yang tulus? Untuk apa pangkat yang tinggi jika tanpa kasih sayang yang nyata?
Ketika kita dicintai oleh orang yang benar-benar mencintai kita, kita akan merasakan betapa indahnya dunia ini. Namun perlu diingat bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki butuh pengorbanan. Seorang Silvia anak konglomerat kaya rela menanggalkan kehidupan masa lalunya yang penuh kemewahan demi mendapatkan sosok pemuda sholeh yang mencintainya sepenuh hati juga sebuah pengorbanan.
Belum cukup sebulan Raihan bekerja di perusahan penyuplai semen tersebut, tak lama kemudian ia jatuh sakit. Ia telah merasa kurang enak badan semenjak beberapa hari sebelumnya namun ia tetap memaksakan diri untuk tetap bekerja meski sesekali batuk menghampirinya. Dony, teman kerjanya telah mengatakan kalau besok hari ia tak usah dating namun Ia tetap saja datang untuk bekerja dan pada saat itulah batuk disertai darah keluar dari mulutnya. (hemoptisis)
Sang istri yang mengurung diri di rumah saat suaminya pergi bekerja telah merasakan kegelisahan. Dan ternyata firasatnya itu benar saat suaminya dibawah pulang sudah dalam keadaan lemah tak berdaya oleh teman kerjanya.
Belum genap sebulan suaminya bekerja sehingga gaji bulanannya belum diterima. Istrinya lalu berlarian kerumah-rumah tetangga untuk menjual gelang emas miliknya yang diberikan ayahnya ketika masih gadis dahulu. Meski harga tak sesuai dengan yang seharusnya namun ia harus menjualnya demi keselamatan suaminya.
Setelah mendapatkan uang, ia lalu membawa suaminya ke Rumah sakit di kota naik angkutan. Disana ia duduk di samping ranjang suaminya agar ketika suami siuman dari ketidaksadarannya ia telah menyambutnya dengan senyuman lalu melakukan apa yang diinginkan suaminya.
Awalnya dokter mengira suaminya hanya menderita Tubercolosis atau bronkiektasis namun ternyata setelah pemeriksaan ia di Vonis menderita Tumor karsinoma paru.
Sebenarnya jika hanya sekedar menderita karsinoma paru tidak sampai membawa penderita pingsan namun karena bekerja keras yang ditambahi kurang makan membuat daya tahan tubuh raihan lemah sehingga ia tak sadarkan diri.
Silvia tetap berada disamping ranjang suaminya. Menunggu dan terus menunggu. Hingga kadang ia tertidur dalam penantiannya kemudian bangun lagi. Hingga suatu malam ia terbangun di sepertiganya malam. Ia lalu menatap kearah jarum jam yang terus berbunyi setiap detiknya itu.
Jarum jam menunjukkan pukul 03:00 dini hari. Ia lalu berwudhu lalu tepat di samping ranjang suaminya Ia menangis mengeluh pada Allah atas apa yang dihadapinya ini.
“Ya Allah, jika memang sakit yang kurasa ini adalah cintaMu padaku karena Engkau ingin aku terus mengeluh padaMu, aku ridho jiwa ini untuk terus disakiti. Namun ya Allah Hambamu yang hina dan kotor ini memohon padaMu. Jangan Engkau biarkan Suami hamba terus diam dan kaku di ranjang itu ya Allah. Hamba mohon ya Allah, hamba mohon.. Hamba sangat mencintainya…
Keheningan malam menjadi saksi bahwa ada seorang wanita yang syujud simpuh pada Robbnya. Aliran air mata bak gersang mendamba hujan mengalir membasahi sajadah panjang yang dibentangkannya..
Ketika Allah rindu pada hambanya, Ia akan mengirimkan sebuah kado istimewa melalui malaikat Jibril yg isinya adalah ujian. Dalam hadits kudsi Allah berfirman. "Pergilah pada hambaku lalu timpakanlah berbagai ujian padanya karna Aku ingin mendengar rintihannya." (HR Thabrani dari Abu Umamah)
Setelah sholat lail yang dilanjutkannya dengan sholat subuh, ia kembali lagi duduk di dekat ranjang suaminya. Menatap wajah lelaki sholeh yang dicintainya tersebut dengan sesekali mengusap kepalanya dengan usapan ketulusan. Ia lalu tertidur disamping suaminya dengan tangan yang terus menggenggam erat tangan suaminya..
Tak lama kemudian ia merasa ada gerakan dari tangan suaminya. Ia lalu secepatnya bangun dari tidurnya. Ia melihat raihan mulai mencoba membuka matanya. Hati gembira yang teramat sangat setelah tiga hari menunggu di bangsal itu. Ia lalu menyambut kesadaran suaminya itu dengan senyuman cerianya dan melupakan segala kepenatan yang dihadapinya agar suaminya pun bahagia ketika menatapnya.
Silvia lalu segera memanggil suster untuk memeriksa suaminya yang tengah sadarkan diri. Suster lalu memeriksa Raihan dan mengatakan kalau kondisinya sudah cukup membaik. Ucapan hamdala lalu terlontar dari bibir Silvia. Namun kata dokter perlu istirahat selama dua hari lagi hingga sembuh total baru raihan bisa pulang dengan persyaratan jangan kerja berat dulu.
Setelah dokter dan perawatnya pergi,Raihan lalu bertanya pada Silvia.
“Siapa yang membayar seluruh administrasi dan biaya pengobatanku ini?”
Silvia yang tengah duduk disamping ranjang sambil membaca buku lalu mengangkat kepalanya tersenyum pada suaminya.
“Tidak usah dipikirkan. Semua akan baik-baik saja. Yang penting Akang bisa sembuh dulu.”
Raihan lalu terdiam. Kemudian ia menatap tangan istrinya yang sedang memegang buku membuat ia curiga. Ia lalu menyuruh Silvia mengangkat buku yang dipegangnya lebih tinggi lagi. Silvia heran mendengar permintaan suaminya tersebut namun ia menurutinya. Dan ketika tangan di angkatnya lebih tinggi, tangan bajunya yang sedikit longgar terturun sehingga suaminya melihat sudah tak ada gelang lagi di pergelangan tangan istrinya. Raihan lalu memalingkan wajah dari arah Silvia. Perlahan airmatanya pun jatuh membasahi bantal yang ia tiduri.
Silvia masih saja heran terhadap suaminya yang memalingkan wajah darinya. Dia masih saja tak sadarkan diri bahwa sang suami telah mengetahui apa yang dilakukan olehnya.
Ia lalu mendekati suaminya dan terlihatlah airmata di wajah suaminya tersebut.
“Kang, kenapa menangis??” Tanya Silvia sendu.
Raihan tak menjawabnya dan tak mau menatapnya. Ia merasa malu menatap istrinya sendiri. Ia malu pada dirinya yang hanya menyusahkan anak orang.
"Apa salahku Kang? Kenapa tak mau menatapku.” Tanya sivia lagi.
“Aku malu Sil. Aku malu. Aku hanya seorang suami yang menyusahkan istri. Aku bahkan tidak bisa memberikan apa-apa untukmu.
“Ada apa kang? Aku tak dapat memahaminya.” Tanya silvia lagi. Belum paham akan maksud suaminya.
“Tolong jawab. Dimana gelang di tangan kirimu?”
Silvia lalu tertunduk menangis. Menggenggam erat tangan suaminya yang masih saja memalingkan wajah tersebut lalu menciumnya.
“Maafkan aku Kang. Aku telah menjualnya” Ucap Silvia seduh.
“Aku tak bisa memaafkan diriku.. aku tak bisa.. Ya Allah, ampuni hambaMu ini.” Rintih Raihan.
Silvia pun terseduh mendengar rintihan suaminya tersebut. Raihan lalu memalingkan wajah menatap istrinya yang tertunduk menangis di samping ranjangnya itu seraya berkata padanya.
“Jika engkau tak sabar lagi bertahan denganku, aku ikhlaskan segala apapun yang engkau putuskan pada diriku.” Cakap raihan.
Silvia mengangkat wajahnya. Lalu dengan mata berkaca ia berkata pada suaminya.
“Aku menikah denganmu bukan karna bahagiamu saja. Namun susahmu juga. Seberat apapun musibah yang menimpa dirimu, aku akan tetap bersamamu. Karena aku tau cintamu tulus untukku.”
Raihan lalu menguatkan diri untuk bangun dari tidurnya. Ia lalu mendekap erat istrinya penuh ketulusan.
"Terima kasih atas kesetiaanmu.”
Alangkah indahnya jika seorang wanita berada dalam dekapan seorang lelaki sholeh yang tulus mencintainya. Segala kesusahan pun akan ditempuhnya demi mendapatkan ketulusan cinta itu. Sebuah cinta yang semata karena Allah.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang ditegarkan hati dan jiwanya.
Ia sering jalan-jalan bersama teman-temannya ke mall, tempat rekreasi, dan kemanapun yang ia inginkan. Sampai pada suatu ketika sampailah ia pada satu titik dimana ia merasakan kejenuhan dengan segala apa yang ada. Limpahan kekayaan itu tidak membuat ia merasakan suatu kebahagiaan yang diinginkannya.
Suatu saat setelah pulang dari berbelanja begitu banyak barang-barang yang tidak begitu dibutuhkan olehnya, ia langsung menghempaskan diri diatas ranjang bersama barang-barang belanjaannya yang tergeletak di samping tubuhnya. Lalu ia terbangun di tengah keheningan disepertiganya malam. Ia lalu menatap wajahnya di cermin merasakan sebuah kepenatan yang mendalam. Ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Sebuah ketentraman pada jiwa. Selama ini ia jauh dari tuhan. Ia lalu mengambil mukena dan sholat malam setelah berwudhu.
“Ya Allah selama ini aku jauh dari-Mu.”
“Aku Lupa akan fitrahku sebagai hambaMu”
“Aku lalai dengan limpahan kemewahan ini”
“Berilah aku petunjuk dalam menggapai keridhoanMu ya Allah.”
Lirih suaranya dalam melantunkan lirik-lirik do'a di tengah keheningan malam disertai butiran air mata ketulusan.
Besoknya ia lalu menemui pak Parno lalu mengatakan padanya kalau ia ingin belajar tentang agama lebih dalam lagi. Ia butuh seseorang yang bisa membimbingnya menjadi lebih baik lagi.
Melihat raut wajahnya Pak Parno dapat membaca kalau dia sedang dalam kegelisahan untuk mencari ketenangan batin. Lalu Pak Parno menawarkan padanya untuk menikah.
“Menikahlah, carilah pemuda sholeh yang bisa membimbingmu menjadi seorang muslimah yang sholehah.”
“Lalu pemuda seperti apa yang harus aku pilih.” Tanya Silvia.
“Pemuda yang takut pada Allah. Karena apabila ia mencintai, dia akan menyayangimu dan apabila ia benci, dia tidak akan menyakitimu.
Imam Hasan Al-Bashri ketika ditanya seseorang, “Dengan siapa aku harus menikahkan putriku?”, beliau menjawab, “Dengan laki-laki yang takut kepada Allah. Karena jika ia menyukainya ia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya ia tidak akan menganiayanya”.
“Adakah pemuda yang seperti itu?” Tanya Silvia lagi.
“Ada ” Ucap Pak Parno. “Di seberang jalan sana ada seorang pemuda yang kerjaannya adalah menjahit sepatu. Dia begitu hanif dan bijaksana. Selain seorang mahasiswa, dia juga menjadi Takmir masjid Al-Hidaiyah di kampung sini.” Sambung pak Parno.
Karena jarang pergi ke masjid sehingga dia tidak mengetahuinya kalau di masjid yang ia merupakan salah satu jama'ahnya ada seorang pemuda sholeh yang sering menjadi imam sekaligus menjaga masjid itu.
Pemuda tersebut adalah salah seorang mahasiswa jurusan tekhnik informatika di sebuah Perguruan Tinggi negeri. Sehari-harinya adalah menjual-beli dan memperbaiki sepatu-sepatu bekas guna menambah keringanan orangtua. Selain itu dia tinggal di masjid turut memakmurkan masjid dengan berbagai program untuk meperdayakan jama’ah dalam mengelola masjid. Karena bagi dia, pemberdayaan jamaah dari sebuah masjid dan masjid lain pun melakukannya merupakan sebuah dasar kebangkitan islam.
Semenjak kehadirannya di daerah tersebut, ia membawa perubahan yang luar biasa. Dengan berbagai upaya ia mengusahakan agar semua umat muslim berjamaah di masjid. Meski tidak semua yang datang namun setidaknya cukup banyak yang telah mau bergegas ke masjid bila mendengar Adzan ketimbang duduk santai di rumah. Dia sangat mengutamakan hal tersebut karena selain menambah ukhuwah sesama muslim, juga menambah rasa persaudaraan.
Rasulullah Salallahu’alaihiwasallam bersabda: "Sesungguhnya Serigala tidak akan memakan jika Kambing tidak sedang bersendirian"
Rasa ingin tahu Silvia terhadap pemuda itu pun semakin menguat. Ia lalu menyuruh Pak Parno untuk mengenalkannya dengan pemuda tersebut. Ia hanya sekedar ingin melihat pemuda itu. Maka suatu saat pak parno mengajaknya mengikuti kajian mingguan yang sering diadakan tiap minggu malam di masjid tersebut guna menambah pengetahuan agama pada warga. Silvia datang bersama pak Parno dan istrinya. Mereka kedua pembantu di rumah Silvia yang telah menjaga Silvia semenjak kecil karena kedua orangtuanya sibuk akan urusan dunianya.
Pada malam itu ust. Jalil yang seharusnya ngisi tausyiah pada malam itu berhalangan hadir. Biasanya kalau pengisi tausyiah berhalangan hadir maka mereka yang menjadi takmir yang menggantikannya. Dan pada malam itu seorang pemuda berbusana muslim cokelat dengan kopiah hitam dikepalanya berdiri dihadapan para jamaah menggantikan posisi pak Jalil kerna berhalangan hadir. Cara penyampaiannya begitu menarik. Hanya satu hadits yang ia bahas pada malam itu namun pembahasannya begitu meluas. Pada malam itu dia bahas tentang “ Enam Kewajiban Muslim Terhadap Muslim Yang Lain”
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia mengundangmu penuhilah undangannya; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)" -H.R Muslim
Dia pun mulai membahas satu demi satu hadits di atas kemudian ia berikan pula tips bagaimana membina hubungan yang baik antara sesame saudar kita. Diantaranya ia menjelaskan bahwasannya apabila kita mendengar berita tentang aib saudara kita cukuplah berita itu sampai pada diri kita. Jangan mengumbarkannya lagi. Setiap manusia pasti pernah mempunyai kesalahan dan sebaik-baiknya manusia adalah yang mau mengakui dosanya dihadapan Allah dan berjanji takkan mengulanginya kembali. Termasuk kita, kita pun pasti pernah mempunyai kesalahan dan tak ingin untuk diumbarkannya. Maka dari itu kita pun harus menutupi aib saudara kita.
Seusai mengikuti kajian tersebut mereka lalu kembali ke rumah. Dalam perjalanan pak Parno menanyakan sesuatu pada Silvia.
“Neng Silvia, tahukah kamu siapa pemuda yang mengisi kajian tadi?” Silvia hanya menggelengkan kepalanya. Sementara Bu Darmi istri pak parno hanya tersenyum menatapnya.
“Dia adalah Raihan pemuda yang bapak ceritakan kemarin.” Sambung pak parno.
Silvia sedikit salah tingkah setelah mendengar apa yang disampaikan pak Parno. Sesampai dirumah dia lalu menghempaskan badannya kembali ke atas ranjangnya.
“Apa mungkin wanita yang berlumurkan dosa, jauh dari keshalihan seperti aku bisa mendapatkan lelaki sholeh seperti itu? Selama ini aku melihat pemuda sholeh tidak ingin mendapatkan istri yang begitu jauh dari agama seperti aku ini? Yang Hina lagi keji. Lalu pantaskah wanita seperti aku diperistrikan orang yang sholeh?” Pertanyaan itu yang terus hadir dibenaknya. Ia merasa sungguh tidak pantas wanita seperti dia mendapatkan lelaki shesholeh Raihan. Apalagi Ia pernah mendengar firman Allah bahwa Lelaki baik-baik hanya diperuntuk wanita baik-baik dan lelaki keji diperuntuk wanita keji pula.
Walaupun dia merasa dirinya hina hina lagi keji, namun dia tidak ingin mendapatkan lelaki seperti itu pula. Batinnya semakin menangis membayangkan semua itu. Lalu suatu hari dia menemui ustadzah sofi, Guru agamanya ketika masih SMA dahulu. Ia lalu menyampaikan keluh dan kesahnya pada ustadzah tersebut.
“Batinku telah rindu untuk menikah ya ustadjah. Lelaki yang aku inginkan Ialah dia yang sholeh, yang takut pada Allah dan mencintai Rasulnya. Namun bagaimana mungkin wanita seperti aku bisa mendapatkan lelaki seperti itu?” Tanya Silvia
“Mayyahdillahu fahuwal muhtadi wamayyudhlil falantajidalahu waliyyammursida”
“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
“Ketika Allah berkehendak, tak ada satu makhlukpun yang mampu mencegahNya. Seseorang yang buruk dimata manusia, belum tentu buruk pula dimata Allah. Siapa tahu kamu mempunyai suatu sisi positif yang bisa diandalkan dihadapan Allah. Tidak ada yang tak mungkin bagiNya. Jika Ia telah mengatakan Jadi, maka jadilah. Kamu menginginkan untuk kembali kepadaNya itu sudah baik.” Cakap Ustadzah Sofi.
“Tapi.. Bukankah lelaki sholeh mereka hanya menginginkan wanita yang sholehah?” Tanyanya lagi.
“Kenakanlah jilbab yang menutupi hingga ke dadamu anakku. Lalu jiwailah apa yang engkau kenakan itu. Mulai sekarang, mendekatlah pada Allah kerna sesungguhnya Allah itu dekat denganmu. Kalau memang Allah menghendaki lelaki itu padamu maka dialah petunjuk Allah bagimu untuk menuntunmu menjadi wanita yang lebih dekat padaNya.” Jelas ustadzah Sofi.
Kita sering melihat adakala seorang suami begitu terlihat baik sedangkan istrinya tidak, ataupun sebaliknya. Pemikiran kita pun mulai terbalik dari surat Annur : 26. Padahal orang yang terlihat baik di mata kita belum tentu baik pula dimata Allah. Begitupun orang yang terlihat buruk dihadapan kita belum tentu buruk pula di hadapan Allah. Siapa tahu orang yang baik itu mempunyai satu sisi buruk yg membuat Allah murka terhadapnya. Siapa tau pula orang yg terlihat buruk itu mempunyai satu sisi kebaikan yang membuat Allah sayang padanya. Atau jika seorang lelaki itu benar baik dan wanita benar burk, maka itu ujian baginya untuk bagaimana mengubah pasangannya itu menjadi lebih baik lagi
Silvia lalu beritahukan itikad baiknya itu pada kedua orangtuanya saat mereka telah berkumpul dirumah. Ia menyampaikan bahwa ia telah ingin menikah dan kedua orangtuanya pun menyetujuinya. Setelah mendapatkan persetujuan dari orangtua, lewat bantuan pak parno akhirnya Raihan menikahi wanita cantik anak konglomerat kaya tersebut. Raihan mampu menuntunnya menjadi wanita yang sangat sholehah. Ia paham akan kewajibannya sebagai seorang istri serta tanggungjawabnya terhadap suami.
Setelah menikah, ia mengikuti suami pulang ke kampung halaman dan meninggalkan segala bentuk kemewahan yang selama ini dinikmatinya. Ia lalu memilih untuk hidup dengan segala kesederhanaan bersama suami. Ia sangat merasa bahagia berada dalam dekapan cinta seorang suami yang setia. Yang sederhana dan mencintainya dengan setulus hati. Meski pun kemana-mana tak lagi memakai mobil sedan. Tak lagi punya uang yang cukup tuk berbelanja apa yang di inginkannya namun ia tetap mensyukurinya kerna islam telah menjadi pedoman baginya atas tuntunan suaminya.
Namun, seseorang takkan sampai pada puncak keimanan sebelum ia diuji oleh Allah. Takkan sampai pada kebahagiaan sejati sebelum ia melewati ujian dari Sang Khalik.
Pada suatu ketika ibu dari sang suami jatuh sakit sehingga harus dirawat Rumah Sakit hingga ia menemukan ajalnya. Sang suami harus membayar administrasi Rumah Sakit serta biaya pengobatan sang bunda hingga uang simpanannya habis. Uang untuk makan dirumah pun tak seberapa yang di pegang sang Istri. Raihan lalu mencari pekerjaan sampingan sebagai buruh di perusahaan penyuplai semen yang mengangkut semen keluar masuk gudang. Kerna gajinya sebagai tenaga honorer di Perusahaan Listrik Negara (PLN) tak cukup untuk biaya makan ditambah perawatan sang bunda yang masih tertunggak di Rumah Sakit.
Melihat suaminya pulang dengan segala kelelahan, Silvia merasa kasihan. Ia selalu mengusap keringat di wajah sang suami yg lelah seusai bekerja tersebut dengan penuh haru. Ia selalu menyambut suaminya pulang dengan senyuman tulusnya lalu memasakkan air panas untuk suaminya mandi. Seusai mandi Raihan lalu membuka penutup saji diatas meja makan namun tak ada makanan apapun. Ia menyadari kalau sudah tak ada pegangan pada istrinya. Ia lalu menatap kebelakang setelah mendengar suara dibelakangnya.
“Kita puasa ya Zaujie..” Kata silvia sambil mendekat kearah sang Suami. Raihan lalu mengangguk seraya berkata insya Allah esok dia akan mencarikan uang untuk makan mereka besok.
Besok pagi Silvia tak bisa melihat suaminya pergi bekerja dengan perut kosong yang hanya berbekalkan air putih hangat. Ia lalu pergi ke rumah tetangga meminta menyuci baju mereka yang kotor demi mendapatkan uang yang halal agar ketika suami pulang nanti sudah disajikan makanan untuk suaminya. Sungguh hal ini sangat sulit tuk ia lakukan. Anak seoarang konglomerat kaya berubah menjadi seorang tukang cuci. Namun ini harus ia lakukan demi rasa sayangnya pada suami. Meskipun ketika mencuci ia sering meneteskan airmata.
Ketika suaminya pulang betapa kagetnya Ia. Banyak makanan yang dihidangkan diatas meja.
“Darimana engkau mendapatkan semua ini ya Zaujati?” Tanya Raihan.
Silvia lalu menjelaskan apa yang dilakukan olehnya saat suaminya berangkat kerja.
“Walillahi aku tidak bisa memakan makanan ini.” Cakap sang suami kerna merasa malu pada dirinya sendiri yg tak mampu menafkahi istri dengan baik.
Sang istri lalu menunduk seraya berkata
“Maafkan aku ya Zaujie. Aku melakukan ini tanpa sepengetahuanmu.”
“Kamu tidak salah., aku yang salah. Aku tidak mampu menjadi suami yang baik untukmu.”
Suaminya lalu mendekatinya memegang kedua tangannya. Ia yang tertunduk pun mengangkat kepalanya menatap mata suaminya yang sangat disayanginya itu. Lalu suaminya berkata padanya.
“Maafkan aku yang telah menikahimu. Aku hanya bisa membawamu ke dalam jurang kesengsaraan. Namun aku berjanji aku takkan pernah menyakitimu dengan fisikku ini.”
“Bagiku akhunlah lelaki terbaik yang Allah berikan untukku. Dan aku patut untuk menjaganya.. Engkaulah petunjuk Allah sebagai jalan hidaiyah untukku. Dan aku menyayangimu.”
Sang suami lalu memeluknya dengan airmata haru, Allah telah memberikannya seorang istri yang sangat tegar. Dan ia akan terus mensyukurinya
Cinta yang tulus mampu mengalahkan segalanya. Untuk apa harta berlimpah jika tanpa cinta yang tulus? Untuk apa pangkat yang tinggi jika tanpa kasih sayang yang nyata?
Ketika kita dicintai oleh orang yang benar-benar mencintai kita, kita akan merasakan betapa indahnya dunia ini. Namun perlu diingat bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki butuh pengorbanan. Seorang Silvia anak konglomerat kaya rela menanggalkan kehidupan masa lalunya yang penuh kemewahan demi mendapatkan sosok pemuda sholeh yang mencintainya sepenuh hati juga sebuah pengorbanan.
Belum cukup sebulan Raihan bekerja di perusahan penyuplai semen tersebut, tak lama kemudian ia jatuh sakit. Ia telah merasa kurang enak badan semenjak beberapa hari sebelumnya namun ia tetap memaksakan diri untuk tetap bekerja meski sesekali batuk menghampirinya. Dony, teman kerjanya telah mengatakan kalau besok hari ia tak usah dating namun Ia tetap saja datang untuk bekerja dan pada saat itulah batuk disertai darah keluar dari mulutnya. (hemoptisis)
Sang istri yang mengurung diri di rumah saat suaminya pergi bekerja telah merasakan kegelisahan. Dan ternyata firasatnya itu benar saat suaminya dibawah pulang sudah dalam keadaan lemah tak berdaya oleh teman kerjanya.
Belum genap sebulan suaminya bekerja sehingga gaji bulanannya belum diterima. Istrinya lalu berlarian kerumah-rumah tetangga untuk menjual gelang emas miliknya yang diberikan ayahnya ketika masih gadis dahulu. Meski harga tak sesuai dengan yang seharusnya namun ia harus menjualnya demi keselamatan suaminya.
Setelah mendapatkan uang, ia lalu membawa suaminya ke Rumah sakit di kota naik angkutan. Disana ia duduk di samping ranjang suaminya agar ketika suami siuman dari ketidaksadarannya ia telah menyambutnya dengan senyuman lalu melakukan apa yang diinginkan suaminya.
Awalnya dokter mengira suaminya hanya menderita Tubercolosis atau bronkiektasis namun ternyata setelah pemeriksaan ia di Vonis menderita Tumor karsinoma paru.
Sebenarnya jika hanya sekedar menderita karsinoma paru tidak sampai membawa penderita pingsan namun karena bekerja keras yang ditambahi kurang makan membuat daya tahan tubuh raihan lemah sehingga ia tak sadarkan diri.
Silvia tetap berada disamping ranjang suaminya. Menunggu dan terus menunggu. Hingga kadang ia tertidur dalam penantiannya kemudian bangun lagi. Hingga suatu malam ia terbangun di sepertiganya malam. Ia lalu menatap kearah jarum jam yang terus berbunyi setiap detiknya itu.
Jarum jam menunjukkan pukul 03:00 dini hari. Ia lalu berwudhu lalu tepat di samping ranjang suaminya Ia menangis mengeluh pada Allah atas apa yang dihadapinya ini.
“Ya Allah, jika memang sakit yang kurasa ini adalah cintaMu padaku karena Engkau ingin aku terus mengeluh padaMu, aku ridho jiwa ini untuk terus disakiti. Namun ya Allah Hambamu yang hina dan kotor ini memohon padaMu. Jangan Engkau biarkan Suami hamba terus diam dan kaku di ranjang itu ya Allah. Hamba mohon ya Allah, hamba mohon.. Hamba sangat mencintainya…
Keheningan malam menjadi saksi bahwa ada seorang wanita yang syujud simpuh pada Robbnya. Aliran air mata bak gersang mendamba hujan mengalir membasahi sajadah panjang yang dibentangkannya..
Ketika Allah rindu pada hambanya, Ia akan mengirimkan sebuah kado istimewa melalui malaikat Jibril yg isinya adalah ujian. Dalam hadits kudsi Allah berfirman. "Pergilah pada hambaku lalu timpakanlah berbagai ujian padanya karna Aku ingin mendengar rintihannya." (HR Thabrani dari Abu Umamah)
Setelah sholat lail yang dilanjutkannya dengan sholat subuh, ia kembali lagi duduk di dekat ranjang suaminya. Menatap wajah lelaki sholeh yang dicintainya tersebut dengan sesekali mengusap kepalanya dengan usapan ketulusan. Ia lalu tertidur disamping suaminya dengan tangan yang terus menggenggam erat tangan suaminya..
Tak lama kemudian ia merasa ada gerakan dari tangan suaminya. Ia lalu secepatnya bangun dari tidurnya. Ia melihat raihan mulai mencoba membuka matanya. Hati gembira yang teramat sangat setelah tiga hari menunggu di bangsal itu. Ia lalu menyambut kesadaran suaminya itu dengan senyuman cerianya dan melupakan segala kepenatan yang dihadapinya agar suaminya pun bahagia ketika menatapnya.
Silvia lalu segera memanggil suster untuk memeriksa suaminya yang tengah sadarkan diri. Suster lalu memeriksa Raihan dan mengatakan kalau kondisinya sudah cukup membaik. Ucapan hamdala lalu terlontar dari bibir Silvia. Namun kata dokter perlu istirahat selama dua hari lagi hingga sembuh total baru raihan bisa pulang dengan persyaratan jangan kerja berat dulu.
Setelah dokter dan perawatnya pergi,Raihan lalu bertanya pada Silvia.
“Siapa yang membayar seluruh administrasi dan biaya pengobatanku ini?”
Silvia yang tengah duduk disamping ranjang sambil membaca buku lalu mengangkat kepalanya tersenyum pada suaminya.
“Tidak usah dipikirkan. Semua akan baik-baik saja. Yang penting Akang bisa sembuh dulu.”
Raihan lalu terdiam. Kemudian ia menatap tangan istrinya yang sedang memegang buku membuat ia curiga. Ia lalu menyuruh Silvia mengangkat buku yang dipegangnya lebih tinggi lagi. Silvia heran mendengar permintaan suaminya tersebut namun ia menurutinya. Dan ketika tangan di angkatnya lebih tinggi, tangan bajunya yang sedikit longgar terturun sehingga suaminya melihat sudah tak ada gelang lagi di pergelangan tangan istrinya. Raihan lalu memalingkan wajah dari arah Silvia. Perlahan airmatanya pun jatuh membasahi bantal yang ia tiduri.
Silvia masih saja heran terhadap suaminya yang memalingkan wajah darinya. Dia masih saja tak sadarkan diri bahwa sang suami telah mengetahui apa yang dilakukan olehnya.
Ia lalu mendekati suaminya dan terlihatlah airmata di wajah suaminya tersebut.
“Kang, kenapa menangis??” Tanya Silvia sendu.
Raihan tak menjawabnya dan tak mau menatapnya. Ia merasa malu menatap istrinya sendiri. Ia malu pada dirinya yang hanya menyusahkan anak orang.
"Apa salahku Kang? Kenapa tak mau menatapku.” Tanya sivia lagi.
“Aku malu Sil. Aku malu. Aku hanya seorang suami yang menyusahkan istri. Aku bahkan tidak bisa memberikan apa-apa untukmu.
“Ada apa kang? Aku tak dapat memahaminya.” Tanya silvia lagi. Belum paham akan maksud suaminya.
“Tolong jawab. Dimana gelang di tangan kirimu?”
Silvia lalu tertunduk menangis. Menggenggam erat tangan suaminya yang masih saja memalingkan wajah tersebut lalu menciumnya.
“Maafkan aku Kang. Aku telah menjualnya” Ucap Silvia seduh.
“Aku tak bisa memaafkan diriku.. aku tak bisa.. Ya Allah, ampuni hambaMu ini.” Rintih Raihan.
Silvia pun terseduh mendengar rintihan suaminya tersebut. Raihan lalu memalingkan wajah menatap istrinya yang tertunduk menangis di samping ranjangnya itu seraya berkata padanya.
“Jika engkau tak sabar lagi bertahan denganku, aku ikhlaskan segala apapun yang engkau putuskan pada diriku.” Cakap raihan.
Silvia mengangkat wajahnya. Lalu dengan mata berkaca ia berkata pada suaminya.
“Aku menikah denganmu bukan karna bahagiamu saja. Namun susahmu juga. Seberat apapun musibah yang menimpa dirimu, aku akan tetap bersamamu. Karena aku tau cintamu tulus untukku.”
Raihan lalu menguatkan diri untuk bangun dari tidurnya. Ia lalu mendekap erat istrinya penuh ketulusan.
"Terima kasih atas kesetiaanmu.”
Alangkah indahnya jika seorang wanita berada dalam dekapan seorang lelaki sholeh yang tulus mencintainya. Segala kesusahan pun akan ditempuhnya demi mendapatkan ketulusan cinta itu. Sebuah cinta yang semata karena Allah.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang ditegarkan hati dan jiwanya.
Minggu, 22 Desember 2013
Kemana Perginya Doa?
Jika berharap uang, ternyata yang datang hutang.
Jika meminta kemudahan, yang hadir justru kesulitan.
Jika memohon kesehatan, yang menghampiri penyakit.
Jangan kau tanya mengapa ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala tak kabulkan do'a.
Jangan kau paksa kapan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala ijabahkan do'a.
Jangan kau heran mengapa ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala abaikan do'a.
Tapi tanyakan seperti apa tubuhmu bicara.
Tanyakan kehalalan asupan yang kau telan.
Tanyakan seperti apa hatimu berkata.
Apa Subuhmu menjelang Dhuha?
Apa Dhuhurmu sisa waktu bisnis yang kau punya?
Apa Ashar-Maghribmu terlalu dekat waktunya?
Apa Isyamu terlewat karena lelah yang ada?
Apa Tahajudmu terlepas karena terlelap tidur?
Apa Al-Qur'anmu tergeletak karena tak pernah di baca?
Apa hartamu tersimpan tak terbagi?
Jangan salahkan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.
Jika kau kira bisa bebas berbuat dosa. Lantas luruh dengan berhaji dan rutin melaksanakan umroh tiap tahun adanya.
Jangan salahkan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala jika ayat suci yang kau pilih beberapa :
- Surat Yusuf agar mendapatkan putra ganteng nan sholeh.
- Surat Maryam agar memperoleh putri nan cantik sholehah.
- Surat Ar-Rahman agar berlimpah rezeki.
- Surat Yasiin untuk ” meratapi ” mayat.
- Surat Al-Kahfi yang khusus di” rapal ”pada malam jum'at.
Dan jangan salahkan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala jika ayat-ayat-Nya tak pernah di baca ataupun di amalkan dalam kehidupan nyata. Jika titah ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala hanya menjadi beban, jika urusan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala di hitung berdasarkan untung rugi.
Jika meminta kemudahan, yang hadir justru kesulitan.
Jika memohon kesehatan, yang menghampiri penyakit.
Jangan kau tanya mengapa ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala tak kabulkan do'a.
Jangan kau paksa kapan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala ijabahkan do'a.
Jangan kau heran mengapa ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala abaikan do'a.
Tapi tanyakan seperti apa tubuhmu bicara.
Tanyakan kehalalan asupan yang kau telan.
Tanyakan seperti apa hatimu berkata.
Apa Subuhmu menjelang Dhuha?
Apa Dhuhurmu sisa waktu bisnis yang kau punya?
Apa Ashar-Maghribmu terlalu dekat waktunya?
Apa Isyamu terlewat karena lelah yang ada?
Apa Tahajudmu terlepas karena terlelap tidur?
Apa Al-Qur'anmu tergeletak karena tak pernah di baca?
Apa hartamu tersimpan tak terbagi?
Jangan salahkan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.
Jika kau kira bisa bebas berbuat dosa. Lantas luruh dengan berhaji dan rutin melaksanakan umroh tiap tahun adanya.
Jangan salahkan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala jika ayat suci yang kau pilih beberapa :
- Surat Yusuf agar mendapatkan putra ganteng nan sholeh.
- Surat Maryam agar memperoleh putri nan cantik sholehah.
- Surat Ar-Rahman agar berlimpah rezeki.
- Surat Yasiin untuk ” meratapi ” mayat.
- Surat Al-Kahfi yang khusus di” rapal ”pada malam jum'at.
Dan jangan salahkan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala jika ayat-ayat-Nya tak pernah di baca ataupun di amalkan dalam kehidupan nyata. Jika titah ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala hanya menjadi beban, jika urusan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala di hitung berdasarkan untung rugi.
Aku Hanyalah An-Nisa Akhir Zaman
Yaa Rabbi ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta, berfikir sebelum bertindak, santun dalam berbicara, tenang ketika gundah, diam ketika emosi melanda, bersabar dalam setiap ujian. Jadikanlah kami orang yg selembut Abu Bakar Ash-Shiddiq, sebijaksana Umar bin Khattab, sedermawan Utsman bin Affan, sepintar Ali bin Abi Thalib, sesederhana Bilal, setegar Khalid bin Walid radiallahu'anhum.
Ya Allah.
Jadikan aku tabah seperti Ummu Khadijah, sehingga dirinya digelar afifah solehah, dialah wanita pertama, tiada ragu mengucap syahadah, pengorbanan bersama Rasulullah, susah senang bersama, walau hilang harta karena berdakwah, walau dipulau 3 tahun 3 bulan, imannya sedikit pun tak berubah, mampukah aku setabah dirinya?Andai diuji sedikit sudah rebah, baru dihina sudah mengalah, Ya Allah tabahkan aku sepertinya.
Ya Allah..
Jadikan aku semulia Fatimah Az-Zahrah, betapa tinggi kasihnya pada ayahandanya,tidak pernah putus asa pada perjuangan dakwah baginda, anak yang semulia pribadi baginda, tangannya lah yang membersihkan luka, tangannya jua yang membersihkan cela pada jasad Rasulullah tercinta, gagahnya dirinya pada dugaan, mampukah aku sekuat Fatimah?Saat diri terluka dendam pula menyapa, saat disakiti maki pula mengganti
Yaa Rabbi teguhkan hatiku sepertinya.
Ya Allah..
Jadikan aku sehebat Masyitah dan Sumaiyah, tukang sisir yang beriman dan keluarga Yasir yang bertakwa, sungguh kesabaran mereka mengguncang dunia, iman tetap terpelihara walau nyawa jadi taruhan. Mampukah sabarku seperti mereka?Tatkala digoda nafsu dunia entah kemana hilangnya Iman di dada.
Ya Rahman..
Kuatkan Imanku seperti Masyitah, terjun penuh yakin bersama bayi ke kuali mendidih, karena yakin Allah pasti disisi, sabarkan aku seperti Sumaiyah, biar tombak menusuk jasad iman sedikit pun takkan rapuh.
Ya Allah..
Jadikan aku semulia Ummu Sulaim, perkawinannya dengan Abu Talhah atas mahar Iman, Islamlah Abu Talhah sehingga menjadi sahabat Rasulullah, betapa hebatnya tarbiyyah istri pada suami, hinggakan segala panahan ke Rasulullah pada hari uhud disambut dengan belakang jasad Abu Talhah.
Ya Allah..
Tarbiyyahkan aku pada cinta sepertinya, tingginya nilai cinta pada harga Iman, mampukah aku menatap cinta itu? Sedangkan rupa yang menjadi pilihan, ketulusan Iman diketepikan. Ya Allah ilhamkan aku pada cinta sepertinya.
Ya Allah…
Jadikan aku sehebat Aisya Humaira, istrri termuda Rasulullah, biar dilempar fitnah dia tetap teguh pada ketetapanNya, istri sejati yang memangku Nabi pada saat terakhir baginda. Hadits dan Sunnah Rasulullah dipertahankan, betapa hatimu seorang mujahidah.
Ya Allah..
Mampukah aku seperti dirinya? Pada fitnah yang melanda, diri mula goyah dan putus asa, teguhkan Imanku sepertinya.
Ya Allah..
Teringat diri pada Khansa, empat orang anaknya mati di Jalan ALLAH, dia meratap tangis. Anak sulungnya syahid, anak keduanya turut syahid, anak ketiganya dan keempat jua mati syahid, namun tangisan itu bukan karena kepergian anak tercinta, jawabnya karena tiada lagi anak yang dihantar untuk berjihad
Ya Allah..
Mampukah aku menjadi ibu yang berjihad? Sedang anak tak tutup aurat pun masih tak terjawab. Berikan aku kekuatan sepertinya agar bersedia pada akhirat.
Wahai kaum Adam yang bergelar khalifah diriku bukan setabah Ummu Khadijah, bukan jua semulia Fatimah Az-Zahra, apalagi sesabar Masyitah dan Sumaiyah, maupun sehebat Ummu Sulaim. Tidak pula seteguh Aisya Humaira Karena diri ini hanyalah An-Nisa akhir zaman
Dimana aurat semakin dibuka terdedah
Dimana syahadah hanya pada nama
Dimana dunia yang terus dipuja
Dimana nafsu fana menjadi santapan utama
Dimana ukhuwah senantiasa dipinggirkan
Wahai kaum Hawa
Kita hanya An-Nisa para pendosa yang terbanyak di neraka, lantas walau tak setabah para Mujahidah namun tabahlah pada ketetapan Allah Karena padanya ada Syurga. Walau tak semulia para wanita sirah Tapi muliakan diri dengan agama yang memelihara karena padanya ada Pahala. Walau tak sesabar para wanita solehah namun sabarkan jiwa pada nafsu dunia yang menyiksa. Karena padanya ada bahagia.
Sesungguhnya Hawa tercipta dari tulang rusuk kaum Adam, bukan untuk ditindas karena lemah. Tapi untuk dilindungi karena Indah dan Indah apabila tertutup dan terpelihara. Karena disitulah terjaganya Syahadah bagai mekarnya wanita dalam sirah. Tuntunlah kami ke arah syurgaMu..
Ya Allah.
Jadikan aku tabah seperti Ummu Khadijah, sehingga dirinya digelar afifah solehah, dialah wanita pertama, tiada ragu mengucap syahadah, pengorbanan bersama Rasulullah, susah senang bersama, walau hilang harta karena berdakwah, walau dipulau 3 tahun 3 bulan, imannya sedikit pun tak berubah, mampukah aku setabah dirinya?Andai diuji sedikit sudah rebah, baru dihina sudah mengalah, Ya Allah tabahkan aku sepertinya.
Ya Allah..
Jadikan aku semulia Fatimah Az-Zahrah, betapa tinggi kasihnya pada ayahandanya,tidak pernah putus asa pada perjuangan dakwah baginda, anak yang semulia pribadi baginda, tangannya lah yang membersihkan luka, tangannya jua yang membersihkan cela pada jasad Rasulullah tercinta, gagahnya dirinya pada dugaan, mampukah aku sekuat Fatimah?Saat diri terluka dendam pula menyapa, saat disakiti maki pula mengganti
Yaa Rabbi teguhkan hatiku sepertinya.
Ya Allah..
Jadikan aku sehebat Masyitah dan Sumaiyah, tukang sisir yang beriman dan keluarga Yasir yang bertakwa, sungguh kesabaran mereka mengguncang dunia, iman tetap terpelihara walau nyawa jadi taruhan. Mampukah sabarku seperti mereka?Tatkala digoda nafsu dunia entah kemana hilangnya Iman di dada.
Ya Rahman..
Kuatkan Imanku seperti Masyitah, terjun penuh yakin bersama bayi ke kuali mendidih, karena yakin Allah pasti disisi, sabarkan aku seperti Sumaiyah, biar tombak menusuk jasad iman sedikit pun takkan rapuh.
Ya Allah..
Jadikan aku semulia Ummu Sulaim, perkawinannya dengan Abu Talhah atas mahar Iman, Islamlah Abu Talhah sehingga menjadi sahabat Rasulullah, betapa hebatnya tarbiyyah istri pada suami, hinggakan segala panahan ke Rasulullah pada hari uhud disambut dengan belakang jasad Abu Talhah.
Ya Allah..
Tarbiyyahkan aku pada cinta sepertinya, tingginya nilai cinta pada harga Iman, mampukah aku menatap cinta itu? Sedangkan rupa yang menjadi pilihan, ketulusan Iman diketepikan. Ya Allah ilhamkan aku pada cinta sepertinya.
Ya Allah…
Jadikan aku sehebat Aisya Humaira, istrri termuda Rasulullah, biar dilempar fitnah dia tetap teguh pada ketetapanNya, istri sejati yang memangku Nabi pada saat terakhir baginda. Hadits dan Sunnah Rasulullah dipertahankan, betapa hatimu seorang mujahidah.
Ya Allah..
Mampukah aku seperti dirinya? Pada fitnah yang melanda, diri mula goyah dan putus asa, teguhkan Imanku sepertinya.
Ya Allah..
Teringat diri pada Khansa, empat orang anaknya mati di Jalan ALLAH, dia meratap tangis. Anak sulungnya syahid, anak keduanya turut syahid, anak ketiganya dan keempat jua mati syahid, namun tangisan itu bukan karena kepergian anak tercinta, jawabnya karena tiada lagi anak yang dihantar untuk berjihad
Ya Allah..
Mampukah aku menjadi ibu yang berjihad? Sedang anak tak tutup aurat pun masih tak terjawab. Berikan aku kekuatan sepertinya agar bersedia pada akhirat.
Wahai kaum Adam yang bergelar khalifah diriku bukan setabah Ummu Khadijah, bukan jua semulia Fatimah Az-Zahra, apalagi sesabar Masyitah dan Sumaiyah, maupun sehebat Ummu Sulaim. Tidak pula seteguh Aisya Humaira Karena diri ini hanyalah An-Nisa akhir zaman
Dimana aurat semakin dibuka terdedah
Dimana syahadah hanya pada nama
Dimana dunia yang terus dipuja
Dimana nafsu fana menjadi santapan utama
Dimana ukhuwah senantiasa dipinggirkan
Wahai kaum Hawa
Kita hanya An-Nisa para pendosa yang terbanyak di neraka, lantas walau tak setabah para Mujahidah namun tabahlah pada ketetapan Allah Karena padanya ada Syurga. Walau tak semulia para wanita sirah Tapi muliakan diri dengan agama yang memelihara karena padanya ada Pahala. Walau tak sesabar para wanita solehah namun sabarkan jiwa pada nafsu dunia yang menyiksa. Karena padanya ada bahagia.
Sesungguhnya Hawa tercipta dari tulang rusuk kaum Adam, bukan untuk ditindas karena lemah. Tapi untuk dilindungi karena Indah dan Indah apabila tertutup dan terpelihara. Karena disitulah terjaganya Syahadah bagai mekarnya wanita dalam sirah. Tuntunlah kami ke arah syurgaMu..
Minggu, 08 Desember 2013
He's My Favorite Qari'
Nama lengkapnya Muhammad Shalih Ibrahim Al junayd. Berasal dari Manama Bahrain, Palestina. Kelahiran tahun 1994, sejak masih dalam kandungan dia sudah dibiasakan diperdengarkan murotal. Subhanallah..



Langganan:
Postingan (Atom)