Rabu, 19 Februari 2014

Kota Impian

Jogja. Satu nama kota yang tidak asing lagi di telinga ku, terletak di tengah Pulau Jawa yang begitu kental dengan nama Sultan Hamengkubuwono, sebuah kota yang dengan segala sisi keindahannya membuatku tertarik untuk bisa mengunjunginya. Dengan Candi Borobudur yang sudah ribuan tahun hingga kini diperbarui kembali, Jalan yang begitu terkenal dengan namanya "Malioboro". Dari namanya saja sudah begitu jelas, "Daerah Istimewa Yogyakarta". Entah apa yang membuat diri ini tergerak untuk merasakan indahnya kota yang khas akan makanan Gudek dan Bapia ini. Mungkin juga karena kota ini merupakan tempat kelahiran papaku. Papa? yaa hanya secuil kenangan tentangnya dengan Kota Impian ku ini.
Malioboro adalah nama salah satu jalan dari tiga jalan di Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Malioboro dan Jalan Jend. A. Yani. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.

Terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja, serta berbagai kemenarikan lainnya.

Pasar Beringharjo
Kasongan
Pasar Seni Gabusan
Pantai Baron - Desa Kemadang, Kec. Tanjungsari, Kab Gunungkidul
Pantai Samas - Des. Parangtritis, Kec. Kretek, Kab. Bantul
Air Terjun Gedangan - Bantul
Air Terjun Goa Cerme - Bantul
Air Terjun Jogan - Gunung Kidul
Air Terjun Parangtritis - Bantul

       


Satu hal yang kuingat akan kota ini adalah ketika aku kecil dulu bercerita dengan sosok yang aku rindukan saat ini mengenai segala isi keraton. Bahwa setiap wanita harus lembut dan penuh Toto Kromo kalau kata orang jogja, anggun, ayu, abdi dalem yang santun.  Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan.
Kebun Binatang Gembira Loka
Candi Klodangan - Dusun Klodangan, Desa Sendangtirto, Kec. Berbah, Kab. Sleman
Monumen Jogja Kembali
Goa Selarong
Gua Rancang Koncono
Gua Cerme
Museum Sonobudoyo
Pemakaman Imogiri
Kerajinan kulit Manding Bantul.

Juga ingat akan cerita guruku sewaktu SMP dulu dengan sejarahnya Museum Jogja Kembali. Terkantuk-kantung mendengarnya berdongeng mengenai Museum itu, tapi kini menjadi Kota yang amat aku impikan.

    



Pantai Parangtritis - Desa Parangtritis, Kec. Kretek, Kab. Bantul

Pantai+Parangtritis

Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di Yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup, Krakal dan Glagah. Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung-gunung pasir di sekitar pantai, yang biasa disebut gumuk.

Objek wisata ini sudah dikelola oleh pihak Pemkab Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar yang menjajakan souvenir khas Parangtritis. Di Parangtritis ada juga ATV, kereta kuda & kuda yang dapat disewa untuk menyusuri pantai dari timur ke barat.

Pantai Indrayanti - Desa Sidoharjo, Kec. Tepus, Kab. Gunungkidul
Pantai Pok Tunggal - Desa Tepus, Kec. Tepus, Kab. Gunungkidul
Pantai Sepanjang - Timur Pantai Kukup, Kab. Gunungkidul
Pantai Ngobaran - Desa Kanigoro, Kec. Saptosari, Kab. Gunungkidul
Pantai Sadeng - Kec. Girisubo, Kab. Gunungkidul
Pantai Glagah - Kab. Kulon Progo
Pantai Wediombo - Desa Jepitu, Kec. Girisubo, Kab. Gunungkidul
Candi Kalasan adalah Peninggalan Budha yang Tertua di Yogyakarta - Desa Kalibening, Kec. Kalasan, Kab. Sleman
Candi Gembirowati - Desa Girijati, Kec. Panggang, Kab. Gunungkidul


Candi Prambanan - Desa Tlogo, Kec. Prambanan, Kab. Sleman

Candi+Prambanan

Merupakan candi tercantik di dunia, dan terletak di desa Prambanan, pulau Jawa, kurang lebih 20 kilometer timur Yogyakarta, 40 kilometer barat Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.

Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil.
Kraton Ratu Boko, memiliki Kemegahan di Bukit Penuh Kedamaian - Desa Dawung, Kec. Prambanan, Kab Sleman
Candi Ijo, Candi ini Letaknya paling tinggi di Yogyakarta - Desa Sambirejo, Kec. Prambanan, Kab. Sleman
Candi Abang - Desa Jogotirto, Kec. Berbah, Kab. Sleman
Candi Gampingan - Desa Sitimulyo, Kec. Piyungan, Kab. Bantul
Candi Sari - Desa Candisari, Kec. Kalasan, Kab. Sleman
Candi Kedulan - Desa Kedulani, Kec. Kalasan, Kab. Sleman
Candi Sambisari - Desa Purwomartani, Kec. Kalasan, Kab. Sleman
Candi Sorogedug - Dusun Sorogedug, Desa Madurejo, Kec Prambanan, Kab. Sleman
Candi Kimpulan - Dusun Kimpulan, Desa Umbulmartani, Kec. Ngemplak, Kab. Sleman

Taman Sari

Taman+Sari+-+Espilen+Blog__1377953140_114.79.12.86

Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Keraton Yogyakarta adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Yogyakarta, yang dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor. Kompleks Taman Sari setidaknya dapat dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama adalah danau buatan yang terletak di sebelah barat. 

Bagian selanjutnya adalah bangunan yang berada di sebelah selatan danau buatan antara lain Pemandian Umbul Binangun. Bagian ketiga adalah Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati yang terletak di selatan bagian kedua. Bagian terakhir adalah bagian sebelah timur bagian pertama dan kedua dan meluas ke arah timur sampai tenggara kompleks Magangan.
Candi Banyunibo - Desa Sambirejo, Kec. Prambanan, Kab. Sleman
Candi Morangan - Desa Morangan, Kec. Ngemplak, Kab. Sleman
Candi Risan - Dusun Candirejo, desa Risan, Kec. semin, Kab. Gunungkidul, 
Situs Mantup - Dusun Mantup, Desa Baturetno, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul
Situs Payak - Dusun Payak, Desa Srimulyo, Kec. Piyungan, Kab. Bantul
Situs Mangir - Dusun Mangir, Desa Sendangsari, Kec. Pajangan, Kab. Bantul
Situs Arca Bugisan - Dusun Bugisan, Desa Purwomartani, Kec. Kalasan, Kab. Sleman
Situs Arca Gupolo - Desa Sambirejo, Kec. Prambanan, Kab. Sleman
Situs Gua Sentono - Desa Jogotirto, Kec. Berbah, Kab.



I'll come soon Jogjaaaaaaaaaa, someday :'D





Sumber : https://www.google.com/search?q=tempat+wisata+jogja&source=lnms&sa=X&ei=xWAEU-jKMIqlrQfn64DwDQ&ved=0CAYQ_AUoAA&biw=1280&bih=582&dpr=


Minggu, 09 Februari 2014

Indahnya Perjalanan Ukhuwah

Pernah aku meminta pada Allah untuk selalu membimbingku ke arah yang baik, bukan pernah tepatnya selalu meminta seperti itu. Tak pernah bosan aku menengadahkan sepasang tanganku, berharap kepadaNya untuk selalu arahkanku dijalanNya. Karena satu keyakinan ku adalah, bahwa Doa bisa merubah takdirNya.
Ku perbaiki kembali komunikasi ku kepadaNya. Bukan hanya perkara kewajibanku sebagai layaknya seorang muslimah, tapi sebagai bukti pada diriku bahwa aku mencintaiNya, aku merinduNya, sebagaimana Dia selalu rindu kepada setiap hambanya. Selalu menunggu-nunggu ketika kedua belah tangan yang tak terhitung jumlahnya terangkat untuk berdialog denganNya.

Diarahkan aku ke tempat Majelis Tadabbur ini, awalnya aku menganggap ini adalah hal yang biasa bagiku. Tapi satu hal yang membuatku merasa beda adalah bagaimana cara mereka menyambut saudara sesama Muslim mereka dengan cara mereka yang luar biasa. Juga untuk pertama kalinya aku menemukan sisi keindahan dan kedahsyatan Alquran secara utuh dan bukan untuk yang pertama kalinya aku meneteskan air mata karena bergetar mendengar ayat-ayat cinta dariNya.

Aku bertanya pada diri, inikah jawabanMu Ya Allah atas apa yang aku pinta selama ini untuk tetap kokohkan aku dalam melangkah dijalanMu? Jika memang iyaa, bertambah pula rasa cinta ku padaMu yang begitu HEBAT mengatur segalanya.
Bertambah pula rasa malu ku padaMu, ya aku MALU terhadapMu. Malu karena banyak waktuku selama 18 tahun ini yang terlewat tanpa makna. MALU!!!

Ku temukan sebuah jalan, jalan yang di dalamnya banyak terdapat batu kerikil.
Seperti Rasulullah dahulu yang menyampaikan Risalahnya dengan berbagai hina dan caci.
Sekaligus jalan yang tak kalah dengan keindahan di setiap sisinya, PERJALANAN UKHUWAH karenaNya.

Berdiri atas nama iman yang tertanam, saling menyapa bukan hanya di waktu lapang tapi juga ketika sempit.
Saling menopang semangat ketika diri merasa sudah lelah.
Saling berbagi ketika yang lain membutuhkan
Saling mengingatkan ketika keliru
Ukhuwah itu mengerti tanpa harus dijelaskan, membantu tanpa kita meminta, senantiasa mendo'akan meski kita tak pernah menyadarinya
Tetaplah berdiri tegak diatas namaNya, لاَحوْلَ وَلاَ قُوَّة اِلاَّبِاللّهِ

Ana Uhibbukum Fillah Wa Lillah...

Sabtu, 08 Februari 2014

Catatan Dosa Harian Seorang Mujahid Muda

Sebuah catatan harian seorang mujahid muda di Suriah yang baru saja gugur syahid tersebar. Menjadi perbincangan hangat dan tak henti-hentinya membuat banyak orang berdecak kagum.

Bukan karena amalan Jihadnya yang luar biasa. Memimpin operasi Mujahidin, membunuh banyak musuh, dan lain sebagainya. Bukan, bukan.

Bukan lantaran amalan-amalan keseharian di samping amal Jihadnya, seperti tak pernah bolos sholat sunnah, atau puasa setiap hari, dan amalan lain. Bukan, bukan.

Namun sang Mujahid muda tersebut, mengisi buku diary-nya di medan jihad dengan daftar dosa dan kesalahan yang selalu ia kerjakan setiap harinya.

Young Mujahid in Syria

Alkisah, terjadi baku tembak sengit antara Mujahidin Suriah dengan Tentara Nushairiyyah yang menghantarkan beberapa Mujahid gugur syahid.

Usai pertempuran dan kemenangan berada di pihak Mujahidin, mereka mulai menyisir lokasi guna mencari jasad saudara-saudaranya yang gugur. Dan ditemukanlah jasad seorang Mujahid muda yang baru berumur 16 tahun.

Mujahidin temukan dan saksikan tanda-tanda kesyahidan pada sang bocah Mujahid tadi. Rasa takjub mereka tak berhenti sampai disitu. Mereka temukan sebuah buku catatan kecil di saku syuhada’ cilik tadi.

Apakah isinya? Isinya adalah daftar dosa dan kesalahan yang dilakukan sang Mujahid muda tadi selama satu pekan terakhir di bumi Jihad.

Senin : Aku tidur tanpa mengambil air wudhu terlebih dahulu.

Selasa : Aku tertawa terbahak-bahak dengan suara yang sangat keras.

Rabu : Aku menyelesaikan Qiyamul Lail (Sholat Malam) dengan terburu-buru.

Kamis : Tatkala aku sedang beristirahat, dan bermain bola dengan teman-teman lain, aku mencetak angka, memasukkan bola ke gawang lawan. Dan saat itu menyelusup di batinku rasa bangga/ ujub.

Jum’at : Aku hanya bersholawat 700 kali, padahal seharusnya 1000 kali.

Sabtu : Salah satu komandan Mujahidin mendahuluiku ketika memberikan salam.

Ahad : Aku lupa berdzikir pagi.

Dan hal yang mengejutkan adalah, ia lakukan hal-hal yang ia anggap sebagai “dosa” dan “kesalahan” itu tatkala ia sedang beramal Jihad, beramal Ribath, berjaga-jaga di front pertempuran terdepan melawan musuh-musuh Islam.

Lantas, bagaimanakah kita ketika menghitung-hitung setiap kesalahan dan berintrospeksi diri atasnya?

Sungguh kita perlu belajar dari Sang Mujahid muda ini. Meski ia telah memiliki gelar sebagai seorang “Mujahid” dan bahkan “Syuhada”, InsyaAllah. Dirinya tetap diselimuti rasa rendah hati, dan tak berpuas diri dengan hanya amal jihadnya saja.

Meski di masa udanya telah menjadi seorang Mujahid, ia tetap tak merasa pongah dan ogah untuk bermuhasabah diri. Ia selalu mengingat-ingat dan menangisi kesalahan-kesalahan yang sebetulnya tidaklah layak dikategorikan sebagai sebuah dosa.

Sumber : shoutussalam

Rabu, 05 Februari 2014

Rahasia Amalan Ahli Surga

Abdullah bin Amr bish Ash radhiyallahu ‘anhu heran. Setiap Rasulullah mengabarkan akan ada ahli surga yang muncul, selalu datang seorang laki-laki yang sama. Dan ini ketiga kalinya. Selalu dia, seorang laki-laki dari Anshar, namun tidak terlalu dikenal.

Abdullah bin Amr yang tidak mengenalnya dengan baik, kemudian berniat menguak rahasia amalan apakah yang telah dikerjakan oleh laki-laki tersebut sehingga ia menjadi ahli surga. Berikut kisahnya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

عَنْ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَطْلُعُ عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَنَسٌ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا فَلَمَّا مَضَتْ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْتَقِرَ عَمَلَهُ قُلْتُ يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ يَطْلُعُ عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ فَأَقْتَدِيَ بِهِ فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ قَالَ فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي فَقَالَ مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata, ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Akan muncul kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga." Lalu muncul seorang laki-laki Anshar yang jenggotnya masih bertetesan air sisa wudhu, sambil menggantungkan kedua sandalnya pada tangan kirinya.

Esok harinya Nabi Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda seperti juga, lalu muncul laki laki itu lagi seperti yang pertama, dan pada hari ketiga Nabi Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda seperti itu juga dan muncul laki laki itu kembali seperti keadaan dia yang pertama.

Ketika Nabi Shallallahu'alaihi wa Sallam berdiri, Abdullah bin Amru bin Al-Ash Radhiyallahu'anhu mengikuti laki-laki tersebut dengan berujar "Kawan, saya ini sedang bertengkar dengan ayahku dan saya bersumpah untuk tidak menemuinya selama tiga hari, jika boleh, ijinkan saya tinggal di tempatmu hingga tiga malam"
"Tentu", jawab laki-laki tersebut.

Anas bin Malik berkata, Abdullah Radhiyallahu'anhu bercerita;
Aku tinggal bersama laki-laki tersebut selama tiga malam, anehnya tidak pernah aku temukan ia mengerjakan shalat malam sama sekali, hanya saja jika ia bangun dari tidurnya dan beranjak dari ranjangnya, lalu berdzikir kepada Allah 'azza wajalla dan bertakbir sampai ia mendirikan shalat fajar, selain itu dia tidak pernah terdengar berbicara kecuali yang baik-baik saja.

Maka ketika berlalu tiga malam dan hampir-hampir saja saya menganggap sepele amalannya, saya berkata, "Wahai kawan, sebenarnya antara saya dengan ayahku sama sekali tidak ada percekcokan dan saling mendiamkan seperti yang telah saya katakan, akan tetapi saya mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda tentang dirimu tiga kali, "akan muncul pada kalian seorang laki-laki penghuni surga, lalu kamulah yang muncul tiga kali tersebut, maka saya ingin tinggal bersamamu agar dapat melihat apa saja yang kamu kerjakan hingga saya dapat mengikutinya, namun saya tidak pernah melihatmu mengerjakan amalan yang banyak, lalu amalan apa yang membuat Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam sampai mengatakan engkau ahli surga?"

Laki-laki itu menjawab, "Tidak ada amalan yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang telah kamu lihat."

Maka tatkala aku berpaling, laki-laki tersebut memanggilku dan berkata, "Tidak ada amalan yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang telah kamu lihat, hanya saja saya tidak pernah mendapatkan pada diriku, rasa ingin menipu terhadap siapapun dari kaum muslimin, dan saya juga tidak pernah merasa iri dengki kepada seorang atas kebaikan yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada seseorang."

Maka Abdullah bin Amr Radhiyallahu'anhu berkata, "Inilah amalan yang menjadikanmu sampai pada derajat yang tidak bisa kami lakukan."

Ya, rupanya amalan sang ahli surga tersebut adalah amalan hati yang bersumber dari hati yang bersih. Ia tak pernah memiliki keinginan menipu sesama muslim dan ia juga tidak pernah iri dengki atas siapapun.

Selasa, 04 Februari 2014

Si Bapak Tua

Selasa pagi kali ini begitu sejuk, tepatnya hujan. Tapi tak sedikitpun mengalahkan niat perjalananku ini. Perjalanan kemana? Ke tempat yang berisi orang-orang yang sedang belajar memaknai setiap surat cinta dariNya.
Bukan, bukan soal itu yang akan aku tulis, bukan pula cuaca hari ini. Tapi sebuah pemandangan di setiap selasa pagi yang selalu membuat hatiku terketuk. Yaitu "Bapak Tua" yang selalu hadir di tempat itu untuk ikut turut serta di dalamnya, beliau selalu melewati tempat dimana aku duduk. Aku selalu merasa haru setiap kali melihatnya, terharu akan sosoknya yang secara fisik sudah ringkih tapi masih mampu untuk tegak dalam belajar memaknai surat-surat cinta dari Allah. Beliau yang dengan tas kecil hitam berselempang di bahunya yang sudah bungkuk berjalan kesana kemari entah itu untuk ke kamar mandi, berwudhu, ataupun membeli jus. Itu yang selalu ku hafal. Pernah beberapa kali beliau mengunjungi meja ku, untuk melihat dan bertanya-tanya mengenai buku-buku terbaru. Dengan senang hati aku menjelaskan segala hal yang ia pertanyakan. Merasa malu pada diri ketika melihat sosok beliau, sepenglihatanku beliau begitu semangat.
"Nak, buku yang baru yang mana?" tanya beliau sambil membuka buku-buku yang terpajang
"Yang ini, ini, ini, dan ini pak" jawabku
"Saya mau buku menulis quran ini ya 2 set"
" 2 set pak??" Jawabku kaget saat mendengar beliau bilang seperti itu.
"Iyaa 2 set nak" jawab beliau seakan merasa heran dengan jawabanku tadi
"Bapak mau membawa semuanya hari ini? Mobil bapak dimana? Biar saya bawakan ke mobil bapak"
"Ndak usah nak, bapak naik angkot sendiri kesini. Biar bapak saja nanti yang bawa selesai belajar ini"

Allahu, bapak itu membuatku meneteskan air mata seketika. 2 set itu bukanlah berisi buku yg enteng. 1 set saja yang berisi 10 buku sudah begitu berat, bahkan orang-orang muda yang membeli barang tersebut pun menitipkan sampai minggu depan untuk dibawa setengah-setengah. Sedangkan beliau? Beliau begitu hebat dengan kondisi fisik yang sudah ringkih dan berkendaraan umum MAMPU membawa semuanya sendiri. Bahkan tak jarang beliau lah yang memborong buku-buku yang terpajang.
Ku renungkan kejadian tersebut, aku memarahi diri. Betapa hampir setiap harinya aku mengeluh hanya karena membereskan dan membawa barang yang menurutku berat.
Setiap kali setelah beliau selesai membeli buku-buku dengan judul yang berbeda aku selalu berdoa untuknya, Yaa Allah berkahilah setiap perjalanan dan usia beliau.

"Orang yang paling bahagia adalah orang-orang yang dihatinya selalu merasa cukup"

Minggu, 02 Februari 2014

Surat Perlindungan

TADABBUR Q.S AN-NAAS (1-6) Surat Perlindungan


Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1. Katakanlah, “aku berlindung kpd Tuhannya manusia
2. Raja manusia
3. Sembahan manusia
4. Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi
5. Yang membisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia
6. Dari golongan jin dan manusia

Ada beberapa manusia yang disukai dan dibenci oleh Jin. Salah satunya adalah yang lemah fisik. Dzikir yang tidak disukai oleh Jin yaitu “Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’mannasir”. Selain itu orang yang disukai oleh Jin yaitu orang yang suka menghayal, dan orang yang tidak pernah berdzikir.
“tidaklah salah seorang diantara kalian ketika tidur setan mengikat 3 ikatan. Pertama ketika bangun tidur, kedua ketika akan wudhu, dan ketiga ketika akan memulai shalat”
Kata tunggal dari An-Naas yaitu insan, An-Naas sendiri berarti manusia.  An-naas yang berarti manusia berasal dari Al-unsh yang artinya berpasangan. Rasulullah berkata kepada  Utbah ”tidak kah kau tau bahwa semalam Allah menurunkan ayat yang tidak pernah kau tahu sebelumnya yang dipakai orang-orang untuk berlindung? Yaitu surat Al-falaq dan An-naas yang sudah mencakup semuanya untuk perlindungan diri”
Kenapa surat Al-Falaq dan An-naas? Karena sudah cukup bagi Allah untuk melindungi kalian dari segala marabahaya, baik yang tidak terlihat dan yang terlihat
Aisyah r.a pernah meriwayatkan “Rasulullah tidak pernah sekalipun melewatkan ayat-ayat itu”
Sebab-sebab turunnya ayat-ayat ini adalah ketika Rasulullah terkena sih. Bagaimana  mungkin Rasulullah bisa terkena sihir? Sementara beliau selalu mendapatkan wahyu dariNya. Kata malaikat, “yaitu orang-orang yahudi yang bernama Labid Ibnu A’shom yg bekerja sama dengan putri-putrinya.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam terkena sihir yang dilakukan oleh Labid bin al-A’shom seorang Yahudi yang meletakkan rontokan rambut Rasulullah yang berjumlah 11 helai di bawah sebuah batu yang berada di bawah sumur yang berair. Oleh karenanya, jumlah ayat dari dua surat An Nas dan Al Falaq adalah 11 ayat ; surat an-Nas berjumlah 6 ayat sedang surat al-Falaq berjumlah  5 ayat.
Dalam surat ini, Allah memerintahkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam untuk berlindung kepada Allah dari was-was syaitan. Perintah kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam berarti juga perintah kepada umatnya. Di dalam kehidupan sehari-hari, jika kita ingin berlindung dari bahaya  apapun juga, kita akan berlindung kepada sesuatu yang kuat. Umpamanya kita ingin menghindari dari bahaya banjir, maka kita akan berlindung di suatu tempat yang tinggi dan kuat yang bisa menahan arus banjir. Atau kita ingin terhindar dari sambaran petir, maka kita akan mencari rumah yang dilengkapi dengan perlengkapan penangkal petir, begitu seterusnya.
Kaitannya dengan surat An-Nas ini adalah kita diperintahkan berlindung dari bahaya godaan syetan, yang selalu membisikan ke dalam dada manusia. Syetan adalah musuh yang sangat berbahaya, kita tidak bisa melihat mereka, tetapi mereka melihat kita. Oleh karena itu kita memerlukan perlindungan dari serangan-serangan syetan  yang datang bertubi-tubi, tiada henti-hentinya tersebut. Maka Allah menjelaskan bahwa tidak ada tempat berlindung dari itu semua kecuali Allah. Pertanyaannya adalah kenapa harus kepada Allah, seberapa kekuatan yang dimiliki-Nya sehingga kita harus berlindung kepada-Nya ? Maka Allah menjelaskan itu semua pada ayat-ayat di bawah ini :  
Pertama :
 قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Robb manusia. “

Maksud Allah sebagai Rabb manusia adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pemilik, pengatur, penguasa dan pemberi rezeki seluruh umat manusia. Bahkan Allah juga Rabb (pencipta, pemilik, pengatur, penguasa, pemberi rezeki) seluruh Alam semesta ini beserta isinya, termasuk di dalamnya para syetan  yang selalu menggoda manusia. Artinya sangat wajar dan memang seharus begitu, kita berlindung dari kejahatan syetan kepada Rabb (Dzat Yang Menciptakan Syetan itu sendiri), sehingga dipastikan bisa menanganinya, dan dipastikan kita akan selamat.
Mengakui Allah sebagai Rabb (Pencipta, Pemilik, Perawat, Pemberi Rezeki, Yang Menurunkan hujan, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang Memberi Sakit, Yang Menyembuhkan), adalah bentuk dari Tauhid Rububiyah. Orang yang menyakini bahwa selain Allah, seperti Jin, para wali-wali Allah yang sudah meninggal dalam kuburan-kuburan mereka, para dukun, bahwa mereka bisa memberikan manfaat dan mudharat, bisa mengabulkan permohonan berupa harta, jodoh atau anak, maka dia telah mensyirikan Allah dalam Rububiyah-NYa.
Orang-orang musyrik kadang mentauhidkan Allah dalam Rububiyah-Nya, sebagaimana di dalam firman Allah  :
هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“ Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur".( Qs Yunus (10) : 22-23 )
Begitu juga Iblis kadang mengakui  Allah sebagai pencipta, sebagaimana di dalam firman Allah  :
قَالَ ياإِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلاَّ تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ قَالَ لَمْ أَكُن لاِسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِى إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ
“ Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?" Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". Allah berfirman: "Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat".  Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah  ( hidupkan aku ) kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan".Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. “  ( Qs al-Hijr (15) : 32-37 )
Oleh karenanya, belum tentu orang yang mentauhidkan Rububiyah, pasti dia telah mentauhid Uluhiyah. Belum tentu orang yang mengakui bahwa sang pencipta adalah Allah, pasti dia hanya menyembah Allah saja.
Di dalam banyak firman-Nya, Allah swt mengajak orang-orang musyrik yang telah mengakui Tauhid Rububiyah agar mereka meningkatkan  hal itu untuk mengakui Tauhid Uluhiyah, salah satunya di dalam firman Allah :
قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ (59) أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ (60) أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (61) أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ (62) أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (63) أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (64)

Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.  Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?"
Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).
Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?  Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).
Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).
Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".( Qs An Naml : 59- 64 )

Kedua :
مَلِكِ النَّاسِ
“ (Allah adalah) Raja Manusia “
Allah sebagai raja manusia yang sebenarnya, penguasa manusia yang sebenarnya. Dia-lah raja manusia di dunia dan akherat.  Adapun manusia yang menjadi raja di dunia ini, bukanlah raja yang sebenarnya. Mereka sebenarnya tidaklah memiliki apa-apa, kecuali dengan izin Raja Manusia  yaitu Allah.
Ayat ini ditujukan kepada dua kelompok manusia :
Kelompok Pertama : Kepada rakyat dan masyarakat umum.
Sebagian masyarakat terlalu mengagungkan pemimpin dan raja mereka, sehingga memberikan hak kepada mereka yang sebenarnya hanya milik Allah saja.
Ayat ini mengingatkan kepada mereka semuanya bahwa satu-satunya Raja yang berhak disembah adalah Allah subhanahu wa ta’ala, tidak yang lainnya.
Orang-orang Nasrani telah menyembah para pendeta dan tokoh-tokoh agama mereka dengan cara mentaati mereka secara membabi buta, walaupun mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah ataupun mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, merekapun tetap mentaatinya. Inilah bentuk penyembahan mereka terhadap para pendeta tersebut. Allah berfirman :
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ  وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
        “ Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan “( Qs at Taubah ( 9 ) : 31)
 Salah seorang sahabat yang bernama Adi bin Hatim ketika mendengar ayat ini, beliau berkata kepada Rasulullah : “ Wahai Rasulullah, sebenarnya mereka tidak menyembah para pendeta tersebut. “ Maka Rasulullah bersabda : “ Bukankah para pendeta itu mengharamkan sesuatu yang halal dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya ? Itulah bentuk peribadatan mereka kepada para pendeta tersebut.”  
Oleh karenanya, seorang muslim tidak boleh mentaati seorang pemimpin yang memerintahkan kepada sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, karena sesungguhnya sebenar-benar raja dan pemimpin adalah Allah.
Kelompok Kedua : ayat ini ditujukan kepada para raja, dan para penguasa.
 Ayat ini menjelaskan bahwa sebenarnya manusia itu bukanlah penguasa, tetapi mereka hanyalah pemegang amanat kekuasaan yang diberikan Allah kepada mereka. Bukankah Allah yang mengangkat seorang raja dan melengserkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman  :
 قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير
“ Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( Qs Ali Imran : 26 )
 Oleh karena itu, seseorang tidak boleh menyebut dirinya raja diraja, atau Syahinsyah ( untuk orang Persia ), Syah Jihan ( untuk orang India ) karena raja diraja adalah Allah subhanahu wa ta’ala.   Dalam suatu hadist Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda :
  إنَّ أَخْنَعَ اسْمٍ عِنْدَ اللهِ - عز وجل - رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ
 “ Sesungguhnya serendah-rendah nama di sisi Allah adalah orang yang menamakan dirinya raja diraja “ ( HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga :
 إِلَهِ النَّاسِ
 ( Allah adalah)  Sesembahan Manusia
“ Ilah “ artinya sesembahan. Kalimat :“ La Ilaha illallah “  artinya tiada yang berhak disembah kecuali Allah. Para ulama menyebut kalimat ini sebagai kalimat tauhid  “ Tauhid Uluhiyah. “.  Apa itu Tauhid Uluhiyah ?
Tauhid Uluhiyah adalah mentauhidkan Allah di dalam ibadah, yaitu seseorang tidaklah boleh beribadah kecuali kepada Allah, tidaklah bertawakkal kecuali kepada Allah, tidaklah meminta kecuali kepada Allah, tidaklah mengharap kecuali kepada Allah, tidaklah takut kecuali kepada Allah.
Tauhid Uluhiyah ini adalah tauhid yang dibawa para nabi sejak nabi Nuh hingga nabi Muhammad.  Karena tauhid inilah, maka diciptakan syurga dan neraka, ditiupkan terompet peperangan antara pembela  tauhid ini dengan para musuhnya. Karena tauhid inilah, maka manusia dan jin diciptakan. Karena tauhid inilah para nabi diusir dari kampung halaman mereka. Tuhid Uluhiyah ini merupakan inti dakwah para Rasul, inti dari agama Islam, inti dari kandungan Al Qur’an dan inti dari surat Al Fatihah.
Di dalam surat an-Nas ini ada tiga macam tauhid : Tauhid Rubiyah, Tauhid Mulkiyah, Tauhid Uluhiyah.
Perbedaan mendasar antara Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah  bahwa Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah di dalam perbuatan-Nya ( Allah sebagai subyek ), sedangkan Tauhid Uluhiyah adalah mentauhidkan Allah di dalam ibadah. ( Allah sebagai obyek ).Tauhid Rububiyah hampir semua makhluq mengakuinya, termasuk iblis. Sedangkan Tauhid Uluhiyah hanya orang muslim saja yang mengakuinya.
Keempat :
مِنْ شَرِّ الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ
“ Dari Kejahatan (Bisikan) Syaitan Yang Biasa Bersembunyi “

Di dalam ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa sifat syetan adalah suka bersembunyi dan lari terbirit - birit, khususnya jika mendengar adzan dan  mendengar nama Allah disebut. Ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah :

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya."( HR Bukhari dan Muslim )
Syetan itu duduk di hati manusia, jika dia lengah, segera dia membisikan ke dalamnya, jika manusia itu mengingat Allah, dia akan lari.
Di dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa  syetan itu akan membisikan ke dalam hati manusia di saat ia sedih sekali dan di saat ia gembira sekali, namun jika dia mengingat Allah, maka syetan itu akan bersembunyi.
Telah terbukti, bahwa orang yang sedang dirundung kesedihan yang amat sangat dan kesenangan yang amat sangat tanpa disertai dengan menyebut  nama Allah, maka syetan akan merasukinya, dan begitulah sering terjadi kesurupan, yang kadang menimpa juga kepada orang-orang Islam yang lengah mengingat Allah.
Di salah satu pesantren yang terletak di daerah Jawa Barat, sering terjadi kesurupan massal yang menimpa beberapa santriwatinya. Setelah diselidiki, ternyata jiwa para santriwati yang kesurupan tersebut sangat labil dan kosong. Salah seorang santriwati kedapatan sangat sedih sekali kehilangan teman akrabnya yang sedang pulang karena sakit. Nah, kesedihan yang berlarut, tanpa diiringi dengan dzikir kepada Allah, akan menjadi korban bisikan syetan dan berlanjut kepada kesurupan, na’udzubillahi min dzalik.

 Ini sesuai dengan   firman Allah :

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَاناً فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ حَتَّى إِذَا جَآءَنَا قَالَ يالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ وَلَن يَنفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذ ظَّلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِى الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

“  Barang siapa yang berpaling dari Mengingat Allah ( Petunjuk Allah ) Yang Maha Pemurah (yaitu Al Qur'an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” ( Qs. Az Zukhruf : 36)

Kelima :

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ
“ Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam manusia. “

Bisikan syetan pada hati manusia sangat banyak dan beragam, semuanya mengarahkan kepada kemaksiatan dan kejahatan.
Bisikan ini ditujukan kepada  shodrun ( dada ) manusia. Kenapa shodrun ( dada ), tidak qalbun ( hati ), dan tidak pula fuad ( hati ) ?  Jawabannya bahwa sebenarnya tiga kata itu  maknanya sama, hanya berbeda dalam penggunaannya saja. Shodrun ( Dada ) adalah tempat dimana adafuad dan  qalbun ( hati ).
Qalbun berarti sesuatu yang sering berbolik-balik.  bisa membalikkan qalbun hanyalah Allah swt. Di dalam doa’ disebutkan :
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
“ Ya Allah, Yang Membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku ini agar selalu berada di dalam agama-Mu “  ( HR Tirmidzi )
Hadist lengkapnya adalah sebagai berikut :

 عَن شَهْرُ بْنُ حَوْشَبٍ قَالَ قُلْتُ لِأُمِّ سَلَمَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ دُعَاءَكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَ يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ فَتَلَا مُعَاذٌ { رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا }

Dari Syahr bin Hausyab ia berkata; aku katakan kepada Ummu Salamah; Wahai Ummul mukminin, apakah doa Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam yang paling sering, apabila ada padamu? Iaberkata; doa beliau yang paling sering adalah: "Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii 'Alaa Diinika" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu).
Ummu Salamah berkata; wahai Rasulullah, betapa sering anda berdoa: "Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii 'Alaa Diinika" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu).
Beliau berkata: "Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun melainkan hatinya berada diantara dua jari diantara jari-jari Allah, barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan meluruskannya dan barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan membelokkannya."
Kemudian Mu'adz membaca ayat: "Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami." ( HR Tirmidzi, beliau berkata; hadits ini adalah hadits hasan)
Bisikan syetan kepada manusia meliputi bisikan dalam masalah aqidah dan ibadah.
Dalam masalah aqidah, syetan membisikan manusia agar ragu-ragu dengan Allah, sampai-sampai dia menanyakan : “ Siapa yang menciptakan Allah ? Ini sebagaimana yang terdapat dalam hadist Abu Hurairah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ
عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ فَيَقُولُ اللَّهُ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثْلِهِ وَزَادَ وَرُسُلِهِ

Dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Manusia senantiasa bertanya-tanya hingga ditanyakan, 'Ini, Allah menciptakan makhluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah', maka barangsiapa mendapatkan sesuatu dari hal tersebut, maka hendaklah dia berkata, 'Aku beriman kepada Allah'."
Dari Hisyam bin Urwah dengan sanad ini, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setan datang kepada salah seorang dari kalian lalu berkata, 'Siapakah yang menciptakan langit, siapakah yang menciptakan bumi? ' lalu dia menjawab, 'Allah', kemudian menyebutkan dengan semisalnya, dan dia menambahkan kalimat, 'Dan Rasul-Nya'.( HR Muslim )
Adapun bisikan syaitan dalam ibadah adalah : merasa keluar angin dalam sholat, padahal itu hanya bisikan syaitan saja. Dalam hal ini Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا
Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan sesuatu yang kurang beres dalam perutnya, lalu rancu baginya perkara tersebut, apakah keluar atau tidak, maka janganlah dia keluar dari masjid hingga dia mendengar suara (kentut) atau mendapatkan baunya."  ( HR Bukhari dan Muslim )
Termasuk bisikan syetan dalam ibadah adalah seseorang melamun dalam sholat dan mengingat sesuatu, sehingga dia lupa berapa rekaat dia sudah sholat. Ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah :
 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya."( HR Bukhari dan Muslim )
Termasuk bisikan syaitan dalam ibadah, adalah berlama-lama di kamar mandi, atau merasa bahwa air kencingnya belum bersih, atau belum keluar semua. Ada juga sebagian orang yang sudah keluar kamar mandi, masuk lagi dan terus begitu berkali-kali. Maka untuk menghilangkan bisikan syetan seperti itu, para ulama menganjurkan untuk membasahi celana kita dengan air, sehingga ketika merasa ada sesuatu yang keluar dari anggota tubuhnya, dan didapatkan celananya basah, akan terbetik bahwa basah tersebut penyebabnya adalah air bersih yang dipercikkan. Dengan demikian hilanglah bisikan syetan tersebut.

Bisikan syetan juga mempunyai dua bentuk :

Bentuk Pertama: Fitnah Syubhat, yaitu bisikan syetan ke dalam hati manusia agar salah di dalam memahami ajaran agama Islam ini. Fitnahi ini terjadi akibat kebodohan. Fitnah Subhat inilah yang menimpa kaum Nashrani, maka mereka menjadi  orang-orang yang sesat ( Dhallun). Fitnah ini kemudian merembet kepada orang-orang Islam, sehingga  merasuki sebagian orang-orang sufi, aliran-aliran sesat dan ahli bid’ah dan sejenisnya.
Bentuk Kedua : Fitnah Syahwat,  yaitu bisikan syetan ke dalam hati manusia agar bermaksiat kepada Allah dan agar mengikuti hawa nafsunya. Seseorang yang terkena fitnah syahwat ini, akan lebih mementingkan kesenangan dunia dibandingkan kehidupan akherat. Fitnah Syahwat inilah yang menimpa orang-orang Yahudi, sehingga mereka dimurkai Allah ( Maghdhubi ‘Alaihim), karena mereka   mempunyai ilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmu tersebut. Kemudian fitnah ini merembet kepada kaum muslimin dan menimpa sebagian orang-orang yang berilmu tetapi tidak mau mengamalkan ilmunya, bahkan cenderung untuk bermaksiat dan lebih mementingkan kehidupan dunia daripada akherat.

Keenam :
مِنَ الجِنَّةِ وَالنَّاسِ
“ Dari golongan jin dan manusia.”
Allah menerangkan pada ayat keenam ini bahwa yang membisikan ke dalam dada manusia itu adalah syetan dari golongan jin dan dari golongan manusia. Ini sesuai dengan firman Allah :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيِّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ الإِنْسِ وَالجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ القَوْلِ غُرُورًا

            “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.” (QS. Al-An’am: 112)
Adapun Iblis berasal dari golongan Jin, sebagaimana dalam firman Allah :
إِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

“ Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” ( Qs al-Kahfi : 50 )
Dari dua ayat di atas bisa disimpulkan bahwa iblis dan syaitan adalah dua istilah yang mempunyai titik berbeda dan kesamaan. Perbedaannya adalah syetan terdiri dari dua golongan ; golongan manusia dan jin, sedangkan iblis dari golongan jin saja. Sedangkan titik kesamaannya adalah bahwa kedua-duanya berasal dari golongan jin. Jadi, syaitan lebih umum dari iblis.

Perbandingan Antara Surat An Naas Dan Surat Al Falaq

Di sana ada beberapa perbedaan antara Surat An Naas dan Surat al Falaq, diantaranya adalah bahwa dalam surat al-Falaq kita diperintahkan meminta perlindungan dengan menggunakan nama Allah “ ar-Rabb “ saja,  dari empat hal : kejahatan makhluq, kejahatan malam, kejahatan tukang sihir, dan kejahatan orang yang hasad. Sedangkan dalam surat An Naas kita diperintahkan untuk meminta perlindungan dengan menggunakan tiga nama Allah, yaitu, Rabb, Malik dan Ilah, dari satu kejahatan saja, yaitu kejahatan syetan yang mempunyai dua sifat : bersembunyi, dan membisikan pada dada manusia.
Perbedaan di atas menunjukkan bahwa kejahatan syetan yang selalu bersembunyi dan membisikan kepada dada manusia jauh lebih berbahaya dari pada kejahatan empat hal yang disebutkan dalam surat al- Falaq, karena bahaya bisikan syetan akan menimpa hati dan keyakinan, sedangkan bahaya empat hal di atas hanya menimpa fisik dan badan manusia.



Ref : www.ahmadzain.com