Jumat, 23 Januari 2015

Aku, kamu dan hujan

Aku, kamu dan hujan. 3 kata romantis tapi teriris, karena pada akhirnya memang 3 kata itu luruh secara bersamaan. Ya, luruh karena pada akhirnya aku tau kata semoga dan aamiin yang kita miliki ternyata berbeda. Luruh karena memang sejak dari awal aku hanya memiliki keikhlasan untuk menyerahkan segala harapku padaNya, luruh karena aku memilih senyap dari segalanya, luruh karena pada akhirnya aku hempaskan segala gejolak rasa pada hujan yang seirama, pada mendung diantara sendu, dan pada setiap lembaran takdirNya. Aku tau aku akan mengulang kecewa, tapi setidaknya dari kecewa itu aku kembali belajar untuk tetap meng-istiqomahkan diriku dalam bingkai syariatNya.

Kamu tau? Betapa sulitnya seorang wanita menjaga hatinya?
Kamu tau? Betapa sulitnya seorang wanita menjaga setiap langkahnya?
Kamu tau? Betapa sulitnya seorang wanita untuk tetap kokoh menjaga diri dari hal-hal yang membuatnya rapuh?
Dan kamu tau? Bagaimana sulitnya seorang wanita membangun kembali atas apa-apa yang telah membuatnya rapuh?
Sungguh, kamu tidak akan tau bagaimana dia menjaga semuanya dari dirimu. Semua.
Kalau pun kamu memang tau, kamu hanya tau bahwa namamu pernah ada di dalam doa-doa yang tidak pernah alfa terlantun untukmu.

Aku, kamu dan hujan. Biarlah bila memang harus mendung dan bias, tak usah menjelma menjadi spektrum warna yang berlapis, tak perlu menjadi mewah karena kilauannya, Cukup berada di batas garis ketentuanNya meski mendung.

Minggu, 18 Januari 2015

Jaga Hatimu

Kini aku semakin mengerti bahwa ketika jarak itu nyata adanya, maka tetaplah pelihara cukup dalam doa yang terbingkai dalam senyap. Jangan menjadikan jarak itu semakin dekat, karena hanya akan merusak, mengulang kecewa, mengotori hati dan fitrahNya. Jaga hatimu untuk Allah.


Di malam sendu bertanggal 18 januari 2015