Minggu, 30 November 2014

Mengejar Senja 29 November

Langit jakarta kala itu sepertinya memberi tanda bahwa rencana perjalananku akan gagal sore itu. Ku tengok keluar kaca ruangan, ahiya hujan. Ini moment favorit yang selalu ku tunggu, hujan dan menunggu senja di pantai jakarta. I loved both of it!
Kumandang takbir memanggilku, lebih baik tunaikan kewajiban dulu, semoga selepas asar nanti hujan reda pikirku. Separuh hati juga bergumam sendiri mengatakan hal itu, karena aku tidak rela bila hujan berakhir dengan cepat. Masih ingin menikmatinya, berlama-lama memandang butiran bening membentuk sekat tipis yang tercipta dari langit.
Selepas asar ku tengok kembali keluar ruangan, masih hujan bahkan deras. Sejenak kemudian aku melamun sambil tersenyum sendiri menggelengkan kepala membayangkan pasti sebagian besar orang-orang sedang merutuki peristiwa alamiah ini, sementara aku lebih menikmatinya sambil tilawah melanjutkan bacaanku meskipun aku beranjak ingin keluar menikmati moment matahari kembali ke peraduannya, menenggelamkan cahayanya yang mampu membuatku teramat terpikat dengan orange nya, Senja.

Ku lirik jam tangan biru yang sudah hampir rusak di pergelangan tangan kiriku, pukul setengah lima kurang lima menit dan langit diluar masih agak mendung, gerimis sendu di hari sabtu. Ku putuskan untuk merapihkan laptop dan file-file dari meja kerjaku. Aku tetap akan kesana meskipun cuaca lebih mendukung untuk merebahkan badan ini dibalik badcover, pikirku. Ku sempatkan membuka bbm memasukan sebuah personal messanger
"Seperti biasa aku akan mengobati dan melepas rindu di tepi dermaga, wait me" kuselipkan emoticon senyum bertanda love
Tak lupa mengabarkan pada teman bahwa aku akan pulang. Tidak lama masuk balasan, "tunggu yaa, lagi dijalan. Kubuka papan ketik yang basah karena terkena tetesan hujan, enter a message "iya, di halte ya". Send
Lumayan lama aku menunggu, dan aku risih karena diperhatikan orang-orang yang sedang berlalu lalang. Entahlah

Cukup memakan waktu beberapa menit untuk aku pulang ke rumah mengambil helm sebelum melanjutkan perjalananku kali ini. Sepertinya akan seru karena aku menerobos hujan demi menghabiskan waktu sore ku menikmati langit jakarta di tepi dermaga.
Ku lirik jam tangan kembali di tengah perjalanan, pukul enam kurang lima belas menit dan langit jakarta sore itu sudah mulai memunculkan segaris orange yang tertutup mendung. Entah kecepatan motor kala itu berapa km/jam, yang jelas kami menerobos macetnya ujung jakarta dengan kelihaian temanku mengemudikan honda beat hitam yang biasa dibawanya untuk touring, menyelip diantara kerumunan angkot-angkot dan mobil pribadi satu persatu.

Tiba-tiba "dua orang enam puluh lima ribu" Sampailah di pelataran parkir pintu masuk, Ancol Beach. Begitulah tulisan yang tertera di plang kawasan sekitar. Ternyata disana baru turun hujan dan itupun hanya rintik-rintik. Melanjutkan perjalanan melewati dermaga-dermaga menelusuri tempat yang ingin ku nikmati senja nya. Aplikasi adzan di smartphone ku berbunyi, sepertinya lagi-lagi aku tidak bisa menikmati moment favoritku. Langit sudah berubah warna menjadi kelabu, dan memang dari awal aku sudah menebak senja kali ini berbarengan dengan moment favorit ku yang lainnya, Hujan. Adzan dan kedatanganku juga pas berbarengan, bisa apa selain memilih menemui Sang Pencipta dua moment favoritku? Nothing! Tidak ada yang lebih baik selain mendahulukan pertemuan dengan yang mencipta dibanding dengan yang dicipta.
Singgah sebentar di tempat penyedia makanan karena sudah di demo oleh penghuni perut. Pembahasan meet up kali ini lagi-lagi tentang 'jodoh'. Menarik memang, selain ilmu juga ada sekelumit cerita-cerita baru yang siap di deklarasikan di meja bersama hangatnya ayam tepung dan kentang goreng. Tapi aku sudah mulai jenuh membahas akan hal ini, ah entahlah.
Melanjutkan perjalanan di tengah gerimisnya sabtu malam kemarin, tertangkap muda-mudi yang sedang menghabiskan malamnya berdua bersama yang sebenarnya bukan kekasih mereka, entah apa yang mereka lakukan di tengah gemericiknya air memandang laut lepas yang jelas-jelas hanya menyisakan perahu kecil tanpa deburan ombak dan tanpa nelayannya, juga gelap. Orang yang jelas-jelas sudah menjadi kekasih sungguhan pun lebih memilih menikmati sabtu malam mereka dirumah sambil menonton televisi atau mungkin berselimut badcover mengistirahatkan tubuh lelah mereka di kamar ternyaman. Satu hal yang baru ku sadari, ah iya ini adalah malam dimana orang-orang 'nongkrong' tanpa arah dan tujuan yang jelas. Aku jelas mendadak merubah rencana semula yang awalnya hanya ingin menikmati senja menjadi hunting lokasi pemotretan mendadak di sekitaran pantai di pukul delapan malam.

Hujan sengaja jatuh membasahi rindu yang tabah. Kembali memandang riak air, angan-anganku sedang berusaha menyambungkan kotaku dan kotamu--menggantung jarak di dinding paling belakang rumah rindu.

Senja adalah moment dimana sang surya menenggelamkan wajahnya, kembali ke peraduan semesta siap menyambut malam. Senja adalah sebagai tanda penutup aktifitas kita menuju pembaringan istirahat untuk menyiapkan kembali tenaga kita di pagi hari. Senja adalah nadir sampai dimana sang musafir berjalan melintasi takdir. Karena senja adalah doa-doa yang terpanjat, menitip rindu berharap mampu tersampaikan meski dalam duka. 

Minggu, 23 November 2014

Ketika Dakwah Mengajariku

Ketika dulu aku tak mengerti siapa dan untuk apa aku ada
Dakwah mengajariku menjadi manusia yang hidup untuk manusia yang lain
Ketika dulu aku merasa lemah pada hidupku
Dakwah mengajariku bagaimana berjuang hingga menjadikanku sosok yang kuat
Ketika dulu aku selalu menggugat Allah atas takdirnya
Dakwah mengajariku menjadi hamba yang ikhlas terhadap setiap ketentuanNya
Ketika aku selalu tergesa-gesa mengejar apa yang ku mau
Dakwah mengajariku tentang ketekunan dan kesabaran menanti kemenangan
Ketika dulu aku hanya bermimpi kecil dan selalu berpikir apa adanya
Dakwah mengajariku untuk berani bermimpi besar dan membuat cita sebanyak mungkin
Ketika dulu aku hanya hidup untuk diri sendiri
Dakwah mengajariku untuk bisa peduli dan peka pada keadaan orang lain
Ketika dulu aku tak bisa menerima keburukan orang lain atasku
Dakwah mengajariku untuk membalas keburukan dengan kebaikan
Ketika aku merasa tak punya siapapun yang menolongku
Dakwah mengajariku tentang keyakinan bahwa Allah itu akan selalu ada untuk hambaNya
Ketika aku masih menjadi manusia yang mudah menyerah pada masalah
Dakwah mengajariku untuk selalu merenung agar aku tahu letak masalahku dan mampu menyelesaikannya
Ketika dulu aku selalu salah memberi cinta
Dakwah mengajariku tentang siapa saja yang berhak atas cintaku dan kepada siapa cinta itu wajib kuberikan
Ketika aku merasa hidupku hampa dan tak tahu waktuku untuk apa
Dakwah mengajariku tentang menjadikan setiap waktuku adalah amal
Ketika dulu aku tak bisa menyentuh hati manusia
Dakwah mengajariku tentang bahasa hati
Ya, dakwah telah mengajariku banyak hal
Dakwah telah menempaku menjadi sosok yang lebih berarti untuk hidup yang hanya sekali
Dakwah mengajariku menjadi sosok sosial
Dakwah mengajariku tentang cinta sejati
Dakwah mengajariku tentang kekuatan agar aku tak menjadi manusia yang mudah menyerah
Dakwah mengajariku menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin
Dakwah mengajariku tentang sebuah keikhlasan
Dakwah mengajariku agar senyumku selalu tersebar dimana saja meski hatiku sedang mendung
Dan dakwah telah mengajariku bagaimana menjadikan dunia ini ada dalam genggaman tanganku, bukan pada hatiku
Hingga ketika Allah memberiku kesedihan, aku hanya menitikkan sedikit airmata sebagai keniscayaan manusiawiku

Jumat, 21 November 2014

Selamat Datang Di Jalan Cinta Para Pejuang!

-Persembahan untuk para pengemban amanah Dakwah yang terus berjuang tanpa lelah-

Karena cintaNya padamu, Dia percayakan amanah langit di bahumu
Karena sayangNya padamu, Dia pilihkan jalan ini untukmu
Pernahkah kamu bertanya mengapa Allah memilihmu? Karena Allah mencintaimu

"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar" (Q.S Al-Hujurat:15) 
Saudaraku...
Allah menguji keikhlasan dalam kesendirian dan keramaian
Allah memberi kedewasaan ketika masalah berdatangan
Allah melatih ketegaran dalam kesakitan
Tetaplah istiqomah, sertakan Allah dalam setiap langkah
Hati yang siap memikul amanah adalah hati yang kuat, teguh dan tulus
Tak berharap apapun, tapi sanggup memberi dengan segenap apapun. Sebab hanya dari Allah berharap balasan. Jangan minta dikurangi bebanmu, tapi mintalah punggung ini agar kuat membawanya
Saudaraku...
Berjuanglah untuk kebaikan dan kebenaran sepahit dan sesulit apapun
Bersatulah dalam jamaah, sebenci dan sekecewa apapun.
Karena berjamaah lebih baik dari pada sendirian
Bangkitlah ketika jatuh dan jangan menyerah
Sampaikanlah dakwah setiap saat, agar saudaramu merasa memiliki dan dimiliki
"Jangan tinggalkan yang dibelakangmu, tunggulah dengan kesabaran dan keikhlasan" -Hasan Al-Banna-
Saudaraku...
Memang tak mudah bertahan di sebuah jalan bernama dakwah ini. Maka berbahagialah, Allah masih memberi kita kesempatan untuk merasakan indahnya jalan ini. Karena pada hakikatnya, bukan dakwah yang membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan dakwah.
Lelah? Itu pasti. Bahkan para sahabat Rasul pun merasakannya, mereka bertanya "Ya Rasul kapankah kita beristirahat dari semua ini?" Jawab Rasul, "Ketika kelak kaki kita telah menapak di surgaNya"
"..... Maukah kau bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat" (Q.S 15:20)
Saudaraku...
Kita patut bersyukur karena Allah memberi kita kesempatan berjuang di jalan ini. Karena kita adalah salah satu diantara orang-orang pilihannya. Tangis, tawa, semangat dan lelah, duka dan bahagia pasti kelak akan menghiasi perjalanan kita. Bulatkan tekad, kuatkan azzam diri, Semoga Allah senantiasa memberikan keistiqomahan pada kita ada di jalan ini, Jalan Cinta Para Pejuang. Sampai kelak Allah benar-benar mengizinkan kita menapaki surgaNya
"Karena dakwah adalah cinta, dan cinta akan meminta semuanya darimu. Sampai fikiranmu, sampai perhatianmu, berjalan, duduk dan tidurmu. Bahkan disaat lelapmu isi mimpimu pun tentang dakwah, tentang umat yang kau cinta. Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlariSeperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah. Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang. Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih tragis. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga hasrat untuk mengeluh tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik. Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya ditinggalkan, hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman. Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu" 

Rabu, 19 November 2014

Untukku Dan Untuk Kita Semua


Aku jatuh cinta pada horizon yang menyatu di sekitar ma'had sore itu. Suasana tenang berada di alam tempat para penghafal Quran juga langit yang membuat semburat warna oranye yang mempesona. Memandang area persawahan dibawah puncak gunung dan melarutkan diri pada tafakur akan ke Maha Besaran Nya sungguh akan menenggelamkan segala kesombongan diri
Aku jatuh cinta pada bukit dan jalanan terjal berkelok. Yang di sepanjang perjalanan menenggelamkan diri dalam renungan dahsyat. Tentang energi yang terpendam, kehidupan yang “diciptakan” dan akan tidak main-mainnya Al-Khaliq menciptakan ini semua.

Aku jatuh cinta dengan milky way di 'kampus' perjuangan itu. Yang kerlipannya, mengingatkan diri bahwa berjalannya waktu adalah hal yang niscaya. Sebagaimana cahaya bintang itu sampai ke bumi, setelah melewati perjalanan beberapa ratus tahun cahaya

Aku jatuh cinta pada hujan yang turun sore itu, di tempat itu, dalam nuansa perjuangan itu. Yang setiap tetesannya, meleburkan diri dalam rasa kesyukuran yang indah. Bahwa kami masih diperkenankan berjuang bersama dalam satu ikatan yang indah. Ukhuwah Islamiyah

Aku jatuh cinta pada mereka yang berdakwah secara “diam-diam”. Menebar kesholehan ditengah umat, dan menjadi benteng terakhir penjaga asholah dakwah ini. Namun, cintaku pun selalu tertuju pada mereka yang berdakwah di tengah “medan perang”. Menebar kesholehan melalui posisi strategis di tengah masyarakat. Mencoba melakukan perbaikan di tengah sistem yang semakin bobrok dan hancur

Aku jatuh cinta pada takbir yang menggema beserta ruh yang menyertainya. Yang menggetarkan musuh Allah di bumi ini. Yang diucapkan para mujahid sejati dengan penuh kesungguhan tekad. Mengekspresikan keyakinan mereka yang kuat akan kepastian kembali kejayaan umat

Di atas segalanya…

Aku jatuh cinta pada RUH PERJUANGAN yang mengalir dalam dakwah ini. Pada tiap peluh yang mengalir, pada mata merah menahan kantuk, pada tulang ngilu, pada tatapan wajah penuh semangat selelah apapun tubuh ini terhempas, pada kekhusyukan malam-malam panjang penuh penghambaan, pada do’a-do’a matsurat dan rabithah sepanjang pagi dan petang, pada persaudaraan sejati yang bertaut karena akidah..

Ya Akhi, Ukhti,

moga kita bisa bertemu kembali, dalam suasana hangat perjuangan ini. Walaupun bumi yang kita pijak berbeda, langit yang kita pandang juga berbeda, sejatinya kita tetap berjuang bersama dan selalu bersama. Dan semoga Allah berkenan mempertemukan kita kembali di syurganya kelak, dalam perjamuanNya yang indah




Jakarta, 19 November 2014

Hamasah Ukhty!

Bismillah, ku mulai tulisan ini di perjalanan menuju pekatnya malam, perjalanan menuju harapan, cita-cita dan masa depan. Perjalanan menuju perbaikan diri, dan perjalanan menuju sebagai wanita yang 'utuh' di hadapan Allah, utuh sebagai khalifahNya.

Dalam bisik semilir angin malam dan detik jam yang berjalan menuju waktu-waktu mustajab ku sampaikan segala harapan kepada yang empunya HAK atas segalanya, kepada yang mempunyai ruang luas untuk menaruh segala harapan kita, bahkan mungkin harapan yang terseok-seok, yang susah payah sedang kita rajut kembali. Bangunlah dengan pondasi sebuah kepercayaan dan keyakinan bahwa hanya melaluiNya lah harapan kita yang teramat besar itu dapat tertampung olehNya, bukan makhlukNya yang senantiasa memiliki ruang keterbatasan. PadaNya kita sampaikan mimpi-mimpi, cita-cita, dan harapan kita sebagai seorang wanita yang utuh. Yang pertama sebagai khalifahNya, yang kedua utuh karena telah sempurna dien nya, utuh karena bisa menjalankan ibadah dengan maksimal bersama seseorang yang telah digariskan bersama-sama melangkah menuju surgaNya, bersama-sama memperbaiki kualitas diri, bersama-sama meraih mimpi-mimpi dan harapan yang mungkin belum sempat terwujud ketika kita belum 'utuh'. Maka berbahagialah yang sudah menemukan seseorang itu untuk diajak bersama-sama mencapai surgaNya, jagalah ikatan suci yang bernama mitsaqan ghalizan itu, bersabarlah menanti kebahagiaan itu tiba bagi yang akan melangsungkan pernikahan dan teruntuk yang sedang menunggu seseorang itu percayalah bahwa kamu akan merasakan di waktu yang tepat dan bersama orang yang tepat, asal dijemput dengan cara yang diridhoiNya. Bukan dengan jalan yang mengundang murkaNya, cinta dalam islam itu adalah tanggung jawab. Bukan sekedar pertemuan indah dan kata-kata indah yang tali pengikatnya hanyalah pernikahan.






Jakarta, 19 November 2014








Minggu, 09 November 2014

Dear Mommy

"Ku buka album biru penuh debu dan usang, ku pandangi semua gambar diri kecil bersih belum ternoda. Pikirkupun melayang dahulu penuh kasih, teringat semua cerita orang tentang riwayatku. Kata mereka diriku selalu dimanja, kata mereka diriku selalu ditimang. Oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku"
Penggalan lagu Bunda yang dibawakan artis Melly Goeslaw itu aku bisa menebak semua orang yang mendengarkan dan membawakannya pasti akan terhanyut sendiri, mengenang kisah dengan ibunya bahkan bisa sampai menghasilkan kristal bening yang tidak bisa dijual tapi bisa sebagai bukti bahwa kita teramat sangat menyayangi seorang wanita mulia yang dengan segenap jiwa raganya dipertaruhkan di atas pembaringan kasur persalinan demi mendengar tangisan pertama kita di dunia. Yaa, itulah seorang Bunda, Ibu, Emak, Mama, Mommy, Enyak, Ummi.

Dari situlah semua bermulai kehidupan kita sebagai seorang putra/putri. Berkembang dibawah pengasuhan orangtua terbaik kita, sekalipun ada beberapa orang yang menilai tidak baik. Bahwasanya seorang Ibu akan tetap menjadi yang terbaik seburuk apapun ia, Rasulullah pun membanggakan seorang Ibu dengan memberinya panggilan khusus sebanyak 3 kali. Ibu, Ibu, Ibu baru kemudian Ayah.

Dear Mommy,
Aku tau bahwa Engkau kini lelah, lelah karena mengurusi anak-anakmu. Tapi aku juga tau lelahmu untuk kami adalah bagian dari harta dan semangatmu menjalani hidup. Karena kami adalah aset yang tak ternilai untukmu
Aku tau matamu kini tidak seindah dulu waktu kami masih berumur di trimester awal, sayu tapi tertutupi dengan ikhlasmu merawat kami
Aku tau ketika kami sakit engkau teramat sangat khawatir, menunggu kami tidur dengan nyaman sementara engkau gelisah di samping pembaringan kami hingga subuh datang
Aku tau ketika engkau memarahi kami karena sebab tertentu bahwa sebenarnya hatimu menangis, menangis karena merasa gagal mendidik kami menjadi yang terbaik
Aku tau ketika kami mengeluh dikala keadaan menghimpit sebenarnya engkau lebih sedih, tapi tertutupi dengan sabar dan kuatmu dihadapan kami
Dan kini, ketika kami telah dewasa engkau hanya perlu menunggu, menunggu surga yang akan diberikan oleh anak-anakmu.

Uhibbuki fillah Ummi
I loved you so much Mom
Aku sayang Bunda
Aye cinte ame Enyak
Aye sayang ame Emak








Best Regards And Full Loved
Your Daughter; Ratih Putri Adhytia


Peluk Rindu Dengan Doa

Rindu? Tak ada yang salah dengan rindu, bahkan untuk urusan perasaan yang sepele sekalipun. Rindu akan selalu menjadi isi dari sebuah pertahanan benteng diri akan sebuah pertemuan, entah untuk pertemuan apapun itu. Tetapi sejatinya rindu selalu tak pernah terjelaskan secara gamblang, yang jelas ia ada dan mengisi suatu ruang. Sapalah rindu itu dengan sejuk, melalui Doa kepada pemilik malam yang pekat, kepada yang setia menjaga hati kita. Allah

Mungkin saat ini kamu tengah disambangi olehnya, sambutlah dengan tenang, Hormati rindu yang datang mengetuk hatimu, berterima kasihlah padanya. Yang karenanya kita masih mampu mengeja rasa yang ada, ucapkanlah salam "Maa fii Qalbi Ghoirullah". Juga jangan pernah menyalahkan sebuah pertemuan yang telah terjadi dibelakangmu, bahwasanya pertemuan itu hadir karena ingin mengenalmu melalui kecewa, luka yang mungkin masih menganga, dan manisnya setiap inci waktu yang pernah terlewatkan olehmu dan orang-orang yang mungkin teramat dalam kamu sayangi kehadirannya. Maka ikhlaskanlah setiap awal dan akhir yang menyapamu. Mereka ada agar kita menyadari bahwa hakikat dari awal pertemuan, lalu mengurai cerita, kemudian cerita tersebut berakhir yang di kemudian hari berkenalan dengan RINDU adalah satu skema beruntun.
Jangan melupakan hakikat Doa, yang keberadaannya bisa menjadi penyelesaian akan rindu. Pernahkah tau? Bahwa doa bisa menguntai sampai ke tangga langit. Percaya atau tidak bahwa doa adalah media komunikasi tercanggih yang mampu menyampaikan pesan hatimu sampai menembus batas cakrawala, menghantarkan setiap harap yang sudah kamu eja dalam hati. Dan rasakan manisnya terduduk diatas sajadah di sepertiga malam kita, melafal doa-doa yang siap disetor padaNya. Mungkin buliran-buliran bening akan menjadi teman sekaligus saksi dari segala harap dan cemas kita.
"Terkadang cinta juga butuh jarak untuk bergerak tanpa harus retak, maka terciptalah ia;rindu. Kenalilah dengan perasaan yang bijaksana, tanpa harus mengusik rasa khawatir dan kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya"
Bila kamu ingin mengenal rindu, maka kamu harus terlebih dahulu mengenal jarak tanpa pernah adanya sebuah pertemuan. Teruslah berjuang dalam senyapmu, teruslah melafalkan segala harapmu dengan sebuah doa tulus yang mengundang cintaNya. Hingga doa-doa terus terpanjat, hingga Allah memutuskan yang terbaik. Sungguh, itu lebih bermakna dari apapun dan hasilnya adalah yang terbaik. Jangan mengaku bahwa kamu merindukan seseorang sebelum kamu merasakan dan mengakui bahwa kamu merindukanNya, bisa mencintai ciptaanNya sampai disebut dalam doa tapi ternyata hanya sampai seujung kuku mencintai Rabbnya. Jangan

Sekali lagi, sapalah rindu dengan teduh. Dekap bersama doa-doa yang akan disampaikan padaNya ketika subuh menjelang, teruslah berharap pada yang mengatur segalanya yang senantiasa mengenali kita tanpa ruang keterbatasan. Sampai Dia berkata, "ini adalah hadiah teristimewa dariKu yang terbaik untukmu". Lalu? Bersyukur.