Hai senja, apa kabarmu? Maaf beberapa hari ini aku lupa menikmati hangatmu saat akan kembali ke rumahmu, maaf juga aku tak izin denganmu bahwa aku sibuk dengan rutinitas harianku. Selepas itu aku begitu merindumu. Ya, aku merindumu seperti biasanya, rindu pula pada langitNya. Rindu seperti waktu kita bersama di tepi dermaga, mengabadikan jinggamu bersama perahu nelayan yang sedang menepi, menghabiskan penghujung sore ku untuk bertemu denganmu. Bulan ini menjadi bulanku genap 20 tahun, yang artinya sudah belasan tahun berlalu dengan segala rahmatNya aku masih diizinkan untuk menyapamu di sela-sela rutinitasku.
Maaf bila bulan ini aku tak bisa menikmati jinggamu dengan cara yang manis seperti biasanya, ada sederet aktifitasku yang menunggu di ramadhan ini.
Senja di bulan Juni, pesonamu tetap tak kan pudar di batas cakrawala. Jinggamu memberi kehangatan tersendiri, membingkai rangkaian-rangkaian peristiwa penghujung hari. Penutup dari segala kepenatan kota Ibukota.
Salam dari penggemarmu yang merindukan utuhnya semburat oranye