Kamis, 11 Juni 2015

Senja Di Bulan Juni

Hai senja, apa kabarmu? Maaf beberapa hari ini aku lupa menikmati hangatmu saat akan kembali ke rumahmu, maaf juga aku tak izin denganmu bahwa aku sibuk dengan rutinitas harianku. Selepas itu aku begitu merindumu. Ya, aku merindumu seperti biasanya, rindu pula pada langitNya. Rindu seperti waktu kita bersama di tepi dermaga, mengabadikan jinggamu bersama perahu nelayan yang sedang menepi, menghabiskan penghujung sore ku untuk bertemu denganmu. Bulan ini menjadi bulanku genap 20 tahun, yang artinya sudah belasan tahun berlalu dengan segala rahmatNya aku masih diizinkan untuk menyapamu di sela-sela rutinitasku.
Maaf bila bulan ini aku tak bisa menikmati jinggamu dengan cara yang manis seperti biasanya, ada sederet aktifitasku yang menunggu di ramadhan ini.

Senja di bulan Juni, pesonamu tetap tak kan pudar di batas cakrawala. Jinggamu memberi kehangatan tersendiri, membingkai rangkaian-rangkaian peristiwa penghujung hari. Penutup dari segala kepenatan kota Ibukota.

Salam dari penggemarmu yang merindukan utuhnya semburat oranye

Untukmu Pencari Nafkah

Bismillahirrahmaanirrahiim

Mungkin kamu tak tau dimana rizqimu. Tapi rizqimu tau dimana kamu. Dari langit, laut, gunung, sampai lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.

Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.

Tugas kita bukan mengkhawatirkan rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban "Dari Mana" dan "Untuk Apa" atas tiap karuniaNya.

Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alfa bahwa hakikat rizqi bukanlah
yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya (mati).

Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita.
Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.

Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat.
Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.

Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki Ismail, bayinya ??

Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan.

Ia kejutan untuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga.
Tugas kita hanya menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.

Sekali lagi, yang terpenting di tiap kali kita meminta dan Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya dan jawab
soalanNya, "Buat apa?"

Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia, lupa bahwa semua hanya "hak pakai" yang halalnya akan dihisab dan haramnya akan di adzab.
Dengan itu kita mohon "Ihdinash Shirathal Mustaqim"; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat.
Bukan jalannya orang yg terkutuk apalagi jalan orang yang tersesat.

Maka segala puji hanya bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah maka kesempurnaan menjadi paripurna"