Senin, 10 Agustus 2015

Aku; Rangkaian Cerita

Aku, dengan sejuta karakter yang melekat pada diriku. Entah bagaimana orang menilainya, masing-masing dari mereka mempunyai sudut pandang yang berbeda. Dengan segala kekurangan dan kelebihan aku jalani dengan syukur diiringi evaluasi terhadap diri. Semakin dewasa semakin mengerti ada banyak hal yang menjadi titik perubahan pada diri, sadar bahwasanya banyak lubang yang harus ditutupi.

Aku menyukai bacaan oleh karenanya aku juga suka menulis dan mengoleksi novel dan buku bacaan lainnya. Kata Ibu, "beli buku lagi trus dikumpulin di lemari trus bikin debu?!"
Aku menyukai hujan dan aroma petrichor oleh karenanya aku suka berlama-lama di tengah hujan. Orang bilang, "cepat jalannya, hujan sudah mulai deras nanti kamu kuyup lalu sakit". Sementara aku hanya menanggapinya dengan memandangnya sepintas.
Aku menyukai alam, entah itu gunung, pantai dan tempat-tempat lainnya yang mengundang kedamaian tersendiri. Aku menunggu pendakian Rinjani bersama seseorang yang kelak akan menjadikanku tempat kepulangannya.
Aku menyukai setiap perjalanan, ada banyak list destinasi yang ingin dikunjungi meskipun masih nyicil hingga saat ini. Salah satunya Turki. Aku jatuh cinta pada kota Peradaban itu, bahkan jauh sebelum Erdogan menjadi pemimpinnya. Dan kini cinta itu semakin menjelma, menjelma menjadi sekeping harapan dan impian yang semakin besar "Kapan aku bisa berkunjung ke kota Peradaban dengan hukum Islam yang luar biasa membuat setiap orang berdecak kagum dengan Erdogan kini sebagai pemimpinnya? Kapan aku bisa menuliskan cerita perjalananku di penjuru Turki?!"
Aku menyukai langit. Sebab disana tersimpan banyak cerita dengan Allah ku, sebab disana banyak ribuan pengharapan yang telah menjelma menjadi sebuah doa, sebab disana ada senja yang selalu ku rindukan kepulangannya. Ada milky way yang menghiasi ketika malam kembali menyapa.
Aku menyukai kota Jogya dan Bandung, sebab disana adalah sebaik-baik tempat jatuh cinta.
***

"Ka, aku izin left grup owop ya. Mau menghilang dari dunia kepenulisan heheu. Makasih uda diizinkan bergabung dan mengenal kalian, mengenal penulis-penulis hebat, juga untuk semangatnya mengingatkan untuk terus menulis. Maaf gak pernah setor tulisan he he, salam untuk semua penghuni owop ya. Pokonya proud of all"

You left

"Putri kenapa left?"
----------------------------------
Sederet kalimat tersebut adalah keputusanku ketika feeling stuck! Seriously! Ragu sebenarnya left dari grup owop, banyak ilmu dan sederet inspirasi. Tapi lagi-lagi merasa kecil, merasa tidak produktif berada di grup itu tapi tidak mengembangkan tulisan. Entah kenapa, beberapa bulan terakhir ini sulit untuk menuangkan aksara. Bahkan tulisan ini pun akan menjadi curhatan dari penulis abal-abal. Juga adanya project membuat film dakwah pendek, sejujurnya aku buntu. Stuck di bagian naskah, setiap kali coba membuat lagi-lagi hanya terpaku depan laptop. Ku baca kembali novel-novel koleksiku yang tersusun berdiri rapi di lemari dengan debu sebagai teman akrabnya, kubuka blog-blog teman--dimana isinya very inspiration! Hasilnya? Nihil, sampai saat ini tak ada cerita yang dapat kutuliskan untuk project ini. Bahkan ketika bertemu dengan tim skript pun tidak ada ide tulisan yang bisa menjadi kontribusiku hiks. Ketika teman-teman menanyakan, "mana tulisannya?" Aku hanya bisa menjawab dengan straight face. Sejujurnya ku katakan pada tim aku stuck untuk membuat tulisan. Kemudian Ka Fikri menanyakan ketika kami Tim skript berkumpul, "emang passionnya dimana? Nulis kan? Yauda tulis aja apa yang terlintas di depan kamu, inspirasi itu datangnya kapan dan dimana aja, gak perlu mengkhususkan waktu malam untuk menulis, ya walaupun kamu bilang inspirasi ada ketika tengah malam..." Dan sederet motivasi yang dia contohkan ketika itu. Ka Fikri yang ku kenal sebagai kembar jomlo, dia adalah teman satu grup di owop juga sekaligus motivator untuk dunianya hehe. 
***

Senja mulai menjelma kala itu di kota Bogor, ku pandangi langit lekat-lekat.
"Pengen nulis lagi rasanya, rindu. Meskipun entah apa yang akan ku tulis. Aku rindu memandang langitMu secara dekat, rindu moment senja, rindu hujan yang membawa aroma petrichor. Dan rindu papa, selalu” Ku nikmati udara kota hujan sore itu. Sama dengan Jakarta saat ini, kemarau.

Kamu menghancurkan dunia kecilku yang sedang ku bangun perlahan. Mimpiku menjadi penulis penuh manfaat yang karyanya dapat dinikmati orang banyak redup seketika, mimpiku menjadi penulis untuk dunia kecilku hilang; setidaknya untuk saat ini.

Rabu, 05 Agustus 2015

Kota Istimewa; Papa

Stasiun tujuan: Jogyakarta

Aku tersenyum sinis memandang tiket kereta api di tanganku. Ya, Jogya. Kota kelahiran papaku, kota yang menjadi the one of list my destination, kota yang menyimpan segudang pertanyaan dan pernyataan. 

Stasiun Gambir, pukul 20.15
Aku menuju peron jalur keberangkatan kereta yang kutumpangi, Argo Lawu. Beberapa saat kemudian datang keretanya
"Gerbong 8 ya pak?"
"Iya mba, masuk aja"
Ku langkahkan kaki mencari nomor seat yang tertera di tiket, 11A. Ku ambil posisi ternyaman untuk perjalanan selama 8 jam ke depan, pojok dekat kaca jendela. Posisi favorit
Kereta mulai melaju dengan lambat sementara suara merdu protokol kereta mulai terdengar, ku geser gorden hijau yang menutupi keseluruhan kaca jendela untuk menikmati langit malam.

"Pa, kurang lebih 12 tahun takdirNya memisahkan dimensi kita dan sekarang aku diberikan kesempatan melangkahkan kaki menuju kota kelahiranmu, meski ku tau bukan keraton-mu yang menjadi tujuan utama perjalananku. Mungkin nanti setibanya aku di Jogya akan ku sempatkan untuk melihatnya sebentar"

Si mbah pernah bercerita saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SMK awal. Papa meninggalkan kehidupan keraton karena tidak ingin menjadi pilot sesuai dengan permintaan orangtuanya, tidak kerasan kalau kata orang jawa. Si mbah memberitahu kalau cucunya ini masih mempunyai keturunan darah biru, aku hanya menjawabnya dengan nyeleneh "Wong darahku merah kok mbah hehehe"

Untuk apa bergelar darah biru bila taqwa yang kita miliki rendah
Untuk apa bergelar darah biru bila kita tidak bisa menjaga norma-norma yang semestinya
Untuk apa bangga bergelar darah biru bila silaturahim keluarga putus dalam ketidakjelasan

Stasiun Jogyakarta, pukul 03.45

"Kepada para penumpang yang akan turun di stasiun Jogyakarta silakan bersiap-siap. Stasiun Jogyakarta" Suara merdu protokol kembali terdengar
Udara subuh menyambutku, ku angkat tas kerilku menuju keluar stasiun. Melihat para pendaki menggendong keril keluar disaat yang bersamaan, sudah bisa ditebak tujuannya adalah merapi-merbabu.
"Ah alam, merindumu ternyata sesakit ini. Selamat pagi Jogya, selamat pagi para pendaki" 

Alun-alun Jogyakarta, pukul 10 malam

Wedang ronde, jagung bakar beserta susu hangat menjadi teman yang pas ketika itu sambil menikmati udara malam kota gudek. Ku nikmati minumanku sambil memandang ke arah jam 12, tepatnya sepasang pohon beringin dimana kepercayaan masyarakat sekitar adalah barang siapa yang bisa melewati kedua pohon beringin tersebut dengan mata tertutup tanpa melenceng akan terpenuhi segala permintaannya. Sayangnya banyak yang sudah mencoba berkali-kali tetapi tetap saja gagal mencoba tradisi itu hingga bisa menyebrang dengan sempurna. Padahal secara logika, jarak antara 2 pohon beringin tersebut cukup lebar untuk di lewati.
Sebagian besar masyarakat juga percaya jika 2 pohon beringin tersebut merupakan gerbang ghaib yang menghubungkan keraton Jogja dengan pantai selatan yakni istana ratu nyi roro kidul. Konon katanya hal itulah yang menyebabkan banyak tentara penyerang keraton Jogja yang kehilangan kekuatannya setelah melewati 2 pohon beringin tersebut. Sehingga kerajaan tetap aman hingga sekarang. Bahkan mereka juga menganggap bahwa pohon beringin tersebut merupakan jimat khusus bagi kerajaan dan raja. Karena itu, siapa saja yang ingin mencelakai raja dan kerajaan akan gagal karena kekuatan akan hilang begitu melewati 2 pohon beringin tersebut.

Ku pandangi sekeliling alun-alun dan keraton Jogyakarta
"Ya, ini tempatmu dulu singgah pa. Entah cerita apa yang ku dapat segala hal tentangmu, yang jelas luka dan rindu itu masih berbaur menjadi satu. Selama kurang lebih sudah 12 tahun. Andai sosokmu masih ada saat ini, tentu anak kesayanganmu ini yang ketika kecil bergelayut di tangan gempalmu maka saat ini di umurku yang menginjak kepala 2 bukan es rasa melon lagi yang kuminta, bukan bergelayut di tangan gempalmu lagi, pa. Tapi nasehat yang kuminta darimu, pundak kokohmu yang ku inginkan untuk bersandar menceritakan segala kisahku dan hadirnya sosokmu sebagai wali di hari bahagiaku nanti" Tatapanku mengarah ke langit, menahan butiran bening yang berkumpul di kelopak mata.

DIA pasti tau aku rindu sosoknya, DIA pasti tau aku ingin kehadirannya, DIA pasti tau aku membutuhkan hadirnya sebagai penguat
Tapi DIA jelas lebih menginginkannya dan lebih rindu padanya
Dan sudah pasti ada DIA yang menguatkanku sekarang..

Jogyakarta, penghujung bulan Juli 2015

Sabtu, 01 Agustus 2015

Luruh Untuk Kedua Kalinya

Ajari aku untuk mengenal makna ikhlas sebenarnya

Aku berusaha menjaga karena ku tau, ruang kosong itu kelak akan terisi dengan yang terjaga
Aku belajar segala hal karena ku tau kelak aku akan dipertemukan hal-hal baru dalam hidup
Awalnya ku pikir kamu memang menjaga apa yang ku jaga, ternyata lagi-lagi salah. Rindu itu semakin meradang, aku luruh untuk kedua kalinya.

Kamu...
Dari sekian doa yang ku ramu panjang-panjang
Dari secuil nyali dan keberanian yang ku punya karena rapat menjaga namamu dengan bermodalkan percaya untuk menitipkanmu pada rahmanNya. Ternyata aku luruh untuk kedua kalinya.

Tak seharusnya aku berlabuh disana, sebab bukan aku yang menjadi tempat pulangmu
Tak seharusnya aku berhenti disana, sebab ini bukan akhir yang akan membersamaiku