Minggu, 08 November 2015

Tentang Dua Rindu

Matahari tidak terik seperti biasa, kembali aku berada di kota istimewa ini. Masih terdengar sayup-sayup kumandang adzan entah dari Masjid atau mushola yang mana. Ku lirik jam warna kesukaanku, "sudah lewat 15 menit yang lalu" pikirku.  Tak lama berselang hujan mengguyur dusun ini, aroma petrichor tidak begitu kental. Mungkin karena bercampur dengan debu dan asap akibat dari truk-truk pengangkut pasir yang antri untuk turun ke bawah. Ku pandangi kaki Merapi dari balik tirai hujan yang menyapa dusun mbah marijan tersebut. Salah satu hal favoritku, menikmati hujan dan membiarkan buliran beningnya jatuh tepat di wajahku. Ku pejamkan mata, pandanganku menerawang pada 'hidangan' yang berada di sekitarku. Bagiku ada nyanyian alam tersendiri. Suara jangkrik khas pegunungan--sunyi, lembah yang seolah memanggil untuk kembali bertemu dengan jalan terjal, sandungan batu, samudera awan yang bergerumul menyelimuti, menunggu senja, menjemput matahari yang akan meninggi mengawali hari diatas sana, suara ranting yang bergerak diantara dedaunan kering, juga embun yang menyapa di pucuk pohon. Ah alam, merindumu ternyata sesakit ini. Tak ada bedanya dengan rinduku pada sosok papa.
Dua wujud rindu yang sama-sama bertemu di garis pemisah jarak.
Dimensi alam masih bisa ku temui di lain waktu, tapi dimensi seorang putri kecil untuk ayahnya?





Jogyakarta, kala pagi menyapa

Selasa, 03 November 2015

Tetesan Kerinduan

Beberapa hari terakhir ini kehadiranmu amat ditunggu-tunggu oleh penunggu semesta, pun menjadi perbincangan paling populer. Sejumlah netizen memberitakan mengenai shalat istisqa yang dilaksanakan di berbagai daerah. Dan yaaah semalam tadi hadirmu membasahi tanah ibukota, semesta menyambut hangat kehadiranmu. Pluviophile...
Kusapu embun yang menutupi kacamataku, jilbab dongkerku sebagian mulai basah. Ku pejamkan mata, menikmati aroma petrichor  dan tetesan hujan yang jatuh di wajahku, membayangkan andai ibukota ku punya tempat yang istimewa untuk menikmati hadirmu seperti di puncak gunung. Sayangnya aku hanya bisa menunggumu di depan jendela. Ah romantis memang, selain senja dan langit. Be a special part for me. Bahkan saat ini mendung masih menyelimuti. Bukan bukan, ini bukan cerita Hujan Bulan Juni nya Sapardi Djoko Damono yang sedemikian dikemas dengan apik. Tapi ini adalah Hujan di awal November, sebulan sebelum penghujung tahun. Selamat bertemu kembali kenangan yang menyapa di antara baris rintik hujan--bersama sebuah nyanyian rindu.


Jakarta Hari Ini