Kamis, 19 Mei 2016

Sosok Penghianat Islam, Musthafa Kemal Pasha

Musthafa Kemal lahir pada tahun 1881 di sebuah kawasan miskin di Salonika, Turki. Ayahnya, Ali Riza, adalah seorang bekas pegawai rendahan di kantor pemerintah. Setelah mengalami dua kali kegagalan dalam bisnisnya, Ali Riza tenggelam dalam dunia hitam, menjadi peminum sebagai kompensasi kesedihannya.

Hingga akhirnya ia mati akibat penyakit tuberkulosis saat Musthafa masih berumur tujuh tahun.

Ibu Musthafa, Zubaida –seorang wanita yang buta huruf– menjadi ibu sekaligus kepala rumah tangga. Berbeda dengan suaminya, Zubaida adalah seorang muslim yang taat. Sebagaimana wanita-wanita Turki pada masa itu, seluruh hidupnya difokuskan untuk masa depan anak laki-lakinya yang tertua, Musthafa. Karena ketaatannya kepada Islam, ia mengharapkan Musthafa menjadi ulama yang faqih.

Namun ternyata Musthafa mempunyai pendirian yang berbeda. Musthafa tumbuh menjadi remaja pemberontak. Ia melawan segala bentuk peraturan, serta bersikap kasar dan kurang ajar kepada gurunya. Di depan para siswa yang lain, ia menunjukkan sifat yang sangat arogan dan suka menyendiri. Ia tidak mau bermain bersama teman-temannya, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tidak disukai teman-temannya. Bila merasa diganggu, ia tak segan-segan menggunakan kekerasan untuk melawan.

Suatu kali, karena sikap kasar dan kurang ajar Musthafa, gurunya menjadi gelap mata dan memukuli Musthafa sedemikian keras hingga melukai perasaannya. Musthafa lari dari sekolah dan tidak mau kembali. Meski ibunya berusaha keras membujuk agar kembali ke sekolah, Musthafa sama sekali menolaknya. Zaubaida merasa putus asa, sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya, datang usulan dari salah seorang pamannya agar memasukkan Musthafa ke sekolah militer di Salonika. Usulan ini berdasarkan pertimbangan bahwa Zubaida tidak perlu mengeluarkan biaya pendidikan –karena sekolah militer itu dibiayai oleh negara; lalu apabila Musthafa bisa menunjukkan prestasi yang bagus, ia bisa menjadi seorang perwira; dan kalaupun tidak ia tetap akan menjadi seorang prajurit. Singkat kata, apa pun yang akan terjadi, kehidupan Musthafa tetap terjamin.

Meskipun Zaubaida tidak sepakat dengan usul tersebut, namun ia tidak bisa menghalangi Musthafa –yang pada saat itu masih berusia 12 tahun– meminta salah seorang kenalan ayahnya untuk membantunya masuk ke sekolah militer. Musthafa mengikuti seleksi dan lulus menjadi seorang kadet. Di sekolah militer inilah, Musthafa menemukan dunianya. Dia mampu menunjukkan prestasi akademik yang bagus, sehingga salah seorang pengajar memberinya julukan “Kemal” yang berarti “kesempurnaan”. Karena kepandaiannya dalam bidang matematika dan pengetahuan kemiliteran, Musthafa dipromosikan sebagai staf pengajar. Di posisi ini, Musthafa mempunyai kesempatan mempertunjukkan kekuasaannya. Setelah berhasil mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian akhir, Musthafa lulus dengan gelar kehormatan pada bulan Januari 1905 dengan pangkat Kapten.

Pada saat itu, Musthafa bergabung dengan suatu perkumpulan mahasiswa nasionalis yang fanatik, yang dikenal dengan nama Vatan atau “Tanah Air”. Para anggota Vatan menganggap diri mereka kelompok yang revolusioner. Mereka sangat menentang pemerintahan Sultan Hamid II, yang memberangus segala pemikiran “liberal” yang merongrong pemerintahan Islam. Kelompok ini tak jemu-jemunya menyalahkan Islam yang dianggap sebagai penyebab keterbelakangan Turki dan terus menerus menyebarkan kebencian terhadap syariat yang dianggap kolot, serta menjadikan ajaran-ajaran sufi sebagai bahan tertawaan. Para anggota Vatan bersumpah akan melengserkan Sultan dan menggantinya dengan sistem pemerintahan ala Barat lengkap dengan konstitusi dan parlemen, menghancurkan otoritas para ulama, menghapuskan purdah (jilbab) dan kerudung, serta mendeklarasikan kesetaraan yang mutlak antara laki-laki dan perempuan. Tidak lama bergabung, Musthafa menjadi pimpinan kelompok itu.

Kesempatan bagi Musthafa Kemal untuk memperluas pengaruh akhirnya datang. Begitu Sultan Abdul Hamid II diturunkan oleh Partai Turki Muda pada tahun 1908, Komite Persatuan dan Kemajuan mengundangnya untuk bergabung bersama. Namun, sebagai pendatang baru, ia diwajibkan untuk melaksanakan sejumlah perintah dari pimpinan organisasi, sedangkan sifat dasarnya menuntut agar dialah yang menjadi pemimpin. Akibatnya, Musthafa merasa gelisah dan tidak puas. Ia sama sekali tidak menghargai anggota-anggota lainnya, yang dianggap sebagai penghalang keinginannya. Ia sangat membenci Perdana Menteri Pangeran Said Halim Pasha (1865 – 1921) dan Menteri Perang, Anwar Pasha (1882 – 1922), yang seringkali menentang pendapat-pendapatnya.

Selama sepuluh tahun berikutnya, ia kembali menekuni bidang kemiliteran sebagaimana sebelumnya. Perlahan-lahan, berkat kepribadiannya yang keras dan kecerdasannya, ia merengkuh semakin banyak kekuasaan politik. Ia menghabiskan malam-malamnya dengan mengadakan rapat-rapat rahasia untuk merencanakan kudeta, yang diharapkan dapat menghasilkan kekuasaan absolut baginya.

Kesempatan mulai terbuka, ketika pada akhir Perang Dunia I ia memimpin pasukan pertahanan Turki melawan Pasukan Sekutu Eropa yang ingin memecah belah kekuatan “The Sickman of Europe” dan menghancurkannya dengan cepat. Dengan usaha-usahanya merintangi penjajahan Sekutu dan membangkitkan semangat rakyat untuk berjuang sampai mati demi tanah airnya, Musthafa menjadi pahlawan nasional. Pada saat Yunani berhasil dikalahkan dan Turki memperoleh kemenangan, rakyat Turki mabuk kemenangan dan memuja Musthafa Kemal sebagai Sang Penyelamat. Rakyat Turki memberinya gelar al-Ghazi, yang berarti “Pembela Kebenaran”. 

Berbagai pengakuan dari para diplomat asing semakin meneguhkan kedudukan Musthafa sebagai pahlawan Turki melawan Penjajah Barat. Di depan para politisi Arab, Musthafa berkata, “Saya tidak percaya dengan federasi negara-negara Islam maupun liga bangsa Turki di bawah kekuasaan Soviet. Tujuan saya satu-satunya adalah melindungi kemerdekaan Turki dalam batas-batas alaminya, bukan membangkitkan ke-Khilafahan Utsmaniyah atau ke-Khilafahan lain. Jauh dari segala mimpi dan bayangan-bayangan! Mereka (ke-Khilafahan) telah banyak merugikan kita di masa yang lalu!”

Kepada delegasi komunis yang meminta dukungannya, Musthafa Kemal dengan jelas menyatakan, “Tidak ada penindas atau yang tertindas. Yang ada hanyalah mereka yang membiarkan diri mereka ditindas. Bangsa Turki bukan termasuk bangsa seperti itu. Bangsa Turki dapat mengurus dirinya sendiri. Biarkan bangsa lain mengurus diri mereka sendiri. Kami punya satu prinsip, yaitu melihat segala permasalahan dari kacamata bangsa Turki dan melindungi kepentingan nasional Turki.”

Musthafa Kemal menyatakan keinginannya untuk membangun Turki dalam batas-batas alamiahnya menjadi suatu bangsa yang kecil namun kompak, sejahtera, dan modern, yang dihormati oleh negara-negara lain di dunia. Ia begitu yakin dirinya –dan hanya dirinya– yang mampu mewujudkan cita-cita tersebut. Ia pernah menyatakan, “Saya adalah Turki! Menghancurkan saya sama artinya dengan menghancurkan Turki!”

Tidak lama setelah berkuasa, Musthafa menyatakan dengan tegas bahwa ia akan menghancurkan seluruh puing reruntuhan Islam dalam kehidupan bangsa Turki. Hanya dengan mengeliminasi segala sesuatu yang berbau Islam, Turki bisa memperoleh “kemajuan” menjadi bangsa yang dihormati dan modern. Tanpa rasa takut dan ragu, ia menyerang Islam dan pilar-pilar Islam:

“Selama hampir lima ratus tahun, hukum dan teori-teori ulama Arab serta tafsir para pemalas dan tiada guna telah menentukan hukum perdata dan pidana Turki. Mereka menetapkan konstitusi, rincian aturan hidup orang Turki, makanannya, waktu-waktu bangun dan tidurnya, bentuk busananya, rutinitas isteri yang melahirkan anak-anak mereka, apa yang dipelajari di sekolahnya, adat istiadatnya, pemikiran-pemikirannya, bahkan sampai perilaku mereka yang paling pribadi. Islam –teologi Arab yang immoral itu– adalah benda mati. Bisa saja Islam cocok untuk suku-suku di padang pasir. Tetapi Islam tidak bermanfaat untuk negara yang modern dan maju. Wahyu Tuhan, katanya! Tidak ada itu wahyu Tuhan! Islam hanyalah rantai yang digunakan para ulama dan penguasa tiran untuk membelenggu rakyat. Penguasa yang membutuhkan agama adalah orang yang lemah. Orang yang lemah tidak boleh berkuasa!”

Ketika Abdul Majid diangkat sebagai Khalifah, Musthafa Kemal Pasha menolak melakukan upacara tradisi yang biasa dilakukan. Ketika Dewan menemuinya untuk membahas hal itu, Musthafa memotong pembicaraan, “Khalifah tidak memiliki kekuasaan atau kedudukan apa pun, kecuali sebagai figur seremonial saja.” Ketika Abdul Majid menulis petisi untuk meminta kenaikan biaya operasionalnya, Musthafa menjawab, “Khalifah, kantor anda tidak lebih adalah peninggalan sejarah. Tidak ada dasar hukum yang melandasinya. Sungguh tidak sopan anda berani menulis surat kepada sekretaris saya!”

Pada tanggal 3 Maret 1924, Musthafa mengajukan Undang-undang untuk menghapuskan Khalifah selamanya dan mendirikan negara sekuler Turki. Namun demikian, sebelum UU tersebut diperkenalkan, ia telah berusaha membungkam suara-suara penentangnya dengan memberikan ancaman hukuman mati bagi orang-orang yang mengritik segala tindakannya.

“Apa pun konsekuensinya, negara republik harus ditegakkan…Khilafah Utsmaniyah adalah bentuk negara yang tidak masuk akal atas dasar pondasi agama yang rusak. Khalifah dan keluarga Utsmani lainnya harus diusir. Peradilan dan hukum-hukum agama yang kolot harus diganti dengan hukum sipil modern. Sekolah agama harus dijadikan sekolah negeri yang sekuler. Negara dan agama harus dipisahkan. Republik Turki harus menjadi negara yang sekuler.”

Akhirnya, Undang-undang berhasil disahkan tanpa perdebatan dan Khalifah beserta keluarganya harus diasingkan ke Swiss. Rezim baru pun menetapkan:

“Pembukaan Konstitusi (baru) Turki menyatakan kebulatan tekad untuk melaksanakan reformasi bangsa Turki, sedangkan Pasal 153 melarang segala bentuk upaya yang menghalangi proses reformasi tersebut. Dinyatakan bahwa, ‘Tidak ada ketentuan dalam konstitusi ini yang menganggap tidak sah berbagai undang-undang berikut ini yang bertujuan membangkitkan bangsa Turki menuju peradaban masa kini, serta untuk menjaga karakter sekuler negara yang telah ditetapkan konstitusi melalui pemilihan umum:
1.    Undang-undang tentang penyatuan (dan sekulerisasi) pendidikan pada tanggal 3 Maret 1924.
2.    Undang-undang tentang penutup kepala, pada tanggal 25 November 1925.
3.    Undang-undang tentang penutupan biara dan kuburan para darwis, penghapusan kantor penjaga makam, dan peraturan tentang penghapusan dan pelarangan gelar-gelar tertentu pada tanggal 30 November 1925.
4.    Peraturan sipil tentang pernikahan pada tanggal 17 Februari 1926.
5.    Undang-undang tentang pengambilan angka internasional pada tanggal 20 Mei 1928.
6.    Undang-undang tentang pengambilan dan penerapan alfabet (latin) Turki serta pelarangan tulisan Arab, pada tanggal 1 November 1928.
7.    Undang-undang tentang penghapusan gelar-gelar dan sebutan seperti Efendi, Bey, atau Pasha pada 26 November 1934.
8.    Undang-undang tentang larangan memakai busana tradisional pada 3 Desember 1934.

Segala bentuk pengingkaran terhadap gerakan Ataturkisme tidak dimungkinkan dan tidak dapat dipahami oleh masyarakat. Tidak dimungkinkan karena konstitusi melarangnya, dan tidak dapat dipahami karena orang-orang Turki, baik tua maupun muda, telah menerima segala konsekuensi reformasi, dan westernisasi tetap menjadi kata-kata ajaib yang menjanjikan kehidupan yang lebih sejahtera.”

Pada masa reformasi tersebut, Musthafa Kemal mengawini seorang wanita cantik dengan latar belakang pendidikan Eropa bernama Latifa. Pada masa perjuangan Turki, Latifa didorong oleh Musthafa untuk mengenakan pakaian seperti laki-laki dan menuntut kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Namun, ketika ia bersikap tegas dan bersikeras minta diperlakukan dan dihormati sebagaimana mestinya seorang isteri, Musthafa dengan kasar segera menceraikan dan mengusirnya. Setelah bercerai dari Latifa, ia menjadi lelaki yang tak tahu malu dan tak mengenal batas. Musthafa menjadi peminum berat dan tidak bisa lepas dari minuman keras. Sejumlah lelaki muda yang tampan menjadi objek pemuas syahwatnya. Demikian pula para istri dan anak perempuan dari para pendukungnya menjadi korban agresivitas nafsunya. Hingga tak lama kemudian penyakit kelamin menggerogoti kesehatannya.

Ketika menggambarkan kepribadiannya, H.G. Armstrong –pengarang The Grey Wolf– menulis:

“Musthafa selalu menjadi seorang penyendiri, soliter, dan suka bekerja sendirian. Tak seorang pun yang dipercayainya. Dia tidak ingin mendengar pendapat yang bertentangan dengan keinginannya. Dia tidak segan mencemooh orang lain yang berani menentang pendapatnya. Dia menilai setiap tindakan hanya berdasarkan kepentingan pribadinya. Ia juga sangat pencemburu. Seorang yang cerdas dan memiliki kemampuan dipandang sebagai bahaya yang harus segera disingkirkan. Musthafa suka mencela kemampuan orang lain, dan biasa mencemarkan nama baik dan mencemooh tindakan orang lain dengan ganas, sekalipun terhadap para pengikutnya sendiri. Ia jarang mengucapkan kata-kata yang manis, dan kalaupun diucapkan pasti dilakukan secara sinis. Dia tidak pernah mempercayai siapa pun dan tidak mempunyai seorang pun teman dekat. Teman-temannya hanyalah beberapa orang fasik yang biasa minum bersama, menjadi kaki tangannya, dan setia mendengarkan kesombongannya. Semua orang yang terhormat, yang pernah bekerjasama dengannya pada masa perjuangan kemerdekaan, telah berubah memusuhinya.”

Sebagaimana para diktator yang enggan memiliki lawan, Musthafa Kemal selalu menggunakan kesempatan untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya.

“Polisi rahasia bekerja secara efektif. Melalui penyiksaan, pemukulan, atau cara apa pun yang dikehendaki, polisi harus mendapatkan bukti yang cukup memberatkan untuk menangkapi para pemimpin kelompok oposisi. Pengadilan otonom diterapkan kepada mereka, sehingga tanpa prosedur atau bukti yang kuat pengadilan bisa menjatuhkan hukuman gantung kepada mereka.

Surat permohonan hukuman mati dikirimkan kepada Musthafa Kemal di rumahnya di Khan Kaya untuk mendapatkan tanda tangan persetujuan. Salah satu surat permohonan hukuman mati diperuntukkan bagi Arif, yang setelah berdebat dengan Musthafa Kemal kemudian bergabung dengan kelompok oposisi. Arif, sebelumnya adalah pengikut loyal Musthafa, yang bahu-membahu pada masa perjuangan kemerdekaan. Arif adalah satu-satunya teman yang pernah menjadi tempat Musthafa mengungkapkan isi hatinya. Diriwayatkan bahwa ketika surat permohonan hukuman mati bagi Arif itu disampaikan kepadanya, air muka Musthafa sama sekali tidak berubah. Dia tidak memberikan catatan-catatan yang meringankan atau kelihatan ragu-ragu. Saat itu, ia tengah merokok. Kemudian dia meletakkan rokoknya ke asbak, dan menandatangani surat permohonan hukuman mati itu sebagaimana ia menandatangani surat-surat rutin lainnya yang datang setiap hari . . .

Musthafa ingin membuat segalanya berjalan dengan sempurna. Pada malam itu juga, ia mengadakan pesta dansa di Khan Kaya. Setiap orang harus datang –para hakim, anggota kabinet, para duta besar, menteri luar negeri, para bangsawan, dan semua perempuan cantik. Singkatnya, seluruh Ankara harus ikut merayakannya……

Pesta dansa itu dimulai dalam suasana muram. Dengan busana malam buatan seorang penjahit London yang sangat necis, al-Ghazi berdiri di sudut, tengah bercakap-cakap dengan seorang diplomat. Para tamu menatapnya penuh perhatian. Sebelum ia mendapatkan mood-nya untuk mulai berdansa, para tamu harus mengatur langkahnya dengan hati-hati serta bercakap-cakap dengan suara yang rendah. Amat berbahaya menunjukkan sikap suka-cita, sementara ia tengah dalam suasana hati yang murung. Namun malam itu al-Ghazi sedang bersemangat. Dirinya tidak sedang menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Malam itu adalah malam untuk bergembira.

“Kita harus bersuka cita! Kita harus hidup, harus hidup!” teriaknya, sambil merengkuh seorang wanita asing dan segera berdansa dengannya.

Para tamu mengikutinya. Mereka berdansa –bila tidak, al-Ghazi akan memaksanya. Al- Ghazi sedang berada dalam suasana hati yang paling baik; berdansa berkeliling bersama pasangan-pasangannya dengan langkah-langkah yang panjang dan memberi minum kepada mereka pada saat-saat jeda.

Empat mil jauhnya dari Ankara, sebuah lapangan besar diterangi dengan cahaya putih yang berasal dari selusin lampu listrik. Di sekelilingnya dan di jalan-jalan berkerumun para warga masyarakat. Di bawah siraman cahaya lampu, tegak berdiri sebelas tonggak kayu yang besar tepat dibawah tembok penjara. Di bawah masing-masing tonggak kayu, berdiri seseorang dengan tangan terikat ke belakang dan seutas tali melingkar di batang lehernya. Merekalah para musuh politik Musthafa Kemal yang siap menerima kematiannya.

Di tengah keheningan, secara bergiliran para terpidana diberi kesempatan untuk menyampaikan sesuatu kepada masyarakat. Ada yang berpuisi, ada yang berdoa, ada pula yang menangis mengiba sembari berteriak bahwa ia adalah warga Turki yang setia.

Di Khan Kaya, hampir seluruh tamu telah pulang. Ruangan tersebut pengap dengan asap rokok, bau minuman keras, dan bau busuk nafas orang yang mabuk. Lantainya kotor dengan abu rokok, sedangkan kartu judi dan uang bertebaran di meja-meja.

Musthafa Kemal berjalan melintasi ruangan dan memandang keluar jendela. Wajahnya dingin dan berwarna kelabu; matanya yang pucat tidak menyiratkan ekspresi apa pun. Dia tidak menunjukkan keletihan, sedangkan jasnya tetap rapi seperti sediakala. Komisaris Polisi melaporkan bahwa eksekusi telah berakhir. Tubuh-tubuh di tiang gantungan perlahan menjadi kaku. Akhirnya, ia menjadi pemenang. Musuh-musuhnya terusir, hancur, atau mati.”

Sementara itu, gemuruh kaum oposisi Turki mulai menderu. Gemuruh itu akhirnya meledak pada tahun 1926, ketika suku-suku Kurdi di pegunungan melancarkan pemberontakan bersenjata melawan rezim Kemalis. Musthafa tidak membuang-buang waktu. Seluruh suku Kurdistan di Turki dibinasakan dengan cara yang bengis, desa-desa dibakar, ternak dan hasil panen dihancurkan, perempuan dan anak-anak diperkosa dan dibantai. Empat puluh enam kepala suku Kurdi digantung di depan umum. Yang terakhir adalah Syaikh Said, sang pemimpin suku Kurdi. Sebelum dieksekusi, ia mengatakan kepada eksekutornya, “Saya tidak punya kebencian kepada anda. Anda dan atasan anda, Musthafa Kemal, membenci Tuhan! Kami harus menyelesaikan tanggung jawab kami di hadapan Tuhan pada Hari Pembalasan.”

Sekarang Musthafa Kemal menjadi diktator absolut. Rakyat Turki harus menerima reformasi anti-Islam, seperti larangan mengenakan fez/tarbus (kopiah Turki) dan sorban, wajib mengenakan busana Eropa, wajib menggunakan aksara Latin, kalender Kristen, dan menjadikan hari Ahad sebagai hari libur. Semua itu ditetapkan di bawah ancaman pedang. Ribuan ulama dan para pengikutnya rela mengorbankan jiwa mereka daripada menerima kehancuran segala sesuatu yang mereka sucikan. Tidak berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa penerimaan rakyat Turki terhadap reformasi ala Musthafa Kemal hanyalah khayalan belaka. Besarnya penolakan dapat dibayangkan dari fakta bahwa Musthafa mengumumkan keadaan perang sebanyak sembilan kali. Jutaan rakyat Turki, terutama di desa-desa dan kota-kota kecil, menghinakan dan mengutuk Musthafa Kemal.

Pada tahun 1932, Musthafa Kemal menetapkan agar setiap warga Turki mencantumkan nama keluarganya sebagaimana biasa terdapat pada masyarakat Eropa dan Amerika. Ia memilih menggunakan nama “Attaturk” yang berarti “Bapak Turki”. Enam tahun kemudian, kesehatannya benar-benar memburuk, dan akhirnya mati karena penyakit radang hati yang disebabkan karena kecanduan alkohol.

“Kategori ‘pribadi psikopatik’ digunakan untuk menyebut keranjang sampah segala macam penyakit jiwa. Orang-orang yang termasuk dalam golongan itu bukanlah para psikotik, psikoneurotik, bukan pula orang yang lemah ingatan. Golongan itu sama sekali berbeda. Psikopat tidak sama dengan psikotik, tidak “gila”. Ia tahu dimana ia berada, siapa dia, jam berapa sekarang. Ia hidup di dunia nyata, bukan hidup di alam fantasi psikosis. Tetapi sindrom psikopatik menguasai seluruh kepribadiannya sebagaimana pada psikosis. Para psikopat tidak bodoh, bahkan tidak jarang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Emosinya-lah yang mengalami kerusakan, begitu pula moral atau ‘sifatnya’. Ia bersikap dingin, menyendiri, tidak terjangkau, menunjukkan sikap yang berbeda dengan orang kebanyakan, bahkan memusuhi orang lain. Secara intelektual, ia ‘mengetahui’ konsekuensi tindakan kriminal yang dilakukannya bagi dirinya maupun orang lain, tetapi ia tidak mampu ‘merasakan’ konsekuensi itu secara emosional, sehingga tidak berusaha menahan diri dari perbuatan itu. Ia tidak pernah merasa menyesal atau bersalah. Bila dia adalah seorang pembunuh yang tertangkap, ia tidak pernah menyesali pembunuhan itu, namun justru menyesali diri kenapa ia sampai tertangkap. Psikopat biasa berprofesi sebagai pembunuh bayaran; baginya membunuh adalah sesuatu yang sama sekali tidak berarti. Ia menolak bersosialisasi, dan menentang segala peraturan atas dirinya. Selamanya ia akan bersikap memberontak, tidak mampu menjalin hubungan emosional dengan orang lain secara permanen. Kehidupan seksualnya bersifat acak dan untung-untungan; orientasinya adalah kenikmatan seksual bagi dirinya sendiri, bukan bagi pasangannya. Tidak ada data statistik yang akurat tentang jumlah psikopat yang dikurung dalam penjara, namun tidak ada yang meragukan bahwa di antara mereka adalah orang-orang yang paling berbahaya bagi kehidupan manusia. Itulah kenapa penjara penuh dengan orang-orang seperti itu.”

Gambaran itu sama persis dengan kepribadian dan sifat-sifat Musthafa Kemal. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa ia adalah pribadi yang terkenal, yaitu sebagai diktator, sehingga tidak ada seorang pun yang mampu mencegahnya berbuat kriminal dalam skala nasional.

Pihak yang paling sering menunjukkan penghargaan atas kediktatoran Musthafa adalah para intelektual dan politisi di Amerika. Kaum Yahudi dalam kalangan tersebut secara sangat antusias memberikan pujian kepadanya. Bagaimana mungkin tradisi kebebasan berpolitik dan demokrasi yang diklaim bangsa Amerika sebagai sistem yang terbaik dapat bergandengan tangan dengan kekejian diktator Musthafa Kemal. Ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dipahami, sampai para pemerhati politik internasional menyadari bahwa penghargaan demokrasi Barat atas hak asasi manusia hanya terbatas untuk kalangan mereka sendiri. Tanpa maksud-maksud tertentu, konsep HAM itu tentu tidak akan diekspor di kalangan kaum Muslim. Pernyataan-pernyataan resmi dari USIS (Lembaga Informasi Amerika Serikat) pada masa Perang Dingin menunjukkan bahwa mereka tidak pernah ragu mendukung rezim-rezim otoriter sepanjang tidak berafiliasi dengan blok Komunis. Kediktatoran, dalam pandangan mereka, bisa diterima apabila menjadi sarana menuju modernisasi (baca: kapitalisme) negara.  Rakyat di negara-negara berkembang adalah orang-orang yang terbelakang, kolot, bodoh, dan buta huruf. Hanya “pemerintahan yang bijaksana”-lah yang mampu menentukan apa yang terbaik buat mereka. Westernisasi adalah hal yang paling baik, dan tidak ada nilai-nilai moral yang dipandang terlalu mahal untuk dikorbankan dalam rangka menuju westernisasi. Oleh karena itu, apa pun caranya –termasuk tiran yang paling kejam sekalipun– akan mendapat restu dari Amerika dan demokrasi Barat, sepanjang cara tersebut dapat mempercepat pemisahan negara dari ideologi Islam.

Apakah tujuan Kemalisme? Jawabannya dapat ditemukan dalam buku yang baru-baru ini ditulis oleh seorang diplomat yang sangat terkenal. Ketika menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan Turki saat ini dan dibandingkan dengan kehidupan pada masa lima puluh tahun sebelum masa Musthafa Kemal, dengan penuh suka cita ia menyatakan bahwa hanya jenis makanan saja yang tidak berubah. Setelah mengulas keberhasilan “emansipasi” di kalangan para isteri dan anak-anak perempuan sesuai dengan konsep Barat, serta pembicaraan sehari-sehari pada saat makan bersama tentang pesiar di hari Minggu, nonton bioskop, atau makan malam di restoran, dan berbagai “kebiasaan baru dalam kehidupan keluarga Turki” lainnya, ia –dengan penuh kemenangan– menyatakan bahwa, “Urusan agama tidak pernah terlintas dalam benak mereka, kecuali pada bulan Ramadhan, ketika kakek-kakek dan bibi mereka yang tua tengah berpuasa.” 










Referensi:
Islam and Modernism, Maryam Jameelah, Mohammad Yusuf Khan and Sons, Lahore, 1965/1988
The Emergence of Modern Turkey, Bernard Lewis, Oxford University Press, London, 1961
Conflict of East and West in Turkey, Halide Edib, Syaikh Muhammad Ashraf, Lahore, 1935
The Grey Wolf, H.C. Armstrong, Capricorn Books, New York, 1961
http://m.suara-islam.com/mobile/detail/6645/Inilah-Sosok-Pengkhianat-Islam--Mustafa-Kemal-Pasha 

Eksistensi Islam di Tengah Sekularisme Turki

Selama beberapa dekade di Turki, Perjuangan dan pertarungan  antara kekuatan Islam dan sekuleris  berlangsung sangat keras. Sampai perlahan-lahan Erdogan memenangkan pertarungan melawan kaum sekuleris, yang diwakili oleh militer.
Bangunan  sekulerisme yang terstruktur dalam bentuk kekuasaan, dibangun oleh Kemal Attaturk, sudah berlangsung sejak tahun 1924, bersamaan dengan keruntuhan Khilafah Otsmaniyah. Keruntuhan Turki Otsmani itu, di formalkan oleh Jenderal Kemal Attaturk ke dalam konstitusi, yang secara tegas menyatakan Turki sebagai negara sekuler. Bukan negara agama. Islam tidak lagi menjadi sumber hukum bagi kehidupan bernegara.
Perjuangan pertarungan antara kalangan Islamis melawan sekuleris, yang berlangsung selama beberapa dekade itu, baru mencapai puncaknya, ketika Erdogan dengan Partai AKP, membangun kekuatan entitas politik di Turki. Erdogan seperti membangun kembali puing-puing reruntuhan Khilafah Otsmaniyah, dan mulai menampakkan wujudnya.
Turki di bawah Erdogan, seorang Muslim yang taat, kini berubah total. Sekulerisme mulai digerus, dan nilai-nilai Islam mulai nampak temaram. Seperti yang dituturkan oleh seorang pelancong dari Indonesia, baru saja meninggalkanTurki.
Turki benar-benar berubah. Bukan hanya kota-kota di Turki yang sangat bersih dan teratur. Tetapi, rakyat Turki jauh lebih makmur, dibandingkan ketika masih hidup dibawah kaum sekuleris.
Ekonomi Turki terbesar keempat di Eropa, tak terpengaruh oleh krisis di zona Eropa. Ekonominya tumbuh 5 persen, dan angka inflasi kurang dari dua digit. Income perkapita rakyatnya, sudah diatas $ 5.000 dollar. Perdagangan dengan negara-negara Eropa, Asia, dan Timur Tengah, terus mengalami surplus.
Sekolah, perguruan tinggi, rumah makan bagi rakyat, transportasi, dan perumahan, semuanya disubsidi oleh pemerintah. Pelancong dari Indonesia itu merasa senang berkunjung ke Turki.
Semua kebutuhan pokok rakyat tercukupi, tak ada yang kesulitan. Rakyat benar-benar makmur, dan aman di Turki, sekalipun sekarang masih sering terjadi pemboman oleh kelompok separatis Kurdi. Tetapi, Erdogan perlahan mencari solusi.
Di bawah Erdogan dan Partai AKP (Paratai Keadilan dan Pembangunan), segalanya telah berubah. Kebebasan keagamaan diberikan seluas-luasnya oleh pemerintah. Turki yang sangat modern dan maju  ekonomi, dan kehidupan rakyatnya sudah menyamai negara-negara di zona Eropa, kini menjadi salah satu  negara yang mengenakan pajak tertinggi di dunia terhadap alkohol dan rokok.Jadi tidak sembarangan orang bisa minum dan merokok di Turki. Orang yang minum dan merokok, harus benar-benar orang kantongnya tebal. Inilah cara melarang pemerintah Turki terhadap alkohol dan rokok.
Akan tetapi kontra terus bergulir, Kekuatan sekulerisme masih ada, sudah kehilangan kekuasaannya, tetapi masih memiliki pijakan dalam konstitusi. Sekulerisme masih memiliki akar sejarah, yang diletakkan oleh Kemal Attaturk, dan menampakkan kegagalannya di  Turki, serta mulai redup, bersamaan dengan tumbuhnya kekuatan Islam di Turki, yang perlahan-lahan maju menggantikan sistem yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Dikabarkan bahwa wacana publik atas isu pemakaian jilbab mencerminkan suatu perjuangan internal demokratis atas kebebasan individu. Seperti diketahui, mengenai masalah ini, Turki merupakan negara terpolarisasi dua kelompok yang berkepentingan atas kontrovesi jilbab antara kelompok muslim dan sekularis.
Muslim berpendapat bahwa mengenakan jilbab adalah hak manusia dan kewajiban agama, dan beberapa sekularis melihat jilbab sebagai politik provokatif, simbol ekstremisme dan tanda “Islamisasi” masyarakat Turki.
Mustafa Kemal Atatürk, pendiri The Founder Of Modern Turkey, melihat jilbab sebagai halangan sekularisasi dan pihaknya di modernisasi Republik Turki. Visi Ataturk belum berhasil sebab kecenderungan agama penduduk Turki, meskipun jilbab telah dilarang di sekolah-sekolah, universitas dan masyarakat sipil. Sebab lebih dari 60% dari perempuan Turki menutupi kepala mereka dengan pilihannya.
Tak hanya itu, para sekularis di Turki juga khawatir terhadap Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa untuk kemudian menjadi gerakan keagamaan Islam yang berakar dan dapat meningkatkan profil publik Islam akan jilbab.
Tindakan AKP misalnya yang didorong melalui RUU mencabut larangan selama puluhan tahun pada perempuan yang mengenakan jilbab di universitas-universitas. Dan hal itu merupakan kekecewaan dari pihak sekuler dan sebaliknya merupakan keberhasilan dan keuntungan bagi kelas menengah yang tumbuh konservatif membentuk basis politik AKP.
Konflik internal atas jilbab di Turki menimbulkan suatu penjajaran menarik terhadap pelarangan jilbab di Eropa. Apa artinya bila negara yang berada diperingkat kedua terbesar mayoritas Muslim di dunia sama seperti negara-negara Eropa lainnya, di mana umat Islam  tidak hanya minoritas tetapi sering terpinggirkan?
Disebut-sebut bahwa pemakaian jilbab di Turki dilarang dengan alasan keamanan, sebagai bentuk tindakan anti-terorisme, dan masalah terselubung dengan isu-isu imigrasi. Di Turki, mengenakan jilbab adalah sebuah bentuk perjuangan untuk mendefinisikan identitas. Dimana mengenai hal sosial dan politik dari perjuangan ini yang pada akhirnya akan menentukan masa depan yang sangat berarti bagi Turki.
Hal lain yang menyedihkan yakni Turki memberlakukan hukum sekuler yang melarang umat Islam dan juga Kristen beribadah secara formal selama 6 abad di museum yang merupakan gereja katedral terbesar di dunia sebelum Ottoman merubahnya menjadi masjid pada abad 15. Pengubahan Haghia Sophia menjadi museum sebagai jalan tengah untuk menghindari konflik sejarah.
Ketua Asosiasi Pemuda Anatolia, Salih Turhan, mengatakan penutupan Masjid Haghia Sophia adalah penghinaan bagi umat Islam dan merupakan perlakuan buruk Barat. “Penutupan Masjid Hagia Sophia adalah sebuah penghinaan dan lambang perlakuan buruk Barat terhadap Islam,” kata Turhan seperti dikutip Reuters Ahad (3/6).
Sementara itu, Organisasi Ortodoks Dunia, The Ecumenical Patriarchate, berharap Haghia Sophia tetap menjadi museum. “Kami ingin Haghia Sophia tetap menjadi museum sejalan dengan prinsip-prinsip Republik Turki,” ujar juru bicara The Ecumenical Patriarchate, Pastor Dositheos Anagnostopulos.
Menurutnya jika Haghia Sophia kembali menjadi sebuah masjid, umat Kristen tidak akan bisa berdoa di sana, dan hal tersebut akan mengundang kekacauan.




Rabu, 13 April 2016

Selasa, 29 Maret 2016

Lampion Di Hari Raya

"Ajari aku mengenal sebuah hal baru bahwa keyakinan adalah persoalan sebuah pilihan
Suara adzan subuh masih menggema di seantero desa Bali. Langit tampak lebih gelap dari biasanya, Sheela sudah terbangun sejak sejam yang lalu, bersiap-siap mengawali harinya seperti biasa. Selepas shalat subuh dia selalu mengajarkan anak-anak kecil untuk mengeja huruf-huruf Al-Qur’an. Dengan keberadaannya sebagai seorang muslim dia mengerti sepenuhnya bagaimana harus bersikap, menyebarkan ajaran Islam di kampung minoritas dengan caranya dan menghargai sesama serta toleransi.
Sheela, gadis berusia dua puluh empat tahun. Tinggal bersama kedua orangtuanya dengan latar belakang keluarga yang religius sejak kecil.
Pagi kali ini Bali dibungkus hujan deras, aktifitas mengajar anak-anak diliburkan dahulu. Sheela kembali mengulang hafalannya di teras rumah. Diam-diam ada seorang pemuda yang memperhatikannya dari balik gapura khas Bali, mendengarkan Sheela yang sedang mengulang hafalan. Suaranya samar-samar terhalang hujan yang sudah mulai sedikit reda, namun tetap menyejukkan telinga. Sheela menghentikan hafalannya, merasa seperti ada yang memperhatikannya. Kemudian pemuda itu langsung mengayuh kembali sepedanya, khawatir terjebak di tengah hujan sedang memperhatikan wanita.
“Sheela, ayo masuk dulu. Ibu sudah siapkan sarapan” ayahnya memberitahu dari dalam
“Iya, Yah. Sebentar”
Sheela kembali memperhatikan sosok di balik gapura terakhir kali sebelum masuk ke dalam.
Hampir seminggu berlalu dengan hal yang sama, Sheela urung bertanya pada ayahnya siapa pemuda tersebut yang selalu memperhatikannya di setiap pagi ketika mengulang hafalan maupun mengajar anak-anak. Selang beberapa hari berlalu, pemuda tersebut memberanikan diri untuk menyapa Sheela di tengah perjalanan ketika hendak membeli sesuatu, “Permisi… kamu yang tinggal di desa seberang?”
“Iya, Bli. Kenapa?”
“Kamu asli sini?” Tanyanya dengan sopan
“Maaf, memangnya ada apa ya?” Sheela merasa tidak nyaman
“Kenalkan, saya Ananta”
“Sheela” Sheela menangkupkan kedua tangannya ke dada
“Kamu muslim?” Tanyanya lagi
“Iya, maaf saya harus pulang” Sheela pamit seraya tersenyum tipis
“Tunggu! Maaf sebelumnya,  beberapa waktu lalu saya lancang memperhatikan kamu dari balik gapura. Saya tidak bermaksud apa-apa, hanya saja ingin tahu apa yang sedang kalian lakukan setiap pagi. Awalnya saya tidak sengaja lewat depan gapura itu, ketika hujan turun saya sempat berteduh sebentar”
“Iya, tidak apa-apa. Bli bisa bertemu dengan ayah saya kalau mau tahu lebih banyak tentang hal itu. Permisi…” Sheela pamit untuk segera pulang.
***
Awan di langit Bali sedang cerah, Sheela seperti biasa mengajarkan anak-anak kecil mengaji. Ananta kembali memperhatikan aktifitas Sheela setiap pagi itu, kali ini dia berkunjung langsung ke rumah Sheela. Bertemu langsung dengan ayah Sheela.
“Ada yang bisa dibantu?” Ayah Sheela menyapa lebih dulu melihat Ananta memasuki halaman rumahnya
“Saya Ananta, warga seberang yang beberapa hari lalu–maaf memperhatikan…” Ananta menunjuk sopan ke arah Sheela dengan budaya khas Bali. Dengan cepat melanjutkan kembali kalimatnya, “Tidak sengaja ketika sedang melewati jalan depan saat berteduh karena hujan. Maaf, hanya ingin tahu tentang kegiatan yang rutin dilakukan setiap pagi disini. Sheela bilang bertemu dengan ayahnya langsung” Ananta menjelaskan lalu menunduk
“Oh.. iya saya ayahnya. Memang kami rutin mengadakan aktifitas ini setiap pagi seusai shalat subuh” Ayah Sheela menjelaskan seraya mempersilakan tamunya duduk lalu memerintahkan istrinya untuk menyiapkan jamuan.
“Bagi kami, itulah dakwah yang bisa kami lakukan di tengah masyarakat Bali sebagai muslim” Ayah Sheela sudah tahu tanpa bertanya kepercayaan Ananta.
“Kamu tertarik dengan apa yang dilakukan Sheela?”
“Hem.. iya. Saya pikir jarang sekali aktifitas seperti ini dilakukan oleh wanita muda, khususnya di desa kami seberang sana”
Ananta memang bukan penganut muslim, dia juga bukan tidak tahu aktifitas seorang muslim. Hanya saja hatinya tergerak ketika melihat sesosok Sheela untuk kali pertama di depan gapura rumahnya ketika hujan sedang memainkan iramanya yang sendu. Terlahir dari keluarga yang berlatar belakang penganut Hindu yang begitu taat. Tak pernah sekalipun dirinya alpa dari menyembah Tuhannya. Kali ini dia memberanikan diri untuk mengenalkan dirinya pada keluarga muslim taat pula. Hanya satu kemungkinan yang membuatnya amat berani melangkah; cinta. Ananta mulai merasakan ada yang berbeda ketika melihat Sheela sebagai wanita muslim. Betapa hatinya merasa bersalah seketika itu.
“Begitulah Sheela, sepanjang hari dia hanya ingin melakukan hal-hal yang menguatkan keimanannya. Kami tinggal disini sejak tujuh tahun yang lalu, saat saya ditugaskan di Bali, di desa ini. Kami dari Jakarta, tapi Ibu Sheela memang asal Bali” Ayah Sheela menjelaskan dengan ramah.
“Bagaimana rasanya menjadi warga Bali, Pak? Tentu berbeda ketika di Jakarta ya hehe..”
“Yaaah begitulah, kamu sudah berapa lama tinggal disini?”
“Sudah dua belas tahun, Pak” Ananta tersenyum menjawabnya.
Ruang pembicaraan tiba-tiba lengang, menyisakan mereka yang sedang bermain dengan pikiran masing-masing dan suara ngaji anak-anak yang terdengar samar-samar beberapa jarak dari mereka. Ananta hendak pamit ketika itu, namun langkahnya tertahan ketika Sheela menghampirinya. “Sudah selesai ya, Yah?” Sheela bertanya menatap ayahnya yang masih terduduk di kursi kayu rumahnya.
“Oh, iya. Saya juga sudah mau pulang, ada yang harus saya kerjakan” Ananta dengan cepat menjawab, ingin mengakhiri perasaan tegangnya berada di rumah seorang wanita yang baru dikenalnya sedang bersama ayahnya. Sheela sedikit bingung dengan tingkahnya yang seperti itu. Ananta pun beranjak meninggalkan rumah mereka. Ayah sudah merasakan pemuda ini sepertinya menyimpan rasa untuk putri sulungnya tersebut, namun enggan berbicara langsung kepada Sheela. “Biarlah, ayah ingin tahu dulu lebih jauh seperti apa” Gumamnya dalam hati.
Ananta pamit untuk pergi ke pura, seperti biasa setiap pukul enam pagi ia melakukan sembahyang wajibnya. Ananta duduk bersila hendak melakukan sembahyang. Sementara di tempat yang lain, Sheela sedang melanjutkan setoran hafalan dengan ayahnya. Matahari mulai muncul di atas horizon timur Bali, Sheela melanjutkan aktifitasnya melakukan shalat sunnah dhuha. Bu Wayan mulai menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Beliau tidak terlalu tahu pemuda yang baru saja menyambangi kediamannya, hanya mendengar suaminya pagi tadi selepas subuh sedang berbicara dengan seseorang di teras rumahnya. “Tadi pagi ada tamu ya, Yah?” Tanyanya.
“Iya bu, warga seberang” Ayah menjawabnya seraya mengambil nasi. Bu Wayan hanya menjawabnya dengan ber-oh, sementara Sheela menatap Ayahnya seketika. Raut wajahnya berkata untuk tidak memberitahu Ibunya terlebih dahulu.
***
Tanpa terasa tiga puluh lima hari berlalu dengan cepat, ramadhan menghitung jam. Bu Wayan biasa menyiapkan menu istimewa di malam sahur pertama. Sheela semakin dekat dengan Ananta, mereka sering berkomunikasi setelah masing-masing menyelesaikan aktifitasnya. Lebih sering ketika sore hari, Ananta mengajaknya berbicara. Ananta memang tertarik berdiskusi mengenai Islam dengan Sheela. Ayah mulai mengkhawatirkan putri sulungnya. Takut putrinya sudah tidak bisa memakai akal rasionalnya hanya karena tertutup oleh sesuatu yang bernamakan cinta.
“Sheela, ayah ingin bicara” sapa ayahnya ketika Sheela sedang membaca buku di kamarnya. “Iya, Yah. Ada apa?”
“Kamu sudah sedekat apa dengan pemuda seberang itu?”
“Maksud ayah, Ananta?” Sheela menjawabnya dengan hati-hati, membayangkan beberapa hari lalu Ananta sudah mengungkapkan perasaannya walau dirinya tidak meminta Sheela menjadi kekasihnya. Mereka sadar, kepercayaan mereka berbeda. Sama-sama ingin mempertahankan kepercayaan yang diyakininya tanpa pernah berniat mengubahnya sedikitpun.
“Sheela dan Ananta hanya teman biasa, Yah”.
“Kamu bisa mengatakan seperti itu, tapi kedekatan kalian tidak bisa dibantah. Ada rasa yang membuat kalian terhubung, namun tersekat dengan sebuah keyakinan. Berhentilah, ayah yakin kamu mengerti, kamu memahami bahwa hal ini adalah keliru”
Mata Sheela mulai membentuk kristal bening. Sheela melangkah sejengkal untuk kemudian memeluk erat ayahnya, membenamkan kepalanya di dada ayahnya. “Sheela tahu, Yah. Sheela mengerti bahwa ini adalah sebuah kesalahan, berani mencintai seseorang yang jelas bukan siapa-siapa. Terlebih kita berbeda penuh soal keyakinan”
“Dengar, sayang. Mencintai bukan suatu kesalahan, sebab memang di datangkan oleh Allah sebagai fitrah setiap manusia. Tapi tolong, jaga rasa itu tetap pada aturan-Nya. Jangankan kamu mencintai Ananta, bahkan bila kamu mencintai seorang laki-laki muslim sekalipun ayah tetap tak izinkan kamu melewati aturan-Nya. Kecuali lewat satu jalan yang memang Allah halalkan. Kamu mencintai Ananta, tapi ayah bisa apa? Ayah tidak punya kuasa untuk menjadikan Ananta sebagai seorang muslim agar kamu tetap bisa bersamanya. Itu hak istimewa Allah langsung.  Kita sama-sama tahu bahwa Ananta dan keluarganya adalah seorang Hindu yang taat”
Ananta sedang menghadap Sanghyang Widhi, dirinya tak kalah kalut dengan apa yang sedang dialaminya. Ananta beberapa waktu terakhir ini juga menjadi lebih dekat dengan Tuhannya, meminta petunjuk dan ketenangan hatinya. Keluarganya sudah mengetahui perihal kedekatannya dengan seorang gadis muslim, kedua orangtuanya menentangnya habis-habisan. Meminta dirinya untuk tidak berhubungan lagi dengan Sheela–gadis muslim yang membuat dirinya jatuh hati lebih dalam terutama dengan Tuhan. Bahkan ayahnya bersikeras untuk menemui langsung keluarga Sheela, meminta untuk tidak berhubungan lagi dengan Ananta. Tapi Ananta mencegahnya, berusaha menahan amarah keluarganya. “Baik! Saya akan menjauhi Sheela, sesuai dengan permintaan kalian” Ananta berbicara menengahi.
“Bila mencintaimu adalah sebuah kekeliruan, maafkan aku yang sudah berani meyakinkan apa yang ada di hati. Bila beda yang membuat kita harus berjarak maka izinkanku untuk tetap menitipkanmu pada Tuhan. Sebab Dia tak pernah salah untuk setiap pertemuan dari masing-masing kita. Ajari aku bahwa keyakinan adalah persoalan pilihan”

***
Lembayung senja hampir menutup hari ke dua puluh delapan ramadhan. Selama itu pula Sheela dan Ananta tidak bertemu dan menjalin komunikasi seperti sebelumnya. Saat itu juga Sheela dan keluarganya bersiap-siap hendak berlebaran di Ibukota. Ayahnya memutuskan ke Jakarta untuk mengembalikan suasana hati putrinya. Menurutnya di Jakarta lebih banyak keluarga dan kerabat, juga moment berkumpul seluruh keluarga besar sehingga Sheela bisa lebih baik suasana hatinya. Karena keluarga Bu Wayan sudah tinggal beberapa orang saja dan mereka tidak menetap di Bali, tapi pindah setelah mempunyai keluarga masing-masing. Pintu rumah tiba-tiba ada yang mengetuk. Bu Wayan yang membukakannya. “Ananta..” Bu Wayan sempat terkaget selama beberapa menit. Ananta memberi salam hormat padanya. “Maaf menganggu waktunya yang mungkin sedang sibuk menyiapkan hari raya. Boleh saya berbicara sebentar dengan Sheela?”
“Silakan duduk, Ibu panggilkan dulu”. Bu Wayan memberitahu suaminya bahwa Ananta ada diluar menunggu Sheela. Ayahnya sempat berpikir sejenak, membiarkan mereka bertemu kembali atau tidak. Namun perkataan istrinya mampu melunakkan hatinya, “Sebentar saja, Yah. Beri mereka waktu, barangkali ada hal yang penting yang ingin disampaikan pada anak kita. Sebelum Sheela ke Jakarta, Yah”
“Baiklah, tetap awasi mereka dari sini”
***
“Saya mendapat kabar bahwa kamu akan ke Jakarta dari murid-muridmu, mereka bercerita bahwa mereka akan kehilangan guru mereka sementara ini. Kamu hendak berlebaran disana bukan?” Ananta membuka percakapan
“Iya, dua hari lagi hari raya kami tiba. Kami harus bersiap-siap untuk berlebaran bersama keluarga besar di Jakarta” Sheela menjawab tersenyum tipis.
“Tenang, keluarga saya tidak mengetahui bahwa saya menemui kamu hari ini” Ananta membalasnya melihat kekhawatiran dari mata Sheela
“Syukurlah. Ada hal penting apa yang ingin Bli sampaikan?” Sheela bertanya riang, padahal ia sedang menyembunyikan perasaannya
“Saya membuatkan sesuatu untukmu. Tapi maaf, masih proses finishing. Maaf Juga bila ternyata itu seperti menyimbolkan. Saya bingung karena saya hanya mahir membuat barang itu. Hanya sebuah lampion. Tidak istimewa, saya membuatnya di sela-sela waktu luang beberapa waktu lalu. Beberapa saya buat beragam, untuk murid-murid kamu”
***
Hari keberangkatan menuju Jakarta tiba, tepat sehari sebelum hari raya Idul Fitri Sheela dan keluarganya berangkat menuju bandara pukul tujuh malam, dua jam sebelum keberangkatan. Malam takbiran di Bali tidak seperti di Jakarta yang begitu hangat dengan suasana takbir dari masjid-masjid penjuru kota. Sheela teringat lampion pemberian Ananta. Di tempat yang berbeda Ananta sedang terpaku pada lampion di hadapannya, tak lama ia menuliskan sebuah kalimat di sebuah kertas yang akan ia terbangkan bersama lampionnya malam itu.
“Sekat kita teramat jauh, tak ada yang mampu kita lakukan selain berdoa untuk kebaikan kita masing-masing. Harapanku, Tuhan menjagamu dengan baik. Keyakinanku tetap satu, Tuhan tidak pernah salah dalam mempertemukan. Ada banyak pelajaran yang bisa kita maknai dengan baik. Kita peluk erat setiap kisah yang t’lah lalu. Titip dia Sanghyang Widhi…”
“Selamat hari raya, Sheela Dimitri…” Ananta berucap lirih seraya menerbangkan lampionnya.
***
Sheela sudah melewati boarding pass. Mengambil tempat duduk sesuai nomor yang tertera di tiket penerbangan. Burung besi yang akan segera mengudara memberi aba-aba kepada seluruh penumpang. Sheela masih terdiam di kursinya, menatap kotak pemberian Ananta yang berisi sebuah lampion untuk hiasan kamar.
“Aku tak pernah punya kuasa untuk merubah setiap alur dari-Mu. Takdir-Mu tak pernah salah memilih pada siapa yang dipertemukan dengan siapa. Satu yakinku, Engkau Allah yang tak pernah mendzholimi setiap insan-Mu. Jaga kami dengan sebaik-baik penjagaan-Mu ya Rabb. Rabbighfirlii…”
Sheela kembali meneteskan air mata. Memilih menyimpan baik-baik lampionnya, menyimpan kembali setiap perjalanan yang telah berada di belakangnya. Rapih. Seperti dahulu sebelum bertemu dan mengenal Ananta.

Rabu, 09 Maret 2016

Menuju-Mu

"Allahu Akbar.. Allahu Akbar.."
Suara adzan subuh masih terdengar merdu dari surau. Muadzin yang sehari-hari dipanggil Ihsan tersebut sudah terbiasa menyiapkan harinya dengan istimewa, bangun ketika qiyamul lail lalu menunggu waktu subuh dengan memperbanyak dzikir dan tilawah. Hari ini, ia mengumandangkan adzan dengan haru dan tangisan. Suaranya sempat terhenti pada lafadz "Hayya 'alasholaah". Seorang kakek yang menjadi makmum setianya di surau, merasa bingung ada apa dengan Ihsan? Tak seperti biasanya Ihsan seperti itu ketika mengumandangkan adzan.
"Ada apa denganmu, Nak sewaktu mengumandangkan adzan tadi? Suaramu sempat terhenti" tanya si kakek selepas shalat subuh.
Ihsan masih termenung memandang alam raya subuh itu, "Hari ini  akan gelap, Mbah selama dua jam ke depan. Lihat langitnya, Mbah. Ini sudah lepas subuh tapi masih gelap, tidak seperti biasanya. Bahkan orang-orang juga masih terlelap, tidak mendengar panggilan adzan subuh tadi. Hanya kita dan beberapa jamaah. Menurut perhitungan hari ini akan terjadi gerhana matahari total--dimana langit sempurna gelap tampak cahaya putih melingkar seperti cincin. Itu menurut ilmu sains. Tapi menurut Allah? Saya hanya mengkhawatirkan masa kita, masa dimana dua jam ke depan nanti ada pada kuasa-Nya"

"Dulu, Rasulullah juga mengkhawatirkan hal serupa, Nak. Beliau khawatir bila tiba gerhana lalu alam raya ini tidak kembali pada kursi edarnya. Kemudian beliau bergegas memerintahkan penduduk untuk melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat dengan memperpanjang ruku dan sujud serta bersedekah dan menyebut asma-Nya.
"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044
"Bergegaslah, Nak. Seru masyarakat dengan bertakbir, gelar kembali sajadah dan siapkan khutbah terbaikmu" ucap si kakek seraya meninggalkan Ihsan yang masih terpaku.



Jakarta, 09 Maret 2016
Putri Adhytia

Rabu, 03 Februari 2016

Surat Untuk Enie Handyas

Malam ini Ibukota ku dingin, En. Entah disana bagaimana cuacanya. Aku tersentak mendapati sebuah pesan berisikan kalimat untuk turut mendoakan kesembuhanmu--yang saat ini tengah terbaring di sebuah kamar bertemankan selang infus. Sempat beberapa waktu lalu kita masih berkomunikasi lewat media WhatsApp. Tangisku tumpah di kamar, En. Aku baru saja ingin beristirahat, merasa lelah beberapa hari ini kondisi sedang tidak begitu sehat. Mendengar kabarmu saat ini menyadarkanku, bahwa aku seharusnya masih bisa beraktifitas dengan memaksimalkan segala usaha. Tapi siapa sangka, kamu sudah lebih dulu menginap di sebuah rumah yang beraroma sejumlah obat-obatan. Dan kamu sudah lebih dulu kuat dengan keadaanmu. Sepupumu mengatakan, sejak dua minggu yang lalu, mulai menghentikan aktifitasmu. Enie Handyas, sejujurnya aku tidak mengenal rupa dan wujudmu. Aku berusaha mengenalimu lewat tulisan-tulisanmu yang rutin ku sambangi setiap kali aku akan mulai menulis, mengenalimu lewat pesan personal yang kita lakukan dan lewat pertemuan dunia maya yang terajut dengan hangat--melalui karya-karya dalam komunitas kepenulisan kita. Awalnya ku pikir, Enie adalah sesosok wanita yang usianya diatasku. Tapi ternyata? Kamu adik ku, iya adik. Tapi memang benar, kamu dewasa. Setidaknya dalam pandanganku, En.
Kamu tahu, En? Ingin rasanya aku terbang untuk sekedar menjengukmu saat ini. Membisikkan sebuah doa berharap kesembuhanmu dan menggenggam tanganmu untuk sekedar mengatakan ”aku mengagumi pribadimu, En. Tetaplah menjadi Enie yang kuat di setiap keadaan".
Kamu tahu, En? Ada seseorang yang tengah berusaha untuk menemuimu saat ini. Tak perlu ku beri tahu. Betapa banyak orang yang menunggumu sadar kembali, En. Terakhir kita berbicara untuk melebihkan sabar masing-masing diri, menguatkan hati dan tetap berjalan untuk sesuatu yang sedang kita perjuangkan.

Allah pasti tahu batas mampumu, Allah tahu segala harap dan rindumu yang masih tertahan.
Syafakillah Syifa'an 'aajilaan..
Semoga Allah mengangkat penyakitmu dan menjadikannya sebagai penggugur dosa-dosa.




Peluk hangat dari Jakarta yang tengah dingin selepas hujan di penghujung Januari

Senin, 25 Januari 2016

Der Winter #2

Udara Paris Van Java pagi ini angin bertiup dari arah utara melambaikan setiap nyiur yang menyambut setiap penduduk untuk beraktifitas. Sayangnya enggan untuk sekedar keluar rumah, udara lumayan sejuk selepas hujan yang mengguyur semalaman tadi.
Aleeya sudah duduk dihadapan laptopnya, di salah satu ruang ternyamannya. Kembali membuka tugasnya dan memulai hobbinya, mengirim artikel ke sebuah harian media cetak Bandung. Segelas coklat hangat menemaninya pagi itu. Matanya masih menahan kantuk sisa semalam membuat tugas untuk murid-muridnya.

"Lee, kau ada di rumah hari ini? Aku berencana akan terbang kesana sore ini"

Sebuah email kembali masuk darinya. Aleeya mengerjapkan matanya, berusaha membuka lebar-lebar kedua matanya. "Oh Keenan! Ku mohon jangan hari ini, Kee" Aleeya menghembuskan napas, kemudian terpekur di mejanya. Selang beberapa menit kemudian Aleeya membalas email darinya.

"Sudah bosankah kau disana, Kee? Alasan apa yang membuatmu ingin ke Bandung hari ini? Tidak bisakah di lain waktu? Aku sibuk saat ini. Maaf"

"Aku ingin bertemu kau, Lee. Bertemu dan bermain dengan anak didikmu". Keenan membalas dengan menyelipkan emoticon smile di akhir kalimatnya.

"Haruskah kita bertemu saat ini, Kee? Sungguh, entah mengapa aku tidak ingin bertemu denganmu saat ini". Aleeya mendongakkan kepalanya ke langit-langit kamar, mengabaikan balasan email dari Keenan. Air matanya mulai menetes perlahan.

"Bila kau tidak berkenan aku akan tetap terbang ke Bandung sore ini, Lee. Aku sudah memesan tiket penerbangan, setidaknya aku tetap bisa mengunjungi tempat itu walaupun tidak bersama denganmu. Kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran. KL.". Keenan membalasnya kembali dengan memberikan simbol pertemanan mereka sewaktu bermain di atas bukit dulu.

"Sejujurnya aku rindu dengan kebersamaan kita dulu, kebersamaan yang kini telah pudar perlahan terbunuh aktifitas kita masing-masing. Kotak kecil yang kau buat dari bambu bertuliskan KL itu kini masih ada, Kee. Berdebu, serupa dengan kisah pertemanan kita saat ini. Andai kau tidak mengambil keputusan itu, tapi aku juga tidak bisa dan tidak mungkin mencegahmu untuk tidak berangkat kesana. Aku hanya mampu menyampaikan pesanku pada Tuhan, selain melalui surel ini tentangmu--aku merindumu, Kee..". Awan kembali mendung disusul dengan rintik-rintik hujan yang mulai menciptakan embun di kaca jendelanya. Aleeya menutup jendelanya.
***

Pukul 15.45 waktu Bandung
Mendung masih bergelayut di langit Bandung, Aleeya sudah berada di atas bukit tempat bermainnya dulu bersama Keenan. Kemeja lengan panjang, jins berwarna belel dan sepatu kets navynya menemainya sore itu. Semilir angin sore mengibaskan rambut hitam panjangnya yang terurai. Duduk memandang alam dari atas bukit adalah cara Aleeya melepas rindu pada sosok yang kini tanpa sadar telah menghuni ruang pojok hatinya. Selama kurang lebih lima belas tahun mereka bersama-sama, kini jarak itu telah nyata adanya. Sekitar dua puluh menit Aleeya duduk diatas sana menghembuskan napas kerinduan, sebentar memang. Dirinya tidak ingin berlama-lama tanpa Keenan diatas sana, percuma katanya. Hanya semakin menyesakkan dada, membuat rindu itu hadir semakin jauh.
"Aku percaya Kee, bahwa kau memang akan kembali ke tempat ini. Tapi entah, siapa yang akan membersamaimu di tempat kita ini". Aleeya bergumam pada diri harus segera beranjak pergi dari tempat itu. Hujan kembali mengguyur kota Bandung.
Selang beberapa waktu kemudian pesawat Keenan mendarat di Bandara Internasional Husein Sastranegara, tepatnya pukul 15.50. Keenan bersiap menuju bukit itu, hujan yang mengguyurnya tidak menahan langkahnya. Keenan berjalan menyusuri pinggiran jalan mencari taksi untuk membawanya ke tempat kenangan itu. Setelah sepuluh menit duduk di dalam taksi, ia mengeluarkan ponselnya. Mengarah pada aplikasi emailnya yang secara sengaja dipasang sebelum keberangkatannya ke Bandung. Seraya menghembuskan napasnya dengan penuh harap dia bergumam dalam hati, "Baiklah, aku akan ke tempat itu, Lee. Tanpamu".
"Mas, bengong aja. Pasti lagi nunggu pesan balasan ya dari teman wanitanya?" Supir taksi tiba-tiba mengeluarkan suara.
"Heh, ah bapak ini bisa saja" Keenan mengernyitkan dahi, alisnya yang menyatu amat kentara ketika dirinya seperti itu.
"Ini Pak, sisanya untuk Bapak" Keenan mengeluarkan dua lembar seratus ribuan, kemudian dia berjalan menyusuri sedikit kelokan jalan menuju atas bukit. Sesampainya diatas sana, Keenan mengambil posisi duduknya. Posisi yang serupa ketika bersama Aleeya.
Keenan duduk memanjangkan kakinya, menikmati udara kota Bandung sore itu.
"Sudah lama sekali rasanya aku tidak mengunjungi tempat ini, tempat kisah pertemanan kita berawal. Aleeya Syailendra, aku rindu saat aku akan mengambil gambarmu di tempat ini, rindu membuatmu kesal karena tingkahku dulu". Keenan tersenyum kecil, memorinya sedang berusaha menghubungkan peristiwa-peristiwa penuh cerita tersebut. Matanya terpejam sejenak mengingat segala hal yang pernah dilakukannya bersama Aleeya kecil. Sesaat kemudian tersadar, ada ranting di samping tempatnya duduk. Keenan bingung, berusaha menerka namun ia tak ingin salah prasangka.
Tempat itu adalah tempat Keenan dan Aleeya semasa kecil menghabiskan hari, cukup sepi. Tak ada satupun orang yang mengetahuinya selain mereka berdua dan papa Keenan yang kini telah meninggalkannya lebih dulu. "Kau kah yang datang ke tempat ini, Lee? Tapi kapan? Bersama siapa kau ke tempat ini? Kau pernah mengatakan padaku, bahwa kau tidak berani naik ke atas bukit ini sendiri. Kau juga pernah berjanji kala itu setelah aku selesai membuatkan kotak dari bambu itu, bahwa kau tidak akan mengunjungi tempat ini tanpaku. Atau kau..." Keenan kembali diam, mencoba mencernanya. "Ah sudahlah, mungkin hanya ranting yang jatuh, bukan dirimu yang hobbi mengukir sesuatu dengan ranting ini" Keenan berusaha menenangkan dirinya.

Gerimis yang menyapanya sejak kedatangannya di bandara sore itu ternyata tak kunjung berhenti, Bandung dalam beberapa hari ini sedang diguyur hujan secara tiba-tiba. Rintikan hujan membuat Keenan sejenak merebahkan diri diatas rumput yang basah, membiarkan wajahnya terkena air langsung dari langit.
"Kau tau, Lee? Saat ini di Jerman sana sedang musim dingin, aku memutuskan untuk ke kotamu dan ternyata disini juga hujan. Mungkin berbeda dinginnya, dingin di kotamu mengantarkanku pada seberkas memori kita yang masih tertahan disini".
***

Pukul delapan malam Keenan sudah berada di salah satu penginapan, bersiap-siap merapihkan diri. Tak lama ia membuka laptopnya, mengirimkan sebuah pesan kepada Aleeya.
Aleeya sadar sebuah pesan masuk, namun diabaikannya. Ia lebih memilih menyandarkan kepala pada kursi di hadapan mejanya. Sesaat kemudian ia tersadar Keenan akan datang ke kotanya. Dibukanya kotak masuk pada emailnya.
"Lee, aku sudah sampai di kotamu sore tadi diiringi hujan yang mengguyur dengan damai. Aku berhasil mengunjungi tempat kita dulu, tak banyak berubah. Mungkin hanya ceritanya saja yang kini berubah. Lupakan. Biar ku tebak, pasti kau sedang menikmati malammu dari balik jendela. Yang ku tahu, langit malam Bandung indah"

Aleeya bingung membalasnya, jari-jarinya hanya memainkan papan ketik laptopnya yang tak menghasilkan satu kalimat pun untuknya. Dirinya kembali menyandarkan kepalanya ke kursi.
Beberapa saat kemudian keluar sebuah kalimat balasan.
"Syukurlah kau mendarat di kota ku dengan selamat. Selamat menikmati kota Bandung kembali"
Aleeya menutup laptopnya, merebahkan tubuhnya di balik selimut yang lebih hangat dari cuaca bandung saat ini.
Keenan melihat balasan surel dari Aleeya, dipikirnya akan mendapatkan balasan yang panjang, semisal cerita mengenang masa kecilnya. Tapi lagi-lagi Keenan harus berbesar hati menerima balasan Aleeya yang sedemikian singkat dan tak begitu bermakna.
"Tenang, Lee. Aku dapat pastikan kita akan bertemu kembali di lain musim, di tempat kita berawal".

Minggu, 24 Januari 2016

Autumn On You

Genap empat tahun kita tak bertemu kembali setelah kau mengambil bab keputusan penting itu. Senja kala itu membawaku pada putaran memori usang tentang kita--yang pada kenyataannya memang tak pernah memulai. Lantas bagaimana akan ku katakan bahwa itu sudah berakhir? Momiji di kedua tanganku kini telah berubah wujud, kuning hampir kecoklatan. Dulu kau katakan, momiji yang berguguran mempunyai waktu dan caranya tersendiri. Ada kalanya kapan dia harus berubah warna. Dulu kau katakan, anggap saja satu daun yang berguguran itu mewakili satu kekhawatiran kita yang luruh. Terbang bersama angin yang membawanya dengan tabah. Maka kini ku katakan, aku telah meluruhkan semua kekhawatiran yang kau sebut. Kekhawatiran yang serupa di awal, bahwa kata 'kita' memang seharusnya seperti momiji, yang berubah warna pada waktunya lalu menyaksikan daun-daun itu terbawa angin beriring jarak yang terlihat semakin menjauh dan tak pernah terdengar riuh.

Putri Adhytia
Jakarta, 16 Januari 2016

#MalamNarasi

Minggu, 17 Januari 2016

Menggenap?

Menggenap merupakan perihal bab pengambilan keputusan terbesar, banyaknya pertimbangan yang membuat diri maju mundur dalam menentukan pilihan. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, sudah siapkah mengambil sebuah langkah konkrit--dimana meleburnya dua kepala menjadi satu tujuan bermuara surgaNya? Bila belum, maka persiapkan kembali segera segalanya, perbaiki niat dan tujuan. Bila sudah siap, melangkahlah maju. Katakan pada diri, aku siap menggenap bersamanya dengan seluruh kekuatan yang ada untuk membangun sebuah peradaban kecil. Sekecil apapun sebuah keraguan maka akan membuka pintu-pintu godaan yang buruk untuk langkah kita.

Tidak kah kamu ingin menjadi dua bahkan lebih?
Tidak kah kamu ingin menyemai sebuah nilai ketulusan dari dua orang yang akan menjadi utuh?
Tidak kah kamu ingin merasakan manisnya sebuah ikatan suci yang menggemparkan arsyNya?
Tidak kah kamu ingin melihat surga kecil di rumahmu kelak?
Tidak kah? Tidak kah?

Jangan pernah lupa, jalan menujuNya juga berliku. Perjalanan dua orang yang menjadi satu tidaklah mudah, mengemudi dua hati perlu penyesuaian. Ada masanya surga menjadi terasa jauh tersebab amarah yang menyulut.

Senin, 11 Januari 2016

Der Winter

"Desember mu t'lah usai, ku harap bersamaan pula dengan ’musim bunga' mu. Musim yang kau perbincangan akan bersemi menutup akhir tahunmu lalu. Nyatanya? Kini kau masih setia bersama pekerjaan barumu, masih bermanja dibalik hangatnya selimut bulan Januari"

Aleeya menghela napas panjang, menekan tombol enter di papan keyboard yang sejak sejam lalu ia mainkan layaknya memainkan sebuah piano. Entah kenapa dirinya sering kali merasa kaku untuk mengirimkan kalimat-kalimat berkonotasikan perasaan kepada teman pria yang sudah lama dikenalnya itu.
Aleeya mengklik inbox emailnya, ada beberapa pesan yang di bold hitam tapi hanya satu yang menjadi fokusnya.

"Ku pikir kau mengirim pesan untuk menyemangatiku selepas Desember kemarin huh"

Aleeya hanya membacanya sambil menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum kecil. Keenan, teman pria yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak. Mereka kini terpisah jarak karena harus menjalani hari-harinya menjadi pengusaha muda menggantikan posisi ayahnya di Negeri Nazi tersebut. Pertemanan yang sudah lama terjalin mengantarkannya pada sebuah keputusan yang harus diambil Aleeya. Sedang Aleeya kini menjalani aktifitasnya sebagai guru sastra di sebuah sekolah yang cukup ternama di Bandung.

"Lee, coba kamu berdiri disana. Aku mau ambil gambar kamu dari sini" Ucap Kee yang sudah bersiap-siap dengan kameranya
"Kamu bohong, pasti nanti kamu ambil gambar bunga itu bukan aku" Jawab Lee dengan muka kesalnya.

Aleeya kembali memandang layar yang ada di hadapannya kini, ia mengenang masa-masa kecilnya bersama Keenan yang berlatar pada bukit dan rumah kecil dari bambu yang biasa mereka singgahi. Air matanya menetes pada urutan huruf-huruf papan ketik, membiaskan kerinduannya pada masa lalu.
"Aku rindu Kee, rindu kebersamaan kita dahulu. Rindu akan tingkahmu yang konyol sewaktu kita di bukit kala itu. Kini kau telah menemukan duniamu disana, kita sibuk dengan urusan kita satu sama lain. Atau mungkin aku yang bersikap terlalu dingin padamu belakangan ini? Tidak Kee, sesungguhnya aku hanya ingin pertemanan kita tetap terjaga layaknya kau menjaga dia disana".

Sebuah pesan kembali masuk
"Kau baik-baik saja, Lee? Bagaimana kabar anak-anak didikanmu? Pasti mereka lebih pintar darimu"
"Aku cukup baik Kee, bahkan pada saat kau memperkenalkan dirinya padaku beberapa musim lalu". Seketika rentetan kalimat-kalimat yang sudah Aleeya ketik tersebut hilang. Aleeya mengarahkan kursor menekan tombol delete.

"Kau pikir aku akan bagaimana saat ini, huh? Setidaknya aku berhasil mengajarkan mereka pada hal-hal yang membuat diri mereka berkembang". Aleeya membalasnya dengan kalimat baru.
Keenan kembali membalas
"Sampaikan salamku untuk mereka, Lee. Tunggu aku, ku mohon".

Kee is offline

"Apa maksudmu, Kee? Kau sudah menghabiskan beberapa musim bersamanya, lalu kini kau memintaku untuk menunggu?" Aleeya menutup laptopnya, mengakhiri malamnya dengan meninggalkan post it bertuliskan "Musim kita berbeda, Keenan" di meja kamarnya.

Minggu, 10 Januari 2016

Bukan aku tak ingin pulang
Hanya saja masih tertahan disini
Tertahan karena aku belum menemukan tempatku untuk kembali
Kembali menunggu semuanya--baik-baik saja

Ah tidak
Tenang saja, sedang aku perbaiki segalanya
Tenang saja, sedang aku usahakan segalanya
Kelak kita akan sama-sama berdiri di masa itu
Perlahan..

Selasa, 05 Januari 2016

Katamu itu puisi, iya puisi untuk seseorang yang amat jelas kau kagumi--mungkin juga kau menyimpan sesuatu lebih. Ah lagi-lagi harus bicara tentang cinta, satu kata itu mampu menghadirkan sisi melankolis seseorang dalam seketika. Aku tak tahu harus bagaimana menyikapinya, inginku hanya menarik diri dari kata yang kau maksud. Tapi lagi-lagi kau menarik ku dalam cerita dongengmu yang saat ini tentu saja masih menyisakan ilusi. Tak pernah pula tergerak hatiku untuk menyambutnya, hanya saja sebatas ikatan pertemanan yang menurutku teramat sayang bila diabaikan, merusak hubungan yang sudah terjalin dengan baik bukan? Tentunya sebagai teman.
Duniamu kini berubah menjadi dongeng peradaban dengannya, sesekali aku hanya menyaut sebagai tanda aku menghargaimu sebagai temanku. Ah sudahlah, kurasa masing-masing dari kita saat ini masih mencari dalam kegamangan. Tak perlu aku berpanjang lebar menjelaskannya kembali padamu, kurasa kau sudah mengerti langkah apa yang seharusnya kau ambil. Aku berdoa dalam setiap harapku, semoga kelak kau temukan apa yang kau cari dalam beberapa waktu ini. 
Soon..