Malam ini Ibukota ku dingin, En. Entah disana bagaimana cuacanya. Aku tersentak mendapati sebuah pesan berisikan kalimat untuk turut mendoakan kesembuhanmu--yang saat ini tengah terbaring di sebuah kamar bertemankan selang infus. Sempat beberapa waktu lalu kita masih berkomunikasi lewat media WhatsApp. Tangisku tumpah di kamar, En. Aku baru saja ingin beristirahat, merasa lelah beberapa hari ini kondisi sedang tidak begitu sehat. Mendengar kabarmu saat ini menyadarkanku, bahwa aku seharusnya masih bisa beraktifitas dengan memaksimalkan segala usaha. Tapi siapa sangka, kamu sudah lebih dulu menginap di sebuah rumah yang beraroma sejumlah obat-obatan. Dan kamu sudah lebih dulu kuat dengan keadaanmu. Sepupumu mengatakan, sejak dua minggu yang lalu, mulai menghentikan aktifitasmu. Enie Handyas, sejujurnya aku tidak mengenal rupa dan wujudmu. Aku berusaha mengenalimu lewat tulisan-tulisanmu yang rutin ku sambangi setiap kali aku akan mulai menulis, mengenalimu lewat pesan personal yang kita lakukan dan lewat pertemuan dunia maya yang terajut dengan hangat--melalui karya-karya dalam komunitas kepenulisan kita. Awalnya ku pikir, Enie adalah sesosok wanita yang usianya diatasku. Tapi ternyata? Kamu adik ku, iya adik. Tapi memang benar, kamu dewasa. Setidaknya dalam pandanganku, En.
Kamu tahu, En? Ingin rasanya aku terbang untuk sekedar menjengukmu saat ini. Membisikkan sebuah doa berharap kesembuhanmu dan menggenggam tanganmu untuk sekedar mengatakan ”aku mengagumi pribadimu, En. Tetaplah menjadi Enie yang kuat di setiap keadaan".
Kamu tahu, En? Ada seseorang yang tengah berusaha untuk menemuimu saat ini. Tak perlu ku beri tahu. Betapa banyak orang yang menunggumu sadar kembali, En. Terakhir kita berbicara untuk melebihkan sabar masing-masing diri, menguatkan hati dan tetap berjalan untuk sesuatu yang sedang kita perjuangkan.
Allah pasti tahu batas mampumu, Allah tahu segala harap dan rindumu yang masih tertahan.
Syafakillah Syifa'an 'aajilaan..
Semoga Allah mengangkat penyakitmu dan menjadikannya sebagai penggugur dosa-dosa.
Peluk hangat dari Jakarta yang tengah dingin selepas hujan di penghujung Januari