Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” (H.R. Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim)
Minggu, 12 April 2015
Kota Impian Dengan Sejuta Peradaban
Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” (H.R. Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim)
Senin, 30 Maret 2015
Senja Itu; Harusnya Milik Kita
Segaris jingga di cakrawala itu harusnya milik kita. Kita yang telah bersama-sama menikmati masa-masa kebersamaan kita, menghabiskan hari di pelataran rel bekas kereta api sekedar untuk bermain pasir, bermain ayunan dari ban bekas, mencetak gol terbaik untuk sebuah pertandingan.
Tidak kah kamu sadar? Kamu sedang mengulang memori mengingat kenangan dan merapel sebuah kerinduan bersama sahabat terbaikmu. Tidak kah kalian juga tau? Aku selalu menunggu momen kebersamaan kita kembali terjalin, menghabiskan sepanjang hari kita untuk membingkai cerita terbaik kita. Kini kita tenggelam dalam kesibukan kita masing-masing, terjebak dalam rutinitas kita masing-masing. Tertinggal lah seorang diri di tepian dermaga menyambut kedatangan senjanya.
Senja itu, mewakilkan kalian menyapa penghujung hari ku. Menyampaikan betapa hangatnya kalian di dalam penjagaanNya, tak lupa ku sampaikan lewat semesta perihal jarak diantara kita yang kehadirannya mengundang rindu. Rindu yang perlahan akan tenggelam ketika segaris jingga mengakhiri temu untuk kita.
Belahan Bumi Ibukota, 30 Maret 2015
Mahalkan Dirimu Dari Cinta
Bicara tentang jatuh cinta, pasti semua orang pernah mengalami virus ini. Dramatis dan hangat memang. Saya pun pernah mengalami jatuh cinta. Terkadang sulit untuk berfikir secara sehat ketika sudah terjangkit virus ini. Duduk sendirian terasa berada di keramaian, berada di sekeliling kawan-kawan tetapi terasa seperti di dalam kegelapan. Kita lebih suka mengikuti jiwa dan perasaan dibandingkan akal yang diberikan oleh Allah.
Memahami Cinta Dari Awal
Sangat ditegaskan bahwa sangat perlu mendidik dan memahamkan remaja sejak awal. Bukan untuk menyuruh menikah di masa muda tetapi supaya mereka tidak mengambil definisi cinta, cara-cara bercinta atau kehidupan bercinta dari sumber-sumber yang merusak yang ada di kiri dan kanan sekeliling mereka, ketika mereka berada dalam proses menuju dewasa.
Hari ini dan hari-hari kemarin malam, definisi dan makna cinta, cara-cara bercinta dan kehidupan bercinta diambil baik langsung atau tidak langsung dari sumber-sumber yang justeru merusak hakikat cinta. Dari musik-musik, film-film, drama-drama korea, novel-novel cinta, sinetron dan sebagainya. Membuat secara tidak langsung, apabila disebut dengan cinta atau apabila virus cinta itu menyerang jiwa dan perasaan dia, maka secara otomatis mereka akan merespon virus tersebut dengan cara apa yang mereka tahu dan fahami dari sumber-sumber yang rusak tersebut.
Cinta yang salah seperti inilah yang membuat manusia apabila mereka bercinta, menjadi tidak karuan. Karena mereka menyangka cara untuk menyampaikan rasa cinta kepada orang yang dicintainya haruslah dengan kata-kata asmara mesra, dengan untaian bunga-bunga cantik merona dengan perkataan cinta dan sayang. Cinta haruslah pergi keluar berduaan, berpegang-pegangan tangan, bersentuh. Bahkan ada juga suatu tafsiran bahwa cinta haruslah dibuktikan dengan seks dan mereka mengatakan ini adalah puncaknya cinta.
Maka tidak heran apabila remaja Islam apabila terjangkit virus cinta ini, mereka merasa kebingungan. Ditambah dengan munculnya situs-situs media dan jaringan social pada hari ini. Ada yang meng-update gambar dirinya dengan kekasihnya, berciuman, berpelukan padahal belum menikah. Bahkan lebih dari itu, berani pula mengharap ‘keredhaan’ khalayak ramai atas hubungan yang melanggar syariat ini.
“Doakan ya, semoga hubungan kami langgeng sampai tua.” | “Kami doakan semoga langgeng dengan si fulan” | Sambil memicit-micit jerawat di pipi.
Ada juga yang sedikit lebih islami, walaupun mungkin tidak keluar bersama, tidak bergandengan tangan tetapi banyak yang terjebak dengan SMS, e-mail, chatting, puisi-puisi romantis dan lirik-lirik lagu dan alunan musik serta banyak lagi. Kemudian waktu banyak dihabiskan dengan masalah calon makmum dan calon imam.
Memahalkan Diri
Manusia ingin dihargai, tetapi manusia tidak akan berharga apabila dia tidak memiliki apa-apa.
Maka daripada itu, pada usia yang masih muda seperti ini kita sibukkan diri dengan mencari ‘apa-apa’ tersebut agar kita menjadi manusia yang berharga. Berharga mahal. Dan ‘apa-apa’ tersebut semestinya adalah hal-hal yang baik dan berharga juga. Kalau dipenuhi dengan sampah maka berarti sampahlah kita, busuklah kita.
Jadi, sudah berapa juz al-Qur’an yang sudah kita hafal dan pelajari?
Berapa banyak buku yang sudah kita baca dan pelajari?
Sudah berapa banyak implementasi, praktik dan amalan dari ilmu yang sudah kita pelajari?
Sudah bijakkah kita dalam menghadapi dan menjalani hidup dan pelbagai permasalahannya?
Sudah kita memulai diri kita untuk berusaha membina diri agar mampu menjadi suami dan isteri yang baik kepada pasangan kita nanti?
Daftar pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sepatutnya senantiasa berjalan-jalan di otak kita. Menjadikan diri kita mahal dan berharga tinggi. Bukan sibuk dengan “Apakah dia jodohku?” atau “Apakah dia calon suamiku? Apakah dia calon isteriku?”.
Didalam proses perkuliahan kita mempunyai tahapan, begitu juga dalam proses percintaan. Dalam hendak membentuk dan mendirikan rumah tangga. Bukan hanya pertanyaan-pertanyaan “Apakah dia calon suamiku? Apakah dia calon imamku?”. Apakah dengan kita disibukkan dengan pikiran-pikiran pendek seperti itu, kehidupan cinta akan menjadi semakin baik?
Maka daripada itu, saya lebih senang menyibukkan diri untuk menjadi diri yang besar, mengembara melihat dunia, menimba ilmu dan mematangkan diri kita sebelum kita menyibukkan diri dengan laboratorium cinta.
Kalau kita melihat anak-anak, bahkan sejak sekolah dasar sudah mulai sibuk dengan cinta. Sibuk dengan calon imamku, calon makmumku. Ketika berusia mahasiswa yang sepatutnya menimba pengalaman untuk menjadi pemimpin dan membina ummat Islam, mempersiapkan diri untuk menjadi individu yang memberikan manfaat baik kepada masyarakat dan Islam, kita sibuk dengan asmara dan fantasi hiruk pikuk dunia rumah tangga. Sedangkan, persediaan diri menuju rumahtangga saja entah pergi ke mana.
“Saya mencintaimu sayang, semoga cinta kita bisa kekal sampai di syurga.”
Bagaimana bisa kekal di syurga, sedang diri tidak dibina dengan ilmu yang menunjukkan jalan syurga. Kalau diri tidak punya apa-apa persediaan ke syurga?
Duduk dan Bekerjalah
Coba tenangkanlah sejenak diri kita. Lepaskanlah diri kita sejenak dari segala novel, film, drama, sinerton atau musik cinta yang membuat kita sibuk untuk menjadi seperti apa yang disampaikannya, terhipnotis olehnya. Kita lihat kembali kepada diri kita, dan tanyalah apa tujuan untuk berada di muka bumi ini. Lihatlah sebentar kepada rumahtangga. Rumahtangga bukanlah syurga secara mutlak. Rumahtangga hanya akan menjadi syurga, jika kita tergerak untuk mempersiapkan diri. Jika tidak, rumahtangga bisa menjadi alam yang lebih menyiksa daripada neraka buat kita.
Rumahtangga itu memiliki banyak tanggungjawab. Rumahtangga bukan hanya kisah dua orang berkasih sayang menjalin hubungan asrama. Rumahtangga itu adalah asas kekuatan peradaban ummah Islam. Apabila rumahtangga itu bagus, kokoh dan kuat maka akan kuat pula peradaban ummah ini.
“Wahai orang yang beriman, jagalah diri kamu dan ahlul keluarga dari siksa api neraka.” QS. At-Tahrim : 6
Maka mengapa tergesa-gesa dengan perasaan? Hidupkanlah pikiran kita. Bergeraklah dan persiapkan diri. Jangan hanya duduk manis berbicara cinta sampil memicit-micit jerawat di pipi.
Duduklah sebentar, menimba pelbagai pengalaman baru, dari sekeliling kita dan dari orang yang lebih tua dari kita, dari pelbagai kitab karangan ulama-ulama besar dan ceramah-ceramah mengenai persiapan dan dunia rumahtangga.
Bukan masuk lumpur kemudian baru cari tahu cara mencari emasnya. Yang benar tentunya, mempersiapkan segala peralatan, mencari tahu cara mencari emasnya kemudian baru masuk lumpur tersebut.
Kita ada proyek lebih besar daripada sekedar cinta.
Jangan Mudah Jatuh Cinta
Kita sepatutnya jadi manusia yang berharga. Tetapi kita perlu ingat bahwa hanya manusia yang tangguh sajalah yang mampu berjaya. Tidak akan bisa syurga dicapai hanya dengan tidur, berkhayal tentang cinta sambil memicit-micit jerawat di muka.
Kita perlu mengingat bahwa selepas berumahtangga, akan masih banyak kerja-kerja yang justeru akan lebih berat. Bukan menikah, kemudian mati dan masuk syurga. Bukan saudara.
Cinta itu mungkin, tetapi maut itu pasti menjemput kita.
Allah tidak akan bertanya apakah kita berhasil menikahi orang yang kita cintai atau tidak. Tidak akan. Tetapi Allah akan bertanya kepada kita bahwa sudah engkau manfaatkan untuk apa umur dan usia yang telah Aku berikan?
Sumber: Dakwah Islam, Fatchul Wachid
Sabtu, 21 Maret 2015
YOU #poem #poetry
First time I saw you
I was crushing in you
I am not sure
If you feel the same
But, I saw that you also looked at me
Now we are close
But, will we be apart?
Because we've a huge different
But I want you know, I love you
Jumat, 23 Januari 2015
Aku, kamu dan hujan
Kamu tau? Betapa sulitnya seorang wanita menjaga hatinya?
Kamu tau? Betapa sulitnya seorang wanita menjaga setiap langkahnya?
Kamu tau? Betapa sulitnya seorang wanita untuk tetap kokoh menjaga diri dari hal-hal yang membuatnya rapuh?
Dan kamu tau? Bagaimana sulitnya seorang wanita membangun kembali atas apa-apa yang telah membuatnya rapuh?
Sungguh, kamu tidak akan tau bagaimana dia menjaga semuanya dari dirimu. Semua.
Kalau pun kamu memang tau, kamu hanya tau bahwa namamu pernah ada di dalam doa-doa yang tidak pernah alfa terlantun untukmu.
Aku, kamu dan hujan. Biarlah bila memang harus mendung dan bias, tak usah menjelma menjadi spektrum warna yang berlapis, tak perlu menjadi mewah karena kilauannya, Cukup berada di batas garis ketentuanNya meski mendung.
Minggu, 18 Januari 2015
Jaga Hatimu
Selasa, 23 Desember 2014
Kenapa Harus Hidup Di Jalan Dakwah?
"Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma'ruf dan mencegah yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung"
1. Fardhu 'ain
2. Wajib 'ain
Ketika kita bertanya kenapa harus berdakwah? Karena kita membutuhkan dakwah untuk menjalani hidup ini, bukan dakwah yang butuh kita.
1. DAKWAH ADALAH EKSPRESI MENIKMATI ISLAM
- Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan (Q.S Ad-Dhuha:11)
- Da'i adalah penikmat Islam
- Sejauh mana nikmat, sebesar itu pula semangat
"Sesungguhnya ketika aku berdakwah untuk Islam maka rasa sakitku terkalahkan oleh rasa nikmatku"
"Biarlah dakwah ini menjadi saksi bagaimana aku merasakan nikmatnya berdakwah" -Umar Ibn Khathab-
Bagaimana nikmat Islam muncul? Dengan mempelajari Islam (Tarbiyah), di Tarbiyah muncul rasa nikmat dalam berdakwah
2. DAKWAH ADALAH PEKERJAAN PARA NABI
- Da'i adalah Nabi di zaman ini
- Punya daya pengaruh
- Mendapatkan 2 keistimewaan:
1. Ditinggikan derajatnya
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, "maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "berdirilah kamu, "maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan lrang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan" (Q.S Al-Mujadalah:11)2. Cepat dapat pertolongan
3. DAKWAH ADALAH CIRI GENERASI TERBAIK
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik"- Manusia terbaik adalah yang berdakwah
4. DAKWAH ADALAH CARA KITA MENSIASATI USIA YANG PENDEK
"Barang siapa mengajarkan suatu ilmu, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun" (H.R Ibnu Majah)- Umur umatku diantara 60 ke 70 tahun, dan tidak ramai yang melebihi dari pada itu (H.R Tirmidzi)
5. DAKWAH ADALAH DINAMISASI JIWA DAN AKAL
- Apa jadinya jika orang makan terus tapi tidak bisa BAB&BAK?
- Menerima harus memberi=Dinamis
6. DAKWAH ADALAH MAGNET SEGALA KEBAIKAN
- Kebaikan itu berkumpul
- Dakwah 'memaksa' kita mengerjakan amal lain yang belum dikerjakan
- Apa yang kita sampaikan harus sudah kita kerjakan
7. DAKWAH MENAIKKAN CITRA DIRI KITA SEBAGAI TOKOH PUBLIK
- Banyak yang mengawasi kita
- Waspada terhadap kesalahan kecil
- Tidak dimaklumkan atas kemaksiatan kita adalah anugrah
Utsman bin Affan bahwa dia berkata, "Apakah kalian tahu Rasulullah pernah berada di atas gunung Tsabir di Mekah, bersama beliau Abu Bakar, Umar dan saya. Tiba-tiba gunung bergoncang hingga bebatuannya berjatuhan. Maka Rasulullah menghentakkan kakinya dan berkata:"Tenanglah Tsabir! Yang ada di atasmu tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid" (H.R Tirmidzi)
