Minggu, 12 April 2015

Kota Impian Dengan Sejuta Peradaban



Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” (H.R. Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim)
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal al-Musnad 4/335)

Hadis di atas merupakan salah satu motivasi umat Islam dalam merebut Konstantinopel. Letak Istanbul sangat strategis, karena itu Napoleon Bonaparte pernah menggambarkan,”Jika di dunia hanya terdapat satu negara, maka ibukotanya adalah Istanbul”. Selain penghubung Asia dan Eropa, kota ini sejak dulu menjadi pusat peradaban dan kebudayaan. Istanbul terpilih menjadi Ibokota Kebudayaan Eropa hingga tahun 2010 dan terdaftar dalam salah satu daftar warisan pusaka dunia UNESCO sejak tahun 1985. (wikipedia)
Istanbul merupakan kota dengan kepadatan penduduk terbesar ketiga di Eropa. Sebagai pusat kebudayaan dan finansial negara Turki. Kota ini terletak di barat daya wilayah Marmara di tepi bagian selatan selat Bosporus yang menghubungkan benua Asia dan Eropa. Bagian barat Istanbul adalah Eropa sedangkan Bagian Timur Istanbul masuk wilayah Asia. Luasnya sekitar 1536 kilometer persegi.
Dalam perjalanan sejarahnya, kota ini menjadi ibukota dari beberapa imperium besar, kerajaan Romawi (330-395 M), Byzantium (395-1204 M dan 1261-1453 M), kerajaan Latin (1204-1261 M) dan terakhir Turki Usmani tahun 1453-1922 M. (wikipedia)

Istanbul Sebelum Islam
Sejarah Konstantinopel dimulai pada abad ke-empat masehi. Kekuasaan Imperium Romawi Kuno berkembang dengan pesat. Konstantinus Yang Agung merasa kota Roma sudah tidak layak untuk menjadi ibukota. Akhirnya ia memilih daerah yang sekarang bernama Istanbul sebagai ibukota baru kerajaan Romawi.
Ia membangun benteng dan memperluas kota Konstantinopel. Kaisar Konstantinus Yang Agung membangun gedung pemerintahan, rumah-rumah ibadah, istana, dan pemandian umum. Kemudian pada tahun 330 M, Kaisar Konstantinus secara resmi menetapkan Konstantinopel sebagai ibukotanya. Konstantinopel berarti Kota Kaisar Konstantinus. Penerusnya, Kaisar Konstantinus II melanjutkan pembangunan. Ia mengembangkan dan memperindah kota dengan membangun saluran air dan monumen.
Pada tahun 395 masehi, kerajaan Romawi akhirnya dibagi menjadi dua wilayah, Romawi Barat dan Romawi Timur. Romawi Barat runtuh pada abad kelima masehi, sedangkan Romawi Timur mampu bertahan selama seribu tahun.
Sejarawan modern memilih Byzantium untuk menyebut Romawi Timur. Tujuannya untuk membedakan dengan Romawi Barat. Agama Nasrani awalnya berkembang pada masa Byzantium. Segala bentuk upacara keagamaan mengikuti tradisi Kristiani. Sedangkan hukum dan peraturan pemerintahan diadopsi dari Roma.
Pada pertengahan abad kelima masehi, Kaisar Theodosius memperluas kota Konstantinopel. Ia mengitari kota dengan membangun sebuah benteng yang megah. Panjang benteng mencapai 6492 meter. Satu abad kemudian, kerajaan Byzantium mencapai puncak kejayaannya di bawah Kaisar Justinian.
Masa-masa keemasan telah dilalui kerajaan Byzantium. Kota Konstantinopel berhiaskan monumen dan gereja. Keadaan ini mengundang hasrat dari bangsa Persia dan Arab untuk merebut Konstantinopel. Beberapa serangan dari Persia mampu dipatahkan oleh Byzantium. Namun antara tahun 726 hingga 842 M, keluarga kerajaan saling berebut kekuasaan. Gereja dituduh menjadi dalang dibalik segala keributan. Akibatnya pemerintah melarang segala jenis bentuk peribadatan. Hampir semua simbol keagamaan seperti patung dan lukisan dihancurkan. Setelah itu, tahta kerajaan dengan mudah berpindah tangan dari raja satu ke raja lain.
Akibat krisis intern kerajaan, Byzantium tidak mampu bertahan ketika Kerajaan Latin menduduki Konstantinopel tahun 1204 M. Tentara Latin berisi prajurit dari angkatan perang pada Perang Salib keempat. Selama 57 tahun tentara Latin merampok biara, monumen dan gereja yang ada di Konstantinopel. Baru pada tahun 1561 M pihak kerajaan mampu mengambil kendali Konstantinopel. (istanbul.gov.tr)

Penaklukan Istanbul
Usaha-usaha penaklukan Konstantinopel telah dilakukan umat Islam sejak masa sahabat. Upaya pertama dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668 M, namun gagal dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub al-Anshari ra. gugur. Sebelumnya Abu Ayyub sempat berwasiat jika ia wafat meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim. Dan para sahabatnya berhasil menyelinap dan memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn. (Syalabi, 1998: 16)
Generasi berikutnya, baik dari Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah hingga Turki Utsmani pada masa pemerintahan Murad II juga gagal menaklukkan Byzantium. Salah satu peperangan Murad II di wilayah Balkan adalah melawan Vlad Dracul, seorang tokoh Perang Salib yang bengis dan sadis. Selama 800 tahun kegagalan selalu terjadi, hingga anak Sultan Murad II yaitu Muhammad II naik tahta Turki Utsmani. Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M. (Hitti, 1970: 905-906). Sejak saat itu sultan Muhammad mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul, artinya “Tahta Islam”. Ia juga memindahkan ibukota kerajaan ke daerah baru tersebut. Sebelumnya ibukota Kerajaan Usmani adalah Adrianopel. Sebuah kota dari negara Asia yang terletak di wilayah Eropa (Maryam, 2003:131)
Sejarah menyebutkan tidak pernah ada pembantaian terhadap penduduk Konstantinopel. Bahkan, pemerintahan Islam Usmani bekerja sama dengan umat Kristen untuk kembali membangun perekonomian, menjalin persahabatan dengan Yunani. Dinasti Usmani juga terus mengepakkan sayap kekuasaannya ke wilayah Mesir, Arabia, dan Syiria. Yang tak kalah pentingnya, kerajaan Usmani menyebarkan ajaran Islam hingga ke kawasan Balkan. (www.yunusnews.com.)
Seiring dengan menancapnya dominasi Islam, wajah bekas kota Konstantinopel itu pun berganti rupa. Bangunan masjid bermunculan, namun tetap dengan corak arsitektur Bizantum yang khas.
Guna menambah jumlah penduduk Muslim di Istanbul, umat Islam yang tinggal di Anatolia dan Rumelia dianjurkan untuk bermigrasi ke Istanbul. Akhir 1457, penduduk Edirne migrasi besar-besaran ke Istanbul. Pada 1459, kota terbesar di Eropa itu dibagi menjadi empat wilayah administratif.


Perkembangan Peradaban Islam
Penaklukkan Konstantinopel merupakan jalan mulus bagi Muhammad al-Fatih untuk membuka pintu perluasan ke Eropa. Dari sinilah zaman baru bagi Turki Usmani dimulai. Era keemasan Turki Usmani terjadi pada masa pemerintahan Sulaiman I (1520-1574) dan Salim II (1566-1574). Raksaa baru ini berdiri mengangkang di Bosporus, satu kakinya di Asia dan kaki lainnya di Eropa. Penguasa Turki merasa bahwa ialah pewaris kekaisaran Byzantium.
Sebagai ibukota,di sinilah tempat berkembangnya kebudayaan Turki yang merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan. Bangsa Turji Usmani mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia. Sebagai bangsa yang berasal dari Asia Tengah, Turki memang mudah berasimilasi dengan bangsa lain. Dalam bidang pemerintahan dan kemiliteran, Turki mengambil dari kebudayaan Byzantium. Sedangkan dalam bidang keagamaan, ilmu, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan hukum mereka berguru kepada bangsa Arab. Hingga akhirnya huruf Arab menjadi huruf resmi kerajaan. (Yatim, 2001: 288)
Sebagai sebuah kota besar pada zamannya, di Istanbul berdiri berbagai sarana dan prasarana publik. Tak kurang ada 81 masjid besar serta 52 masjid berukuran sedang di kota itu. Untuk mendidik para generasi muda, tersedia 55 madrasah, tujuh asrama besar untuk mempelajari Al-Qur’an.
Semasa Sulaiman I memimpin, ia membangun banyak masjid di Istanbul. ia juga membangun sekolah, rumah sakit, pemandian, dan saluran air. Sebanyak 235 buah bangunan berdiri pada masanya.
Fasilitas sosial pun bermunculan, tak kurang lima takiyah atau tempat memberi makan fakir miskin berdiri. Tiga rumah sakit disediakan untuk mengobati penduduk kota. Tujuh buah jembatan juga dibangun untuk memperlancar arus transportasi. Guna menunjukkan kejayaannya, kerajaan Usmani membangun 33 istana dan 18 unit pesanggrahan. (Syalabi, 1998: 25)
Selain itu, 33 tempat pemandian umum juga telah disediakan di berbagai penjuru kota. Untuk menyimpan benda-benda bersejarah, pemerintah Usmani pun menyediakan lima museum (Yatim, 2001: 106). Kemakmuran muncul karena adanya kedamaian pada penduduknya, simbol dari kemakmuran sebuah bangsa adalah peninggalan yang berfungsi memenuhi kebutuhan tersier manusia, sebagai bukti untuk masa depan.
Pada 14 Juli 1509, Istanbul sempat diguncang gempa bumi dahsyat atau yang dikenal sebagai ‘kiamat kecil’. Ribuan bangunan yang awalnya berdiri kokoh akhirnya luluh lantak. Mulai 1510 M, Sultan Bayezid bahu membahu membangun kembali kota Istanbul selama 80 tahun. Hingga akhirnya, kota Istanbul kembali tampil megah dan gagah.
Masyarakat Istanbul sangat heterogen. Kesultanan Usmani membentuk reaya yang terorganisasi menjadi sejumlah komunitas kecil. Sudut pandang Usmani menekankan kelancaran urusan pendidikan, pembayaran zakat, pengadilan dan shodaqoh.
Dalam bidang pendidikan, Sultan Sulaiman I mendirikan beberapa universitas di Istanbul. Pada akhir abad 15, beberapa perguruan tinggi dalam sebuah hirarki yang menentukan jenjang karir bagi ulama-ulama besar. Madrasah diorganisir menurut fungsi dan tingkat pendidikan yang diajarkan. Madrasah tingkat rendah mengajarkan nahwu, sharaf, mantiq, teologi, astronomi, geometri dan retorika. Perguruan Tinggi mengajarkan hukum dan teologi. (Maryam, 2003: 137)
Pada mulanya, perkembangan kehidupan keagamaan di Istanbul hanya di bidang Tarekat. Kajian kajian ilmu keagamaan seperti Fiqh, Kalam dan Hadis tidak mengalami perubahan berarti. Para penguasa cenderung menegakkan satu paham keagamaan dan menekan paham lain. Kitab al-Hushun al-Hamidiyah menunjukkan Sultan Abdul Hamid II ingin mempertahankan Asyariyah dari kritikan lawan. Ulama hanya diperbolehkan menulis syarah dan hassiyah terhadap kitab-kitab klasik. Akibatnya, ijtihad pada masa itu tidak bisa berkembang (Yatim, 2001: 137).
Pada tahun 1727 M pada masa Ibrahim Muteferika -seorang ilmuwan terkemuka- membuka percetakan di Istanbul. Sebagai respon terhadap fatwa dari Syekh al-Islam kerajaan. Buku-buku selain al-Quran, Hadits, Fikih, ilmu Kalam dan Tafsir juga mulai diperbolehkan untuk dicetak. Sejak itulah, buku-buku tentang kedokteran, astronomi, ilmu pasti, sejarah, dan lainnya dicetak. Apalagi mulai 1727 M sudah mulai berdiri badan penerjemah.
Berbeda dengan Umayyah, Abbasiyah dan Andalusia, penekanan pembangunan pada masa Daulah Usmani lebih berkonsentrasi pada pertahanan dan armada perang. Fungsinya untuk memperluas wilayah kekuasaan. Sementara perkembangan ilmu pengetahuan kurang mendapat prioritas.

Aya Sophia
Bangunan Aya Sophia didedikasikan oleh Kaisar Kostantinus II (337-361) pada tahun 360. Aya Sophia dirancang oleh Isidorus dan Anthemus. Arsitekturnya mengikuti model bangunan lengkung Romawi Klasik. Pada saat itu Aya Sophia lebih dikenal dengan gereja Theodosius. Lebih seratus tahun berikutnya, tepatnya tahun 532 gereja Theodosius dihancurkan, dan secara besar-besaran, atas perintah Raja Justinianus I (527-565 M) kembali dibangun. Raja Justinianus I mendatangkan arsitek dari seluruh dunia ke Konstantinopel untuk pembangunannya. Bahan-bahan bangunan juga didatangkan dari berbagai negara seperti Syria, Mesir dan Anatholia beserta corak arsiteknya. Gereja kembali dibuka tanggal 27 Desember 537 setelah memakan waktu selama 5 tahun, 10 bulan dan 24 hari. (commongroundnews.org)
Setelah Konstantinopel berpindah ke tangan kerajaan Islam, maka Sultan Muhammad II merobah Aya Sophia menjadi masjid. Shalat Jum’at pertama dilakukan pada tanggal 1 Juni 1453. Selanjutnya Sultan ini selalu melakukan shalat Jum’at di Masjid ini, sekaligus untuk memelihara bangunannya. Sultan Muhammad II juga mendirikaan masjid yang semegah Aya Sophia. Semasa kepemimpinan Sultan Mahmud (1750-1754). Masjid direhab oleh arsitek Hoja Sinan yang tidak menyukai corak bangunan barat. Sebuah bangunan masjid yang indah penuh dengan kaligrafi di dalamnya serta berbagai keramik dengan corak yang menarik dipandang mata. Tak heran, jika pengaruh Bizantium ikut mewarnai gaya arsitektur Islam di Turki. Kemegahan bangunan Gereja Aya Sophia banyak mewarnai arsitektur masjid di Istanbul. (Maryam, 2003: 137)
Bentuk dan corak Aya Sophia menjadi inspirasi bagi kemajuan arsitektur. Bentuk bangunannya yang lengkung dan khas Romawi Klasik dijadikan acuan untuk membuat bangunan lain. Beberapa arsitek kemudian merancang fitur seperti kubah tunggal yang besar, menara yang tinggi menjulang, dan tiang besar yang menyangga ruang tengah istana. Hal tersebut dapat dilihat pada masjid Sultan Muhammad II, masjid Abu Ayyub al-Anshari, masjid Sulaiman al-Qanuni dan masjid Bayazid. (Maryam, 2003: 137)

Kehidupan Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Istanbul mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial politik. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama. Kerajaan sangat terikat kepada syariat. Fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Dalam bidang pemerintahan, sultan-sultan Usmani menempatkan Mufti atau Syaikhul Islam di Istanbul sebagai wakil sultan dalam mengurusi bidang agama. Mufti berwenang memberi fatwa resmi terhadap problema keagamaan yang dihadapi masyarkat. Tanpa legitiasi seorang mufti, keputusan hukum kerajaan tidak bisa berjalan. Sedangkan untuk urusan non-keagamaan, ditunjuklah seorang Shadrul Adham (Yatim, 2001: 137).
Para Sultan menyadari kebesaran Turki Usmani tidak bisa lepas dari peran Tarekat Bektasy. Ahmad Yasawi (w. 562/1167) mendirikan Yasawiyyah di Turki. Tarekat ini berpengaruh di Turkestan Barat, dan dari tarekat induk itu lahir tarekat Bektasyiyyah, yang dikembangkan oleh Hajji Bektasy (w. 1338). Ia berkembang di Anatolia. Ketika ibukota Turki Usmani pindah ke Istanbul, pusat gerakan Tarekat Bektasy juga pindah. Hal ini dikarenakan sebagian besar prajurit elit Jenissarimenganut mazhab ini. Sebuah sumber mengkategorikan Bektasy sebagai tarekat pengikut Syiah (van Bruinessen: 89-92). Tarekat lain yang berkembang adalah Maulawi. Bedanya, tarekat Maulawi mendapat dukungan dari kaum sipil dan penguasa. (Yatim, 2001: 137)
Secara umum, kedua tarekat ini mengajarkan keyakinan bahwa tasawuf mampu mengantarkan manusia berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Ajaran lainnya adalah tentang berkah, syafaat, karamah dan ziarah kubur. Tarekat ini banyak dianut karena berfungsi mempertautkan batin manusia dengan Tuhan. Selain itu, tasawuf yang diajarkan oleh tarekat ini bersikap sangat toleran terhadap keyakinan dan praktek keagamaan lokal. Sikap ini sangat menarik mereka yang baru saja masuk Islam dan setengah Islam. (Lapidus: 444-445)
Sikap di atas pernah ditunjukkan oleh Sultan Muhammad II, ia melakukan penataan hal ihwal orang Kristen Yunani yang tinggal di Istanbul. Dalam penataan tersebut, sultan Muhammad II memberikan bebas pajak kepada gereja. Sultan sebagai orang Islam menghormati keyakinan orang lain. Hal yang sama juga berlaku bagi agama Yahudi. Setiap agama mempunyai komunitasnya sendiri yang disebut millet. Sultan memberikan kebebasan umat Kristen untuk memilih patriach. Setelah patriachterpilih, Sultan secara langsung melantiknya dengan memberikan tongkat dan memasukkan cincin ke jarinya.
Istanbul adalah ibukota Turki di Eropa, kota ini lebih terkenal dari ibukota Turki di Asia, Ankara. Sebagaimana Jakarta, Istanbul merupakan gambaran keanekaragaman orang Turki. Di sana terdapat peninggalan-peninggalan yang menunjukkan proses pencarian identitas dari bangsa Turki. Sebuah bangsa yang semula hanyalah suku-suku kecil nomaden. Mereka memeluk Islam dan menjadi prajurit–prajurit kerajaan Abbasiyah. Hingga kemudian menguasai tiga benua (Asia, Afrika dan Eropa) selama tiga abad dari tahun 1453 M sampai abad 18 M. (Hitti, 1970: 914)
Saat ini, cara berpikir orang Turki dalam bidang keagamaan terbelah menjadi dua bagian. Bagian barat dan bagian Timur. Gerakan Keislaman di Turki bagian Barat berpusat di Ankara dan Istanbul, sedangkan di bagian Timur berpusat di Kahramannaraz dan Mardin. Mayoritas penduduk Istanbul bermazhab Hanafi. (Abdullah, 1996: 188)
Di Istanbul terdapat dua kelompok pemikiran yang mewakili kehidupan keagamaan di Turki, yaitu Kelompok Tarekat dan Kelompok Fundamentalis
Tarekat Naqsyabandiyah adalah kelompok yang basisnya sebagian besar di wilayah Anatolia. Pengikut tarekat ini kebanyakan taat kepada syeikh yang akhirnya membentuk perkumpulan politik. Hingga saat ini, golongan Naqsyabandi mempunyai hubungan yang erat dengan pemerintah dan partai politik.
Kelompok Fundamentalis ini tidak mengidentifikasi dirinya dengan kelompok tertentu. Mereka lebih suka bila disebut Muslim saja. Meskipun pada kenyataannya dalam kehidupan keagamaan mengikuti mazhab Hanafi. Sebagaimana kelompok Tarekat, kelompok ini ingin mengembalikan Islam seperti zaman sahabat (Abdullah, 1996:185).
Pandangan umat Islam Indonesia terhadap muslim Turki hingga saat ini masih miring. Hal itu merupakan efek dari sekularisasi yang dilakukan oleh Kemal Attaturk. Dalam pandangan kita, sekularisasi selalu bermakna negatif. Kenyataannya itu sudah berlangsung pada masa lalu (tahun 1930-an). Sejak dasawarsa 1980-an, perkembangan Islam di Istanbul, atau Turki pada umumnya sampai sekarang sudah banyak berubah. Kerinduan akan nuansa agamis pemuda-pemuda Turki sudah mendapat perhatian dari pemerintah.















Ref: kompasiana.com



Senin, 30 Maret 2015

Senja Itu; Harusnya Milik Kita

Segaris jingga di cakrawala itu harusnya milik kita. Kita yang telah bersama-sama menikmati masa-masa kebersamaan kita, menghabiskan hari di pelataran rel bekas kereta api sekedar untuk bermain pasir, bermain ayunan dari ban bekas, mencetak gol terbaik untuk sebuah pertandingan.

Tidak kah kamu sadar? Kamu sedang mengulang memori mengingat kenangan dan merapel sebuah kerinduan bersama sahabat terbaikmu. Tidak kah kalian juga tau? Aku selalu menunggu momen kebersamaan kita kembali terjalin, menghabiskan sepanjang hari kita untuk membingkai cerita terbaik kita. Kini kita tenggelam dalam kesibukan kita masing-masing, terjebak dalam rutinitas kita masing-masing. Tertinggal lah seorang diri di tepian dermaga menyambut kedatangan senjanya.

Senja itu, mewakilkan kalian menyapa penghujung hari ku. Menyampaikan betapa hangatnya kalian di dalam penjagaanNya, tak lupa ku sampaikan lewat semesta perihal jarak diantara kita yang kehadirannya mengundang rindu. Rindu yang perlahan akan tenggelam ketika segaris jingga mengakhiri temu untuk kita.





Belahan Bumi Ibukota, 30 Maret 2015

Mahalkan Dirimu Dari Cinta

Bicara tentang jatuh cinta, pasti semua orang pernah mengalami virus ini. Dramatis dan hangat memang. Saya pun pernah mengalami jatuh cinta. Terkadang sulit untuk berfikir secara sehat ketika sudah terjangkit virus ini. Duduk sendirian terasa berada di keramaian, berada di sekeliling kawan-kawan tetapi terasa seperti di dalam kegelapan. Kita lebih suka mengikuti jiwa dan perasaan dibandingkan akal yang diberikan oleh Allah.

Memahami Cinta Dari Awal

Sangat ditegaskan bahwa sangat perlu mendidik dan memahamkan remaja sejak awal. Bukan untuk menyuruh menikah di masa muda tetapi supaya mereka tidak mengambil definisi cinta, cara-cara bercinta atau kehidupan bercinta dari sumber-sumber yang merusak yang ada di kiri dan kanan sekeliling mereka, ketika mereka berada dalam proses menuju dewasa.

Hari ini dan hari-hari kemarin malam, definisi dan makna cinta, cara-cara bercinta dan kehidupan bercinta diambil baik langsung atau tidak langsung dari sumber-sumber yang justeru merusak hakikat cinta. Dari musik-musik, film-film, drama-drama korea, novel-novel cinta, sinetron dan sebagainya. Membuat secara tidak langsung, apabila disebut dengan cinta atau apabila virus cinta itu menyerang jiwa dan perasaan dia, maka secara otomatis mereka akan merespon virus tersebut dengan cara apa yang mereka tahu dan fahami dari sumber-sumber yang rusak tersebut.

Cinta yang salah seperti inilah yang membuat manusia apabila mereka bercinta, menjadi tidak karuan. Karena mereka menyangka cara untuk menyampaikan rasa cinta kepada orang yang dicintainya haruslah dengan kata-kata asmara mesra, dengan untaian bunga-bunga cantik merona dengan perkataan cinta dan sayang. Cinta haruslah pergi keluar berduaan, berpegang-pegangan tangan, bersentuh. Bahkan ada juga suatu tafsiran bahwa cinta haruslah dibuktikan dengan seks dan mereka mengatakan ini adalah puncaknya cinta.

Maka tidak heran apabila remaja Islam apabila terjangkit virus cinta ini, mereka merasa kebingungan. Ditambah dengan munculnya situs-situs media dan jaringan social pada hari ini. Ada yang meng-update gambar dirinya dengan kekasihnya, berciuman, berpelukan padahal belum menikah. Bahkan lebih dari itu, berani pula mengharap ‘keredhaan’ khalayak ramai atas hubungan yang melanggar syariat ini.

“Doakan ya, semoga hubungan kami langgeng sampai tua.” | “Kami doakan semoga langgeng dengan si fulan” | Sambil memicit-micit jerawat di pipi.

Ada juga yang sedikit lebih islami, walaupun mungkin tidak keluar bersama, tidak bergandengan tangan tetapi banyak yang terjebak dengan SMS, e-mail, chatting, puisi-puisi romantis dan lirik-lirik lagu dan alunan musik serta banyak lagi. Kemudian waktu banyak dihabiskan dengan masalah calon makmum dan calon imam.

Memahalkan Diri

Manusia ingin dihargai, tetapi manusia tidak akan berharga apabila dia tidak memiliki apa-apa.

Maka daripada itu, pada usia yang masih muda seperti ini kita sibukkan diri dengan mencari ‘apa-apa’ tersebut agar kita menjadi manusia yang berharga. Berharga mahal. Dan ‘apa-apa’ tersebut semestinya adalah hal-hal yang baik dan berharga juga. Kalau dipenuhi dengan sampah maka berarti sampahlah kita, busuklah kita.

Jadi, sudah berapa juz al-Qur’an yang sudah kita hafal dan pelajari?

Berapa banyak buku yang sudah kita baca dan pelajari?

Sudah berapa banyak implementasi, praktik dan amalan dari ilmu yang sudah kita pelajari?

Sudah bijakkah kita dalam menghadapi dan menjalani hidup dan pelbagai permasalahannya?

Sudah kita memulai diri kita untuk berusaha membina diri agar mampu menjadi suami dan isteri yang baik kepada pasangan kita nanti?

Daftar pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sepatutnya senantiasa berjalan-jalan di otak kita. Menjadikan diri kita mahal dan berharga tinggi. Bukan sibuk dengan “Apakah dia jodohku?” atau “Apakah dia calon suamiku? Apakah dia calon isteriku?”.

Didalam proses perkuliahan kita mempunyai tahapan, begitu juga dalam proses percintaan. Dalam hendak membentuk dan mendirikan rumah tangga. Bukan hanya pertanyaan-pertanyaan “Apakah dia calon suamiku? Apakah dia calon imamku?”. Apakah dengan kita disibukkan dengan pikiran-pikiran pendek seperti itu, kehidupan cinta akan menjadi semakin baik?

Maka daripada itu, saya lebih senang menyibukkan diri untuk menjadi diri yang besar, mengembara melihat dunia, menimba ilmu dan mematangkan diri kita sebelum kita menyibukkan diri dengan laboratorium cinta.

Kalau kita melihat anak-anak, bahkan sejak sekolah dasar sudah mulai sibuk dengan cinta. Sibuk dengan calon imamku, calon makmumku. Ketika berusia mahasiswa yang sepatutnya menimba pengalaman untuk menjadi pemimpin dan membina ummat Islam, mempersiapkan diri untuk menjadi individu yang memberikan manfaat baik kepada masyarakat dan Islam, kita sibuk dengan asmara dan fantasi hiruk pikuk dunia rumah tangga. Sedangkan, persediaan diri menuju rumahtangga saja entah pergi ke mana.

“Saya mencintaimu sayang, semoga cinta kita bisa kekal sampai di syurga.”

Bagaimana bisa kekal di syurga, sedang diri tidak dibina dengan ilmu yang menunjukkan jalan syurga. Kalau diri tidak punya apa-apa persediaan ke syurga?

Duduk dan Bekerjalah

Coba tenangkanlah sejenak diri kita. Lepaskanlah diri kita sejenak dari segala novel, film, drama, sinerton atau musik cinta yang membuat kita sibuk untuk menjadi seperti apa yang disampaikannya, terhipnotis olehnya. Kita lihat kembali kepada diri kita, dan tanyalah apa tujuan untuk berada di muka bumi ini. Lihatlah sebentar kepada rumahtangga. Rumahtangga bukanlah syurga secara mutlak. Rumahtangga hanya akan menjadi syurga, jika kita tergerak untuk mempersiapkan diri. Jika tidak, rumahtangga bisa menjadi alam yang lebih menyiksa daripada neraka buat kita.

Rumahtangga itu memiliki banyak tanggungjawab. Rumahtangga bukan hanya kisah dua orang berkasih sayang menjalin hubungan asrama. Rumahtangga itu adalah asas kekuatan peradaban ummah Islam. Apabila rumahtangga itu bagus, kokoh dan kuat maka akan kuat pula peradaban ummah ini.

“Wahai orang yang beriman, jagalah diri kamu dan ahlul keluarga dari siksa api neraka.” QS. At-Tahrim : 6

Maka mengapa tergesa-gesa dengan perasaan? Hidupkanlah pikiran kita. Bergeraklah dan persiapkan diri. Jangan hanya duduk manis berbicara cinta sampil memicit-micit jerawat di pipi.

Duduklah sebentar, menimba pelbagai pengalaman baru, dari sekeliling kita dan dari orang yang lebih tua dari kita, dari pelbagai kitab karangan ulama-ulama besar dan ceramah-ceramah mengenai persiapan dan dunia rumahtangga.

Bukan masuk lumpur kemudian baru cari tahu cara mencari emasnya. Yang benar tentunya, mempersiapkan segala peralatan, mencari tahu cara mencari emasnya kemudian baru masuk lumpur tersebut.

Kita ada proyek lebih besar daripada sekedar cinta.

Jangan Mudah Jatuh Cinta

Kita sepatutnya jadi manusia yang berharga. Tetapi kita perlu ingat bahwa hanya manusia yang tangguh sajalah yang mampu berjaya. Tidak akan bisa syurga dicapai hanya dengan tidur, berkhayal tentang cinta sambil memicit-micit jerawat di muka.

Kita perlu mengingat bahwa selepas berumahtangga, akan masih banyak kerja-kerja yang justeru akan lebih berat. Bukan menikah, kemudian mati dan masuk syurga. Bukan saudara.

Cinta itu mungkin, tetapi maut itu pasti menjemput kita.

Allah tidak akan bertanya apakah kita berhasil menikahi orang yang kita cintai atau tidak. Tidak akan. Tetapi Allah akan bertanya kepada kita bahwa sudah engkau manfaatkan untuk apa umur dan usia yang telah Aku berikan?

Sumber: Dakwah Islam, Fatchul Wachid

Sabtu, 21 Maret 2015

YOU #poem #poetry

First time I saw you
I was crushing in you
I am not sure
If you feel the same
But, I saw that you also looked at me
Now we are close
But, will we be apart?
Because we've a huge different
But I want you know, I love you

Jumat, 23 Januari 2015

Aku, kamu dan hujan

Aku, kamu dan hujan. 3 kata romantis tapi teriris, karena pada akhirnya memang 3 kata itu luruh secara bersamaan. Ya, luruh karena pada akhirnya aku tau kata semoga dan aamiin yang kita miliki ternyata berbeda. Luruh karena memang sejak dari awal aku hanya memiliki keikhlasan untuk menyerahkan segala harapku padaNya, luruh karena aku memilih senyap dari segalanya, luruh karena pada akhirnya aku hempaskan segala gejolak rasa pada hujan yang seirama, pada mendung diantara sendu, dan pada setiap lembaran takdirNya. Aku tau aku akan mengulang kecewa, tapi setidaknya dari kecewa itu aku kembali belajar untuk tetap meng-istiqomahkan diriku dalam bingkai syariatNya.

Kamu tau? Betapa sulitnya seorang wanita menjaga hatinya?
Kamu tau? Betapa sulitnya seorang wanita menjaga setiap langkahnya?
Kamu tau? Betapa sulitnya seorang wanita untuk tetap kokoh menjaga diri dari hal-hal yang membuatnya rapuh?
Dan kamu tau? Bagaimana sulitnya seorang wanita membangun kembali atas apa-apa yang telah membuatnya rapuh?
Sungguh, kamu tidak akan tau bagaimana dia menjaga semuanya dari dirimu. Semua.
Kalau pun kamu memang tau, kamu hanya tau bahwa namamu pernah ada di dalam doa-doa yang tidak pernah alfa terlantun untukmu.

Aku, kamu dan hujan. Biarlah bila memang harus mendung dan bias, tak usah menjelma menjadi spektrum warna yang berlapis, tak perlu menjadi mewah karena kilauannya, Cukup berada di batas garis ketentuanNya meski mendung.

Minggu, 18 Januari 2015

Jaga Hatimu

Kini aku semakin mengerti bahwa ketika jarak itu nyata adanya, maka tetaplah pelihara cukup dalam doa yang terbingkai dalam senyap. Jangan menjadikan jarak itu semakin dekat, karena hanya akan merusak, mengulang kecewa, mengotori hati dan fitrahNya. Jaga hatimu untuk Allah.


Di malam sendu bertanggal 18 januari 2015

Selasa, 23 Desember 2014

Kenapa Harus Hidup Di Jalan Dakwah?

Perintah Berdakwah telah jelas disampaikan oleh Allah melalui firmanNya dalam Q.S Al-Imran:104
"Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma'ruf dan mencegah yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung"

Dilihat dari dalil para ulama membagi 2 bagian:
1. Fardhu 'ain
2. Wajib 'ain
Ketika kita bertanya kenapa harus berdakwah? Karena kita membutuhkan dakwah untuk menjalani hidup ini, bukan dakwah yang butuh kita.
1. DAKWAH ADALAH EKSPRESI MENIKMATI ISLAM
    - Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan (Q.S Ad-Dhuha:11)
    - Da'i adalah penikmat Islam
    - Sejauh mana nikmat, sebesar itu pula semangat
"Sesungguhnya ketika aku berdakwah untuk Islam maka rasa sakitku terkalahkan oleh rasa nikmatku"
Ketika kita merasakan lelah, sakit, lemah ketika berada di jalan dakwah pertanyaannya adalah, apakah kita taruh di jalan Allah atau diluar jalan Allah?
"Biarlah dakwah ini menjadi saksi bagaimana aku merasakan nikmatnya berdakwah" -Umar Ibn Khathab-
Bagaimana nikmat Islam muncul? Dengan mempelajari Islam (Tarbiyah), di Tarbiyah muncul rasa nikmat dalam berdakwah
2. DAKWAH ADALAH PEKERJAAN PARA NABI
    - Da'i adalah Nabi di zaman ini
    - Punya daya pengaruh
    - Mendapatkan 2 keistimewaan:
          1. Ditinggikan derajatnya
              "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, "maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "berdirilah kamu, "maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan lrang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan" (Q.S Al-Mujadalah:11)
          2. Cepat dapat pertolongan

3. DAKWAH ADALAH CIRI GENERASI TERBAIK
     "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik"
      - Manusia terbaik adalah yang berdakwah

4. DAKWAH ADALAH CARA KITA MENSIASATI USIA YANG PENDEK
     "Barang siapa mengajarkan suatu ilmu, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun" (H.R Ibnu Majah)
    - Umur umatku diantara 60 ke 70 tahun, dan tidak ramai yang melebihi dari pada itu (H.R Tirmidzi)

5. DAKWAH ADALAH DINAMISASI JIWA DAN AKAL
     - Apa jadinya jika orang makan terus tapi tidak bisa BAB&BAK?
     - Menerima harus memberi=Dinamis
6. DAKWAH ADALAH MAGNET SEGALA KEBAIKAN
    - Kebaikan itu berkumpul
    - Dakwah 'memaksa' kita mengerjakan amal lain yang belum dikerjakan
    - Apa yang kita sampaikan harus sudah kita kerjakan
7. DAKWAH MENAIKKAN CITRA DIRI KITA SEBAGAI TOKOH PUBLIK
     - Banyak yang mengawasi kita
     - Waspada terhadap kesalahan kecil
     - Tidak dimaklumkan atas kemaksiatan kita adalah anugrah
8. DAKWAH ADALAH CARA KITA MENYELAMATKAN BUMI KITA DARI BENCANA
    Utsman bin Affan bahwa dia berkata, "Apakah kalian tahu Rasulullah pernah berada di atas gunung Tsabir di Mekah, bersama beliau Abu Bakar, Umar dan saya. Tiba-tiba gunung bergoncang hingga bebatuannya berjatuhan. Maka Rasulullah menghentakkan kakinya dan berkata:"Tenanglah Tsabir! Yang ada di atasmu tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid" (H.R Tirmidzi)
    - Tugas Da'i mengajarkan kejujuran (Shiddiq) dan pribadi siap Syahid