Minggu, 20 April 2014

Hijrah

Pagi datang berbarengan dengan hembusan angin dan khas bau tanah seusai hujan.
Kring... kring... Jam weker berbentuk kepala mickey itu berdering, mengisyaratkan bahwa jam waktu tidur Fathia udah berakhir. Memang dasarnya anak malas untuk bangun pagi, alhasil Fathia hanya membuka matanya sebelah untuk melihat dan mematikan alarm yang udah di setelnya sejak semalam. 

"Duh jam berapa nih sekarang?" Fathia baru beranjak dari balik selimutnya. "Kan bener gue kesiangan, ah biarin deh semoga aja tuh dosen gak masuk kelas". Fathia bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ngampus. Dia mengambil kemeja denim salah satu koleksinya untuk dipakai hari ini. 
"Aduuuhhh sepatu gue mananih? ck udah telat gini sepatu pake segala ngilang gini" gerutu Fathia
"Bi, abiii liat sepatu Fathia ngga?" teriak Fathia sambil terus mencari sepatunya yang juga berwarna coklat itu
"Loh kok kamu tanya abi? kan kamu yang pakai sendiri" jawab abi dengan santai sambil membaca koran
"Makanya jadi perempuan itu harus apik, gimana nanti punya suami kalau sepatu aja bisa ilang-ilang begitu"
"Abi kok malah ngeledek Fathia sama hal itu?" jawab Fathia dengan muka cemberutnya
"Tuh, sepatu kamu ada di kolong meja situ" abi sambil menunjuk ke dalam
"Dari tadi kek bi, Fathia jadi tambah kesiangan deh huh"
"Orang kamu yang matiin sendiri jam weker kamu kok abi yang disalahin". Abi memang tau kebiasaan anak semata wayangnya itu.
"Hehe yaudah Fathia jalan dulu ya bi, Assalamualaikum abiiii" celoteh Fathia sambil menyalami abinya.
"Iya hati-hati, waalaikumsalam"

Sesampainya Fathia di kampusnya ia malah bertemu dan kongkow-kongkow dengan teman-teman seperkumpulannya. "Eh, pada disini ternyata. Gak masuk kelas? "
"Enggaaaaaakkkk, belum ada kelas jam seginiiii" jawab teman-temannya kompak
"Nah elu ngapain pake ikutan nimbrung? bukannya sekarang lo lagi ada kelas?" tanya salah satu temannnya itu. "Iyasih ada, ah tapi udah jam segini paling juga ujung-ujungnya gue disuru keluar ama itu dosen karena telat". "Iyalah telat, paling-paling juga alarm lo matiin lagi". "hehehehe tau ajasih" 
"Gimana lo mau cepet lulus kalau tiap hari kerjaan lo matiin itu alarm trus telat masuk kelas hem"
"Yaaahh namanya juga mahasiswa" 

Seperti itulah kelakuan Fathia, selalu santai menjawab pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya. Fathia adalah gadis cantik, imut, dan agak serampangan dengan segala prestasi yang dia punya. Meskipun sering kali dia bangun telat untuk ke kampus, tetapi ketika di kampus dia selalu kritis dengan segala pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya. Fathia anak perempuan satu-satunya yang kini tinggal dengan Abinya, Bundanya udah cukup lama meninggalkannya sejak Fathia masih berada di bangku SMP. Impian Fathia sederhana, dia teramat sangat ingin mempunyai seorang kakak laki-laki yang bisa menjadi teman sharingnya selain abinya. Lalu bersama-sama mendaki gunung sampai puncak dan berteriak 'Aku sayang kakaaaakk, dan aku bahagia punya kakaaakkk'. Tapi impiannya jelas udah dikubur sejak awal, karena Fathia adalah anak perempuan pertama dan memang satu-satunya. Fathia yang selalu mengenakan kemeja dan jeans serta agak serampangan juga begitu cuek dan sinis jika ada beberapa teman laki-laki yang ingin mendekatinya.
Baginya tidak ada laki-laki yang serius dalam berhubungan kecuali ketika dia menjadikannya sebagai pasangan sahnya. Sering dia melihat temannya di kampus yang mengenakan hijab dan berfikir pastilah mereka juga mempunyai pendapat yang sama denganku, bahkan mungkin lebih. Dan sempat terlintas untuk menutup aurat seperti temannya yang mengenakan hijab dengan anggun, "Kalau gue kaya mereka gimana yaa? Pasti abi seneng banget deh, karena dia kan emang pengen banget gue dari dulu pakai baju kaya gitu. Ah udalah lebih baik gue nyiapin buat besok naek gunung" 

"Abi, abi lagi sibuk gak?" tanyanya seketika menghampiri kursi dimana abinya sedang duduk membaca buku
"Mau tanya apa? tumben banget kamu"
"Emm, abi masih pengen gak kalau Fathia memakai pakaian penutup aurat kaya yang dulu abi pengen?"
"Yang bener kamu nak? Jelas abi masih mau Fathia sayang" tanya abi dengan kagetnya sampai menyudahi membaca buku dan menutupnya
"Fathia mau lebih taat sama Allah bi, Fathia mau bikin abi bangga karena sekarang udah gak ada bunda lagi disamping kita, Fathia mau lebih terlihat cantik di hadapan Allah, Fathia mau lebih dihormati sama laki-laki yang sering mendekati Fathia bi" Cerita Fathia sambil terharu meneteskan butiran bening dari kelopak matanya yang begitu cantik
"Alhamdulillah Allah udah melembutkan hati kamu untuk menutup auratmu" jawab abi singkat dengan memeluk anak semata wayangnya itu

Pagi itu Fathia mulai mengenakan pakaian barunya, pakaian yang ketika dia memakainya lebih terlihat anggun dan semakin cantik. "Bismillah, Ya Allah kuatkan imanku agar tetap istiqomah dalam bingkai syariatMu" 
Fathia mengenakan hijab syar'i warna pink dusty-abu. Lalu dia bersiap pergi dengan temannya yang kebetulan udah ada janji. Dia menuruni anak tangga dan memamerkan kepada abinya dengan sumringah, "Abiii, liat gimana Fathia sekarang?" 
"Masya Allah anak abi cantik sekali, lebih cantik sekarang dari pada kemarin ketika kamu memakai kemejamu itu. Baju dari mana kamu nak?
Diam-diam Fathia pernah membelinya bersama temannya yang udah terlebih dulu mengenakan hijab dan dengan diam-diam Fathia juga menyimpannya di lemari. "Hehe punya Fathia dong bi, Fathia pernah beli dulu ketika abi minta Fathia pakai baju kaya gini" "Dasar kamu"

Sepulang dari pergi bersama temannya Fathia menyempatkan ke kampus untuk mengambil keperluan untuk rencana travelingnya. "widiiiihhh, Fathia sekarang pake hijab gak pake kemeja lagi" ledek salah satu teman kampusnya. Fathia hanya menjawabnya dengan seulas senyuman seorang muslimah
"Fat, sekarang lo hijab syar'i? Bukannya besok lo mau naek gunung? emang ga susah yaa?
"Gak ada yang susah selagi kita masih coba" jawab Fathia mendung. Fathia kembali goyah dengan keyakinannya menggunakan hijab syar'i. Lalu dia ke kamar mandi dan menangis. Tiba-tiba temannya keluar dan melihat Fathia sedang menangis, "Fathia Az-zahra, kamu kenapa nangis?" Fathia kaget dan menjawab pertanyaan temannya, "Baru kamu yang panggil lengkap nama aku setelah abi sama bunda aku, aku gapapa".
"Kamu bohong yaaa? Aku tau kok kamu nangis pasti karena penilaian teman-teman melihat perubahan kamu ini. Iya kan? tanyanya sambil tersenyum
"Iya, memang aku gak pantes ya pakai kaya gini?"
"Kata siapa? Kamu pantes kok, dan lebih anggun cantik lagi kaya gini. Kamu seutuhnya udah lengkap mempunyai nama Fathia Az-zahra dengan hijab kamu ini. Kamu harusnya bangga Fathia, gak usah kamu perduliin penilaian mereka. Karena penilaian sesungguhnya ada di mata Allah"
"Oh gitu ya? kamu nyaman banget ya pakai kaya gini?"
"Aku tanya balik ke kamu, kamu gimana?"
"Emm nyaman banget"

Fathia memutuskan untuk langsung pulang ke rumah menemui abinya dan bercerita padaNya.
"Assalamualaikum, abi Fathia pulang"
"Waalaikumsalam, muka kamu kenapa sembab sayang?"
"Abiiiiii" Fathia langsung menangis dan memeluk abinya
"Fathia, kamu kenapa nangis nak?"
"Tadi Fathia di kampus diledek karena perubahan pakaian Fathia bi. Apa Fathia salah bi?"
"Enggak sayang, gak ada yang salah sama kamu. Mereka yang meledek kamu cuma belum paham bagaimana seorang muslimah yang seharusnya. Mereka berbeda nak sama kamu, setiap orang itu mempunyai prosesnya masing-masing untuk menjadi lebih taat pada Tuhannya. Ingat sayang, ini awal perjalanan kamu menjadi seorang muslimah. Allah mau kamu bertahan sama ini, hiraukan perkataan mereka tentang hijabmu. Dan doakanlah mereka supaya kelak Allah melembutkan hatinya untuk menapaki jalan yang sama denganmu yang sekarang. 
Nak, Islam itu muncul dalam keadaan asing. Jadi kalau teman kamu sekarang menganggapmu seperti itu maka berbanggalah kamu. Karena Islam akan kembali seperti awal kemunculannya sayang" jawab abi dengan penuh penjelasan.
"Tapi bii... " 
"Percayalah anakku, Allah hanya ingin melihat usahamu menjadi lebih baik di mataNya. Tetaplah menjadi Fathia Az-zahra yang sesungguhnya, yang kelak akan menjadi berlian diantara banyaknya batu-batu kerikil. Semoga kamu selalu istiqomah dalam perjalananmu sayang, mintalah selalu pada Allah untuk memperbarui imanmu dalam setiap munajatmu"
"Iya bi, makasih udah menenangkan Fathia" Fathia memeluk abinya lalu bergegas mengambil air wudhu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar