Minggu, 31 Agustus 2014

Waiting For Moment

Hujan. Apa yang mau kamu lakukan? Melangkah ke depan jendela, menikmati aroma petrichor dan membiarkan satu persatu kenangan melintas di depanku. Lalu? Melepaskan rindu dan menyatukannya dalam simpul doa lewat semesta. Mengapa kamu melakukannya? Karena aku menyukainya, aku rindu berada dibawah gemericik butiran bening menyerupai air mata itu, rindu setelah aku terjebak dengan rutinitasku.
Lantas apa kamu juga menunggu pelangi?
Pelangi kamu bilang? Semburat warna-warni itu selalu ditunggu-tunggu setiap orang, tapi tidak melulu untuk ku, terkadang aku harus merelakannya ketika semburat warna itu tak seindah yang diharapkan. Aku lebih mengharapkan kehadiran semburat oranye berpadu birunya awan, yaa aku selalu menunggunya datang ketika semua orang akan menutup harinya, aku menunggunya meskipun terkadang cuaca lebih memilih mereka yang gemar berhadapan dengan secangkir teh panas, kopi dan semangkuk mie instan di depan teras yang sedikit terhalang dengan sekat air yang merata, sesekali sambil mengobrol dengan anggota keluarga ataupun pasangannya, aku menunggunya ketika rutinitasku berakhir hari itu, aku menunggunya ketika aku berjalan dengan sedikit rasa malas karena harus menunggu angkutan umum yang bergerumul di seantero deretan gedung-gedung pencakar langit.

Klasik bukan? Ya, memang sebuah hal klasik. Tapi taukah kamu ketika suatu hal yang kita lihat dari orang lain lalu kita menilainya sebagai hal yang klasik, justru itu adalah hal yang menenangkan bagi penikmat hal itu sendiri. Apa yang kamu tunggu dari sekian banyaknya hal dan rutinitas dari kota ini? Mengunjungi starbucks dan kafe-kafe ternama lainnya bersama teman kita lalu membicarakan hal-hal konyol yang bisa menyegarkan sedikit pikiran kita bukankah hal itu lebih mengasyikan?
Mengasyikan katamu? Apa yang kamu tau tentang hal 'mengasyikan' itu? Seharusnya kamu tau kata itu pantas disebut ketika seseorang menikmatinya.
Aku lebih memilih mengasingkan diri dari keramaian-keramaian itu lalu aku pergi ke tempat dimana aku bisa menikmati hal yang kamu bilang 'mengasyikan'. Aku menunggu momen itu di akhir-akhir rasa penatku setelah seharian berteman dengan meja-meja dan segala hal yang berbau kantor. Menunggu kedatangannya ketika sebagian orang mengabaikan keberadaannya, ketika sebagian orang mengabaikan pesonanya, dan ketika sebagian orang tak memperdulikan dan menyadari bahwa ia adalah sebagai tanda penutup hari dan kesibukanmu. Kamu mau tau apa? Aku menunggu SENJA-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar