Jumat malam kala itu, aku mengangkat keril ku menuju terminal Kp Rambutan bersama seorang temanku, tempat meeting point keberangkatan kita-Ihimadv menuju terminal Guntur. Kendaraan yang akan kita gunakan malam itu lumayan susah, mengingat macetnya Kp Melayu saat itu sementara tim yang sudah berkumpul di terminal Kp Rambutan menunggu kita. Akhirnya kita memutuskan untuk menggunakan jasa ojek menuju terminal Kp Rambutan.
"Assalamualaykum, ihima adventure bukan?" Sapaku kepada barisan akhwat-akhwat rocker yang sedang duduk berbaris depan masjid.
"Iyanih, kamu juga?" Tanya seorang dari mereka. Hingga berujung perkenalan satu persatu.
Bruk! Ku taruh badanku beralaskan keril 40L yang ku kenakan malam itu. Terdengar ada yang menyapa dari perut, "duh laper lagi, udah jam segini gak ada yang jual nasgor apaya" Batinku sambil melirik jam Q&Q semata wayangku.
"Masih lama kah kita berangkatnya?" Tanyaku pada mereka.
"Masih nunggu 2 orang lagi nih bentar lagi".
Tanpa babibu aku beranjak ke warung tenda memesan segelas susu hangat kesukaanku. Baru hendak menyeruput untuk mengganjal perut tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunanku. "Ayo kita berangkat, udah lengkap anggotanya"
***
"Ayo garut garut garut..." Teriak seorang kondektur bus
"Mau pulang kampung kemana neng?" Sahut seorang yang lain dengan logat khas sundanya.
"Garut bang, ke Gunung Guntur" Jawab salah seorang dari kami seadanya.
"Oh naik gunung, bentar lagi busnya berangkat itu neng". Jawabnya sambil menunjuk bus arah Garut.
Kami berjalan menuju bus keberangkatan kami, satu-persatu menaruh keril di bagasi bus dibantu oleh seorang 'kondektur berambut gondrong'.
"Ayo, udah semuanya? Langsung aja naik" Sapa 'kondektur' tersebut.
Aku mengambil posisi untuk merebahkan badan sejenak selama perjalanan, kira-kira beberapa barisan kursi dari belakang. Kami memilih bangku 3.
Isi dalam bus mulai ramai penumpang tapi tak bergerak juga. Mulai riuh obrolan sana-sini dan bau asap rokok. "Duh lama bener nih bus jalannya". Gerutu ku sambil melirik arah jam yang sudah menunjukan pukul setengah 11 malam.
***
"Jam berapa si? Udah dimana nih?"
Kubuka mataku yang masih segaris untuk melihat jam, baru pukul 1 dinihari. Melihat sekeliling suasana sudah redup dan senyap, aku memutuskan untuk melanjutkan tidur.
"Mau kemana mas?" "Cikuray nih, Papandayan nih, saya mau ke Guntur" Terdengar dialog pendek penumpang yang lain.
"Terminal garut terminal garut" Seru bapak-bapak di depan bus. Aku menuruni tangga bus dengan gontai lantaran masih ngantuk, disusul dengan menggendong keril biruku. Berjalan pelan di belakang temanku, melihat pemandangan orang yang lalu lalang, segerombolan laki-laki menaiki mobil bak arah Cikuray. Dan satu pemandangan yang tak terlepas dari pandanganku sebuah kalimat di cover bag keril temanku yang samaan dengan cover bag ku "Adventure never dies". Aku tersenyum kecil setiap kali membaca tulisan itu. Ya memang, petualangan akan selalu dirindukan jiwa-jiwa penikmat alam. Sekaligus untuk membakar semangatku di pukul 3 dinihari kala itu, come on! Adventure akan segera dimulai!
Pukul 3 dinihari kami sampai di basecamp, melihat rombongan dari luar Jakarta sudah rapih berjejer dengan mimpinya masing-masing. Rasanya ingin sekali melanjutkan tidur tapi entah kenapa mata tidak tertarik lagi untuk terpejam. Jadilah menunggu waktu subuh dengan dzikir dan tilawah.
Adzan subuh menyapa kami di kota Garut. Hembusan udara subuh terasa segar menusuk hidung. Kami langkahkan kaki menujuNya.
Kira-kira pukul 6 di sabtu pagi kami bersiap-siap untuk keberangkatan menuju tempat pendakian.
Kicauan burung di cakrawala, udara pagi yang bercerita, alunan semesta menyambut kita. Selamat pagi alam...
"Ayo kumpul dulu semua, kita berdoa sebelum memulai pendakian". Berbagai doa dan harap terucap untuk sebuah perjalanan yang akan kita lewati.
"Ihima Adventure, melangkah tinggi untuk merendah di hadapanNya. Allahu Akbar!!!
Pekikan takbir yang menggema dari satu lingkaran sebagai tanda dimulainya pendakian kami pukul 7 pagi kala itu.
Kami berjalan beriringan sembari ngobrol satu sama lain, saling melempar canda dan tawa. Aku menikmati langkahku dengan segala rasa kagumku. Ah alam, kamu selalu berhasil membuatku jatuh cinta dengan segala rupamu. Dan kalian Ihima Adventure membuatku merasa nyaman, entahlah. Itulah yang disebut sebagai ukhuwah, baru saja saling mengenal dalam hitungan hari seperti sudah mengenal lama. Karena ukhuwah itu menyatukan...
"Ayo semangat semangat! perjalanan kita belum seberapa"
"Kira-kira berapa jam untuk sampe di pos 2 bang?" Tanyaku mengingat trek guntur yang bikin 'kangen'
"Emm berapa ya? Udaaaahh jalan aja, tar juga sampe. Enjoy ajaaa...
Berfoto di tengah perjalanan memang obat yang ampuh untuk mengusir lelah. Beberapa kali jepret seolah tidak cukup hehehe.
Pos demi pos telah kita lalui berbekal semangat berisikan kalimat thoyibah yang tak henti terucap sepanjang pendakian. Kami beristirahat di pos 3, tempat sumber air sekaligus ishoma. Memanfaatkan merefil air untuk persediaan kami sebelum melanjutkan perjalanan.
Setelah tenaga kembali terisi kami melanjutkan perjalanan menuju puncak 1.
"Ayo semangat!!! Puncak 1 menunggu, Allahu Akbar!!!"
Setelah jalur terjal bebatuan kini akan kita lewati medan pasir dan kerikil-kerikil.
Aku melirik jam tanganku, sudah mulai sore sekitar pukul 4 kurang. Kabut mulai menyelimuti perjalanan kami. Kakiku mulai terasa lemas, badanku agak gemetar. Sementara posisi ku paling belakang diantara pendaki lainnya. Kulihat ke belakang benar-benar tinggal aku, 3 orang temanku di depanku dan sweeper. Yang lain mungkin sudah sebentar lagi sampai puncak 1, pikirku. Saat itu 3 temanku yang lain menyemangatiku dari posisi tempat mereka berjuang, meneriakkan namaku sambil melontarkan semangat dan diselingi candaan.
Kulirik kembali jam tanganku, jarum jam menunjukkan di angka 5 dan kabut semakin tebal. Ku keluarkan serta jaket yang kubawa. Aku yang menahan keramnya kakiku dari pos terakhir sampai menuju puncak 1 mengharuskan diriku untuk sering berhenti mengoleskan krim hangat di kakiku. "Masih kuat gak?" Tanya 'kondektur gondrong' yang ternyata namanya biasa dipanggil bang Al yang juga turut membantu perjalananku.
"Kalo ada angkot mau nyewa bang hehehe. Kuat bang kuat!!". Jawabku meyakinkan diri ditengah kondisi yang telah lemas. Tiap beberapa menit melanjutkan jalan, beberapa menit berikutnya kembali beristirahat.
Aku tengok ke arah belakang dan melihat sekeliling "Udah sejauh ini gue berjalan?!" Kemudian melihat ke arah depan "Puncak ada diatas sana, mau nyerah?" Tanyaku pada diri sendiri. Disitulah aku kembali berusaha mengalahkan rasa ego dan lelahku, bergumam dalam hati harus menyelesaikan perjalanan ini dengan baik!
Sesekali memperhatikan pendaki yang lain yang sedang 'bermain prosotan' arah turun.
Sementara 2 temanku sudah tidak terlihat dan terdengar lagi, menyisakan seorang temanku yang berada beberapa langkah di depanku.
"Bang, puncaknya mana kok gak sampe-sampe daritadi?" Tanyaku dengan lesu pada bang Unang, orang yang membantuku melewati terjalnya trek yang membuatku sering terpeleset.
"Itutuuu dikit lagi di depan yang ada pohon pinus". Jawabnya dengan logat sundanya yang kental.
"Dari tadi juga pohon pinus keliatan bang, kalo ketutup kabut baru gak keliatan hh. Nanti kita turunnya kek gitu bang nyerosot?"
Udah... gak usah mikirin turun nyampe juga belom. Turun mah gampang nanti, tinggal turun kan ke bawah?"
"Turun emang ke bawah baaanggg dari jaman jebot juga....." Jawabku meringis.
***
"Kak Yuliaaaaa sini duduk dulu, jangan sendiri jalannya. Bareng-bareng aja, kabutnya udah mulai tebel". Teriak ku pada seorang temanku yang berada beberapa langkah di depanku
"Iya sini duduk dulu, bareng aja ke puncaknya. Soalnya udah pada gak ada itu di depan" Sahut bang Unang
Jadilah bertiga kami duduk di kemiringan sekian derajat. Terutama aku yang kembali mengoleskan krim di telapak kakiku
"Macam nenek-nenek aja inih pake beginian" Gerutuku
Sementara bang Unang ngobrol dengan Kak Yulia, aku menikmati alam memandang ilalang dan langit. Ya langit, favoritku selain hujan.
Termenung sejenak, betapa luasnya alamNya. Sedang kita teramat sering lalai akan nikmatNya, semoga tidak sampai kufur nikmat.
"Bang Al mana bang? Masih dibawah dia?"
"Biarin aja dia mah, tar juga sampe sendiri. Jomlo emang gitu sendiri mulu"
"Hahaha bang Unang kek ga jomlo ajeeee" Sahutku
"Heeeeehh urang cepet sini, ngapain disitu sendirian" Teriak bang Unang pada bang Al yang masih berada beberapa langkah dibawah kami. Yang kemudian mereka ngobrol dengan bahasa sunda mereka. Aku memperhatikan Kak Yulia yang sudah mulai mengenakan maskernya, alergi udara dingin katanya.
Ku lirik jam ku sementara waktu sudah mendekati maghrib.
"Ayo bang lanjuuuttt!" Sahutku
"Yaudah ayooo"
Kemiringan kontur yang luar biasa menuju puncak membuatku kembali mengeluh karena kelelahan, tapi tidak lupa denganNya. Selalu ku lantunkan dengan pelan, mengingat kembali nikmat yang disediakan di tempat ini lalu untuk apa mengeluh? Lebih baik melempar canda dan tawa satu sama lain untuk menghilangkan lelah yang telah lama bergelayut di tubuh ini.
"Ayo semangat semangaaattt! Puncak dikit lagi sampe" Teriak bang Unang
"Mangatseeeee!" Teriak ku untuk menghibur diri
"Jalan aja terus, nih lurus terus sampe ketemu pohon pinus sekali lagi terus belok ke arah kanan udadeh sampe. Ambil jalan yang ada rumput-rumputnya" Sahut bang Unang. Aku dan Kak Yulia mengikuti aba-aba darinya. Dengan sisa-sisa tenaga aku melangkahkan kaki menggunakan trackpole hasil pinjaman Ka Nury di tengah perjalanan.
Ku hentikan langkah kaki sejenak, bengong melihat sekelilingku. Masih bisa kurasakan mataku berkaca, ada butiran bening yang memaksa keluar tertahan di kelopak mataku. Puncak 1! Tak lupa aku mengucap Alhamdulillaah. Iya aku sampai di puncak 1 disusul teriakan dari teman-teman yang sudah lebih dahulu sampai.
"Yeeeee akhirnya sampe juga kalian"
"Yeeee putriii sampe puncak kirain gak lanjut kabut udah tebel banget tadi"
"Sampe juga di puncak, kirain bakal ngecamp tadi dibawah". Ledek bang Dean, fotografer selama perjalanan kami.
Aku meluruskan kaki menyandar kerilku. Menikmati langit berkabut di puncak Guntur sore itu. Tak lama adzan maghrib berkumandang dari ponselku. Kami bersiap-siap membuka tenda karena hari sudah mulai gelap. Aku satu tenda dengan Kak Fitri dan 2 orang teman lainnya. Aku merapihkan diri sebelum beranjak tidur. Iya aku berniat untuk tidur saja malam itu, dendam karena sepanjang siang dengkul sudah dibuat lemas.
***
Terima kasih, untuk dingin yang mendekap urat syaraf. Untuk akar-akar yang melintang menghalang. Untuk nafas yang tercekat di tenggorokan dan untuk keindahan yang tak kan habis oleh beribu pujian.
Semoga kita dipertemukan kembali di sebuah perjamuan indah di bawah kolong langitNya, bukan sebatas dunia tapi hingga jannahNya.
*Ditulis untuk mengobati rindu yang meminta untuk segera ditunaikan*
Belahan bumi Ibukota, salam lestari...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar