Matahari tidak terik seperti biasa, kembali aku berada di kota istimewa ini. Masih terdengar sayup-sayup kumandang adzan entah dari Masjid atau mushola yang mana. Ku lirik jam warna kesukaanku, "sudah lewat 15 menit yang lalu" pikirku. Tak lama berselang hujan mengguyur dusun ini, aroma petrichor tidak begitu kental. Mungkin karena bercampur dengan debu dan asap akibat dari truk-truk pengangkut pasir yang antri untuk turun ke bawah. Ku pandangi kaki Merapi dari balik tirai hujan yang menyapa dusun mbah marijan tersebut. Salah satu hal favoritku, menikmati hujan dan membiarkan buliran beningnya jatuh tepat di wajahku. Ku pejamkan mata, pandanganku menerawang pada 'hidangan' yang berada di sekitarku. Bagiku ada nyanyian alam tersendiri. Suara jangkrik khas pegunungan--sunyi, lembah yang seolah memanggil untuk kembali bertemu dengan jalan terjal, sandungan batu, samudera awan yang bergerumul menyelimuti, menunggu senja, menjemput matahari yang akan meninggi mengawali hari diatas sana, suara ranting yang bergerak diantara dedaunan kering, juga embun yang menyapa di pucuk pohon. Ah alam, merindumu ternyata sesakit ini. Tak ada bedanya dengan rinduku pada sosok papa.
Dua wujud rindu yang sama-sama bertemu di garis pemisah jarak.
Dimensi alam masih bisa ku temui di lain waktu, tapi dimensi seorang putri kecil untuk ayahnya?
Jogyakarta, kala pagi menyapa
Aku juga rindu :)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusPutry....... tulisanmu membawaku pada tempat yang sangat ingin ku nikmati. tempat yang seperti dalam kisahmu. bersama pelukan air hujan
BalasHapusKarena menulis adalah traveling dgn gratis kemanapun kita mau ☺
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus