Rabu, 09 Maret 2016

Menuju-Mu

"Allahu Akbar.. Allahu Akbar.."
Suara adzan subuh masih terdengar merdu dari surau. Muadzin yang sehari-hari dipanggil Ihsan tersebut sudah terbiasa menyiapkan harinya dengan istimewa, bangun ketika qiyamul lail lalu menunggu waktu subuh dengan memperbanyak dzikir dan tilawah. Hari ini, ia mengumandangkan adzan dengan haru dan tangisan. Suaranya sempat terhenti pada lafadz "Hayya 'alasholaah". Seorang kakek yang menjadi makmum setianya di surau, merasa bingung ada apa dengan Ihsan? Tak seperti biasanya Ihsan seperti itu ketika mengumandangkan adzan.
"Ada apa denganmu, Nak sewaktu mengumandangkan adzan tadi? Suaramu sempat terhenti" tanya si kakek selepas shalat subuh.
Ihsan masih termenung memandang alam raya subuh itu, "Hari ini  akan gelap, Mbah selama dua jam ke depan. Lihat langitnya, Mbah. Ini sudah lepas subuh tapi masih gelap, tidak seperti biasanya. Bahkan orang-orang juga masih terlelap, tidak mendengar panggilan adzan subuh tadi. Hanya kita dan beberapa jamaah. Menurut perhitungan hari ini akan terjadi gerhana matahari total--dimana langit sempurna gelap tampak cahaya putih melingkar seperti cincin. Itu menurut ilmu sains. Tapi menurut Allah? Saya hanya mengkhawatirkan masa kita, masa dimana dua jam ke depan nanti ada pada kuasa-Nya"

"Dulu, Rasulullah juga mengkhawatirkan hal serupa, Nak. Beliau khawatir bila tiba gerhana lalu alam raya ini tidak kembali pada kursi edarnya. Kemudian beliau bergegas memerintahkan penduduk untuk melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat dengan memperpanjang ruku dan sujud serta bersedekah dan menyebut asma-Nya.
"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044
"Bergegaslah, Nak. Seru masyarakat dengan bertakbir, gelar kembali sajadah dan siapkan khutbah terbaikmu" ucap si kakek seraya meninggalkan Ihsan yang masih terpaku.



Jakarta, 09 Maret 2016
Putri Adhytia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar