Malam berbalut suasana hangatnya dekapan keluarga, berselimut canda tawa, diiringi rasa bahagia.
Malam itu, ayah menyampaikan 'sesuatu' itu padaku.
"Nak, kini kamu sudah beranjak dewasa, kamu sudah mampu untuk mengarahkan dirimu sendiri, jadilah wanita yang taat sayang"
"Iya yah, humaira akan berbakti pada ayah dan bunda" Jawabku
"Bukan itu maksut ayah nak. Jika berbakti pada ayah dan bunda, ayah sudah percaya pada sikap dan perilakumu"
"Lalu maksut ayah bentuk berbakti seperti apa?" Tanyaku dengan perasaan yang cemas
"Ayah ingin kamu menggenapkan separuh agamamu nak, kamu sudah siap untuk itu?" Tanya Ayah
"Ayah..." Jawabku sedikit ragu
"Semua wanita tentu ingin menapaki jalan itu ayah, termasuk Humaira. Tapi Humaira belum mengetahui siapa orang yang kelak akan Humaira ajak untuk bersama-sama menuju JannahNya, bahkan belum terbersit untuk Humaira mengambil langkah itu ayah"
"Bila ayah yang mencarikannya langsung untukmu bersediakah kamu nak?" Tanya Ayah dengan penuh kehatia-hatian
"Kalau boleh Humaira tau, siapa orang yang Ayah maksut?"
"Dia adalah seorang pemuda soleh, keponakan teman Ayah sekaligus anak pemilik pondok tempat Ayah nyantri dulu. Dia juga seorang lulusan terbaik dari Turki, kini ia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa dan tengah menjadi dosen tarbiyah di salah satu Universitas di Jakarta. Jika Humaira berkenan Ayah ingin menta'arufkan kamu dengannya nak"
Entah mengapa suasana malam itu menjadi dingin dan kaku seketika, berbarengan pula dengan turunnya hujan di pukul 8 malam itu.
"Maaf bila Ayah mengagetkan Humaira dengan pertanyaan ini, Ayah hanya ingin Humaira kelak mendapatkan seorang imam yang mampu membimbing kamu bukan hanya di dunia saja nak, tapi juga kelak di akhirat. In syaa Allah dia pemuda yang baik agamanya nak"
"Humaira mengerti Ayah, Humaira juga paham bahwa Ayah tidak ingin melepaskan Humaira dengan sembarang laki-laki. Tentunya Humaira juga tidak langsung meng-iyakan hal ini. Beri Humaira waktu untuk memikirkan ini, Ayah" jawabku langsung meninggalkan ruang tamu malam itu
Suara jam dinding kamarku terdengar begitu nyaring berdetak, persis dengan hatiku. Bagaimana mungkin tiba-tiba Ayah menginginkan aku untuk menjalani proses dengan seseorang pilihannya, meskipun aku tau pilihannya pasti yang terbaik untuk putrinya. Aah ya Rabb, jawaban apa yang harus ku beri pada Ayahku. Aku tidak ingin melukai sosok yang telah merawatku menjadi seorang wanita seperti sekarang ini. Bagaimana bila Ayah tau bahwa putrinya tengah menyimpan rasa dengan pemuda yang juga baik agamanya yang bukan pilihannya.
Temanku mengenal dia adalah sesosok orang yang agamanya baik, karismatik, pendidikannya baik, pun dari keluarga yang baik-baik, dan pandangannya memancarkan keteduhan bagi setiap orang yang melihatnya terlebih kaum hawa diluar sana yang memandandangnya dengan rasa yang berlebih.
"Ayaaahh, maafkan putrimu ini. Sungguh aku teramat tidak ingin melukai hatimu"
Pukul menunjukan pukul 10 malam dan diluar masih hujan, aku bergegas mengambil air wudhu untuk menghilangkan kecemasan dan beristirahat agar tidak kebablasan Qiyamul lail nanti.
***
Subuh ini aroma khas tanah selepas hujan semalam masih begitu kental, aku menikmatinya dengan tilawah surah kesukaanku, Arrahmaan.
Kembali aku memikirkan pembahasan semalam, "apa yang harus ku sampaikan pada ayah?" Pikirku bingung
Bila aku menolak pilihannya sama dengan aku mengecewakan hatinya, tapi bila aku menyetujui untuk menjalankan proses itu berarti aku harus mengikhlaskan rasa yang tengah ada dihati ini. Aku memandang langit oranye yang berpadu dengan abu nya awan diluar jendela kamar, berfikir langkah apa yang harus aku ambil. Lalu beberapa saat kemudian teringat nasehat seorang ustadzah, "mungkin sesuatu itu terlihat tidak baik menurutmu, tapi ternyata itu adalah yang terbaik yang Allah kasih untukmu"
Aku memejamkan mata menikmati aroma embun pagi, menarik nafas perlahan, "Bismillah, semoga langkah ini yang terbaik. Hanya dengan birul walidayn segala jalan dengan izin Allah akan menjadi mudah, In syaa Allah.
***
"Bagaimana dengan study mu di kampus nak?" Tanya ayah membuka percakapan pagi itu di meja makan
"Alhamdulillah lancar yah"
"Belajarlah yang baik sayang, buat setiap waktumu berkualitas. Harapan kita tentu harapanmu pribadi pasti menginginkan selesai sarjana dengan mumtaz" Ucap Bunda yang sedang menyiapkan sarapan
"Iya In syaa Allah bunda, Humaira akan terus menjadi lebih baik dan menyelesaikan pendidikan Humaira dengan baik pula. Yang terpenting doa bunda dan ayah untuk humaira, doa yang didengar sampai ke langit”
"Pasti nak" Ucap ayah diiringi senyum bunda
"Yah, Humaira semalam sudah meminta petunjuk kepada Allah mengenai hal yang ayah bicarakan kemarin. Dan pagi tadi selepas subuh Humaira sudah memutuskan langkah apa yang akan Humaira ambil"
"Apa keputusanmu nak?"
"Humaira..."
"Kenapa nak? Bila kamu ragu jangan kamu jalankan Humaira sayang" Jawab ayah dengan senyum
"In syaa Allah keputusan Humaira benar ayah, Humaira akan selalu melaksanakan Birul Walidayn selama itu benar yah. Bismillah, Humaira mau menjalani proses ta'aruf dengan laki-laki terbaik pilihan Ayah”
"Kamu yakin dan ikhlas nak?”
"Iya Ayah Humaira yakin dan ikhlas, Humaira hanya ingin ridho dari Allah untuk keluarga kita Ayah"
"Maa sya Allah nak, semoga Allah selalu mencurahkan kasih sayangnya kepadamu Humaira" Ucap Bunda seraya memeluk ku
"Aamiin" Jawabku
***
Beberapa hari setelah percakapan itu ayah dan bunda mengunjungi pondok untuk bertemu dengan 'temannya' sewaktu dipondok. Membicarakan proses ku dengan seorang pemuda pilihan ayah.
"Assalamualaikum, kaifa haluk yaa Syaikh?"
"Waalaikumussalam, ana bi khair alhamdulillah.
"Bagaimana keadaan pondok pesantren syaikh?
"Semua baik, santri-santri mungkin sekarang sedang menghafal di serambi belakang. Bagaimana Humaira Farizi?"
"Dia masih belajar untuk menyelesaikan sarjana nya, dan tentunya menerima keinginan untuk berta'aruf dengan ananda Ricky Abdurrahman sebagaimana yang antum bicarakan"
"Alhamdulillah, berarti bisa kita urus prosesnya. Sebentar ana panggilkan akhi Ricky" -- "Ini Ricky Abdurrahman, kebetulan hari ini dia libur mengajar. Kenalkan ini Abu Muhammad Zayd, ayahnya Humaira" Ucap Syaikh seraya memperkenalkan
"Assalamualaikum, Ana Ricky Abdurrahman" Ucapnya dengan mengulurkan tangannya dengan hormat
”Wa'alaikumussalam, Saya ayahnya Humaira. Panggil saja Abu Zayd"
"Ya, beliau sudah berbicara dengan putrinya Humaira Farizi bahwa ada seorang pemuda yang ingin dita'arufkan dengannya dan dia menyetujui. Seperti yang sudah ana ceritakan kemarin bahwa Humaira adalah putri satu-satunya sahabat ana ini, Abu Zayd dan sedang menyelesaikan study sarjana nya. Bagaimana?" Tanya Syaikh kepada Ricky Abdurrahman
"Na'am In Syaa Allah ana siap untuk prosesnya"
***
Tak ku sangka 2 bulan sudah berlalu proses ku dengannya, sejauh ini aku pun menjalaninya dengan ikhlas sebagai bentuk Birul Walidayn ku. Kuliah aku juga sudah memasuki semester akhir. Semua hanya menunggu proses sambil terus berjalan.
"Bagaimana nak, kamu bisa melanjutkannya?"
"Sejujurnya Humaira menjalaninya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan orangtua Humaira" Jawabku memandang arah keluar
"Jika memang seperti itu, In Syaa Allah akan Allah berikan yang terbaik untukmu sayang" Ucap Bunda seraya mengelus pundak Ku sambil tersenyum
Beberapa minggu lagi mungkin proses itu akan berakhir, entah dengan diberlangsungkannya khitbah atau berhenti sampai di proses itu.
Seperti biasa alarm ku berbunyi di pukul 2 pagi, jam-jam dimana aku berdialog denganNya. Meminta kepadaNya untuk tetap kokohkan hatiku di saat-saat seperti ini, memohon kelancaran untuk kedepannya.
Tak terasa aku masih berada diatas sajadahku ketika azan subuh membangunkanku, ya Allah aku ketiduran. Langsung aku bersiap-siap untuk menunaikan 2 rakaat disambung dengan tilawah seperti biasanya.
Sinar matahari sudah menghangatkanku pagi itu ketika ingin berangkat untuk ke kampus karena ada beberapa hal yang ingin ku bereskan.
Pagi itu ku kenakan hijab berwarna mocca yang juga senada dengan gamis yang ku kenakan. Ku parkir motor di tempat parkir biasanya.
Untuk kedua kalinya aku berpapasan dengan pemuda itu, cepat-cepat aku alihkan pandanganku. Aku tidak ingin ada virus yang menempel dihatiku hanya karena memandang kepada yang bukan haknya. "Siapa pemuda itu sesungguhnya" Pikirku
Tiba-tiba aku teringat sosok yang Ayah pilihkan untukku, "ah sudahlah ayah pasti akan memberikan yang terbaik untuk anaknya"
Tak Terasa minggu ke minggu berjalan dengan cepat, lusa adalah pertemuan pertama antara keluargaku dengan keluarganya. Sekaligus acara khitbah kata ayah, "tidak baik berlama-lama menunggu dan membiarkan orang menunggu kita, lanjutkan saja jika dirasa sudah tidak ada lagi permasalahannya"
"Bagaimana nak, apa kamu siap bertemu dengan calon imam mu?" Tanya Ayah
"Bismillah, In Syaa Allah Humaira siap ayah"
"Baiklah, keluarganya akan datang pukul 10 nanti. Bersiap-siaplah nak bersama bunda"
"Bunda, doakan yang terbaik untuk Humaira ya"
"Pasti sayang, bunda selalu menyertakan namamu di setiap sujud bunda. Berhusnudzan lah pada Allah nak, kelak hatimu akan tenang"
"Humaira sayang tamunya sudah datang nak" Ucap ayah di depan pintu kamar
"Iya yah Humaira akan segera ke ruang tamu"
Perlahan aku menuruni anak tangga bersama bunda, entah kenapa aku khawatir. Aku bersholawat dalam hati dan melafadzkan doa penenang hati.
"Nak Ricky, ini Humaira putri kami" Ayah memperkenalkanku padanya
Aku hanya menjawabnya dengan senyum bahagia lantaran melihat sosoknya. Entah apa yang harus ku lakukan ketika itu, Allahu Akbar ternyata dia adalah sesosok yang berpapasan denganku di kampus, yang ternyata dosen baru di tempat aku kuliah sekaligus pemuda yang berkarismatik itu. Segala puji bagi Allah yang telah mengatur segalanya sedemikian rupa, rancanganNya sungguh yang terbaik. Aku terharu sekaligus bahagia, proses lamaran itu berlangsung dengan lancar.
Tanggal walimah telah ditentukan, persiapan mulai berjalan. Tapi satu yang masih mengganggu hati dan pikiranku, bahwa dia adalah bukan siapa-siapa untukku selama ijab atas namaku belum terucap di hadapan ribuan malaikat dan saksi penduduk bumi.
***
Hari bahagia itu datang, aku mengenakan gaun putih dengan hijab yang menutupi dada. Bersiap-siap di ruang rias bersama bunda. Masih tidak terbayang di benak ku, kelak beberapa menit ke depan yang akan menjadi pemimpinku adalah dia. Sungguh aku belum bisa mempercayainya, dia yang telah aku ikhlaskan karena ayah memilihkan yang terbaik untukku akan bersanding dan mengarungi hidup bersamaku. Ucapan syukur tak henti-hentinya dari mulutku. Ayah adalah sosok yang hebat dan akan selalu menjadi yang terhebat untuk aku dan bunda.
Sholawat dan suasana bahagia bercampur dalam satu ruangan, semua orang yang hadir menunggu-nunggu momen itu tiba. Aku di belakang menunggu dengan perasaan yang tidak karuan, suara ijab dan qobul mulai diperdengarkan
"Bismillahirrahmanirrahim...."
"Qobiltu nikaahaa..."
"Sah? Sah... Barakallahu laka wabaraka 'alaika wa jama'a bainakuma fi khair"
Doa dan ucapan memenuhi seluruh ruangan masjid, penduduk langit dan bumi menjadi saksi dalam acara yang suci itu. Aku yang sejak awal menunggu di belakang bersyukur penuh kebahagiaan, kini aku telah menjadi istri seorang pemuda bernama Ricky Abdurrahman. Aku diiringi menemui suami ku, untuk pertama kalinya aku memandangnya secara dekat. Mencium punggung tangan imamku, lalu dia mengecup dahiku. Aku menangis dihadapan semua orang, menangis bahagia
"Ayah, terima kasih telah memilihkan pemimpin yang terbaik untuk Humaira, telah membimbing Humaira sampai detik ini, dan melepas Humaira dengan seseorang yang tepat. Bunda, terima kasih telah merawat Humaira dengan penuh kasih sayang yang luar biasa. Kalian adalah kunci pertama Humaira menuju surgaNya"
"Sama-sama sayang, berterima kasihlah pada Allah yang senantiasa memberikan jalan yang terbaik untukmu" Jawab ayah dengan haru
Walimahan berjalan dengan lancar dan penuh rasa syukur serta haru. Sedetik setelah ijab atas namaku terucap, aku memulai hidupku sebagai seorang makmum yang kelak akan membantu imamku dalam kondisi apapun.
Malam itu untuk pertama kalinya kami Qiyamul lail bersama, aku satu shaf dibelakangnya meng-aamiin kan doanya.
"Bimbing aku menjadi seorang istri yang baik dan taat yang kelak akan bersama-sama menuju surgaNya"
"Pasti, aku akan membawamu menuju jannahNya. Ingatkan aku bila aku salah dalam membimbingmu"
Seminggu setelah hari walimatul 'ursy aku di wisuda, aku telah menyelesaikan study ku dengan baik. Aku mendapat predikat Mumtaz untuk sarjana ku.
Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzibaan