Minggu, 09 November 2014

Peluk Rindu Dengan Doa

Rindu? Tak ada yang salah dengan rindu, bahkan untuk urusan perasaan yang sepele sekalipun. Rindu akan selalu menjadi isi dari sebuah pertahanan benteng diri akan sebuah pertemuan, entah untuk pertemuan apapun itu. Tetapi sejatinya rindu selalu tak pernah terjelaskan secara gamblang, yang jelas ia ada dan mengisi suatu ruang. Sapalah rindu itu dengan sejuk, melalui Doa kepada pemilik malam yang pekat, kepada yang setia menjaga hati kita. Allah

Mungkin saat ini kamu tengah disambangi olehnya, sambutlah dengan tenang, Hormati rindu yang datang mengetuk hatimu, berterima kasihlah padanya. Yang karenanya kita masih mampu mengeja rasa yang ada, ucapkanlah salam "Maa fii Qalbi Ghoirullah". Juga jangan pernah menyalahkan sebuah pertemuan yang telah terjadi dibelakangmu, bahwasanya pertemuan itu hadir karena ingin mengenalmu melalui kecewa, luka yang mungkin masih menganga, dan manisnya setiap inci waktu yang pernah terlewatkan olehmu dan orang-orang yang mungkin teramat dalam kamu sayangi kehadirannya. Maka ikhlaskanlah setiap awal dan akhir yang menyapamu. Mereka ada agar kita menyadari bahwa hakikat dari awal pertemuan, lalu mengurai cerita, kemudian cerita tersebut berakhir yang di kemudian hari berkenalan dengan RINDU adalah satu skema beruntun.
Jangan melupakan hakikat Doa, yang keberadaannya bisa menjadi penyelesaian akan rindu. Pernahkah tau? Bahwa doa bisa menguntai sampai ke tangga langit. Percaya atau tidak bahwa doa adalah media komunikasi tercanggih yang mampu menyampaikan pesan hatimu sampai menembus batas cakrawala, menghantarkan setiap harap yang sudah kamu eja dalam hati. Dan rasakan manisnya terduduk diatas sajadah di sepertiga malam kita, melafal doa-doa yang siap disetor padaNya. Mungkin buliran-buliran bening akan menjadi teman sekaligus saksi dari segala harap dan cemas kita.
"Terkadang cinta juga butuh jarak untuk bergerak tanpa harus retak, maka terciptalah ia;rindu. Kenalilah dengan perasaan yang bijaksana, tanpa harus mengusik rasa khawatir dan kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya"
Bila kamu ingin mengenal rindu, maka kamu harus terlebih dahulu mengenal jarak tanpa pernah adanya sebuah pertemuan. Teruslah berjuang dalam senyapmu, teruslah melafalkan segala harapmu dengan sebuah doa tulus yang mengundang cintaNya. Hingga doa-doa terus terpanjat, hingga Allah memutuskan yang terbaik. Sungguh, itu lebih bermakna dari apapun dan hasilnya adalah yang terbaik. Jangan mengaku bahwa kamu merindukan seseorang sebelum kamu merasakan dan mengakui bahwa kamu merindukanNya, bisa mencintai ciptaanNya sampai disebut dalam doa tapi ternyata hanya sampai seujung kuku mencintai Rabbnya. Jangan

Sekali lagi, sapalah rindu dengan teduh. Dekap bersama doa-doa yang akan disampaikan padaNya ketika subuh menjelang, teruslah berharap pada yang mengatur segalanya yang senantiasa mengenali kita tanpa ruang keterbatasan. Sampai Dia berkata, "ini adalah hadiah teristimewa dariKu yang terbaik untukmu". Lalu? Bersyukur.

Minggu, 19 Oktober 2014

Istikharah Cinta



"Bersaksi cinta diatas cinta dalam alunan tasbih ku ini. Menerka hati yang tersembunyi, berteman di malam sunyi penuh Doa. Sebut namamu terukir merdu, tertulis dalam sajadah cinta. Tetapkan pilihan sebagai teman kekal abadi hingga akhir zaman. Istikharah cinta memanggilku memohon petunjukMu, satu nama teman setia naluriku berkata. Di penantian luahan rasa teguh satu pilihan, pemenuh separuh nafasku dalam mahabbah rindu--di istikharah cinta" 

Kelak Kita Menikah Di Segara Anakan, Ya?



Selain hafalan qur'an yang melekat padamu, Kamu harus menyisihkan waktu untuk jogging setiap hari, renang beberapa kali seminggu untuk dapat mendampingiku. Sebab aku tak ingin kita menjadi pasangan hidup dalam kukungan tembok dan atap gypsum. Hidup terlalu singkat untuk dilewati dengan pernikahan yang isinya dihabiskan di jalan, hiruk pikuk kota dan kemacetan.
Kita dampingi ayahmu menaklukan rinjani, ya.
Semoga iapun pendaki yang handal. Punya otot kaki dan tangan yang pejal. Sebab aku ingin mengajakmu menikah di Sagara Anakan. Bertiga dengannya akan kita akrabi jalur pelawangan senaru, melewati hutan belantara dan bebatuan yang menakjubkan itu.
Mengenakan carrier dengan rain cover warna seragam, hanya berbeda-beda ukuran. Kita akan berjalan berbaris berurutan; aku yang memimpin perjalanan, beliau ditengah, sedang engkau di belakang yang tetap saja tak pernah hapal arah jalan.
Penghulu kita adalah mantan pendaki yang entah bagaimana justru menemukan takdirnya di KUA.
Ia sudah membangun tenda terlebih dahulu disana. Ditemani beberapa rekan kita yang rela hari tenangnya diganti dengan keriuhan memasak sarden diatas kompor parafin.
Saat kita datang, mereka akan berjejer dengan jaket, berbagai bentuk hijab dan celana lapangan. Beserta sepatu pendakian.
Tak ada aroma parfum menyengat yang menyapa hidung. Bau keringat hasil berjalan jauh memenuhi pembuluh.
Tidak akan kita temukan poles riasan catik dan dekorasi mewah. Burung belibis yang berenang ditengah danau jadi satu-satunya hiasan tambahan.
Kau dan aku justru akan saling mengirim tatapan penuh sinyal, lirikan berlapis senyuman. Memang pernikahan macam inilah yang kita inginkan.
Tak perlu waktu lama, setelah ayahmu mengucap “Aku nikahkan putriku....”.
Ku jawab kesediaanku dengan satu kali hela nafas, ringkas. Terbiasa mengakrabi alam membuatku tak kesulitan mengatur debaran.
Sedang engkau hanya menunduk, tak percaya bila kini dirimu telah sah menjadi tanggunganku.
Kita habiskan senja itu di Sagara Anakan. Tanpa es buah, minus organ tunggal, tanpa hidangan mewah.
Tapi kau dan aku merasa inilah bahagia paling berlimpah. Saat kabut mulai turun mengembuni tenda, kau pun memegang erat tanganku tanpa lagi takut dosa
Selepas malam pertama, Aku menggamit tanganmu melewati tanjakan penyesalan.
Menyesalkan kenapa tidak sejak dulu momen ini ada.
Tak kan sering-sering kita tengokkan kepala ke belakang.
Toh sekarang kau dan aku sudah tak terpisahkan.
Padang Savana di Sembalun lawangan jadi saksi rangkulan hangat luapan kebahagiaan.
Tanjakan selepasnya tak lagi terasa memberatkan. Sudah ada lenganmu yang terus saja menggenggam.
Bila malam nanti kita tak terlalu lelah di Pelawangan Sembalun, tengah malam akan kubangunkan kau dengan harum roti bakar mentega.
Kita siapkan jiwa,
untuk melihat matahari terbit di puncak tertinggi Gumi Selaparang.




*Repost Safar Lombok

Are You Pluviophile?




They called us pluviophile—a lover of rain; someone who fines joy and peace of mind during rainy days.
Adalah disebut sebagai pluviophile dalam kamus Inggris, orang-orang yang mencintai datangnya hujan, mereka disebutkan menyukai kebahagiaan dan kedamaian pikiran selama hujan turun. Saya termasuk di dalamnya—saya pluviophile

Ah iya, saya selama ini mencari sebutan ini-sebutan untuk orang-orang yang menyukai hujan. Dan baru-baru ini saya baru menemukannya. Pluviophile disebut juga sebagai syndrome kejiwaan pecinta hujan. Tapi taukah bahwa hujan adalah sebagai media terapi bagi penikmatnya dari segala macam hal, karena dengan turunnya hujan mampu menghadirkan kedamaian tersendiri, termasuk saya. Saya selalu menunggu datangnya hujan, karena dengannya hujan mampu menghadirkan rasa rindu, hujan mampu memberikan inspirasi lebih untuk sebuah tulisan, hujan juga mengingatkan kita pada yang Mencipta, bahwasanya kedatangan hujan bukan untuk dirutuki dan disesali, tapi untuk disyukuri karenanya ada kemarau dan panas maka hujan sebagai penyeimbangnya. Memang susah, terlebih untuk di sebuah kota metropolitan seperti ini. Hujan itu bikin jalan macet, urusan penting tertunda, pakaian-pakaian untuk ke kantor yang seharusnya kering tapi malah basah lagi. Seperti itulah keluhannya.
Saat ini saya menulis ini ketika cuaca diluar sedang lucu-lucunya, its so hot you know hehehe. But noprob for me, karena panas juga salah satu nikmat dariNya. Beberapa hari terakhir ini sampai hari kemarin saya hanya bisa menikmati aroma petrichor--bau khas tanah selepas hujan. Tapi yang ditunggu gak datang-datang (red:hujan). Gak ada yang bisa ngalahin baunya. Ini adalah favorit saya sebelum menikmati lantunan gemericik air yang datang dengan keroyokan.
Memperlambat jalan ketika hujan juga sudah menjadi hobbi saya sejak zaman saya masih mengenakan seragam putih-biru. Saya terlalu menikmatinya karena gak mau cepat sampai rumah ketika hujan. Pernah suatu ketika temen saya bilang gini "Ayo cepet jalannyaaa, ini udah mau ujan tau" saya dengan cuek bilang "duluan aja, gue masih mau disini sampai hujan selse"

Hujan itu menyenangkan (banget), sayangnya saya salah satu dari pribumi yang menempati salah satu bangunan kecil dan kumuh diantara gedung-gedung pencakar langit yang tingginya ngalahin bangunan-bangunan masjid yang seharusnya jadi bangunan paling tinggi diantaranya. So, gak bisa nikmatin hujan dengan sikon yang lebih menyenangkan seperti di desa-desa, cuma bisa nikmatin hujan seadanya aja di depan jendela kamar diiringin Sahabat Kecil nya Ipang.
"Baru saja berakhir hujan di sore itu. Menyisakan keajaiban kilauan indahnya pelangi. Tak pernah terlewatkan dan tetap mengaguminya, kesempatan seperti ini tak akan bisa dibeli. Bersamamu kuhabiskan waktu senang bisa mengenal dirimu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya. Melawan keterbatasan walau sedikit kemungkinan, tak kan menyerah untuk hadapi hingga sedih tak mau datang lagi. Janganlah berganti tetaplah seperti ini"
Desa? ahiya desa juga menjadi salah satu destinasi favorit saya dengan catatan desa yang masih pure dengan culture nya, bukan desa yang udah terkontaminasi kota metropolitan ini. Gak mau balik ke jakarta rasanya kalau udah disana hihi. Alasannya adalah karena disana saya bisa menikmati langit senja, berada dibawah puncak gunung berbarengan dengan dinginnya udara desa. Bangun lebih awal untuk menunaikan ibadah subuh lalu menunggu sunrise depan rumah yang terbentuk dari anyaman bambu, orang jakarta bilang saung atau gubuk. Beda halnya dengan disini, I'm lazy eeeezzzz. KARENA ketika bangun gak ada hal lain yang menyenangkan selain disibukkan dengan setumpuk kertas kantor, pemandangan bus-bus kota yang antri berderet di sepanjang jalan kota metropolitan. Kado bagi saya adalah ketika mulai tercium aroma petrichor lalu datang yang saya tunggu-tunggu, kemudian kondisi langit jakarta yang menyenangkan pada sore dan malam hari.
Rainy, sky--Its awesome

Selasa, 07 Oktober 2014

Bimbing Aku Meraih 2 Surga

Malam berbalut suasana hangatnya dekapan keluarga, berselimut canda tawa, diiringi rasa bahagia.
Malam itu, ayah menyampaikan 'sesuatu' itu padaku.

"Nak, kini kamu sudah beranjak dewasa, kamu sudah mampu untuk mengarahkan dirimu sendiri, jadilah wanita yang taat sayang"
"Iya yah, humaira akan berbakti pada ayah dan bunda" Jawabku
"Bukan itu maksut ayah nak. Jika berbakti pada ayah dan bunda, ayah sudah percaya pada sikap dan perilakumu"
"Lalu maksut ayah bentuk berbakti seperti apa?" Tanyaku dengan perasaan yang cemas
"Ayah ingin kamu menggenapkan separuh agamamu nak, kamu sudah siap untuk itu?" Tanya Ayah
"Ayah..." Jawabku sedikit ragu
"Semua wanita tentu ingin menapaki jalan itu ayah, termasuk Humaira. Tapi Humaira belum mengetahui siapa orang yang kelak akan Humaira ajak untuk bersama-sama menuju JannahNya, bahkan belum terbersit untuk Humaira mengambil langkah itu ayah"
"Bila ayah yang mencarikannya langsung untukmu bersediakah kamu nak?" Tanya Ayah dengan penuh kehatia-hatian
"Kalau boleh Humaira tau, siapa orang yang Ayah maksut?"
"Dia adalah seorang pemuda soleh, keponakan teman Ayah sekaligus anak pemilik pondok tempat Ayah nyantri dulu. Dia juga seorang lulusan terbaik dari Turki, kini ia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa dan tengah menjadi dosen tarbiyah di salah satu Universitas di Jakarta. Jika Humaira berkenan Ayah ingin menta'arufkan kamu dengannya nak"

Entah mengapa suasana malam itu menjadi dingin dan kaku seketika, berbarengan pula dengan turunnya hujan di pukul 8 malam itu.
"Maaf bila Ayah mengagetkan Humaira dengan pertanyaan ini, Ayah hanya ingin Humaira kelak mendapatkan seorang imam yang mampu membimbing kamu bukan hanya di dunia saja nak, tapi juga kelak di akhirat. In syaa Allah dia pemuda yang baik agamanya nak"
"Humaira mengerti Ayah, Humaira juga paham bahwa Ayah tidak ingin melepaskan Humaira dengan sembarang laki-laki. Tentunya Humaira juga tidak langsung meng-iyakan hal ini. Beri Humaira waktu untuk memikirkan ini, Ayah" jawabku langsung meninggalkan ruang tamu malam itu

Suara jam dinding kamarku terdengar begitu nyaring berdetak, persis dengan hatiku. Bagaimana mungkin tiba-tiba Ayah menginginkan aku untuk menjalani proses dengan seseorang pilihannya, meskipun aku tau pilihannya pasti yang terbaik untuk putrinya. Aah ya Rabb, jawaban apa yang harus ku beri pada Ayahku. Aku tidak ingin melukai sosok yang telah merawatku menjadi seorang wanita seperti sekarang ini. Bagaimana bila Ayah tau bahwa putrinya tengah menyimpan rasa dengan pemuda yang juga baik agamanya yang bukan pilihannya.
Temanku mengenal dia adalah sesosok orang yang agamanya baik, karismatik, pendidikannya baik, pun dari keluarga yang baik-baik, dan pandangannya memancarkan keteduhan bagi setiap orang yang melihatnya terlebih kaum hawa diluar sana yang memandandangnya dengan rasa yang berlebih.
"Ayaaahh, maafkan putrimu ini. Sungguh aku teramat tidak ingin melukai hatimu"
Pukul menunjukan pukul 10 malam dan diluar masih hujan, aku bergegas mengambil air wudhu untuk menghilangkan kecemasan dan beristirahat agar tidak kebablasan Qiyamul lail nanti.
***

Subuh ini aroma khas tanah selepas hujan semalam masih begitu kental, aku menikmatinya dengan tilawah surah kesukaanku, Arrahmaan.
Kembali aku memikirkan pembahasan semalam, "apa yang harus ku sampaikan pada ayah?" Pikirku bingung
Bila aku menolak pilihannya sama dengan aku mengecewakan hatinya, tapi bila aku menyetujui untuk menjalankan proses itu berarti aku harus mengikhlaskan rasa yang tengah ada dihati ini. Aku memandang langit oranye yang berpadu dengan abu nya awan diluar jendela kamar, berfikir langkah apa yang harus aku ambil. Lalu beberapa saat kemudian teringat nasehat seorang ustadzah, "mungkin sesuatu itu terlihat tidak baik menurutmu, tapi ternyata itu adalah yang terbaik yang Allah kasih untukmu"
Aku memejamkan mata menikmati aroma embun pagi, menarik nafas perlahan, "Bismillah, semoga langkah ini yang terbaik. Hanya dengan birul walidayn segala jalan dengan izin Allah akan menjadi mudah, In syaa Allah.
***

"Bagaimana dengan study mu di kampus nak?" Tanya ayah membuka percakapan pagi itu di meja makan
"Alhamdulillah lancar yah"
"Belajarlah yang baik sayang, buat setiap waktumu berkualitas. Harapan kita tentu harapanmu pribadi pasti menginginkan selesai sarjana dengan mumtaz" Ucap Bunda yang sedang menyiapkan sarapan
"Iya In syaa Allah bunda, Humaira akan terus menjadi lebih baik dan menyelesaikan pendidikan Humaira dengan baik pula. Yang terpenting doa bunda dan ayah untuk humaira, doa yang didengar sampai ke langit”
"Pasti nak" Ucap ayah diiringi senyum bunda

"Yah, Humaira semalam sudah meminta petunjuk kepada Allah mengenai hal yang ayah bicarakan kemarin. Dan pagi tadi selepas subuh Humaira sudah memutuskan langkah apa yang akan Humaira ambil"
"Apa keputusanmu nak?"
"Humaira..."
"Kenapa nak? Bila kamu ragu jangan kamu jalankan Humaira sayang" Jawab ayah dengan senyum
"In syaa Allah keputusan Humaira benar ayah, Humaira akan selalu melaksanakan Birul Walidayn selama itu benar yah. Bismillah, Humaira mau menjalani proses ta'aruf dengan laki-laki terbaik pilihan Ayah”
"Kamu yakin dan ikhlas nak?”
"Iya Ayah Humaira yakin dan ikhlas, Humaira hanya ingin ridho dari Allah untuk keluarga kita Ayah"
"Maa sya Allah nak, semoga Allah selalu mencurahkan kasih sayangnya kepadamu Humaira" Ucap Bunda seraya memeluk ku
"Aamiin" Jawabku
***

Beberapa hari setelah percakapan itu ayah dan bunda mengunjungi pondok untuk bertemu dengan 'temannya' sewaktu dipondok. Membicarakan proses ku dengan seorang pemuda pilihan ayah.
"Assalamualaikum, kaifa haluk yaa Syaikh?"
"Waalaikumussalam, ana bi khair alhamdulillah.
"Bagaimana keadaan pondok pesantren syaikh?
"Semua baik, santri-santri mungkin sekarang sedang menghafal di serambi belakang. Bagaimana Humaira Farizi?"
"Dia masih belajar untuk menyelesaikan sarjana nya, dan tentunya menerima keinginan untuk berta'aruf dengan ananda Ricky Abdurrahman sebagaimana yang antum bicarakan"
"Alhamdulillah, berarti bisa kita urus prosesnya. Sebentar ana panggilkan akhi Ricky" -- "Ini Ricky Abdurrahman, kebetulan hari ini dia libur mengajar. Kenalkan ini Abu Muhammad Zayd, ayahnya Humaira" Ucap Syaikh seraya memperkenalkan
"Assalamualaikum, Ana Ricky Abdurrahman" Ucapnya dengan mengulurkan tangannya dengan hormat
”Wa'alaikumussalam, Saya ayahnya Humaira. Panggil saja Abu Zayd"

"Ya, beliau sudah berbicara dengan putrinya Humaira Farizi bahwa ada seorang pemuda yang ingin dita'arufkan dengannya dan dia menyetujui. Seperti yang sudah ana ceritakan kemarin bahwa Humaira adalah putri satu-satunya sahabat ana ini, Abu Zayd dan sedang menyelesaikan study sarjana nya. Bagaimana?" Tanya Syaikh kepada Ricky Abdurrahman
"Na'am In Syaa Allah ana siap untuk prosesnya"
***

Tak ku sangka 2 bulan sudah berlalu proses ku dengannya, sejauh ini aku pun menjalaninya dengan ikhlas sebagai bentuk Birul Walidayn ku. Kuliah aku juga sudah memasuki semester akhir. Semua hanya menunggu proses sambil terus berjalan.

"Bagaimana nak, kamu bisa melanjutkannya?"
"Sejujurnya Humaira menjalaninya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan orangtua Humaira" Jawabku memandang arah keluar
"Jika memang seperti itu, In Syaa Allah akan Allah berikan yang terbaik untukmu sayang" Ucap Bunda seraya mengelus pundak Ku sambil tersenyum

Beberapa minggu lagi mungkin proses itu akan berakhir, entah dengan diberlangsungkannya khitbah atau berhenti sampai di proses itu.
Seperti biasa alarm ku berbunyi di pukul 2 pagi, jam-jam dimana aku berdialog denganNya. Meminta kepadaNya untuk tetap kokohkan hatiku di saat-saat seperti ini, memohon kelancaran untuk kedepannya.
Tak terasa aku masih berada diatas sajadahku ketika azan subuh membangunkanku, ya Allah aku ketiduran. Langsung aku bersiap-siap untuk menunaikan 2 rakaat disambung dengan tilawah seperti biasanya.

Sinar matahari sudah menghangatkanku pagi itu ketika ingin berangkat untuk ke kampus karena ada beberapa hal yang ingin ku bereskan.
Pagi itu ku kenakan hijab berwarna mocca yang juga senada dengan gamis yang ku kenakan. Ku parkir motor di tempat parkir biasanya.
Untuk kedua kalinya aku berpapasan dengan pemuda itu, cepat-cepat aku alihkan pandanganku. Aku tidak ingin ada virus yang menempel dihatiku hanya karena memandang kepada yang bukan haknya. "Siapa pemuda itu sesungguhnya" Pikirku
Tiba-tiba aku teringat sosok yang Ayah pilihkan untukku, "ah sudahlah ayah pasti akan memberikan yang terbaik untuk anaknya"


Tak Terasa minggu ke minggu berjalan dengan cepat, lusa adalah pertemuan pertama antara keluargaku dengan keluarganya. Sekaligus acara khitbah kata ayah, "tidak baik berlama-lama menunggu dan membiarkan orang menunggu kita, lanjutkan saja jika dirasa sudah tidak ada lagi permasalahannya"

"Bagaimana nak, apa kamu siap bertemu dengan calon imam mu?" Tanya Ayah
"Bismillah, In Syaa Allah Humaira siap ayah"
"Baiklah, keluarganya akan datang pukul 10 nanti. Bersiap-siaplah nak bersama bunda"

"Bunda, doakan yang terbaik untuk Humaira ya"
"Pasti sayang, bunda selalu menyertakan namamu di setiap sujud bunda. Berhusnudzan lah pada Allah nak, kelak hatimu akan tenang"

"Humaira sayang tamunya sudah datang nak" Ucap ayah di depan pintu kamar
"Iya yah Humaira akan segera ke ruang tamu"

Perlahan aku menuruni anak tangga bersama bunda, entah kenapa aku khawatir. Aku bersholawat dalam hati dan melafadzkan doa penenang hati.
"Nak Ricky, ini Humaira putri kami" Ayah memperkenalkanku padanya
Aku hanya menjawabnya dengan senyum bahagia lantaran melihat sosoknya. Entah apa yang harus ku lakukan ketika itu, Allahu Akbar ternyata dia adalah sesosok yang berpapasan denganku di kampus, yang ternyata dosen baru di tempat aku kuliah sekaligus pemuda yang berkarismatik itu. Segala puji bagi Allah yang telah mengatur segalanya sedemikian rupa, rancanganNya sungguh yang terbaik. Aku terharu sekaligus bahagia, proses lamaran itu berlangsung dengan lancar.
Tanggal walimah telah ditentukan, persiapan mulai berjalan. Tapi satu yang masih mengganggu hati dan pikiranku, bahwa dia adalah bukan siapa-siapa untukku selama ijab atas namaku belum terucap di hadapan ribuan malaikat dan saksi penduduk bumi.
***


Hari bahagia itu datang, aku mengenakan gaun putih dengan hijab yang menutupi dada. Bersiap-siap di ruang rias bersama bunda. Masih tidak terbayang di benak ku, kelak beberapa menit ke depan yang akan menjadi pemimpinku adalah dia. Sungguh aku belum bisa mempercayainya, dia yang telah aku ikhlaskan karena ayah memilihkan yang terbaik untukku akan bersanding dan mengarungi hidup bersamaku. Ucapan syukur tak henti-hentinya dari mulutku. Ayah adalah sosok yang hebat dan akan selalu menjadi yang terhebat untuk aku dan bunda.
Sholawat dan suasana bahagia bercampur dalam satu ruangan, semua orang yang hadir menunggu-nunggu momen itu tiba. Aku di belakang menunggu dengan perasaan yang tidak karuan, suara ijab dan qobul mulai diperdengarkan
"Bismillahirrahmanirrahim...."
"Qobiltu nikaahaa..."
"Sah? Sah... Barakallahu laka wabaraka 'alaika wa jama'a bainakuma fi khair"
Doa dan ucapan memenuhi seluruh ruangan masjid, penduduk langit dan bumi menjadi saksi dalam acara yang suci itu. Aku yang sejak awal menunggu di belakang bersyukur penuh kebahagiaan, kini aku telah menjadi istri seorang pemuda bernama Ricky Abdurrahman. Aku diiringi menemui suami ku, untuk pertama kalinya aku memandangnya secara dekat. Mencium punggung tangan imamku, lalu dia mengecup dahiku. Aku menangis dihadapan semua orang, menangis bahagia
"Ayah, terima kasih telah memilihkan pemimpin yang terbaik untuk Humaira, telah membimbing Humaira sampai detik ini, dan melepas Humaira dengan seseorang yang tepat. Bunda, terima kasih telah merawat Humaira dengan penuh kasih sayang yang luar biasa. Kalian adalah kunci pertama Humaira menuju surgaNya"
"Sama-sama sayang, berterima kasihlah pada Allah yang senantiasa memberikan jalan yang terbaik untukmu" Jawab ayah dengan haru

Walimahan berjalan dengan lancar dan penuh rasa syukur serta haru. Sedetik setelah ijab atas namaku terucap, aku memulai hidupku sebagai seorang makmum yang kelak akan membantu imamku dalam kondisi apapun.
Malam itu untuk pertama kalinya kami Qiyamul lail bersama, aku satu shaf dibelakangnya meng-aamiin kan doanya.
"Bimbing aku menjadi seorang istri yang baik dan taat yang kelak akan bersama-sama menuju surgaNya"
"Pasti, aku akan membawamu menuju jannahNya. Ingatkan aku bila aku salah dalam membimbingmu"

Seminggu setelah hari walimatul 'ursy aku di wisuda, aku telah menyelesaikan study ku dengan baik. Aku mendapat predikat Mumtaz untuk sarjana ku.
Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzibaan

Minggu, 05 Oktober 2014

Karena memilih untuk beriman, jadi lebih baik memilih untuk jadi si pengecut yang harus sembunyikan cintanya karena malu pada Tuhannya. Mungkin ada saatnya dimana si pengecut harus berani ambil sikap. Terus bertahan dengan cinta dalam diam atau hilang menjauh. Semoga si pengecut tidak pernah menyesal terus bersembunyi di bilik-bilik rindu yang membisu.
Di pagi dan malam yang Sama, mungkin kita mengalunkan doa yang sama juga, tentang rasa diam-diam yang semakin terdiam, tentang rasa semakin kuasa.
Biarkan aku jadi perindu yang tabah, yang mencintaimu dalam bulir air mata merindukanmu dalam sejuknya Doa.
Kamu tahu satu - satunya alasan mengapa Allah memisahkan kita?
Karena kita terlalu dekat, melampaui yang seharusnya
Kamu tahu alasan mengapa Allah menciptakan jarak diantara kita?
Karena Allah ingin kita saling mendoakan dalam jauhnya pandangan sekalipun
Kamu tahu alasan adanya kelopak pada mata?
Untuk membiarkannya terpejam, beristirahat dari memandangmu dalam nyata
Sesekali aku hanya ingin bicara, sekedarnya saja, tidak lama
Setidaknya sapalah aku ketika kita bertemu mata
Namun dibalik telapak tangan ini, sebuah nama terukir indah
Belum dapat kubaca. Kata Allah masih rahasia
Sabar itu indah jika dinanti bersama Allah