Kamis, 30 Juli 2015

Jika Yang Datang Melamar Bukan Si Dia?

Pada dasarnya, wanita itu menunggu. Umumnya wanita itu dilamar, enggan melamar

Ya, mungkin sebagian dari kita sepakat mengenai kedua hal itu. Meskipun Islam tidak melarang seorang wanita untuk melamar atau mengajukan diri lebih dulu, namun kebanyakan dalam masyarakat kita hal itu masih dianggap tabu.

Sahabat akhawat, pernahkah kita terpikirkan mengenai beberapa pertanyaan. “Bagaimana jika yang melamarmu bukan si dia, seorang yang engkau dambakan?”. Akankah kita menolak yang datang dan terus menunggu ia yang kita dambakan itu? Sampai kapan kita akan menunggu? Lalu bagaimana  jika kita sudah menunggu namun akhirnya ia menikahi akhwat lain?  Hmm sulit rasanya untuk menjawab pertanyaan ini. Lantas bagaimana jika hal itu memang terjadi pada kita?

Akhwatfillah, saya menyadari sebagai seorang akhwat tentunya kita pernah sekedar menyukai, tertarik atau bahkan mendambakan seseorang yang akhlak dan agamanya baik di mata kita dan orang yang mengenalnya, menjadi pendamping kita kelak. Menurut saya hal itu manusiawi dan fitrahnya kita sebagai manusia. Tak jarang saya pun mendengar, tak sedikit dari mereka yang menyebutkan sebuah nama dalam setiap munajat malamnya. Ya, membisikan satu nama pada Rabb-nya, mengharap, mendamba dan meminta agar kelak Allah jodohkan dengannya, agar Allah tuntun langkah itu menemuinya.

Bagi saya itu tidak salah, toh kita meminta pada Sang Maha Pemilik segalanya, pada Allah Yang Maha Membolakbalik hati manusia, pada Allah sang Penggenggam jiwa. Bagi saya hal itu sah saja jika niatannya hanya untuk mencurahkan apa yang membelenggu kita agar tidak terjerumus pada perilaku yang nista. Meskipun terkadang terbersit tanya, “tidakkah do’a itu terlalu ngotot dan mendikte?” “Bolehkah berdo’a demikian?” Hmm Allahu’alam saya belum mengetahui ilmu mengenai hal itu.

Kembali pada beberapa pertanyaan di awal.

“Bagaimana jika yang melamarmu bukan si dia, seorang yang engkau dambakan?” Jawabannya simpel, kita pastinya merasa terkejut dan sedikit kecewa karena yang didamba tak kunjung tiba meminta. Kita pasti bertanya “Mengapa yang datang bukan ia, seseorang yang selalu kusebut dalam do’a?”. Akhwatfillah, perlu kita sadari betul bahwa meskipun kita sering menyebut sebuah nama dalam setiap do’a kita, itu tak berarti ia akan menjadi jodoh kita. Karena bisa jadi ia yang datang padamu memang bukan orang yang senantiasa kau sebut dalam do’a, melainkan orang yang selalu menyebut namamu dalam do’anya”

Akankah kita menolak yang datang dan memutuskan menunggu ia yang kita dambakan itu? Semua ada pada keputusan kita, pilihan kita. Jalan manakah yang akan kita ambil? Namun bagi saya, meski tak memungkiri mungkin cukup sulit juga, saya akan lebih memilih untuk menerima siapapun yang datang jika memang yang datang itu layak untuk diterima (baik agama, akhlak dll). Karena ketika kita menolak yang demikian, dikhawatirkan akan timbul fitnah. Rasulullah SAW bersabda :

“Jikalau datang kepada kamu, orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya. Maka nikahkanlah dia, kalau tidak. Akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan besar.”

Lalu pertanyaan selanjutnya ialah, Sampai kapan kita akan menunggu? Ya, sampai kapan kita akan berdiam diri dalam ketidakpastian, dalam suatu perkara yang masih kabur kejelasannya. Sampai kapan kita akan menunggu orang yang belum tentu ia adalah jodohmu, menunggu sseorang yang belum tentu memilihmu bahkan mungkin tak sedikitpun tertarik padamu. Nah jika sudah seperti itu, maka pertanyan selanjutnya lagi ialah bagaimana jika kita sudah menunggu namun akhirnya ia menikahi akhwat lain? Sebenarnya tidak gimana-gimana, ketika kita mengambil suatu keputusan tentunya kita harus sudah siap dengan segala kemungkinan dan konsekuensi yang akan muncul  bukan? Jika ia menikahi akhwat lain padahal kamu sudah menunggunya lama sekali, itu bukanlah kesalahannya. Tidak sedikitpun kita pantas untuk membencinya, apalagi membenci akhwat pilihannya,  toh selama ini ia tak tahu bahwa ada kamu yang menunggu bukan? Dan apa hak kita untuk melakukan hal itu? Jika sudah seperti ini pasti ujung-ujungnya kita akan menyesal. Ya menyesal terlebih jika kita mendengar kabar bahwa ikhwan yang pernah kita tolak demi menunggu yang belum pasti itu telah berhasil, keluarganya sakinah, mawaddah dan rahmah. Sedangkan kita?

Akhwatfillah, memang saya pun menyadari betul bahwa jodoh itu takkan tertukar. Allah telah menetapkan jodoh bagi kita jauh sebelum kita terlahir ke dunia dan saling mengenal satu sama lainnya. Dan saya pun sepakat bahwa kita memiliki hak untuk menolak maupun menerima.  Maka dari hal itu, apa salahnya kita mencoba berikhtiar? Ya, mencoba menjalani proses yang seharusnya dilaksanakan. Toh saya percaya, jika memang bukan orang itu yang Allah tetapkan untuk kita, pasti ada saja jalan Allah yang menjadikan jalan itu berakhir sebelum tahap pernikahan. Dan kita pun harus meyakini, se-tidak maunya kita, bagaimanapun kita menolak, meski kita pernah mengatakan tidak, jika Allah sudah berkehendak dan berencana, Allah pasti membolak-balikan hati kita jika memang orang itu pilihan terbaik-Nya untuk kita.

Saya menjadi teringat kembali akan sebuah pesan nasihat : “Kalau kebetulan semuanya bagus, baik din,akhlak dan muamalahnya, apa nggak sayang melepasnya? Pikirkan juga kemungkinan-kemungkinan. Belum tentu nanti ada ikhwan dengan agama sebaik yang dahulu pertama melamar kamu”

So, ketika yang melamarmu bukan si dia? Jangan risau, jika yang kita dambakan itu telah tertulis di Lauhul Mahfudz untuk kita, dengan siapapun dulu kita berproses dalam rangka ikhtiar toh akhirnya in syaa Allah kita akan bersamanya, tentunya dengan rencana Allah Yang Maha Dahsyat dan Maha Indah.  



*Repost Rosita Dewiha by LINE

Kamis, 23 Juli 2015

Project OWOP; Musikalisasi Puisi

"Ajari aku menggunakan pena, akan ku tulis gemericik air, udara dingin, kabut senja, sampai daun gugur"

Ada di langit, aku tinggal di bumi. Tapi carilah aku di langit, sebab aku tertahan diantara bintang-bintang. Kau jemput aku dengan doa-doa setelah shalatmu, kau tengadahkan tanganmu saat bersujud, berdoalah untuk memintaku. Aku tertahan dan garis batas yang membentang diantara kita selebar langit dan bumi.

Aku tinggal di bumi, tapi carilah aku di langit, di sepertiga malammu saat Tuhan turun ke langit bumi, mintalah aku yang berada di genggaman tanganNya. Percuma mencariku di bumi, sebab kunci itu ada di langit. Kunci yang akan menghapus garis batas diantara kita, mengubah garis yang tadinya neraka menjadi surga. Aku berada di tempat yang tidak bisa kau temui di bumi, tapi kau bisa menemuiku di langit meski bukan wujud kita yang bertemu melainkan doa-doa kita yang menggetarkan singgasanaNya. Temukan aku di langit, di dalam doa-doa panjangmu, di dalam harapanmu. Meski kita tidak saling tau nama, tidak saling tau rupa, jemputlah aku di langit. Sebab aku tau kau mengenalku bukan karena ada nama dan rupa. Doa kita telah bertemu sebelum fisik kita. Mudah bagiNya membuat kita kemudian bertemu, tidak hanya bertemu namun juga disatukan. Sebagaimana doa-doa yang sebelumnya telah kita panjatkan.

Pertemuan kita yang pertama berada di langit kan? Sekarang kau tau mengapa aku memintamu mencariku di langit





Created By Enie, the one of Penghuni OWOP

Kamis, 11 Juni 2015

Senja Di Bulan Juni

Hai senja, apa kabarmu? Maaf beberapa hari ini aku lupa menikmati hangatmu saat akan kembali ke rumahmu, maaf juga aku tak izin denganmu bahwa aku sibuk dengan rutinitas harianku. Selepas itu aku begitu merindumu. Ya, aku merindumu seperti biasanya, rindu pula pada langitNya. Rindu seperti waktu kita bersama di tepi dermaga, mengabadikan jinggamu bersama perahu nelayan yang sedang menepi, menghabiskan penghujung sore ku untuk bertemu denganmu. Bulan ini menjadi bulanku genap 20 tahun, yang artinya sudah belasan tahun berlalu dengan segala rahmatNya aku masih diizinkan untuk menyapamu di sela-sela rutinitasku.
Maaf bila bulan ini aku tak bisa menikmati jinggamu dengan cara yang manis seperti biasanya, ada sederet aktifitasku yang menunggu di ramadhan ini.

Senja di bulan Juni, pesonamu tetap tak kan pudar di batas cakrawala. Jinggamu memberi kehangatan tersendiri, membingkai rangkaian-rangkaian peristiwa penghujung hari. Penutup dari segala kepenatan kota Ibukota.

Salam dari penggemarmu yang merindukan utuhnya semburat oranye

Untukmu Pencari Nafkah

Bismillahirrahmaanirrahiim

Mungkin kamu tak tau dimana rizqimu. Tapi rizqimu tau dimana kamu. Dari langit, laut, gunung, sampai lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.

Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.

Tugas kita bukan mengkhawatirkan rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban "Dari Mana" dan "Untuk Apa" atas tiap karuniaNya.

Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alfa bahwa hakikat rizqi bukanlah
yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya (mati).

Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita.
Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.

Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat.
Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.

Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki Ismail, bayinya ??

Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan.

Ia kejutan untuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga.
Tugas kita hanya menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.

Sekali lagi, yang terpenting di tiap kali kita meminta dan Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya dan jawab
soalanNya, "Buat apa?"

Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia, lupa bahwa semua hanya "hak pakai" yang halalnya akan dihisab dan haramnya akan di adzab.
Dengan itu kita mohon "Ihdinash Shirathal Mustaqim"; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat.
Bukan jalannya orang yg terkutuk apalagi jalan orang yang tersesat.

Maka segala puji hanya bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah maka kesempurnaan menjadi paripurna"

Minggu, 17 Mei 2015

Barisan Rocker Di Ketinggian 2249 Mdpl

Jumat malam kala itu, aku mengangkat keril ku menuju terminal Kp Rambutan bersama seorang temanku, tempat meeting point keberangkatan kita-Ihimadv menuju terminal Guntur. Kendaraan yang akan kita gunakan malam itu lumayan susah, mengingat macetnya Kp Melayu saat itu sementara tim yang sudah berkumpul di terminal Kp Rambutan menunggu kita. Akhirnya kita memutuskan untuk menggunakan jasa ojek menuju terminal Kp Rambutan.
"Assalamualaykum, ihima adventure bukan?" Sapaku kepada barisan akhwat-akhwat rocker yang sedang duduk berbaris depan masjid.
"Iyanih, kamu juga?" Tanya seorang dari mereka. Hingga berujung perkenalan satu persatu.

Bruk! Ku taruh badanku beralaskan keril 40L yang ku kenakan malam itu. Terdengar ada yang menyapa dari perut, "duh laper lagi, udah jam segini gak ada yang jual nasgor apaya" Batinku sambil melirik jam Q&Q semata wayangku.
"Masih lama kah kita berangkatnya?" Tanyaku pada mereka.
"Masih nunggu 2 orang lagi nih bentar lagi".
Tanpa babibu aku beranjak ke warung tenda memesan segelas susu hangat kesukaanku. Baru hendak menyeruput untuk mengganjal perut tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunanku. "Ayo kita berangkat, udah lengkap anggotanya"
***

"Ayo garut garut garut..." Teriak seorang kondektur bus
"Mau pulang kampung kemana neng?" Sahut seorang yang lain dengan logat khas sundanya.
"Garut bang, ke Gunung Guntur" Jawab salah seorang dari kami seadanya.
"Oh naik gunung, bentar lagi busnya berangkat itu neng". Jawabnya sambil menunjuk bus arah Garut.

Kami berjalan menuju bus keberangkatan kami, satu-persatu menaruh keril di bagasi bus dibantu oleh seorang 'kondektur berambut gondrong'.
"Ayo, udah semuanya? Langsung aja naik" Sapa 'kondektur' tersebut.
Aku mengambil posisi untuk merebahkan badan sejenak selama perjalanan, kira-kira beberapa barisan kursi dari belakang. Kami memilih bangku 3.
Isi dalam bus mulai ramai penumpang tapi tak bergerak juga. Mulai riuh obrolan sana-sini dan bau asap rokok. "Duh lama bener nih bus jalannya". Gerutu ku sambil melirik arah jam yang sudah menunjukan pukul setengah 11 malam.
***

"Jam berapa si? Udah dimana nih?"
Kubuka mataku yang masih segaris untuk melihat jam, baru pukul 1 dinihari. Melihat sekeliling suasana sudah redup dan senyap, aku memutuskan untuk melanjutkan tidur.

"Mau kemana mas?" "Cikuray nih, Papandayan nih, saya mau ke Guntur" Terdengar dialog pendek penumpang yang lain.
"Terminal garut terminal garut" Seru bapak-bapak di depan bus. Aku menuruni tangga bus dengan gontai lantaran masih ngantuk, disusul dengan menggendong keril biruku. Berjalan pelan di belakang temanku, melihat pemandangan orang yang lalu lalang, segerombolan laki-laki menaiki mobil bak arah Cikuray. Dan satu pemandangan yang tak terlepas dari pandanganku sebuah kalimat di cover bag keril temanku yang samaan dengan cover bag ku "Adventure never dies". Aku tersenyum kecil setiap kali membaca tulisan itu. Ya memang, petualangan akan selalu dirindukan jiwa-jiwa penikmat alam. Sekaligus untuk membakar semangatku di pukul 3 dinihari kala itu, come on! Adventure akan segera dimulai!

Pukul 3 dinihari kami sampai di basecamp, melihat rombongan dari luar Jakarta sudah rapih berjejer dengan mimpinya masing-masing. Rasanya ingin sekali melanjutkan tidur tapi entah kenapa mata tidak tertarik lagi untuk terpejam. Jadilah menunggu waktu subuh dengan dzikir dan tilawah.
Adzan subuh menyapa kami di kota Garut. Hembusan udara subuh terasa segar menusuk hidung. Kami langkahkan kaki menujuNya.

Kira-kira pukul 6 di sabtu pagi kami bersiap-siap untuk keberangkatan menuju tempat pendakian.
Kicauan burung di cakrawala, udara pagi yang bercerita, alunan semesta menyambut kita. Selamat pagi alam...

"Ayo kumpul dulu semua, kita berdoa sebelum memulai pendakian". Berbagai doa dan harap terucap untuk sebuah perjalanan yang akan kita lewati.
"Ihima Adventure, melangkah tinggi untuk merendah di hadapanNya. Allahu Akbar!!!
Pekikan takbir yang menggema dari satu lingkaran sebagai tanda dimulainya pendakian kami pukul 7 pagi kala itu.
Kami berjalan beriringan sembari ngobrol satu sama lain, saling melempar canda dan tawa. Aku menikmati langkahku dengan segala rasa kagumku. Ah alam, kamu selalu berhasil membuatku jatuh cinta dengan segala rupamu. Dan kalian Ihima Adventure membuatku merasa nyaman, entahlah. Itulah yang disebut sebagai ukhuwah, baru saja saling mengenal dalam hitungan hari seperti sudah mengenal lama. Karena ukhuwah itu menyatukan...

"Ayo semangat semangat! perjalanan kita belum seberapa"
"Kira-kira berapa jam untuk sampe di pos 2 bang?" Tanyaku mengingat trek guntur yang bikin 'kangen'
"Emm berapa ya? Udaaaahh jalan aja, tar juga sampe. Enjoy ajaaa...

Berfoto di tengah perjalanan memang obat yang ampuh untuk mengusir lelah. Beberapa kali jepret seolah tidak cukup hehehe.

Pos demi pos telah kita lalui berbekal semangat berisikan kalimat thoyibah yang tak henti terucap sepanjang pendakian. Kami beristirahat di pos 3, tempat sumber air sekaligus ishoma. Memanfaatkan merefil air untuk persediaan kami sebelum melanjutkan perjalanan.
Setelah tenaga kembali terisi kami melanjutkan perjalanan menuju puncak 1.
"Ayo semangat!!! Puncak 1 menunggu, Allahu Akbar!!!"
Setelah jalur terjal bebatuan kini akan kita lewati medan pasir dan kerikil-kerikil.

Aku melirik jam tanganku, sudah mulai sore sekitar pukul 4 kurang. Kabut mulai menyelimuti perjalanan kami. Kakiku mulai terasa lemas, badanku agak gemetar. Sementara posisi ku paling belakang diantara pendaki lainnya. Kulihat ke belakang benar-benar tinggal aku, 3 orang temanku di depanku dan sweeper. Yang lain mungkin sudah sebentar lagi sampai puncak 1, pikirku. Saat itu 3 temanku yang lain menyemangatiku dari posisi tempat mereka berjuang, meneriakkan namaku sambil melontarkan semangat dan diselingi candaan.
Kulirik kembali jam tanganku, jarum jam menunjukkan di angka 5 dan kabut semakin tebal. Ku keluarkan serta jaket yang kubawa. Aku yang menahan keramnya kakiku dari pos terakhir sampai menuju puncak 1 mengharuskan diriku untuk sering berhenti mengoleskan krim hangat di kakiku. "Masih kuat gak?" Tanya 'kondektur gondrong' yang ternyata namanya biasa dipanggil bang Al yang juga turut membantu perjalananku.
"Kalo ada angkot mau nyewa bang hehehe. Kuat bang kuat!!". Jawabku meyakinkan diri ditengah kondisi yang telah lemas. Tiap beberapa menit melanjutkan jalan, beberapa menit berikutnya kembali beristirahat.

Aku tengok ke arah belakang dan melihat sekeliling "Udah sejauh ini gue berjalan?!" Kemudian melihat ke arah depan "Puncak ada diatas sana, mau nyerah?" Tanyaku pada diri sendiri. Disitulah aku kembali berusaha mengalahkan rasa ego dan lelahku, bergumam dalam hati harus menyelesaikan perjalanan ini dengan baik!
Sesekali memperhatikan pendaki yang lain yang sedang 'bermain prosotan' arah turun.
Sementara 2 temanku sudah tidak terlihat dan terdengar lagi, menyisakan seorang temanku yang berada beberapa langkah di depanku.

"Bang, puncaknya mana kok gak sampe-sampe daritadi?" Tanyaku dengan lesu pada bang Unang, orang yang membantuku melewati terjalnya trek yang membuatku sering terpeleset.
"Itutuuu dikit lagi di depan yang ada pohon pinus". Jawabnya dengan logat sundanya yang kental.
"Dari tadi juga pohon pinus keliatan bang, kalo ketutup kabut baru gak keliatan hh. Nanti kita turunnya kek gitu bang nyerosot?"
Udah... gak usah mikirin turun nyampe juga belom. Turun mah gampang nanti, tinggal turun kan ke bawah?"
"Turun emang ke bawah baaanggg dari jaman jebot juga....." Jawabku meringis.
***

"Kak Yuliaaaaa sini duduk dulu, jangan sendiri jalannya. Bareng-bareng aja, kabutnya udah mulai tebel". Teriak ku pada seorang temanku yang berada beberapa langkah di depanku
"Iya sini duduk dulu, bareng aja ke puncaknya. Soalnya udah pada gak ada itu di depan" Sahut bang Unang
Jadilah bertiga kami duduk di kemiringan sekian derajat. Terutama aku yang kembali mengoleskan krim di telapak kakiku
"Macam nenek-nenek aja inih pake beginian" Gerutuku
Sementara bang Unang ngobrol dengan Kak Yulia, aku menikmati alam memandang ilalang dan langit. Ya langit, favoritku selain hujan.
Termenung sejenak, betapa luasnya alamNya. Sedang kita teramat sering lalai akan nikmatNya, semoga tidak sampai kufur nikmat.

"Bang Al mana bang? Masih dibawah dia?"
"Biarin aja dia mah, tar juga sampe sendiri. Jomlo emang gitu sendiri mulu"
"Hahaha bang Unang kek ga jomlo ajeeee" Sahutku
"Heeeeehh urang cepet sini, ngapain disitu sendirian" Teriak bang Unang pada bang Al yang masih berada beberapa langkah dibawah kami. Yang kemudian mereka ngobrol dengan bahasa sunda mereka. Aku memperhatikan Kak Yulia yang sudah mulai mengenakan maskernya, alergi udara dingin katanya.
Ku lirik jam ku sementara waktu sudah mendekati maghrib.

"Ayo bang lanjuuuttt!" Sahutku
"Yaudah ayooo"
Kemiringan kontur yang luar biasa menuju puncak membuatku kembali mengeluh karena kelelahan, tapi tidak lupa denganNya. Selalu ku lantunkan dengan pelan, mengingat kembali nikmat yang disediakan di tempat ini lalu untuk apa mengeluh? Lebih baik melempar canda dan tawa satu sama lain untuk menghilangkan lelah yang telah lama bergelayut di tubuh ini.
"Ayo semangat semangaaattt! Puncak dikit lagi sampe" Teriak bang Unang
"Mangatseeeee!" Teriak ku untuk menghibur diri
"Jalan aja terus, nih lurus terus sampe ketemu pohon pinus sekali lagi terus belok ke arah kanan udadeh sampe. Ambil jalan yang ada rumput-rumputnya" Sahut bang Unang. Aku dan Kak Yulia mengikuti aba-aba darinya. Dengan sisa-sisa tenaga aku melangkahkan kaki menggunakan trackpole hasil pinjaman Ka Nury di tengah perjalanan.

Ku hentikan langkah kaki sejenak, bengong melihat sekelilingku. Masih bisa kurasakan mataku berkaca, ada butiran bening yang memaksa keluar tertahan di kelopak mataku. Puncak 1! Tak lupa aku mengucap Alhamdulillaah. Iya aku sampai di puncak 1 disusul teriakan dari teman-teman yang sudah lebih dahulu sampai.
"Yeeeee akhirnya sampe juga kalian"
"Yeeee putriii sampe puncak kirain gak lanjut kabut udah tebel banget tadi"
"Sampe juga di puncak, kirain bakal ngecamp tadi dibawah". Ledek bang Dean, fotografer selama perjalanan kami.
Aku meluruskan kaki menyandar kerilku. Menikmati langit berkabut di puncak Guntur sore itu. Tak lama adzan maghrib berkumandang dari ponselku. Kami bersiap-siap membuka tenda karena hari sudah mulai gelap. Aku satu tenda dengan Kak Fitri dan 2 orang teman lainnya. Aku merapihkan diri sebelum beranjak tidur. Iya aku berniat untuk tidur saja malam itu, dendam karena sepanjang siang dengkul sudah dibuat lemas.
***

Terima kasih, untuk dingin yang mendekap urat syaraf. Untuk akar-akar yang melintang menghalang. Untuk nafas yang tercekat di tenggorokan dan untuk keindahan yang tak kan habis oleh beribu pujian.
Semoga kita dipertemukan kembali di sebuah perjamuan indah di bawah kolong langitNya, bukan sebatas dunia tapi hingga jannahNya.

*Ditulis untuk mengobati rindu yang meminta untuk segera ditunaikan*

Belahan bumi Ibukota, salam lestari...

Rabu, 22 April 2015

Alquran Kecil Dan Sang Jendral

Suatu sore, di tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo penjara' itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu 'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik .. itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara Ayat Suci yang amat ia benci.
"Hai ... hentikan suara jelekmu! Hentikan ...!!!" Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakkan mata.

Namun apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.

Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.

Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata kepatuhan kepada sang Algojo, bibir keringnya hanya berkata lirih "Rabbi, wa-ana 'abduka ...".

Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata,
"Bersabarlah wahai ustadz ... Insya Allah tempatmu di Syurga".
Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya.

Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai.
"Hai orang tua busuk!! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu!!

Sang Ustadz lalu berucap, "Sungguh ... aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah Subhanahu wa ta'ala..  Karena kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh".

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah.

Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'.
Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat.

"Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto. "Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!", ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.

Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.

"Ah ... sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu.

Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam.

Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang di alaminya sewaktu masih kanak-kanak.
Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.

Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.
Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia).
Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa.
Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia.
Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi.
Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua.

Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi (ibu) yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abayanya.

Sang bocah berkata dengan suara parau, "Ummi.. ummi.. mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa ....? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi ..."

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya.
Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya, "Abi ... Abi ... Abi ..." Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai ... siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi ..." jawab sang bocah memohon belas kasih. "Hah ... siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka.

"Saya Ahmad Izzah ..." sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. "Hai bocah ...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu.

Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang 'Adolf Roberto' ... Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu.

Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi.
Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, "Abi ... Abi ... Abi ..."

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Pikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.
Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bahagian pusar.

Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi ... aku masih ingat alif, ba, ta, tsa ..." Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya.
Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya. "Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu ..." Terdengar suara Roberto memelas.

Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya.
Air matanya pun turut berlinang.
Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap. "Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,"

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah "Asyhadu an-laa Ilaaha illalloh, wa asyhadu anna Muhammadan Rasullulloh..'.
Beliau pergi menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang di bumi yang fana ini.

Kemudian..
Ahmad Izzah mendalami Islam dg sungguh-sungguh hingga akhirnya ia menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berguru dengannya. Dialah Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah..

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS:30:30)

Minggu, 12 April 2015

Kota Impian Dengan Sejuta Peradaban



Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” (H.R. Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim)
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal al-Musnad 4/335)

Hadis di atas merupakan salah satu motivasi umat Islam dalam merebut Konstantinopel. Letak Istanbul sangat strategis, karena itu Napoleon Bonaparte pernah menggambarkan,”Jika di dunia hanya terdapat satu negara, maka ibukotanya adalah Istanbul”. Selain penghubung Asia dan Eropa, kota ini sejak dulu menjadi pusat peradaban dan kebudayaan. Istanbul terpilih menjadi Ibokota Kebudayaan Eropa hingga tahun 2010 dan terdaftar dalam salah satu daftar warisan pusaka dunia UNESCO sejak tahun 1985. (wikipedia)
Istanbul merupakan kota dengan kepadatan penduduk terbesar ketiga di Eropa. Sebagai pusat kebudayaan dan finansial negara Turki. Kota ini terletak di barat daya wilayah Marmara di tepi bagian selatan selat Bosporus yang menghubungkan benua Asia dan Eropa. Bagian barat Istanbul adalah Eropa sedangkan Bagian Timur Istanbul masuk wilayah Asia. Luasnya sekitar 1536 kilometer persegi.
Dalam perjalanan sejarahnya, kota ini menjadi ibukota dari beberapa imperium besar, kerajaan Romawi (330-395 M), Byzantium (395-1204 M dan 1261-1453 M), kerajaan Latin (1204-1261 M) dan terakhir Turki Usmani tahun 1453-1922 M. (wikipedia)

Istanbul Sebelum Islam
Sejarah Konstantinopel dimulai pada abad ke-empat masehi. Kekuasaan Imperium Romawi Kuno berkembang dengan pesat. Konstantinus Yang Agung merasa kota Roma sudah tidak layak untuk menjadi ibukota. Akhirnya ia memilih daerah yang sekarang bernama Istanbul sebagai ibukota baru kerajaan Romawi.
Ia membangun benteng dan memperluas kota Konstantinopel. Kaisar Konstantinus Yang Agung membangun gedung pemerintahan, rumah-rumah ibadah, istana, dan pemandian umum. Kemudian pada tahun 330 M, Kaisar Konstantinus secara resmi menetapkan Konstantinopel sebagai ibukotanya. Konstantinopel berarti Kota Kaisar Konstantinus. Penerusnya, Kaisar Konstantinus II melanjutkan pembangunan. Ia mengembangkan dan memperindah kota dengan membangun saluran air dan monumen.
Pada tahun 395 masehi, kerajaan Romawi akhirnya dibagi menjadi dua wilayah, Romawi Barat dan Romawi Timur. Romawi Barat runtuh pada abad kelima masehi, sedangkan Romawi Timur mampu bertahan selama seribu tahun.
Sejarawan modern memilih Byzantium untuk menyebut Romawi Timur. Tujuannya untuk membedakan dengan Romawi Barat. Agama Nasrani awalnya berkembang pada masa Byzantium. Segala bentuk upacara keagamaan mengikuti tradisi Kristiani. Sedangkan hukum dan peraturan pemerintahan diadopsi dari Roma.
Pada pertengahan abad kelima masehi, Kaisar Theodosius memperluas kota Konstantinopel. Ia mengitari kota dengan membangun sebuah benteng yang megah. Panjang benteng mencapai 6492 meter. Satu abad kemudian, kerajaan Byzantium mencapai puncak kejayaannya di bawah Kaisar Justinian.
Masa-masa keemasan telah dilalui kerajaan Byzantium. Kota Konstantinopel berhiaskan monumen dan gereja. Keadaan ini mengundang hasrat dari bangsa Persia dan Arab untuk merebut Konstantinopel. Beberapa serangan dari Persia mampu dipatahkan oleh Byzantium. Namun antara tahun 726 hingga 842 M, keluarga kerajaan saling berebut kekuasaan. Gereja dituduh menjadi dalang dibalik segala keributan. Akibatnya pemerintah melarang segala jenis bentuk peribadatan. Hampir semua simbol keagamaan seperti patung dan lukisan dihancurkan. Setelah itu, tahta kerajaan dengan mudah berpindah tangan dari raja satu ke raja lain.
Akibat krisis intern kerajaan, Byzantium tidak mampu bertahan ketika Kerajaan Latin menduduki Konstantinopel tahun 1204 M. Tentara Latin berisi prajurit dari angkatan perang pada Perang Salib keempat. Selama 57 tahun tentara Latin merampok biara, monumen dan gereja yang ada di Konstantinopel. Baru pada tahun 1561 M pihak kerajaan mampu mengambil kendali Konstantinopel. (istanbul.gov.tr)

Penaklukan Istanbul
Usaha-usaha penaklukan Konstantinopel telah dilakukan umat Islam sejak masa sahabat. Upaya pertama dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668 M, namun gagal dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub al-Anshari ra. gugur. Sebelumnya Abu Ayyub sempat berwasiat jika ia wafat meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim. Dan para sahabatnya berhasil menyelinap dan memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn. (Syalabi, 1998: 16)
Generasi berikutnya, baik dari Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah hingga Turki Utsmani pada masa pemerintahan Murad II juga gagal menaklukkan Byzantium. Salah satu peperangan Murad II di wilayah Balkan adalah melawan Vlad Dracul, seorang tokoh Perang Salib yang bengis dan sadis. Selama 800 tahun kegagalan selalu terjadi, hingga anak Sultan Murad II yaitu Muhammad II naik tahta Turki Utsmani. Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M. (Hitti, 1970: 905-906). Sejak saat itu sultan Muhammad mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul, artinya “Tahta Islam”. Ia juga memindahkan ibukota kerajaan ke daerah baru tersebut. Sebelumnya ibukota Kerajaan Usmani adalah Adrianopel. Sebuah kota dari negara Asia yang terletak di wilayah Eropa (Maryam, 2003:131)
Sejarah menyebutkan tidak pernah ada pembantaian terhadap penduduk Konstantinopel. Bahkan, pemerintahan Islam Usmani bekerja sama dengan umat Kristen untuk kembali membangun perekonomian, menjalin persahabatan dengan Yunani. Dinasti Usmani juga terus mengepakkan sayap kekuasaannya ke wilayah Mesir, Arabia, dan Syiria. Yang tak kalah pentingnya, kerajaan Usmani menyebarkan ajaran Islam hingga ke kawasan Balkan. (www.yunusnews.com.)
Seiring dengan menancapnya dominasi Islam, wajah bekas kota Konstantinopel itu pun berganti rupa. Bangunan masjid bermunculan, namun tetap dengan corak arsitektur Bizantum yang khas.
Guna menambah jumlah penduduk Muslim di Istanbul, umat Islam yang tinggal di Anatolia dan Rumelia dianjurkan untuk bermigrasi ke Istanbul. Akhir 1457, penduduk Edirne migrasi besar-besaran ke Istanbul. Pada 1459, kota terbesar di Eropa itu dibagi menjadi empat wilayah administratif.


Perkembangan Peradaban Islam
Penaklukkan Konstantinopel merupakan jalan mulus bagi Muhammad al-Fatih untuk membuka pintu perluasan ke Eropa. Dari sinilah zaman baru bagi Turki Usmani dimulai. Era keemasan Turki Usmani terjadi pada masa pemerintahan Sulaiman I (1520-1574) dan Salim II (1566-1574). Raksaa baru ini berdiri mengangkang di Bosporus, satu kakinya di Asia dan kaki lainnya di Eropa. Penguasa Turki merasa bahwa ialah pewaris kekaisaran Byzantium.
Sebagai ibukota,di sinilah tempat berkembangnya kebudayaan Turki yang merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan. Bangsa Turji Usmani mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia. Sebagai bangsa yang berasal dari Asia Tengah, Turki memang mudah berasimilasi dengan bangsa lain. Dalam bidang pemerintahan dan kemiliteran, Turki mengambil dari kebudayaan Byzantium. Sedangkan dalam bidang keagamaan, ilmu, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan hukum mereka berguru kepada bangsa Arab. Hingga akhirnya huruf Arab menjadi huruf resmi kerajaan. (Yatim, 2001: 288)
Sebagai sebuah kota besar pada zamannya, di Istanbul berdiri berbagai sarana dan prasarana publik. Tak kurang ada 81 masjid besar serta 52 masjid berukuran sedang di kota itu. Untuk mendidik para generasi muda, tersedia 55 madrasah, tujuh asrama besar untuk mempelajari Al-Qur’an.
Semasa Sulaiman I memimpin, ia membangun banyak masjid di Istanbul. ia juga membangun sekolah, rumah sakit, pemandian, dan saluran air. Sebanyak 235 buah bangunan berdiri pada masanya.
Fasilitas sosial pun bermunculan, tak kurang lima takiyah atau tempat memberi makan fakir miskin berdiri. Tiga rumah sakit disediakan untuk mengobati penduduk kota. Tujuh buah jembatan juga dibangun untuk memperlancar arus transportasi. Guna menunjukkan kejayaannya, kerajaan Usmani membangun 33 istana dan 18 unit pesanggrahan. (Syalabi, 1998: 25)
Selain itu, 33 tempat pemandian umum juga telah disediakan di berbagai penjuru kota. Untuk menyimpan benda-benda bersejarah, pemerintah Usmani pun menyediakan lima museum (Yatim, 2001: 106). Kemakmuran muncul karena adanya kedamaian pada penduduknya, simbol dari kemakmuran sebuah bangsa adalah peninggalan yang berfungsi memenuhi kebutuhan tersier manusia, sebagai bukti untuk masa depan.
Pada 14 Juli 1509, Istanbul sempat diguncang gempa bumi dahsyat atau yang dikenal sebagai ‘kiamat kecil’. Ribuan bangunan yang awalnya berdiri kokoh akhirnya luluh lantak. Mulai 1510 M, Sultan Bayezid bahu membahu membangun kembali kota Istanbul selama 80 tahun. Hingga akhirnya, kota Istanbul kembali tampil megah dan gagah.
Masyarakat Istanbul sangat heterogen. Kesultanan Usmani membentuk reaya yang terorganisasi menjadi sejumlah komunitas kecil. Sudut pandang Usmani menekankan kelancaran urusan pendidikan, pembayaran zakat, pengadilan dan shodaqoh.
Dalam bidang pendidikan, Sultan Sulaiman I mendirikan beberapa universitas di Istanbul. Pada akhir abad 15, beberapa perguruan tinggi dalam sebuah hirarki yang menentukan jenjang karir bagi ulama-ulama besar. Madrasah diorganisir menurut fungsi dan tingkat pendidikan yang diajarkan. Madrasah tingkat rendah mengajarkan nahwu, sharaf, mantiq, teologi, astronomi, geometri dan retorika. Perguruan Tinggi mengajarkan hukum dan teologi. (Maryam, 2003: 137)
Pada mulanya, perkembangan kehidupan keagamaan di Istanbul hanya di bidang Tarekat. Kajian kajian ilmu keagamaan seperti Fiqh, Kalam dan Hadis tidak mengalami perubahan berarti. Para penguasa cenderung menegakkan satu paham keagamaan dan menekan paham lain. Kitab al-Hushun al-Hamidiyah menunjukkan Sultan Abdul Hamid II ingin mempertahankan Asyariyah dari kritikan lawan. Ulama hanya diperbolehkan menulis syarah dan hassiyah terhadap kitab-kitab klasik. Akibatnya, ijtihad pada masa itu tidak bisa berkembang (Yatim, 2001: 137).
Pada tahun 1727 M pada masa Ibrahim Muteferika -seorang ilmuwan terkemuka- membuka percetakan di Istanbul. Sebagai respon terhadap fatwa dari Syekh al-Islam kerajaan. Buku-buku selain al-Quran, Hadits, Fikih, ilmu Kalam dan Tafsir juga mulai diperbolehkan untuk dicetak. Sejak itulah, buku-buku tentang kedokteran, astronomi, ilmu pasti, sejarah, dan lainnya dicetak. Apalagi mulai 1727 M sudah mulai berdiri badan penerjemah.
Berbeda dengan Umayyah, Abbasiyah dan Andalusia, penekanan pembangunan pada masa Daulah Usmani lebih berkonsentrasi pada pertahanan dan armada perang. Fungsinya untuk memperluas wilayah kekuasaan. Sementara perkembangan ilmu pengetahuan kurang mendapat prioritas.

Aya Sophia
Bangunan Aya Sophia didedikasikan oleh Kaisar Kostantinus II (337-361) pada tahun 360. Aya Sophia dirancang oleh Isidorus dan Anthemus. Arsitekturnya mengikuti model bangunan lengkung Romawi Klasik. Pada saat itu Aya Sophia lebih dikenal dengan gereja Theodosius. Lebih seratus tahun berikutnya, tepatnya tahun 532 gereja Theodosius dihancurkan, dan secara besar-besaran, atas perintah Raja Justinianus I (527-565 M) kembali dibangun. Raja Justinianus I mendatangkan arsitek dari seluruh dunia ke Konstantinopel untuk pembangunannya. Bahan-bahan bangunan juga didatangkan dari berbagai negara seperti Syria, Mesir dan Anatholia beserta corak arsiteknya. Gereja kembali dibuka tanggal 27 Desember 537 setelah memakan waktu selama 5 tahun, 10 bulan dan 24 hari. (commongroundnews.org)
Setelah Konstantinopel berpindah ke tangan kerajaan Islam, maka Sultan Muhammad II merobah Aya Sophia menjadi masjid. Shalat Jum’at pertama dilakukan pada tanggal 1 Juni 1453. Selanjutnya Sultan ini selalu melakukan shalat Jum’at di Masjid ini, sekaligus untuk memelihara bangunannya. Sultan Muhammad II juga mendirikaan masjid yang semegah Aya Sophia. Semasa kepemimpinan Sultan Mahmud (1750-1754). Masjid direhab oleh arsitek Hoja Sinan yang tidak menyukai corak bangunan barat. Sebuah bangunan masjid yang indah penuh dengan kaligrafi di dalamnya serta berbagai keramik dengan corak yang menarik dipandang mata. Tak heran, jika pengaruh Bizantium ikut mewarnai gaya arsitektur Islam di Turki. Kemegahan bangunan Gereja Aya Sophia banyak mewarnai arsitektur masjid di Istanbul. (Maryam, 2003: 137)
Bentuk dan corak Aya Sophia menjadi inspirasi bagi kemajuan arsitektur. Bentuk bangunannya yang lengkung dan khas Romawi Klasik dijadikan acuan untuk membuat bangunan lain. Beberapa arsitek kemudian merancang fitur seperti kubah tunggal yang besar, menara yang tinggi menjulang, dan tiang besar yang menyangga ruang tengah istana. Hal tersebut dapat dilihat pada masjid Sultan Muhammad II, masjid Abu Ayyub al-Anshari, masjid Sulaiman al-Qanuni dan masjid Bayazid. (Maryam, 2003: 137)

Kehidupan Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Istanbul mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial politik. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama. Kerajaan sangat terikat kepada syariat. Fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Dalam bidang pemerintahan, sultan-sultan Usmani menempatkan Mufti atau Syaikhul Islam di Istanbul sebagai wakil sultan dalam mengurusi bidang agama. Mufti berwenang memberi fatwa resmi terhadap problema keagamaan yang dihadapi masyarkat. Tanpa legitiasi seorang mufti, keputusan hukum kerajaan tidak bisa berjalan. Sedangkan untuk urusan non-keagamaan, ditunjuklah seorang Shadrul Adham (Yatim, 2001: 137).
Para Sultan menyadari kebesaran Turki Usmani tidak bisa lepas dari peran Tarekat Bektasy. Ahmad Yasawi (w. 562/1167) mendirikan Yasawiyyah di Turki. Tarekat ini berpengaruh di Turkestan Barat, dan dari tarekat induk itu lahir tarekat Bektasyiyyah, yang dikembangkan oleh Hajji Bektasy (w. 1338). Ia berkembang di Anatolia. Ketika ibukota Turki Usmani pindah ke Istanbul, pusat gerakan Tarekat Bektasy juga pindah. Hal ini dikarenakan sebagian besar prajurit elit Jenissarimenganut mazhab ini. Sebuah sumber mengkategorikan Bektasy sebagai tarekat pengikut Syiah (van Bruinessen: 89-92). Tarekat lain yang berkembang adalah Maulawi. Bedanya, tarekat Maulawi mendapat dukungan dari kaum sipil dan penguasa. (Yatim, 2001: 137)
Secara umum, kedua tarekat ini mengajarkan keyakinan bahwa tasawuf mampu mengantarkan manusia berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Ajaran lainnya adalah tentang berkah, syafaat, karamah dan ziarah kubur. Tarekat ini banyak dianut karena berfungsi mempertautkan batin manusia dengan Tuhan. Selain itu, tasawuf yang diajarkan oleh tarekat ini bersikap sangat toleran terhadap keyakinan dan praktek keagamaan lokal. Sikap ini sangat menarik mereka yang baru saja masuk Islam dan setengah Islam. (Lapidus: 444-445)
Sikap di atas pernah ditunjukkan oleh Sultan Muhammad II, ia melakukan penataan hal ihwal orang Kristen Yunani yang tinggal di Istanbul. Dalam penataan tersebut, sultan Muhammad II memberikan bebas pajak kepada gereja. Sultan sebagai orang Islam menghormati keyakinan orang lain. Hal yang sama juga berlaku bagi agama Yahudi. Setiap agama mempunyai komunitasnya sendiri yang disebut millet. Sultan memberikan kebebasan umat Kristen untuk memilih patriach. Setelah patriachterpilih, Sultan secara langsung melantiknya dengan memberikan tongkat dan memasukkan cincin ke jarinya.
Istanbul adalah ibukota Turki di Eropa, kota ini lebih terkenal dari ibukota Turki di Asia, Ankara. Sebagaimana Jakarta, Istanbul merupakan gambaran keanekaragaman orang Turki. Di sana terdapat peninggalan-peninggalan yang menunjukkan proses pencarian identitas dari bangsa Turki. Sebuah bangsa yang semula hanyalah suku-suku kecil nomaden. Mereka memeluk Islam dan menjadi prajurit–prajurit kerajaan Abbasiyah. Hingga kemudian menguasai tiga benua (Asia, Afrika dan Eropa) selama tiga abad dari tahun 1453 M sampai abad 18 M. (Hitti, 1970: 914)
Saat ini, cara berpikir orang Turki dalam bidang keagamaan terbelah menjadi dua bagian. Bagian barat dan bagian Timur. Gerakan Keislaman di Turki bagian Barat berpusat di Ankara dan Istanbul, sedangkan di bagian Timur berpusat di Kahramannaraz dan Mardin. Mayoritas penduduk Istanbul bermazhab Hanafi. (Abdullah, 1996: 188)
Di Istanbul terdapat dua kelompok pemikiran yang mewakili kehidupan keagamaan di Turki, yaitu Kelompok Tarekat dan Kelompok Fundamentalis
Tarekat Naqsyabandiyah adalah kelompok yang basisnya sebagian besar di wilayah Anatolia. Pengikut tarekat ini kebanyakan taat kepada syeikh yang akhirnya membentuk perkumpulan politik. Hingga saat ini, golongan Naqsyabandi mempunyai hubungan yang erat dengan pemerintah dan partai politik.
Kelompok Fundamentalis ini tidak mengidentifikasi dirinya dengan kelompok tertentu. Mereka lebih suka bila disebut Muslim saja. Meskipun pada kenyataannya dalam kehidupan keagamaan mengikuti mazhab Hanafi. Sebagaimana kelompok Tarekat, kelompok ini ingin mengembalikan Islam seperti zaman sahabat (Abdullah, 1996:185).
Pandangan umat Islam Indonesia terhadap muslim Turki hingga saat ini masih miring. Hal itu merupakan efek dari sekularisasi yang dilakukan oleh Kemal Attaturk. Dalam pandangan kita, sekularisasi selalu bermakna negatif. Kenyataannya itu sudah berlangsung pada masa lalu (tahun 1930-an). Sejak dasawarsa 1980-an, perkembangan Islam di Istanbul, atau Turki pada umumnya sampai sekarang sudah banyak berubah. Kerinduan akan nuansa agamis pemuda-pemuda Turki sudah mendapat perhatian dari pemerintah.















Ref: kompasiana.com