Senin, 19 Oktober 2015

Kota Peradaban Kedua

Pemuda yang biasanya tenang menghadapi segala sesuatunya malam itu ia kalut dan gelisah. Memikirkan akan mimpi dan cita-cita yang tinggal menunggu waktu mempersilakannya atau mengorbankan keluarga kecilnya.  Pemuda tersebut bersiap menunaikan sunnah 2 rakaatnya untuk meminta petunjuk keputusan apa yang akan diambilnya. Sajadah biru bergambar kubah masjid peninggalan almarhum ayahnya itu menjadi saksi munajatnya malam itu. Tilawah tak lupa ia lantunkan setelahnya.
Pemuda itu merebahkan badannya menatap langit-langit kamar, mengenang hal-hal yang amat istimewa bersama kedua orangtuanya dulu. Terbayang jelas wajah penuh sahaja dan kehangatan  abinya-- sosok hangat yang merangkul keluarga kecil nan sederhana hingga ketika Allah memanggilnya kembali.  Kenangan akan perjuangan umminya untuk menyekolahkannya hingga ke jenjang yang lebih tinggi masih terngiang dalam benaknya, “Tentu tidak mudah untuk ummi membawaku sampai di titik ini tanpa abi disampingnya. Maafkan aku mi jika pada akhirnya surga itu tergores” Ucapnya lirih
Belasan tahun berlalu tanpa kehadiran sosok abinya membuat dirinya harus berusaha keras menjadi pengganti abinya di tengah-tengah keluarga sederhananya, mengajar privat anak-anak tingkat SMP menjadi salah satu solusi untuk mempertahankan ekonomi keluarganya.  Pemuda kecil itu yang belum mengerti seutuhnya bagaimana kehilangan seorang abinya hanya tau dan merasakan bila dirinya kala itu amat terpukul ketika menyaksikan sesosok penuh sahaja terbaring di sebuah ruangan dengan alat-alat medis terpasang disana-sini. Ada ruang yang menyisakan luka membuat dirinya secara tiba-tiba berlari menuju lorong rumah sakit, duduk terdiam memeluk kedua lututnya membayangkan sosok yang baru saja dilihatnya, “apa yang sedang terjadi pada abi? sudah hampir 3 bulan lamanya tidak tidur dirumah dan sekarang tidak sadarkan diri. Bagaimana mungkin bila abi tidak akan pernah kembali lagi pada ummi, padaku, pada Shafiyyah juga Fathima? Abi, kami rindu dan menunggu kepulanganmu ke rumah kecil kita” Ucapnya lirih sambil menelungkupkan kedua tangan ke wajahnya.  Ketika beranjak remaja perlahan mulai mengerti bahwa dia harus membantu umminya mengerjakan segala sesuatunya, merapikan rumah, mengerjakan tugas sekolah tanpa bimbingan dari abinya seperti ketika abinya masih ada, dan membantu merawat 2 adik perempuannya.
***

Faiz Alfaridzi, laki-laki muda, badannya tegap, pemilik senyum simetris dan kedua bola mata yang coklat . Terlahir dari keluarga yang sederhana, umminya seorang pedagang kue keliling, mempunyai 2 adik perempuan Shafiyyah dan Fathima yang masih sekolah di tingkat Madrasah Aliyah.
Dia memiliki impian dan cita-cita yang besar. Setelah bangkit dari luka masa kecilnya Alfa mulai memahami bahwa dirinya mempunyai peran yang amat penting di tengah-tengah keluarga sederhananya. Menjadi seorang kepala keluarga merupakan awal langkah baru baginya, mulai dari menjadi office boy, tukang fotocopy hingga kini menjadi guru privat dan les biola dia lalui demi berlangsungnya kehidupan keluarganya. Umminya tidak pernah mengetahui bahwa anak laki-lakinya itu pernah bekerja sebagai office boy dan tukang fotokopy, sepengetahuannya Alfa hanya kuliah dan menjadi guru les. Alfa tidak ingin umminya tau bila dia bekerja sedemikian rupa karena umminya pernah berpesan untuk bersungguh-sungguh dalam pendidikannya saja. Alfa tidak ingin terluka kembali karena melihat air mata umminya jatuh, baginya cukup di hari kepergian abinya saja ummi meneteskan air mata karena terluka hatinya.

Hari-hari berlalu seperti biasa dengan aktifitas rutinnya, kuliah, mengajar priviat dan memperhatikan keluarga kecilnya ketika selesai beraktifitas diluar. Menanyakan perkembangan sekolah adik-adiknya dan usaha kecil umminya yang sudah dimulai sejak abinya meninggal karena kelainan jantung. Membayangkan berkas-berkas study nya sedang di proses.  Perlahan Alfaridzi mengutarakan keinginan akan mimpi dan cita-citanya yang besar.
“Kamu yakin nak? Apa tekadmu sudah bulat untuk melanjutkan study kedokteranmu disana?” Ummi kembali mempertanyakan niat anak laki-laki semata wayangnya itu
“In Syaa Allah mi, Alfa sudah bertekad untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bisa membantu orang lain agar tidak mengalami apa yang abi dulu alami” Kenang Alfa
“Semoga niat baikmu disaksikan dan dicatat oleh malaikat nak” Ucap Ummi sambil membelai rambut anak laki-lakinya diiringi senyum kecil.
“ Kamu boleh mempunyai mimpi besar dan mewujudkannya, tapi ada hal yang perlu kamu ingat.  Kita disini ada keluarga kecil yang membutuhkan sosok pengganti abi sebagai pemimpin, ada 2 adik perempuanmu yang membutuhkanmu. Kamu tau bagaimana keadaan finansial keluarga kita selepas kepergian abi. Dengan hasil penjualan kue ummi yang tidak seberapa dipakai untuk membiayai kehidupan kita, dibantu dengan kamu mengajar privat dan sisanya Allah yang mencukupi kekurangannya. Tidak ada orangtua yang tidak ingin melihat anaknya sukses dan membanggakan Kak” Ungkap ummi menahan air mata di sudut kelopak matanya yang mulai sendu.
Alfaridzi terdiam sejenak, mengalihkan pandangannya keluar jendela yang setengah tertutup gorden abu tua, mengisyaratkan dirinya bingung harus bagaimana.  “Istikharah lah nak, minta petunjuk pada Allah. Ummi akan menanti jawaban dari niat baikmu” Ucapnya seraya meninggalkan Alfaridzi yang masih menatap keluar jendela.
***

Di sudut ibukota waktu subuh menjelang. Masih dengan beralaskan sajadah  Alfaridzi terbangun, sadar bahwa dirinya ketiduran selepas qiyamul lail dinihari. Selang beberapa menit kemudian setelah bergegas untuk berwudhu suara adzan terdengar samar-samar dari kamar sederhananya yang dihiasi dengan gambar dan artikel seputar Timur Tengah tersebut. Alfaridzi segera melangkahkan kakinya menuju surau dekat rumahnya dengan Alqur’an pocket berwarna coklat di tangan kanannya. Salah satu hal rutin yang dilakukannya adalah menghabiskan waktu setelah shalat subuhnya dengan tilawah dan muraja’ah hafalannya sampai menjelang syuruq yang dilanjutkan dengan dhuha.
Ummi yang sedang menyiapkan kue-kue jualannya melirik ke arah Alfa, sementara Alfa melamun membayangkan sisa-sisa percakapan dengan umminya semalam
“Apapun jawabanmu sampaikanlah pada ummi nak” Ummi tiba-tiba membuyarkan lamunannya
“Alfa sudah menyelesaikan semua mi, Alfa akan membantu ummi saja bersama Shafiyyah dan Fathima, In Syaa Allah akan Allah gantikan dengan yang lain yang lebih baik” Jawab Alfa seraya senyum kecil membayangkan berkas-berkas studynya yang tidak jadi dikirim ke Madinah. Memutuskan untuk tidak melanjutkan studynya menjadi keputusan terberat baginya. Bagaimanapun Alfa harus mengikhlaskan mimpi besarnya demi menjaga hati umminya.
***

Ummi yang kini usahanya sudah mulai berkembang beriringan dengan Alfa yang saat ini sedang fokus membantu umminya juga sudah mempunyai tempat les biola sendiri serta kedua adiknya yang tengah melanjutkan study S1 nya.
Di sela-sela kesibukannya membantu umminya, tawaran beasiswa study kedokterannya kembali menghampiri untuk kedua kalinya. Dosennya mengirim attachment file kedokteran di Turki. Alfa kembali berfikir, apakah kali ini mimpinya akan benar-benar terwujud atau memang harus kembali mengikhlaskan bahkan melupakannya. Umminya yang sejak beberapa menit lalu memperhatikan anak laki-lakinya itu dari balik pintu kamarnya yang setengah terbuka mulai memahami keinginan anaknya yang sempat tertunda sebelumnya.
“Berangkatlah nak, ambil kesempatan itu” Ucap ummi mengagetkan Alfa
“Ummi…” Alfa hanya menatapnya dengan rasa tak percaya
“Ummi tau kamu masih menginginkannya bukan? Maaf nak, bila Ummi tidak bisa memenuhi inginmu sewaktu ingin ke Madinah kemarin, semoga kali ini bisa membawamu menuju gerbang suksesmu” Ucap ummi seraya menghampiri Alfa, tersenyum mengelus pundak anak laki-laki satu-satunya itu.
Alfa tersenyum penuh haru, matanya berkaca-kaca, tidak mengira bila mimpinya kini akan segera terwujud meskipun bukan di tempat impiannya, tempat para Nabi dan syuhada. Tapi Allah memilihkan tempat yang terbaik untuknya, tempat dimana Alfa akan belajar segala hal dengan izin dan doa pengharapan dari umminya. Alfaridzi mulai menyiapkan segalanya, melangkahkan kakinya di kota pusat peradaban Islam penghubung Asia dan Eropa tersebut.

Menjelang Wafatnya Sayyidah Fathimah Az-Zahra

Saya ingin menceritakan kisah seorang wanita yang kita semua telah mengenalnya. Dan bahkan kita mencintainya dari lubuk hati yang paling dalam. Bagaimana tidak, ternyata wanita yang akan kita ceritakan adalah putri Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam wa radhia anha- yang malu dari kain kafan.
Dia adalah sayyidah Fatimah Az-Zahra radhiyallahu anha..

Saya mohon wahai saudara dan saudariku untuk benar-benar membaca kisah ini dan untuk merasakan kejadian itu seperti kita benar-benar mendengarkan isi curahan hati sayyidah Fathimah secara langsung.

Ketika sayyidah Fathimah sedang sakit diambang kematian, maka Asma bintu Umais radhiyallahu anha datang berkunjung untuk menjenguknya.

Maka Fathimah berkata untuk Asma:
“Wahai Asma, aku begitu malu ketika harus keluar di esok hari di hadapan para lelaki (ketika aku telah meningal) dan tubuhku dibawa diatas peti mati”.

Peti mati ketika itu, hanyalah sebuah kayu datar yang terbuka. Dan Tubuh mayyit yang sudah tertutup oleh kain kafan akan diletakkan diatasnya dan ditutup lagi dengan sebuah kain sebagai tambahan.

Fathimah radhiyallahu anha sangat malu dan sedih ketika tubuhnya akan terbentuk oleh kain kafan, dia tidak ingin ada seorang lelaki dapat melihat bentuk dan lekuk tubuhnya.

Maka dengarkanlah kembali isi curhatan Fathimah yang sungguh mendalam:
ﺇِﻧِّﻲ ﻗَﺪِ ﺍﺳْﺘَﻘْﺒَﺤْﺖُ ﻣَﺎ ﻳُﺼْﻨَﻊُ ﺑِﺎﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﺃَﻥْ ﻳُﻄْﺮَﺡَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﺍﻟﺜَّﻮْﺏُ ﻓَﻴَﺼِﻔُﻬَﺎ
“Sesungguhnya aku merasa malu dengan apa yang terjadi untuk para wanita ketika mereka dipakaikan sebuah kain kafan, maka kafan itu membentuk tubuhnya”

Mendengarkan curhan hati dari Fathimah radhiyallahu anha, maka Asma bintu Umais berkata untuknya:
ﻳَﺎ ﺍﺑْﻨَﺔَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻟَﺎ ﺃُﺭِﻳﻚِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻪُ ﺑِﺎﻟْﺤَﺒَﺸَﺔِ
“Wahai putri Rasulullah, maukah aku kabarkan kepadamu sebuah peti mati yang aku lihat di Habasyah?”

Maka Asma membuat peti mati yang tertutup dari semua sisinya seperti sebuah kardus. Ketika peti mati sudah jadi, Asma kemudian menutup peti mati itu kembali dengan sebuah kain yang luas maka tubuh mayyit yang dibawa diatasnya tidak akan mungkin terbentuk atau tersifati.
Melihat perbuatan Asma, Fathimah begitu bahagia.

Seketika, Fathimah berkata untuk Asma:
ﺳﺘﺮﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﻤﺎ ﺳﺘﺮﺗﻨﻲ ﻣَﺎ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﻫَﺬَﺍ ﻭَﺃَﺟْﻤَﻠَﻪُ ﺗُﻌْﺮَﻑُ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻣِﺖُّ ﺃَﻧَﺎ ﻓَﺎﻏْﺴِﻠِﻴﻨِﻲ ﺃَﻧْﺖِ ﻭَﻋَﻠِﻲٌّ
“Semoga Allah menutup auratmu sebagaimana engkau telah berusaha untuk menutup auratku.

Betapa indahnya buatanmu ini, sehingga wanita yang meninggal bisa dibedakan dengan lelaki yang meninggal. Jika aku mati, maka mandikanlah diriku bersama Ali” (HR. Abu Nu’aim Al-Asbahani pada Hilyah Al-Aulia 2/43)

Subhanallah, dia malu padahal nantinya hanyalah seorang yang sudah wafat dan itupun sudah benar-benar tertutup dan terbungkus dengan 5 kain kafan !! Apalagi yang akan terlihat ?

Fathimah tidaklah mencurahkan isi hatinya ketika di pasar atau sebuah taman, namun sayyidah Fatimah mencurahkan isi hatinya ketika beliau diambang kematian.
Sayyidah Fathimah malu ketika beliau sudah wafat, maka bagaimana dengan wanita yang masih hidup tidak memiliki rasa malu ?

Seandainya Fathimah melewati sebuah pasar yang ada di zaman kita sekarang ini, dan beliau melihat para wanita yang rasa malunya telah mati. Maka apa yang akan beliau katakan ?

Wanita saat ini, sudah mati rasa malunya sehingga mereka berani untuk melepaskan hijabnya bahkan menggunakan pakaian sempit lagi minim. Wanita saat ini, sudah hilang rasa malunya sehingga mereka berani untuk memperindah dan memberikan parfum pada dirinya.

Maka beliau hanyalah akan menangis ketika melihat rasa malu dari wanita muslimah saat ini telah hilang dan mati.

Apa yang membuat sayyidah Fathimah radhiyallahu anha sampai pada keududukan yang tinggi seperti ini? Hal tersebut, karena sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang ada pada diri Fathimah radhiyallahu anha:
ﺍﻟﺤَﻴَﺎﺀُ ﻻَ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ
“Rasa malu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan” (HR. Bukhari)

Maka tangisilah diri kita, ketika kita tidak menangis melihat tingginya rasa malu sayyidah Fatimah Az-Zahra radhiyallahu anha.

Hadiahkan cerita ini untuk semua saudari kita yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal.

Semoga Allah selalu menutup Aurat kita, ayah dan ibu kita, saudara dan saudari kita, putra dan putri kita dan seluruh keluarga dan kerabat kita, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat di dunia maupun akhirat.
Amiin yaa Rabbal ‘aalamiin

Senin, 05 Oktober 2015

Belongs To: Saudari Seimanku

Assalamualaykum ukhti shaliha, calon bidadari surganya Allah. Apa kabar imanmu hari ini? Semoga Allah senantiasa membawamu menuju muara rahmanNya. Karena bertambahnya iman beriring dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Ingin ku bagi perjalananku sebagai seorang muslimah kepada kalian sahabatku yang ingin kubawa ke surgaNya bersama-sama. Menyelami setiap proses berjalan menujuNya.
Menutup aurat adalah salah satu perintahNya yang harus kita lakukan sebagai muslimah. Tentunya menutup aurat sesuai dengan apa yang Allah mau, bukan apa yang kita mau.
Allah berfirman:
"...Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar". (QS. An-Nisa ayat 13)
Mungkin kalian pernah mendengar sebuah cerita yang diceritakan kembali tentang seorang wanita yang menggambar berbeda dari teman-teman lainnya, sebuah gambar yang diceritakan ada sebuah mawar berduri dengan dihiasi warna hitam. Ya, sebuah gambar yang menceritakan bagaimana seharusnya seorang wanita. Menjadi yang berbeda di tengah keterasingan adalah hal yang tabu sekaligus istimewa. Jadilah muslimah yang memiliki dua kecantikan; cantik luar yang dilindungi hijab syar'i, cantik dalam yang dihiasi akhlak terpuji.
Perjalananku menapaki sebuah pintu 'hijrah' tentu tidak mudah. Banyak hal yang harus ku relakan untuk berjalan menujuNya. Menuju perbaikan diri sebagai wanita muslimah sesuai syariatNya. Banyaknya hinaan, cacian, cibiran, bahkan berujung tangisan. Tangisan yang kini telah membawaku menjadi pribadi yang lebih mengenal Allah ku, ingin ku bagi betapa nikmatnya berada dekat dengan Rabb kita, ingin ku bagi betapa indahnya bertemankan orang-orang shalih melalui perjumpaan taman-taman surga.
Teringat masa-masa pertama kali menggunakan hijab. Paris segi empat, celana jeans yang membentuk lekuk kaki, dan kemeja panjang yang ku kenakan. Hanya memahami bahwa wanita wajib memakai kerudung, tau ada dalil yang menyeru untuk memakai hijab namun belum paham seutuhnya hingga kini memakai hijab yang sesuai dengan syariatNya. Alhamdulillah...
Kapan mau berhijab?
"Ah, nanti dulu. Belum siap, belum dapet hidayah"
Hidayah gak dibuang gitu aja sama Allah, tapi kita jemput. Siapnya kapan dong? Tunggu di hijab secara sempurna pake kain kafan?
Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut seharusnya menjadi renungan:
Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan kita bersiap-siap dengan amalan shalih.
"Takut ah, akhlaknya belum baik. Mau perbaikin dulu, masa pake hijab tapi akhlaknya buruk"
Karena itulah Allah suruh kita memakai hijab sesuai Syariat, supaya akhlak kita semakin baik dan menghindari kita dari maksiat dimana hijab kita sebagai pengingat. Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru yang menganggap iman itu cukup dengan amalan hati ditambah perkataan lisan tanpa mesti di tambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan.
"Panas ah, nanti ribet"
Lebih panas mana sama api neraka? Kamunya aja kali yang bikin ribet
Allah itu buat aturan ga sembarangan, ada banyak manfaat di dalamnya.
Ukhti shaliha, masihkah kamu ragu untuk menutup kemolekan tubuhmu dengan hijab? masihkah?
Ingatlah, sesungguhnya api neraka akan membakar tubuh yang kamu sajikan untuk lelaki hidung belang, kamu bisa beralasan ini dan itu, Demi Allah, sesungguhnya, kita tak akan mampu menebak kapan nyawa ini akan diambil oleh Malaikat Maut!
Yang sudah berhijab coba perlahan dirubah sesuai dengan syariatNya. Dijamin deh kecantikan kamu nambah seribu persen
Eits, jangan lupa ya perbaiki niat untuk Allah semata, bukan karena ingin terlihat cantik dihadapan orang banyak. Karena cantik sesungguhnya adalah di mata Allah dan untuk pasangan halalmu☺
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (31)
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.  Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannyadan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur: 30-31).
Emang ciri-ciri hijab syar'i apa aja?
1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
2. Tidak tipis dan transparan
Hadits riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata, Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil balig) maka tidak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan". (HR Abu Daud dan Baihaqi).
3. Longgar dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk dan bentuk tubuh (tidak ketat).
Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak-lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR Muslim).
4. Bukan pakaian laki-laki atau menyerupai pakaian laki-laki.
Untuk yang sudah berhijab syar'i semoga Allah istiqomahkan untuk terus berada di tengah keterasingan sekarang ini. Jangan lupa untuk selalu perbaharui niat. Untuk istiqomah itu ga mudah lho
Banyaknya tuduhan-tuduhan yang menimpa kala itu membuat goyah benteng pertahananku. Dibilang sebagai orang yang ikut aliran sesat, teroris, jadi seperti ibu-ibu. Nanti gimana kalo punya anak? Susah dong nyusuinnya? Orang anak ulama, kyai, habib dll aja biasa aja kok hijab nya. Terus kalo kerja gimana? Kan ga boleh pake yang panjang-panjang gitu, kuno, simpel, ga modis, ga cantik. Nanti dapet jodohnya susah lho, ga ada yang mau deketin kamu. Ga bisa bebas kemana-mana, pergaulan jadi terbatas.
So my dearest, ukhti shaliha ku..
Ga usah takut dicap teroris sebab Allah bersama kita. Kalaupun polri atau Amerika sekalipun menuduh kita yang tidak-tidak lalu kemudian diadili maka engkau mati syahid sebab mempertahankan keimanan dan difitnah.
Jadi seperti ibu-ibu? Hemm kita kan emang calon Ibu untuk anak-anak kita kelak
Ga usah bingung dan ga perlu di bingungin gimana, justeru aurat kita lebih tertutup dan terjaga dari mata laki-laki yang bukan mahrom kita. Bayangin kalo 'perhiasan' kamu bisa terlihat oleh setiap pasang mata laki-laki yang jelas-jelas itu adalah hak untuk suamimu aja. Pasti gamau dong
Mau ulama, kyai, atau apapun kalo itu bukan yang Allah mau terus aku bisa apa selain taat? Nanti Allah murka lho
Kalo pekerjaan kamu menghalangi kamu untuk menaati peraturanNya udah tinggalin aja. Allah sediakan banyak tempat untuk mencari rezeki, dan Allah akan gantikan dengan yang lebih baik kalo kamu ninggalin sesuatu karenaNya. Itu janji Allah langsung lho, ga percaya? Buktinya aku sekarang masih bekerja dengan modal percaya pada janjiNya akan berikan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Disertai dengan ikhtiar pastinya. Rezeki itu bukan kita yang beli tapi Allah yang akan bagi. Gapapa ga terlihat cantik, aku malu diliatin banyak orang. Jadi nanti cantiknya buat suami aku aja he he
Iya ga ada yang mau deketin soalnya cuma laki-laki pilihan yang boleh deketin wanita pilihan. Jodoh itu kan diperoleh bukan dari seberapa cantik dan modis penampilan kita, tapi sejauh mana kita taat dan bersabar menunggu Allah memberikan yang tepat di waktu yang tepat. Tentunya Allah ridha dengan jalan dan pilihan yang kita ambil.
Kata siapa ga bisa kemana-mana? Banyak kok yang bisa traveling dengan pakaian syar'i kita. Bukan terbatas, tapi memang Allah membatasi kita supaya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Supaya kita tidak sembarangan bergaul dengan yang bukan mahrom kita. Kita dijaga sama Allah lewat syariatNya.
So, what are you waiting for?

Rabu, 23 September 2015

Rokok Itu Penopang Hidupku

Kerasnya mencari penghidupan di kota metropolitan ini membuat kita harus menegakkan badan, menguatkan pundak. Seperti yang dialami seorang bapak tua yang aku temui beberapa pekan lalu di sekitaran jalan tebet, depan duren addict tepatnya. Aku berlari kecil menghampirinya, "Pak jualan apa?" Tanyaku tidak menyadari keranjang kecil serupa nampan tergantung di leher keriputnya
"Ini... " Ragu bapak tua tersebut meneruskan kalimatnya.
Aku tertegun dan segera menyadari apa yang tengah ada di hadapanku kala itu. Keranjang kecil itu berisi rokok berbagai jenis, "Bapak jual ini?"
"Iya, ini ada rokok-rokok"
Aku sempat bingung apa yang harus ku lakukan, awalnya berniat membeli dagangannya. Tapi ternyata? Aku sama sekali tidak membutuhkan barang itu. Orang-orang di sekeliling mulai memperhatikan kami, "Cewek berjilbab kok beli rokok?!" Mungkin seperti itu tanggapan mereka saat itu, entahlah aku tidak perduli.
"Bapak kenapa jualan ini?" Tanyaku bergetar
"Abis gimana, nanti cucu-cucu saya gak bisa makan. Saya jual yang gampang aja, kalau jual kue gak laku. Kasian cucu saya nanti gak makan dek" Jawabnya pasrah dan lirih
Dadaku mulai terasa sesak dan mataku menahan buliran bening
"Berapa ini pak harganya?" Tanyaku sambil menyeka sedikit ujung mataku. Dia menjelaskan satu persatu harga dari jenis barang tersebut. Aku mengutak-atik barang dagangannya seraya bertanya sedikit. "Bapak tinggal dimana? Kesini naik apa? Anak-anak bapak pada kemana"
"Di Penggilingan Jakarta Utara, naik angkot dek. Anak mah ada" Jawabnya
Ku perhatikan dirinya, badannya sudah agak membungkuk dengan sekeranjang kecil berisi rokok-rokok dia kalungkan dengan tali seadanya di leher keriputnya, tas ransel di pundak belakangnya. Peci yang sudah lusuh dan agak menguning yang dikenakannya serta koko pendek, celana sedengkul dengan sendal jepit yang menghiasi kaki tuanya. Allah... terasa begitu sesak dadaku melihatnya, kemana anak-anaknya yang dulu dibesarkan dengan tangan kokohnya yang kini tertatih-tatih berjalan di sepanjang sudut kota menjajakan barang tersebut?!
Aku perhatikan barang dagangannya tidak utuh bungkusannya, yang membeli mungkin tidak semua. "Apa iya mereka yang membeli membayar dengan jujur? Sementara bapak ini pandangannya mungkin sudah kabur" Pikirku
Kutunjuk bungkusan paling ternama diantara dagangannya, "yang ini berapa pak harganya?"
"Itu delapan belas ribu dek, mau beli?" Tanyanya seolah tidak yakin
"Ini pak" Aku menyodorkan duit dua puluh ribu rupiah terakhir di dompetku, bapak tersebut menerimanya seperti kebingungan.
"Kenapa pak? Kembalinya ya pak?"
"Iya, bapak bingung kembaliannya"
"Ini dua puluh ribu pak uangnya, kembalinya dua ribu gak usah pak. Awas pak ini uangnya dimasukin di tas, nanti ilang"
"Iya dek, makasih ya"
Bapak tersebut kembali meneruskan langkahnya, seperti tidak ingin ditanya lebih lama lagi.
"Mau aku kemanakan barang ini, ingin aku kasih ke pegawai martabak yang sedang duduk santai di depan tokonya sore itu. Tapi.. ah jangan! Sama saja dengan aku menyuguhi mudharat untuk orang lain. Akan ku buang saja nanti di tengah jalan". Pikirku

Berkaca pada kehidupan orang lain, kehidupan yang terkadang kita inginkan namun tak sejalan dengan apa yang kita hadapi. Menyadari setiap tetes lelah adalah bentuk ikhtiar kita pada kehidupan, sejatinya tak ada seorangpun yang hidup di bawah garis kemiskinan. Namun Allah telah menempatkan segala sesuatunya sesuai dengan porsinya tersendiri. Mari tengok sedikit kembali kisah para sahabat yang tidak terkenal di bumi namun terkenal di penjuru langit tersebab amalannya. Mungkin sebagian dari kita terasa sempurna dari segi penampilan, tapi lihatlah mereka yang berpenampilan lusuh. Barangkali amalan mereka berkali-kali lipat lebih baik dibanding kita.
Karena rezeki itu bukan kita yang beli, tapi Allah yang akan bagi.

Catatan kecil perjalanan pendosa, jakarta menjelang senja

Minggu, 13 September 2015

Ketika Aku Dan Kamu Menjadi Kita

Ketika kita akan menikah maka hal paling besar yang kita harapkan dari Allah adalah berkah. Kebahagiaan sejati tentu hanya ada di akhirat. Kebahagiaan terasa sempurna bila diselingi dengan air mata kita, mencekamkan kesedihan atau kehilangan ke dalam dada kita. Sebab Allah telah mensumpahkan akan ada bala ujian dalam hidup kita dan itu akan terjadi dengan timbulnya rasa takut, resah, merasa lemah, kehilangan dll.
Ketika menikah ada yang mendoakan 'semoga bahagia dan banyak anak' sebenarnya ini adalah doa yang tidak diajarkan Rasul, karena bahagia bukan menjamin berkah. Karna ketika menikah yang kita cari adalah berkah. Maka bahagia bukan hal yang selalu ada di dalam pernikahan, bukan seperti ending pangeran yang bersama dengan putri. Tapi pangeran yang bertemu dengan putri kemudian berjihad dan berjuang di jalan Allah bersama hingga syahid.
Maka sudah diajarkan Rasulullah doa untuk orang yang menikah
با ر ك الله لك و برك عليك و جمع بينكم في خير
"Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan" (H.R Abu Daud)
Bertambahnya ketaatan diantaranya, bertambahnya rasa sayang dan cinta di keduanya, bertambahnya segala hal yang disebut sebagai musibah tetapi di dalamnya banyak keberkahan.
Maka akhwat, jangan pilih suami karena pekerjaannya, jangan pilih suami karena penghasilannya. Tapi pilihlah suami yang potensi rezekinya besar 
Ada orang yang mengira rezeki adalah sesuatu yang dapat dibeli, sungguh salah. Ada salah satu maskapai penerbangan yang mempunyai pesawat begitu banyak, tapi ternyata ia memiliki hyperphobia; takut pada ketinggian. Bisa dibayangkan bagaimana seseorang yang ingin menikmati pesawat sendiri tapi tidak bisa.
Maka rezeki itu Allah yang bagi, bukan kita yang beli. Yang kita harapkan adalah Allah himpun kita dalam ketaatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat bersama ridha Allah. Menikah bukan untuk bahagia, tapi untuk keberkahan. Biarlah kebahagiaan menjadi makmum yang mengikuti kemana saja.
Seperti dalam Q.S Ar-Rum : 21
"Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir"
Tanda kebesaran Allah yang diletakkan di ufuk, tanda kebesaran yang membawa arak menjadi hujan, tanda kebesaran Allah yang berasal dari air mani sampai terbungkusnya dengan otot-otot (lahm) sampai terbentuknya warna dengan segala rupa, itu adalah segala hal yang menakjubkan. Tanda kebesaran yang lebih besar, Allah menciptakan kalian berpasang-pasangan. Allah mencipta Adam dan pasangannya.
Jangan mencari laki-laki yang sempurna, jangan mencari wanita yang sempurna. Karena keduanya akan saling menyempurnakan, saling mendukung bahu-membahu dalam ketaatan. Karena hubungan suami istri seharusnya bukan hanya hubungan raga tapi juga hubungan jiwa.
"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah akar kecocokan jiwa, dan jika itu tidak pernah ada cinta tidak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia" -Kahlil Gibran-
Mengapa dalam agama diutamakan yang sekufu? Karena sebagai penyeimbang agar tidak terjadi keterjompangan, tapi kalau bisa saling menjaga dan menghormati tidak masalah berdampingan.
Kufu dalam agama adalah kesekufuan yang amat penting. Sekarang ta'aruf dapat dikatakan sebagai bid'ah, bid'ah dalam tanda kutip. Zaman dulu ta'aruf tidak ada. Ketika Aisyah r.a menikah maka yang di dekati adalah ayahnya. Kini ikhtiar dapat dilakukan dengan ta'aruf, proses mengenal pasangan YANG AKAN MENIKAH. Rumus jodoh: kalau sama-sama mereka taat pada Allah, sama-sama berjuang dan syahid untuk Allah dan karena Allah. Seharusnya pernikahan itu seperti nafas.
"Nikah itu sunnahku, barang siapa yang tidak menyukai maka dia bukan bagian dari golonganku" (H.R Ibnu Majah, dari Aisyah r.a)
Pernikahan sebagai Mitsaqan Ghalizan. Perjanjian yang setara dengan perjanjian Allah dengan Ulul Azmi, perjanjian antara Allah dengan Bani Israil dengan diangkatnya bukit Tursina dan perjanjian langsung antara kita dengan Allah.
Makna dari SAKINAH:
1. Supaya kalian bisa menjaga kesucian diri dengan pasangan. Bukan tentang terhindar dari percekcokan tapi terjaga dari hal keji dan munkar.
2. Supaya kalian bisa membangun ikatan lahir dan batin dengan pasangan kalian. Kala itu Rasulullah masuk ke masjid Nabawi kebetulan dalam keadaan rambut masih basah setelah mandi janabat, kemudian Rasulullah berkata kepada sahabat
"Jika engkau melihat seorang wanita lalu memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu. Sesungguhnya istrimu memiliki seluruh hal seperti yang dimiliki wanita itu" (H.R Tirmidzi)
3. Supaya kalian senantiasa cenderung kepada hati dan keluarga.
4. Supaya kalian tentram ketika bersama dan berjauhan. Bukan hanya ketika bersama tapi merasa tidak tenang ketika pasangan sedang diluar. Seperti Aisyah r.a dan Nabi Saw yang saling menguatkan, tentram muraja'ah bersama, tentram bersama duduk di pangkuan Rasulullah dan tentram ketika pasangan berjihad fii sabilillah.
Makna dari MAWADDAH:
1. Mawaddah berarti cinta yang bergelora, cinta yang menggebu-gebu.
2. Terkadang yang jadi masalah adalah bukan karena tidak cinta, namun tidak mengetahui ilmu atau cara mengungkapkan cinta.
Misalnya ketika istri menangis, Rasulullah tidak pernah menghentikan tangis istrinya, namun Rasulullah memberikan tempat untuk istrinya menangis di pundak beliau.
Ketika Rasulullah mendapat wahyu yang pertama badan Rasulullah menggigil, ketika sampai dirumah Rasulullah langsung dipapah Khadijah r.a ke kamar lalu diselimuti, selanjutnya keluar dan berdoa "Ya Allah, saya tau dia ada masalah namun Engkau lebih mampu menjaganya"
Makna dari RAHMAH
Rahmah berarti Cinta. Proses memahami sebelum dijelaskan.
Proses memaafkan sebelum meminta maaf.
Sungguh indah ketika aku dan kamu menjadi kita dibingkai dengan iman dan sama-sama memandang yang sama tentang kehidupan, tentang kematian, tentang kehidupan setelah kematian dan memandang Allah.
Barakallah...






Masjid Agung Al-Azhar
Oleh Ustadz Salim A.Fillah

Jumat, 11 September 2015

Perihal Langkah

Bila saja menunggu itu hanya selangkah jalannya, maka dapat dipastikan tidak ada ruang untuk sebuah pengharapan.
Bila saja menyamakan langkah adalah hal yang mudah bagi setiap orang, maka satu diantaranya tidak akan tertinggal lalu menyerah pada akhirnya. Bukan karena tak mampu menyamai, tapi karena pernah berada di langkah yang sama namun memilih mengambil langkah sendiri.
Bukan sebuah perjalanan namanya bila tidak ada terjal dan sandungan
Bukan sebuah perjalanan namanya bila hanya landai yang kita temui
Bukan sebuah perjalanan namanya bila ego kita tetap sama
Bagaimana pun perjalanan itu tetap ada dan berlanjut walau; satu diantaranya memutuskan mengambil langkahnya sendiri, satu diantaranya terluka karena sebab tertentu, satu diantaranya kembali pulang dan menghentikan perjalanannya.

Ko - Lian; Dermaga Kenangan

Langit mulai berubah jingga di waktu penghujung lelah para pekerja, nelayan-nelayan merapikan temali dan merapatkan kapal mereka. Seorang gadis sedang duduk di tepian dermaga memangku kelinci kesayangannya
"Mbak, lagi apa disini? Hari sudah mulai gelap loh, laut juga dah ga keliatan. Nunggu orang ya mbak?" Sahut seorang kakek yang tengah membereskan bak-bak penampung ikan
"Iya.." Jawab gadis tersebut seadanya
Sementara si kakek bingung dengan gadis tersebut karena pertanyaannya hanya dijawab dengan meng-iya kan. Gadis tersebut hanya fokus pada pemandangan di hadapannya.

Dia berparas sedikit Tionghoa, rambut sebahunya selalu diurai, mempunyai sorot mata yang tajam. Orang terdekatnya memanggilnya Lian. Sudah beberapa hari terakhir ini dia rutin mengunjungi dermaga ketika malam akan merapat, entah apa yang tengah dipikirkannya. Beberapa orang yang tinggal di tepian dermaga yang terlihat memperhatikannya pun bertanya-tanya siapa gadis berparas Tionghoa ini yang beberapa hari terakhir ini selalu menghabiskan penghujung sore di dermaga ditemani kelincinya dan kertas origami yang dibentuknya menjadi burung dan perahu

Lian Adara, seorang gadis yang berasal dari keluarga berada mempunyai cerita tersendiri. Tidak banyak orang yang tau akan penyebab dirinya sering menyendiri di dermaga. Beberapa orang yang mencoba mendekatinya untuk sekedar mengenalnya pun kini merasa enggan untuk bertanya-tanya kembali perihal kehidupannya. Mereka hanya tau bila Lian suka dengan tempat tersebut.
***

Dedaunan berjatuhan di halaman sebuah rumah mewah kala itu, seorang kakek yang sudah berusia senja mengambil sapu untuk membersihkannya.
"Li, ayo kejar aku li sini cepat. Kamu pakai sepeda mu aku lari" Sahut seorang laki-laki remaja
"Jangan lewat dekat situ, kakek sedang membersihkan daun-daun"
Mereka berlarian di sepanjang halaman berukuran luas tersebut, saling menangkap dan memeluk satu sama lain. Yang satu menjaga dan melindungi, yang satunya lagi menyayanginya begitu dalam.
"Li, kalau li besar nanti ingin jadi apa?"
"Li ingin jadi seperti yang koko mau". Ucapnya polos
"Kalau Li jadi burung Li tetap mau?"
"Li mau jadi apa saja yang koko inginkan, karena koko orang yang paling Li sayang setelah papa"
"Li, ketika Li besar nanti jadilah Li yang selalu taat pada peraturan Tuhan, jadilah gadis yang pemurah dan pemaaf, dan jadilah Li seperti burung-burung yang terbang dengan sayapnya yang indah. Koko siap jadi perahu kecil yang akan membawa Li kemana saja ketika sayap Li terluka" Ucapnya tersenyum kecil seraya mengelus rambut dan memeluk Li.
***

Belasan tahun berlalu, namun luka itu sepertinya sudah terlanjur dalam. Lian kini tengah tumbuh menjadi gadis istimewa, tapi di lain sisi terkadang keadaan psikisnya membuat dirinya tanpa sadar sering menarik diri dari keramaian dunianya. Dunia barunya kini menjelma menjadi sebuah dimensi dan ruang sunyi, tak ada siapapun kecuali Lian dengan kertas origaminya berbentuk burung dan perahu yang dia lepaskan di dermaga ketika malam akan memeluknya.