Pemuda yang biasanya tenang menghadapi segala sesuatunya malam itu ia kalut dan gelisah. Memikirkan akan mimpi dan cita-cita yang tinggal menunggu waktu mempersilakannya atau mengorbankan keluarga kecilnya. Pemuda tersebut bersiap menunaikan sunnah 2 rakaatnya untuk meminta petunjuk keputusan apa yang akan diambilnya. Sajadah biru bergambar kubah masjid peninggalan almarhum ayahnya itu menjadi saksi munajatnya malam itu. Tilawah tak lupa ia lantunkan setelahnya.
Pemuda itu merebahkan badannya menatap langit-langit kamar, mengenang hal-hal yang amat istimewa bersama kedua orangtuanya dulu. Terbayang jelas wajah penuh sahaja dan kehangatan abinya-- sosok hangat yang merangkul keluarga kecil nan sederhana hingga ketika Allah memanggilnya kembali. Kenangan akan perjuangan umminya untuk menyekolahkannya hingga ke jenjang yang lebih tinggi masih terngiang dalam benaknya, “Tentu tidak mudah untuk ummi membawaku sampai di titik ini tanpa abi disampingnya. Maafkan aku mi jika pada akhirnya surga itu tergores” Ucapnya lirih
Belasan tahun berlalu tanpa kehadiran sosok abinya membuat dirinya harus berusaha keras menjadi pengganti abinya di tengah-tengah keluarga sederhananya, mengajar privat anak-anak tingkat SMP menjadi salah satu solusi untuk mempertahankan ekonomi keluarganya. Pemuda kecil itu yang belum mengerti seutuhnya bagaimana kehilangan seorang abinya hanya tau dan merasakan bila dirinya kala itu amat terpukul ketika menyaksikan sesosok penuh sahaja terbaring di sebuah ruangan dengan alat-alat medis terpasang disana-sini. Ada ruang yang menyisakan luka membuat dirinya secara tiba-tiba berlari menuju lorong rumah sakit, duduk terdiam memeluk kedua lututnya membayangkan sosok yang baru saja dilihatnya, “apa yang sedang terjadi pada abi? sudah hampir 3 bulan lamanya tidak tidur dirumah dan sekarang tidak sadarkan diri. Bagaimana mungkin bila abi tidak akan pernah kembali lagi pada ummi, padaku, pada Shafiyyah juga Fathima? Abi, kami rindu dan menunggu kepulanganmu ke rumah kecil kita” Ucapnya lirih sambil menelungkupkan kedua tangan ke wajahnya. Ketika beranjak remaja perlahan mulai mengerti bahwa dia harus membantu umminya mengerjakan segala sesuatunya, merapikan rumah, mengerjakan tugas sekolah tanpa bimbingan dari abinya seperti ketika abinya masih ada, dan membantu merawat 2 adik perempuannya.
***
Faiz Alfaridzi, laki-laki muda, badannya tegap, pemilik senyum simetris dan kedua bola mata yang coklat . Terlahir dari keluarga yang sederhana, umminya seorang pedagang kue keliling, mempunyai 2 adik perempuan Shafiyyah dan Fathima yang masih sekolah di tingkat Madrasah Aliyah.
Dia memiliki impian dan cita-cita yang besar. Setelah bangkit dari luka masa kecilnya Alfa mulai memahami bahwa dirinya mempunyai peran yang amat penting di tengah-tengah keluarga sederhananya. Menjadi seorang kepala keluarga merupakan awal langkah baru baginya, mulai dari menjadi office boy, tukang fotocopy hingga kini menjadi guru privat dan les biola dia lalui demi berlangsungnya kehidupan keluarganya. Umminya tidak pernah mengetahui bahwa anak laki-lakinya itu pernah bekerja sebagai office boy dan tukang fotokopy, sepengetahuannya Alfa hanya kuliah dan menjadi guru les. Alfa tidak ingin umminya tau bila dia bekerja sedemikian rupa karena umminya pernah berpesan untuk bersungguh-sungguh dalam pendidikannya saja. Alfa tidak ingin terluka kembali karena melihat air mata umminya jatuh, baginya cukup di hari kepergian abinya saja ummi meneteskan air mata karena terluka hatinya.
Hari-hari berlalu seperti biasa dengan aktifitas rutinnya, kuliah, mengajar priviat dan memperhatikan keluarga kecilnya ketika selesai beraktifitas diluar. Menanyakan perkembangan sekolah adik-adiknya dan usaha kecil umminya yang sudah dimulai sejak abinya meninggal karena kelainan jantung. Membayangkan berkas-berkas study nya sedang di proses. Perlahan Alfaridzi mengutarakan keinginan akan mimpi dan cita-citanya yang besar.
“Kamu yakin nak? Apa tekadmu sudah bulat untuk melanjutkan study kedokteranmu disana?” Ummi kembali mempertanyakan niat anak laki-laki semata wayangnya itu
“In Syaa Allah mi, Alfa sudah bertekad untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bisa membantu orang lain agar tidak mengalami apa yang abi dulu alami” Kenang Alfa
“Semoga niat baikmu disaksikan dan dicatat oleh malaikat nak” Ucap Ummi sambil membelai rambut anak laki-lakinya diiringi senyum kecil.
“ Kamu boleh mempunyai mimpi besar dan mewujudkannya, tapi ada hal yang perlu kamu ingat. Kita disini ada keluarga kecil yang membutuhkan sosok pengganti abi sebagai pemimpin, ada 2 adik perempuanmu yang membutuhkanmu. Kamu tau bagaimana keadaan finansial keluarga kita selepas kepergian abi. Dengan hasil penjualan kue ummi yang tidak seberapa dipakai untuk membiayai kehidupan kita, dibantu dengan kamu mengajar privat dan sisanya Allah yang mencukupi kekurangannya. Tidak ada orangtua yang tidak ingin melihat anaknya sukses dan membanggakan Kak” Ungkap ummi menahan air mata di sudut kelopak matanya yang mulai sendu.
Alfaridzi terdiam sejenak, mengalihkan pandangannya keluar jendela yang setengah tertutup gorden abu tua, mengisyaratkan dirinya bingung harus bagaimana. “Istikharah lah nak, minta petunjuk pada Allah. Ummi akan menanti jawaban dari niat baikmu” Ucapnya seraya meninggalkan Alfaridzi yang masih menatap keluar jendela.
***
Di sudut ibukota waktu subuh menjelang. Masih dengan beralaskan sajadah Alfaridzi terbangun, sadar bahwa dirinya ketiduran selepas qiyamul lail dinihari. Selang beberapa menit kemudian setelah bergegas untuk berwudhu suara adzan terdengar samar-samar dari kamar sederhananya yang dihiasi dengan gambar dan artikel seputar Timur Tengah tersebut. Alfaridzi segera melangkahkan kakinya menuju surau dekat rumahnya dengan Alqur’an pocket berwarna coklat di tangan kanannya. Salah satu hal rutin yang dilakukannya adalah menghabiskan waktu setelah shalat subuhnya dengan tilawah dan muraja’ah hafalannya sampai menjelang syuruq yang dilanjutkan dengan dhuha.
Ummi yang sedang menyiapkan kue-kue jualannya melirik ke arah Alfa, sementara Alfa melamun membayangkan sisa-sisa percakapan dengan umminya semalam
“Apapun jawabanmu sampaikanlah pada ummi nak” Ummi tiba-tiba membuyarkan lamunannya
“Alfa sudah menyelesaikan semua mi, Alfa akan membantu ummi saja bersama Shafiyyah dan Fathima, In Syaa Allah akan Allah gantikan dengan yang lain yang lebih baik” Jawab Alfa seraya senyum kecil membayangkan berkas-berkas studynya yang tidak jadi dikirim ke Madinah. Memutuskan untuk tidak melanjutkan studynya menjadi keputusan terberat baginya. Bagaimanapun Alfa harus mengikhlaskan mimpi besarnya demi menjaga hati umminya.
***
Ummi yang kini usahanya sudah mulai berkembang beriringan dengan Alfa yang saat ini sedang fokus membantu umminya juga sudah mempunyai tempat les biola sendiri serta kedua adiknya yang tengah melanjutkan study S1 nya.
Di sela-sela kesibukannya membantu umminya, tawaran beasiswa study kedokterannya kembali menghampiri untuk kedua kalinya. Dosennya mengirim attachment file kedokteran di Turki. Alfa kembali berfikir, apakah kali ini mimpinya akan benar-benar terwujud atau memang harus kembali mengikhlaskan bahkan melupakannya. Umminya yang sejak beberapa menit lalu memperhatikan anak laki-lakinya itu dari balik pintu kamarnya yang setengah terbuka mulai memahami keinginan anaknya yang sempat tertunda sebelumnya.
“Berangkatlah nak, ambil kesempatan itu” Ucap ummi mengagetkan Alfa
“Ummi…” Alfa hanya menatapnya dengan rasa tak percaya
“Ummi tau kamu masih menginginkannya bukan? Maaf nak, bila Ummi tidak bisa memenuhi inginmu sewaktu ingin ke Madinah kemarin, semoga kali ini bisa membawamu menuju gerbang suksesmu” Ucap ummi seraya menghampiri Alfa, tersenyum mengelus pundak anak laki-laki satu-satunya itu.
Alfa tersenyum penuh haru, matanya berkaca-kaca, tidak mengira bila mimpinya kini akan segera terwujud meskipun bukan di tempat impiannya, tempat para Nabi dan syuhada. Tapi Allah memilihkan tempat yang terbaik untuknya, tempat dimana Alfa akan belajar segala hal dengan izin dan doa pengharapan dari umminya. Alfaridzi mulai menyiapkan segalanya, melangkahkan kakinya di kota pusat peradaban Islam penghubung Asia dan Eropa tersebut.