Selasa, 04 Februari 2014

Si Bapak Tua

Selasa pagi kali ini begitu sejuk, tepatnya hujan. Tapi tak sedikitpun mengalahkan niat perjalananku ini. Perjalanan kemana? Ke tempat yang berisi orang-orang yang sedang belajar memaknai setiap surat cinta dariNya.
Bukan, bukan soal itu yang akan aku tulis, bukan pula cuaca hari ini. Tapi sebuah pemandangan di setiap selasa pagi yang selalu membuat hatiku terketuk. Yaitu "Bapak Tua" yang selalu hadir di tempat itu untuk ikut turut serta di dalamnya, beliau selalu melewati tempat dimana aku duduk. Aku selalu merasa haru setiap kali melihatnya, terharu akan sosoknya yang secara fisik sudah ringkih tapi masih mampu untuk tegak dalam belajar memaknai surat-surat cinta dari Allah. Beliau yang dengan tas kecil hitam berselempang di bahunya yang sudah bungkuk berjalan kesana kemari entah itu untuk ke kamar mandi, berwudhu, ataupun membeli jus. Itu yang selalu ku hafal. Pernah beberapa kali beliau mengunjungi meja ku, untuk melihat dan bertanya-tanya mengenai buku-buku terbaru. Dengan senang hati aku menjelaskan segala hal yang ia pertanyakan. Merasa malu pada diri ketika melihat sosok beliau, sepenglihatanku beliau begitu semangat.
"Nak, buku yang baru yang mana?" tanya beliau sambil membuka buku-buku yang terpajang
"Yang ini, ini, ini, dan ini pak" jawabku
"Saya mau buku menulis quran ini ya 2 set"
" 2 set pak??" Jawabku kaget saat mendengar beliau bilang seperti itu.
"Iyaa 2 set nak" jawab beliau seakan merasa heran dengan jawabanku tadi
"Bapak mau membawa semuanya hari ini? Mobil bapak dimana? Biar saya bawakan ke mobil bapak"
"Ndak usah nak, bapak naik angkot sendiri kesini. Biar bapak saja nanti yang bawa selesai belajar ini"

Allahu, bapak itu membuatku meneteskan air mata seketika. 2 set itu bukanlah berisi buku yg enteng. 1 set saja yang berisi 10 buku sudah begitu berat, bahkan orang-orang muda yang membeli barang tersebut pun menitipkan sampai minggu depan untuk dibawa setengah-setengah. Sedangkan beliau? Beliau begitu hebat dengan kondisi fisik yang sudah ringkih dan berkendaraan umum MAMPU membawa semuanya sendiri. Bahkan tak jarang beliau lah yang memborong buku-buku yang terpajang.
Ku renungkan kejadian tersebut, aku memarahi diri. Betapa hampir setiap harinya aku mengeluh hanya karena membereskan dan membawa barang yang menurutku berat.
Setiap kali setelah beliau selesai membeli buku-buku dengan judul yang berbeda aku selalu berdoa untuknya, Yaa Allah berkahilah setiap perjalanan dan usia beliau.

"Orang yang paling bahagia adalah orang-orang yang dihatinya selalu merasa cukup"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar