Rabu, 05 Agustus 2015

Kota Istimewa; Papa

Stasiun tujuan: Jogyakarta

Aku tersenyum sinis memandang tiket kereta api di tanganku. Ya, Jogya. Kota kelahiran papaku, kota yang menjadi the one of list my destination, kota yang menyimpan segudang pertanyaan dan pernyataan. 

Stasiun Gambir, pukul 20.15
Aku menuju peron jalur keberangkatan kereta yang kutumpangi, Argo Lawu. Beberapa saat kemudian datang keretanya
"Gerbong 8 ya pak?"
"Iya mba, masuk aja"
Ku langkahkan kaki mencari nomor seat yang tertera di tiket, 11A. Ku ambil posisi ternyaman untuk perjalanan selama 8 jam ke depan, pojok dekat kaca jendela. Posisi favorit
Kereta mulai melaju dengan lambat sementara suara merdu protokol kereta mulai terdengar, ku geser gorden hijau yang menutupi keseluruhan kaca jendela untuk menikmati langit malam.

"Pa, kurang lebih 12 tahun takdirNya memisahkan dimensi kita dan sekarang aku diberikan kesempatan melangkahkan kaki menuju kota kelahiranmu, meski ku tau bukan keraton-mu yang menjadi tujuan utama perjalananku. Mungkin nanti setibanya aku di Jogya akan ku sempatkan untuk melihatnya sebentar"

Si mbah pernah bercerita saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SMK awal. Papa meninggalkan kehidupan keraton karena tidak ingin menjadi pilot sesuai dengan permintaan orangtuanya, tidak kerasan kalau kata orang jawa. Si mbah memberitahu kalau cucunya ini masih mempunyai keturunan darah biru, aku hanya menjawabnya dengan nyeleneh "Wong darahku merah kok mbah hehehe"

Untuk apa bergelar darah biru bila taqwa yang kita miliki rendah
Untuk apa bergelar darah biru bila kita tidak bisa menjaga norma-norma yang semestinya
Untuk apa bangga bergelar darah biru bila silaturahim keluarga putus dalam ketidakjelasan

Stasiun Jogyakarta, pukul 03.45

"Kepada para penumpang yang akan turun di stasiun Jogyakarta silakan bersiap-siap. Stasiun Jogyakarta" Suara merdu protokol kembali terdengar
Udara subuh menyambutku, ku angkat tas kerilku menuju keluar stasiun. Melihat para pendaki menggendong keril keluar disaat yang bersamaan, sudah bisa ditebak tujuannya adalah merapi-merbabu.
"Ah alam, merindumu ternyata sesakit ini. Selamat pagi Jogya, selamat pagi para pendaki" 

Alun-alun Jogyakarta, pukul 10 malam

Wedang ronde, jagung bakar beserta susu hangat menjadi teman yang pas ketika itu sambil menikmati udara malam kota gudek. Ku nikmati minumanku sambil memandang ke arah jam 12, tepatnya sepasang pohon beringin dimana kepercayaan masyarakat sekitar adalah barang siapa yang bisa melewati kedua pohon beringin tersebut dengan mata tertutup tanpa melenceng akan terpenuhi segala permintaannya. Sayangnya banyak yang sudah mencoba berkali-kali tetapi tetap saja gagal mencoba tradisi itu hingga bisa menyebrang dengan sempurna. Padahal secara logika, jarak antara 2 pohon beringin tersebut cukup lebar untuk di lewati.
Sebagian besar masyarakat juga percaya jika 2 pohon beringin tersebut merupakan gerbang ghaib yang menghubungkan keraton Jogja dengan pantai selatan yakni istana ratu nyi roro kidul. Konon katanya hal itulah yang menyebabkan banyak tentara penyerang keraton Jogja yang kehilangan kekuatannya setelah melewati 2 pohon beringin tersebut. Sehingga kerajaan tetap aman hingga sekarang. Bahkan mereka juga menganggap bahwa pohon beringin tersebut merupakan jimat khusus bagi kerajaan dan raja. Karena itu, siapa saja yang ingin mencelakai raja dan kerajaan akan gagal karena kekuatan akan hilang begitu melewati 2 pohon beringin tersebut.

Ku pandangi sekeliling alun-alun dan keraton Jogyakarta
"Ya, ini tempatmu dulu singgah pa. Entah cerita apa yang ku dapat segala hal tentangmu, yang jelas luka dan rindu itu masih berbaur menjadi satu. Selama kurang lebih sudah 12 tahun. Andai sosokmu masih ada saat ini, tentu anak kesayanganmu ini yang ketika kecil bergelayut di tangan gempalmu maka saat ini di umurku yang menginjak kepala 2 bukan es rasa melon lagi yang kuminta, bukan bergelayut di tangan gempalmu lagi, pa. Tapi nasehat yang kuminta darimu, pundak kokohmu yang ku inginkan untuk bersandar menceritakan segala kisahku dan hadirnya sosokmu sebagai wali di hari bahagiaku nanti" Tatapanku mengarah ke langit, menahan butiran bening yang berkumpul di kelopak mata.

DIA pasti tau aku rindu sosoknya, DIA pasti tau aku ingin kehadirannya, DIA pasti tau aku membutuhkan hadirnya sebagai penguat
Tapi DIA jelas lebih menginginkannya dan lebih rindu padanya
Dan sudah pasti ada DIA yang menguatkanku sekarang..

Jogyakarta, penghujung bulan Juli 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar