Aku, dengan sejuta karakter yang melekat pada diriku. Entah bagaimana orang menilainya, masing-masing dari mereka mempunyai sudut pandang yang berbeda. Dengan segala kekurangan dan kelebihan aku jalani dengan syukur diiringi evaluasi terhadap diri. Semakin dewasa semakin mengerti ada banyak hal yang menjadi titik perubahan pada diri, sadar bahwasanya banyak lubang yang harus ditutupi.
Aku menyukai bacaan oleh karenanya aku juga suka menulis dan mengoleksi novel dan buku bacaan lainnya. Kata Ibu, "beli buku lagi trus dikumpulin di lemari trus bikin debu?!"
Aku menyukai hujan dan aroma petrichor oleh karenanya aku suka berlama-lama di tengah hujan. Orang bilang, "cepat jalannya, hujan sudah mulai deras nanti kamu kuyup lalu sakit". Sementara aku hanya menanggapinya dengan memandangnya sepintas.
Aku menyukai alam, entah itu gunung, pantai dan tempat-tempat lainnya yang mengundang kedamaian tersendiri. Aku menunggu pendakian Rinjani bersama seseorang yang kelak akan menjadikanku tempat kepulangannya.
Aku menyukai setiap perjalanan, ada banyak list destinasi yang ingin dikunjungi meskipun masih nyicil hingga saat ini. Salah satunya Turki. Aku jatuh cinta pada kota Peradaban itu, bahkan jauh sebelum Erdogan menjadi pemimpinnya. Dan kini cinta itu semakin menjelma, menjelma menjadi sekeping harapan dan impian yang semakin besar "Kapan aku bisa berkunjung ke kota Peradaban dengan hukum Islam yang luar biasa membuat setiap orang berdecak kagum dengan Erdogan kini sebagai pemimpinnya? Kapan aku bisa menuliskan cerita perjalananku di penjuru Turki?!"
Aku menyukai langit. Sebab disana tersimpan banyak cerita dengan Allah ku, sebab disana banyak ribuan pengharapan yang telah menjelma menjadi sebuah doa, sebab disana ada senja yang selalu ku rindukan kepulangannya. Ada milky way yang menghiasi ketika malam kembali menyapa.
Aku menyukai kota Jogya dan Bandung, sebab disana adalah sebaik-baik tempat jatuh cinta.
***
"Ka, aku izin left grup owop ya. Mau menghilang dari dunia kepenulisan heheu. Makasih uda diizinkan bergabung dan mengenal kalian, mengenal penulis-penulis hebat, juga untuk semangatnya mengingatkan untuk terus menulis. Maaf gak pernah setor tulisan he he, salam untuk semua penghuni owop ya. Pokonya proud of all"
You left
"Putri kenapa left?"
----------------------------------
Sederet kalimat tersebut adalah keputusanku ketika feeling stuck! Seriously! Ragu sebenarnya left dari grup owop, banyak ilmu dan sederet inspirasi. Tapi lagi-lagi merasa kecil, merasa tidak produktif berada di grup itu tapi tidak mengembangkan tulisan. Entah kenapa, beberapa bulan terakhir ini sulit untuk menuangkan aksara. Bahkan tulisan ini pun akan menjadi curhatan dari penulis abal-abal. Juga adanya project membuat film dakwah pendek, sejujurnya aku buntu. Stuck di bagian naskah, setiap kali coba membuat lagi-lagi hanya terpaku depan laptop. Ku baca kembali novel-novel koleksiku yang tersusun berdiri rapi di lemari dengan debu sebagai teman akrabnya, kubuka blog-blog teman--dimana isinya very inspiration! Hasilnya? Nihil, sampai saat ini tak ada cerita yang dapat kutuliskan untuk project ini. Bahkan ketika bertemu dengan tim skript pun tidak ada ide tulisan yang bisa menjadi kontribusiku hiks. Ketika teman-teman menanyakan, "mana tulisannya?" Aku hanya bisa menjawab dengan straight face. Sejujurnya ku katakan pada tim aku stuck untuk membuat tulisan. Kemudian Ka Fikri menanyakan ketika kami Tim skript berkumpul, "emang passionnya dimana? Nulis kan? Yauda tulis aja apa yang terlintas di depan kamu, inspirasi itu datangnya kapan dan dimana aja, gak perlu mengkhususkan waktu malam untuk menulis, ya walaupun kamu bilang inspirasi ada ketika tengah malam..." Dan sederet motivasi yang dia contohkan ketika itu. Ka Fikri yang ku kenal sebagai kembar jomlo, dia adalah teman satu grup di owop juga sekaligus motivator untuk dunianya hehe.
***
Senja mulai menjelma kala itu di kota Bogor, ku pandangi langit lekat-lekat.
"Pengen nulis lagi rasanya, rindu. Meskipun entah apa yang akan ku tulis. Aku rindu memandang langitMu secara dekat, rindu moment senja, rindu hujan yang membawa aroma petrichor. Dan rindu papa, selalu” Ku nikmati udara kota hujan sore itu. Sama dengan Jakarta saat ini, kemarau.
Kamu menghancurkan dunia kecilku yang sedang ku bangun perlahan. Mimpiku menjadi penulis penuh manfaat yang karyanya dapat dinikmati orang banyak redup seketika, mimpiku menjadi penulis untuk dunia kecilku hilang; setidaknya untuk saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar