Senin, 25 Januari 2016

Der Winter #2

Udara Paris Van Java pagi ini angin bertiup dari arah utara melambaikan setiap nyiur yang menyambut setiap penduduk untuk beraktifitas. Sayangnya enggan untuk sekedar keluar rumah, udara lumayan sejuk selepas hujan yang mengguyur semalaman tadi.
Aleeya sudah duduk dihadapan laptopnya, di salah satu ruang ternyamannya. Kembali membuka tugasnya dan memulai hobbinya, mengirim artikel ke sebuah harian media cetak Bandung. Segelas coklat hangat menemaninya pagi itu. Matanya masih menahan kantuk sisa semalam membuat tugas untuk murid-muridnya.

"Lee, kau ada di rumah hari ini? Aku berencana akan terbang kesana sore ini"

Sebuah email kembali masuk darinya. Aleeya mengerjapkan matanya, berusaha membuka lebar-lebar kedua matanya. "Oh Keenan! Ku mohon jangan hari ini, Kee" Aleeya menghembuskan napas, kemudian terpekur di mejanya. Selang beberapa menit kemudian Aleeya membalas email darinya.

"Sudah bosankah kau disana, Kee? Alasan apa yang membuatmu ingin ke Bandung hari ini? Tidak bisakah di lain waktu? Aku sibuk saat ini. Maaf"

"Aku ingin bertemu kau, Lee. Bertemu dan bermain dengan anak didikmu". Keenan membalas dengan menyelipkan emoticon smile di akhir kalimatnya.

"Haruskah kita bertemu saat ini, Kee? Sungguh, entah mengapa aku tidak ingin bertemu denganmu saat ini". Aleeya mendongakkan kepalanya ke langit-langit kamar, mengabaikan balasan email dari Keenan. Air matanya mulai menetes perlahan.

"Bila kau tidak berkenan aku akan tetap terbang ke Bandung sore ini, Lee. Aku sudah memesan tiket penerbangan, setidaknya aku tetap bisa mengunjungi tempat itu walaupun tidak bersama denganmu. Kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran. KL.". Keenan membalasnya kembali dengan memberikan simbol pertemanan mereka sewaktu bermain di atas bukit dulu.

"Sejujurnya aku rindu dengan kebersamaan kita dulu, kebersamaan yang kini telah pudar perlahan terbunuh aktifitas kita masing-masing. Kotak kecil yang kau buat dari bambu bertuliskan KL itu kini masih ada, Kee. Berdebu, serupa dengan kisah pertemanan kita saat ini. Andai kau tidak mengambil keputusan itu, tapi aku juga tidak bisa dan tidak mungkin mencegahmu untuk tidak berangkat kesana. Aku hanya mampu menyampaikan pesanku pada Tuhan, selain melalui surel ini tentangmu--aku merindumu, Kee..". Awan kembali mendung disusul dengan rintik-rintik hujan yang mulai menciptakan embun di kaca jendelanya. Aleeya menutup jendelanya.
***

Pukul 15.45 waktu Bandung
Mendung masih bergelayut di langit Bandung, Aleeya sudah berada di atas bukit tempat bermainnya dulu bersama Keenan. Kemeja lengan panjang, jins berwarna belel dan sepatu kets navynya menemainya sore itu. Semilir angin sore mengibaskan rambut hitam panjangnya yang terurai. Duduk memandang alam dari atas bukit adalah cara Aleeya melepas rindu pada sosok yang kini tanpa sadar telah menghuni ruang pojok hatinya. Selama kurang lebih lima belas tahun mereka bersama-sama, kini jarak itu telah nyata adanya. Sekitar dua puluh menit Aleeya duduk diatas sana menghembuskan napas kerinduan, sebentar memang. Dirinya tidak ingin berlama-lama tanpa Keenan diatas sana, percuma katanya. Hanya semakin menyesakkan dada, membuat rindu itu hadir semakin jauh.
"Aku percaya Kee, bahwa kau memang akan kembali ke tempat ini. Tapi entah, siapa yang akan membersamaimu di tempat kita ini". Aleeya bergumam pada diri harus segera beranjak pergi dari tempat itu. Hujan kembali mengguyur kota Bandung.
Selang beberapa waktu kemudian pesawat Keenan mendarat di Bandara Internasional Husein Sastranegara, tepatnya pukul 15.50. Keenan bersiap menuju bukit itu, hujan yang mengguyurnya tidak menahan langkahnya. Keenan berjalan menyusuri pinggiran jalan mencari taksi untuk membawanya ke tempat kenangan itu. Setelah sepuluh menit duduk di dalam taksi, ia mengeluarkan ponselnya. Mengarah pada aplikasi emailnya yang secara sengaja dipasang sebelum keberangkatannya ke Bandung. Seraya menghembuskan napasnya dengan penuh harap dia bergumam dalam hati, "Baiklah, aku akan ke tempat itu, Lee. Tanpamu".
"Mas, bengong aja. Pasti lagi nunggu pesan balasan ya dari teman wanitanya?" Supir taksi tiba-tiba mengeluarkan suara.
"Heh, ah bapak ini bisa saja" Keenan mengernyitkan dahi, alisnya yang menyatu amat kentara ketika dirinya seperti itu.
"Ini Pak, sisanya untuk Bapak" Keenan mengeluarkan dua lembar seratus ribuan, kemudian dia berjalan menyusuri sedikit kelokan jalan menuju atas bukit. Sesampainya diatas sana, Keenan mengambil posisi duduknya. Posisi yang serupa ketika bersama Aleeya.
Keenan duduk memanjangkan kakinya, menikmati udara kota Bandung sore itu.
"Sudah lama sekali rasanya aku tidak mengunjungi tempat ini, tempat kisah pertemanan kita berawal. Aleeya Syailendra, aku rindu saat aku akan mengambil gambarmu di tempat ini, rindu membuatmu kesal karena tingkahku dulu". Keenan tersenyum kecil, memorinya sedang berusaha menghubungkan peristiwa-peristiwa penuh cerita tersebut. Matanya terpejam sejenak mengingat segala hal yang pernah dilakukannya bersama Aleeya kecil. Sesaat kemudian tersadar, ada ranting di samping tempatnya duduk. Keenan bingung, berusaha menerka namun ia tak ingin salah prasangka.
Tempat itu adalah tempat Keenan dan Aleeya semasa kecil menghabiskan hari, cukup sepi. Tak ada satupun orang yang mengetahuinya selain mereka berdua dan papa Keenan yang kini telah meninggalkannya lebih dulu. "Kau kah yang datang ke tempat ini, Lee? Tapi kapan? Bersama siapa kau ke tempat ini? Kau pernah mengatakan padaku, bahwa kau tidak berani naik ke atas bukit ini sendiri. Kau juga pernah berjanji kala itu setelah aku selesai membuatkan kotak dari bambu itu, bahwa kau tidak akan mengunjungi tempat ini tanpaku. Atau kau..." Keenan kembali diam, mencoba mencernanya. "Ah sudahlah, mungkin hanya ranting yang jatuh, bukan dirimu yang hobbi mengukir sesuatu dengan ranting ini" Keenan berusaha menenangkan dirinya.

Gerimis yang menyapanya sejak kedatangannya di bandara sore itu ternyata tak kunjung berhenti, Bandung dalam beberapa hari ini sedang diguyur hujan secara tiba-tiba. Rintikan hujan membuat Keenan sejenak merebahkan diri diatas rumput yang basah, membiarkan wajahnya terkena air langsung dari langit.
"Kau tau, Lee? Saat ini di Jerman sana sedang musim dingin, aku memutuskan untuk ke kotamu dan ternyata disini juga hujan. Mungkin berbeda dinginnya, dingin di kotamu mengantarkanku pada seberkas memori kita yang masih tertahan disini".
***

Pukul delapan malam Keenan sudah berada di salah satu penginapan, bersiap-siap merapihkan diri. Tak lama ia membuka laptopnya, mengirimkan sebuah pesan kepada Aleeya.
Aleeya sadar sebuah pesan masuk, namun diabaikannya. Ia lebih memilih menyandarkan kepala pada kursi di hadapan mejanya. Sesaat kemudian ia tersadar Keenan akan datang ke kotanya. Dibukanya kotak masuk pada emailnya.
"Lee, aku sudah sampai di kotamu sore tadi diiringi hujan yang mengguyur dengan damai. Aku berhasil mengunjungi tempat kita dulu, tak banyak berubah. Mungkin hanya ceritanya saja yang kini berubah. Lupakan. Biar ku tebak, pasti kau sedang menikmati malammu dari balik jendela. Yang ku tahu, langit malam Bandung indah"

Aleeya bingung membalasnya, jari-jarinya hanya memainkan papan ketik laptopnya yang tak menghasilkan satu kalimat pun untuknya. Dirinya kembali menyandarkan kepalanya ke kursi.
Beberapa saat kemudian keluar sebuah kalimat balasan.
"Syukurlah kau mendarat di kota ku dengan selamat. Selamat menikmati kota Bandung kembali"
Aleeya menutup laptopnya, merebahkan tubuhnya di balik selimut yang lebih hangat dari cuaca bandung saat ini.
Keenan melihat balasan surel dari Aleeya, dipikirnya akan mendapatkan balasan yang panjang, semisal cerita mengenang masa kecilnya. Tapi lagi-lagi Keenan harus berbesar hati menerima balasan Aleeya yang sedemikian singkat dan tak begitu bermakna.
"Tenang, Lee. Aku dapat pastikan kita akan bertemu kembali di lain musim, di tempat kita berawal".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar