Jumat, 11 September 2015

Perihal Langkah

Bila saja menunggu itu hanya selangkah jalannya, maka dapat dipastikan tidak ada ruang untuk sebuah pengharapan.
Bila saja menyamakan langkah adalah hal yang mudah bagi setiap orang, maka satu diantaranya tidak akan tertinggal lalu menyerah pada akhirnya. Bukan karena tak mampu menyamai, tapi karena pernah berada di langkah yang sama namun memilih mengambil langkah sendiri.
Bukan sebuah perjalanan namanya bila tidak ada terjal dan sandungan
Bukan sebuah perjalanan namanya bila hanya landai yang kita temui
Bukan sebuah perjalanan namanya bila ego kita tetap sama
Bagaimana pun perjalanan itu tetap ada dan berlanjut walau; satu diantaranya memutuskan mengambil langkahnya sendiri, satu diantaranya terluka karena sebab tertentu, satu diantaranya kembali pulang dan menghentikan perjalanannya.

Ko - Lian; Dermaga Kenangan

Langit mulai berubah jingga di waktu penghujung lelah para pekerja, nelayan-nelayan merapikan temali dan merapatkan kapal mereka. Seorang gadis sedang duduk di tepian dermaga memangku kelinci kesayangannya
"Mbak, lagi apa disini? Hari sudah mulai gelap loh, laut juga dah ga keliatan. Nunggu orang ya mbak?" Sahut seorang kakek yang tengah membereskan bak-bak penampung ikan
"Iya.." Jawab gadis tersebut seadanya
Sementara si kakek bingung dengan gadis tersebut karena pertanyaannya hanya dijawab dengan meng-iya kan. Gadis tersebut hanya fokus pada pemandangan di hadapannya.

Dia berparas sedikit Tionghoa, rambut sebahunya selalu diurai, mempunyai sorot mata yang tajam. Orang terdekatnya memanggilnya Lian. Sudah beberapa hari terakhir ini dia rutin mengunjungi dermaga ketika malam akan merapat, entah apa yang tengah dipikirkannya. Beberapa orang yang tinggal di tepian dermaga yang terlihat memperhatikannya pun bertanya-tanya siapa gadis berparas Tionghoa ini yang beberapa hari terakhir ini selalu menghabiskan penghujung sore di dermaga ditemani kelincinya dan kertas origami yang dibentuknya menjadi burung dan perahu

Lian Adara, seorang gadis yang berasal dari keluarga berada mempunyai cerita tersendiri. Tidak banyak orang yang tau akan penyebab dirinya sering menyendiri di dermaga. Beberapa orang yang mencoba mendekatinya untuk sekedar mengenalnya pun kini merasa enggan untuk bertanya-tanya kembali perihal kehidupannya. Mereka hanya tau bila Lian suka dengan tempat tersebut.
***

Dedaunan berjatuhan di halaman sebuah rumah mewah kala itu, seorang kakek yang sudah berusia senja mengambil sapu untuk membersihkannya.
"Li, ayo kejar aku li sini cepat. Kamu pakai sepeda mu aku lari" Sahut seorang laki-laki remaja
"Jangan lewat dekat situ, kakek sedang membersihkan daun-daun"
Mereka berlarian di sepanjang halaman berukuran luas tersebut, saling menangkap dan memeluk satu sama lain. Yang satu menjaga dan melindungi, yang satunya lagi menyayanginya begitu dalam.
"Li, kalau li besar nanti ingin jadi apa?"
"Li ingin jadi seperti yang koko mau". Ucapnya polos
"Kalau Li jadi burung Li tetap mau?"
"Li mau jadi apa saja yang koko inginkan, karena koko orang yang paling Li sayang setelah papa"
"Li, ketika Li besar nanti jadilah Li yang selalu taat pada peraturan Tuhan, jadilah gadis yang pemurah dan pemaaf, dan jadilah Li seperti burung-burung yang terbang dengan sayapnya yang indah. Koko siap jadi perahu kecil yang akan membawa Li kemana saja ketika sayap Li terluka" Ucapnya tersenyum kecil seraya mengelus rambut dan memeluk Li.
***

Belasan tahun berlalu, namun luka itu sepertinya sudah terlanjur dalam. Lian kini tengah tumbuh menjadi gadis istimewa, tapi di lain sisi terkadang keadaan psikisnya membuat dirinya tanpa sadar sering menarik diri dari keramaian dunianya. Dunia barunya kini menjelma menjadi sebuah dimensi dan ruang sunyi, tak ada siapapun kecuali Lian dengan kertas origaminya berbentuk burung dan perahu yang dia lepaskan di dermaga ketika malam akan memeluknya.

Senin, 10 Agustus 2015

Aku; Rangkaian Cerita

Aku, dengan sejuta karakter yang melekat pada diriku. Entah bagaimana orang menilainya, masing-masing dari mereka mempunyai sudut pandang yang berbeda. Dengan segala kekurangan dan kelebihan aku jalani dengan syukur diiringi evaluasi terhadap diri. Semakin dewasa semakin mengerti ada banyak hal yang menjadi titik perubahan pada diri, sadar bahwasanya banyak lubang yang harus ditutupi.

Aku menyukai bacaan oleh karenanya aku juga suka menulis dan mengoleksi novel dan buku bacaan lainnya. Kata Ibu, "beli buku lagi trus dikumpulin di lemari trus bikin debu?!"
Aku menyukai hujan dan aroma petrichor oleh karenanya aku suka berlama-lama di tengah hujan. Orang bilang, "cepat jalannya, hujan sudah mulai deras nanti kamu kuyup lalu sakit". Sementara aku hanya menanggapinya dengan memandangnya sepintas.
Aku menyukai alam, entah itu gunung, pantai dan tempat-tempat lainnya yang mengundang kedamaian tersendiri. Aku menunggu pendakian Rinjani bersama seseorang yang kelak akan menjadikanku tempat kepulangannya.
Aku menyukai setiap perjalanan, ada banyak list destinasi yang ingin dikunjungi meskipun masih nyicil hingga saat ini. Salah satunya Turki. Aku jatuh cinta pada kota Peradaban itu, bahkan jauh sebelum Erdogan menjadi pemimpinnya. Dan kini cinta itu semakin menjelma, menjelma menjadi sekeping harapan dan impian yang semakin besar "Kapan aku bisa berkunjung ke kota Peradaban dengan hukum Islam yang luar biasa membuat setiap orang berdecak kagum dengan Erdogan kini sebagai pemimpinnya? Kapan aku bisa menuliskan cerita perjalananku di penjuru Turki?!"
Aku menyukai langit. Sebab disana tersimpan banyak cerita dengan Allah ku, sebab disana banyak ribuan pengharapan yang telah menjelma menjadi sebuah doa, sebab disana ada senja yang selalu ku rindukan kepulangannya. Ada milky way yang menghiasi ketika malam kembali menyapa.
Aku menyukai kota Jogya dan Bandung, sebab disana adalah sebaik-baik tempat jatuh cinta.
***

"Ka, aku izin left grup owop ya. Mau menghilang dari dunia kepenulisan heheu. Makasih uda diizinkan bergabung dan mengenal kalian, mengenal penulis-penulis hebat, juga untuk semangatnya mengingatkan untuk terus menulis. Maaf gak pernah setor tulisan he he, salam untuk semua penghuni owop ya. Pokonya proud of all"

You left

"Putri kenapa left?"
----------------------------------
Sederet kalimat tersebut adalah keputusanku ketika feeling stuck! Seriously! Ragu sebenarnya left dari grup owop, banyak ilmu dan sederet inspirasi. Tapi lagi-lagi merasa kecil, merasa tidak produktif berada di grup itu tapi tidak mengembangkan tulisan. Entah kenapa, beberapa bulan terakhir ini sulit untuk menuangkan aksara. Bahkan tulisan ini pun akan menjadi curhatan dari penulis abal-abal. Juga adanya project membuat film dakwah pendek, sejujurnya aku buntu. Stuck di bagian naskah, setiap kali coba membuat lagi-lagi hanya terpaku depan laptop. Ku baca kembali novel-novel koleksiku yang tersusun berdiri rapi di lemari dengan debu sebagai teman akrabnya, kubuka blog-blog teman--dimana isinya very inspiration! Hasilnya? Nihil, sampai saat ini tak ada cerita yang dapat kutuliskan untuk project ini. Bahkan ketika bertemu dengan tim skript pun tidak ada ide tulisan yang bisa menjadi kontribusiku hiks. Ketika teman-teman menanyakan, "mana tulisannya?" Aku hanya bisa menjawab dengan straight face. Sejujurnya ku katakan pada tim aku stuck untuk membuat tulisan. Kemudian Ka Fikri menanyakan ketika kami Tim skript berkumpul, "emang passionnya dimana? Nulis kan? Yauda tulis aja apa yang terlintas di depan kamu, inspirasi itu datangnya kapan dan dimana aja, gak perlu mengkhususkan waktu malam untuk menulis, ya walaupun kamu bilang inspirasi ada ketika tengah malam..." Dan sederet motivasi yang dia contohkan ketika itu. Ka Fikri yang ku kenal sebagai kembar jomlo, dia adalah teman satu grup di owop juga sekaligus motivator untuk dunianya hehe. 
***

Senja mulai menjelma kala itu di kota Bogor, ku pandangi langit lekat-lekat.
"Pengen nulis lagi rasanya, rindu. Meskipun entah apa yang akan ku tulis. Aku rindu memandang langitMu secara dekat, rindu moment senja, rindu hujan yang membawa aroma petrichor. Dan rindu papa, selalu” Ku nikmati udara kota hujan sore itu. Sama dengan Jakarta saat ini, kemarau.

Kamu menghancurkan dunia kecilku yang sedang ku bangun perlahan. Mimpiku menjadi penulis penuh manfaat yang karyanya dapat dinikmati orang banyak redup seketika, mimpiku menjadi penulis untuk dunia kecilku hilang; setidaknya untuk saat ini.

Rabu, 05 Agustus 2015

Kota Istimewa; Papa

Stasiun tujuan: Jogyakarta

Aku tersenyum sinis memandang tiket kereta api di tanganku. Ya, Jogya. Kota kelahiran papaku, kota yang menjadi the one of list my destination, kota yang menyimpan segudang pertanyaan dan pernyataan. 

Stasiun Gambir, pukul 20.15
Aku menuju peron jalur keberangkatan kereta yang kutumpangi, Argo Lawu. Beberapa saat kemudian datang keretanya
"Gerbong 8 ya pak?"
"Iya mba, masuk aja"
Ku langkahkan kaki mencari nomor seat yang tertera di tiket, 11A. Ku ambil posisi ternyaman untuk perjalanan selama 8 jam ke depan, pojok dekat kaca jendela. Posisi favorit
Kereta mulai melaju dengan lambat sementara suara merdu protokol kereta mulai terdengar, ku geser gorden hijau yang menutupi keseluruhan kaca jendela untuk menikmati langit malam.

"Pa, kurang lebih 12 tahun takdirNya memisahkan dimensi kita dan sekarang aku diberikan kesempatan melangkahkan kaki menuju kota kelahiranmu, meski ku tau bukan keraton-mu yang menjadi tujuan utama perjalananku. Mungkin nanti setibanya aku di Jogya akan ku sempatkan untuk melihatnya sebentar"

Si mbah pernah bercerita saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SMK awal. Papa meninggalkan kehidupan keraton karena tidak ingin menjadi pilot sesuai dengan permintaan orangtuanya, tidak kerasan kalau kata orang jawa. Si mbah memberitahu kalau cucunya ini masih mempunyai keturunan darah biru, aku hanya menjawabnya dengan nyeleneh "Wong darahku merah kok mbah hehehe"

Untuk apa bergelar darah biru bila taqwa yang kita miliki rendah
Untuk apa bergelar darah biru bila kita tidak bisa menjaga norma-norma yang semestinya
Untuk apa bangga bergelar darah biru bila silaturahim keluarga putus dalam ketidakjelasan

Stasiun Jogyakarta, pukul 03.45

"Kepada para penumpang yang akan turun di stasiun Jogyakarta silakan bersiap-siap. Stasiun Jogyakarta" Suara merdu protokol kembali terdengar
Udara subuh menyambutku, ku angkat tas kerilku menuju keluar stasiun. Melihat para pendaki menggendong keril keluar disaat yang bersamaan, sudah bisa ditebak tujuannya adalah merapi-merbabu.
"Ah alam, merindumu ternyata sesakit ini. Selamat pagi Jogya, selamat pagi para pendaki" 

Alun-alun Jogyakarta, pukul 10 malam

Wedang ronde, jagung bakar beserta susu hangat menjadi teman yang pas ketika itu sambil menikmati udara malam kota gudek. Ku nikmati minumanku sambil memandang ke arah jam 12, tepatnya sepasang pohon beringin dimana kepercayaan masyarakat sekitar adalah barang siapa yang bisa melewati kedua pohon beringin tersebut dengan mata tertutup tanpa melenceng akan terpenuhi segala permintaannya. Sayangnya banyak yang sudah mencoba berkali-kali tetapi tetap saja gagal mencoba tradisi itu hingga bisa menyebrang dengan sempurna. Padahal secara logika, jarak antara 2 pohon beringin tersebut cukup lebar untuk di lewati.
Sebagian besar masyarakat juga percaya jika 2 pohon beringin tersebut merupakan gerbang ghaib yang menghubungkan keraton Jogja dengan pantai selatan yakni istana ratu nyi roro kidul. Konon katanya hal itulah yang menyebabkan banyak tentara penyerang keraton Jogja yang kehilangan kekuatannya setelah melewati 2 pohon beringin tersebut. Sehingga kerajaan tetap aman hingga sekarang. Bahkan mereka juga menganggap bahwa pohon beringin tersebut merupakan jimat khusus bagi kerajaan dan raja. Karena itu, siapa saja yang ingin mencelakai raja dan kerajaan akan gagal karena kekuatan akan hilang begitu melewati 2 pohon beringin tersebut.

Ku pandangi sekeliling alun-alun dan keraton Jogyakarta
"Ya, ini tempatmu dulu singgah pa. Entah cerita apa yang ku dapat segala hal tentangmu, yang jelas luka dan rindu itu masih berbaur menjadi satu. Selama kurang lebih sudah 12 tahun. Andai sosokmu masih ada saat ini, tentu anak kesayanganmu ini yang ketika kecil bergelayut di tangan gempalmu maka saat ini di umurku yang menginjak kepala 2 bukan es rasa melon lagi yang kuminta, bukan bergelayut di tangan gempalmu lagi, pa. Tapi nasehat yang kuminta darimu, pundak kokohmu yang ku inginkan untuk bersandar menceritakan segala kisahku dan hadirnya sosokmu sebagai wali di hari bahagiaku nanti" Tatapanku mengarah ke langit, menahan butiran bening yang berkumpul di kelopak mata.

DIA pasti tau aku rindu sosoknya, DIA pasti tau aku ingin kehadirannya, DIA pasti tau aku membutuhkan hadirnya sebagai penguat
Tapi DIA jelas lebih menginginkannya dan lebih rindu padanya
Dan sudah pasti ada DIA yang menguatkanku sekarang..

Jogyakarta, penghujung bulan Juli 2015

Sabtu, 01 Agustus 2015

Luruh Untuk Kedua Kalinya

Ajari aku untuk mengenal makna ikhlas sebenarnya

Aku berusaha menjaga karena ku tau, ruang kosong itu kelak akan terisi dengan yang terjaga
Aku belajar segala hal karena ku tau kelak aku akan dipertemukan hal-hal baru dalam hidup
Awalnya ku pikir kamu memang menjaga apa yang ku jaga, ternyata lagi-lagi salah. Rindu itu semakin meradang, aku luruh untuk kedua kalinya.

Kamu...
Dari sekian doa yang ku ramu panjang-panjang
Dari secuil nyali dan keberanian yang ku punya karena rapat menjaga namamu dengan bermodalkan percaya untuk menitipkanmu pada rahmanNya. Ternyata aku luruh untuk kedua kalinya.

Tak seharusnya aku berlabuh disana, sebab bukan aku yang menjadi tempat pulangmu
Tak seharusnya aku berhenti disana, sebab ini bukan akhir yang akan membersamaiku

Kamis, 30 Juli 2015

Jika Yang Datang Melamar Bukan Si Dia?

Pada dasarnya, wanita itu menunggu. Umumnya wanita itu dilamar, enggan melamar

Ya, mungkin sebagian dari kita sepakat mengenai kedua hal itu. Meskipun Islam tidak melarang seorang wanita untuk melamar atau mengajukan diri lebih dulu, namun kebanyakan dalam masyarakat kita hal itu masih dianggap tabu.

Sahabat akhawat, pernahkah kita terpikirkan mengenai beberapa pertanyaan. “Bagaimana jika yang melamarmu bukan si dia, seorang yang engkau dambakan?”. Akankah kita menolak yang datang dan terus menunggu ia yang kita dambakan itu? Sampai kapan kita akan menunggu? Lalu bagaimana  jika kita sudah menunggu namun akhirnya ia menikahi akhwat lain?  Hmm sulit rasanya untuk menjawab pertanyaan ini. Lantas bagaimana jika hal itu memang terjadi pada kita?

Akhwatfillah, saya menyadari sebagai seorang akhwat tentunya kita pernah sekedar menyukai, tertarik atau bahkan mendambakan seseorang yang akhlak dan agamanya baik di mata kita dan orang yang mengenalnya, menjadi pendamping kita kelak. Menurut saya hal itu manusiawi dan fitrahnya kita sebagai manusia. Tak jarang saya pun mendengar, tak sedikit dari mereka yang menyebutkan sebuah nama dalam setiap munajat malamnya. Ya, membisikan satu nama pada Rabb-nya, mengharap, mendamba dan meminta agar kelak Allah jodohkan dengannya, agar Allah tuntun langkah itu menemuinya.

Bagi saya itu tidak salah, toh kita meminta pada Sang Maha Pemilik segalanya, pada Allah Yang Maha Membolakbalik hati manusia, pada Allah sang Penggenggam jiwa. Bagi saya hal itu sah saja jika niatannya hanya untuk mencurahkan apa yang membelenggu kita agar tidak terjerumus pada perilaku yang nista. Meskipun terkadang terbersit tanya, “tidakkah do’a itu terlalu ngotot dan mendikte?” “Bolehkah berdo’a demikian?” Hmm Allahu’alam saya belum mengetahui ilmu mengenai hal itu.

Kembali pada beberapa pertanyaan di awal.

“Bagaimana jika yang melamarmu bukan si dia, seorang yang engkau dambakan?” Jawabannya simpel, kita pastinya merasa terkejut dan sedikit kecewa karena yang didamba tak kunjung tiba meminta. Kita pasti bertanya “Mengapa yang datang bukan ia, seseorang yang selalu kusebut dalam do’a?”. Akhwatfillah, perlu kita sadari betul bahwa meskipun kita sering menyebut sebuah nama dalam setiap do’a kita, itu tak berarti ia akan menjadi jodoh kita. Karena bisa jadi ia yang datang padamu memang bukan orang yang senantiasa kau sebut dalam do’a, melainkan orang yang selalu menyebut namamu dalam do’anya”

Akankah kita menolak yang datang dan memutuskan menunggu ia yang kita dambakan itu? Semua ada pada keputusan kita, pilihan kita. Jalan manakah yang akan kita ambil? Namun bagi saya, meski tak memungkiri mungkin cukup sulit juga, saya akan lebih memilih untuk menerima siapapun yang datang jika memang yang datang itu layak untuk diterima (baik agama, akhlak dll). Karena ketika kita menolak yang demikian, dikhawatirkan akan timbul fitnah. Rasulullah SAW bersabda :

“Jikalau datang kepada kamu, orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya. Maka nikahkanlah dia, kalau tidak. Akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan besar.”

Lalu pertanyaan selanjutnya ialah, Sampai kapan kita akan menunggu? Ya, sampai kapan kita akan berdiam diri dalam ketidakpastian, dalam suatu perkara yang masih kabur kejelasannya. Sampai kapan kita akan menunggu orang yang belum tentu ia adalah jodohmu, menunggu sseorang yang belum tentu memilihmu bahkan mungkin tak sedikitpun tertarik padamu. Nah jika sudah seperti itu, maka pertanyan selanjutnya lagi ialah bagaimana jika kita sudah menunggu namun akhirnya ia menikahi akhwat lain? Sebenarnya tidak gimana-gimana, ketika kita mengambil suatu keputusan tentunya kita harus sudah siap dengan segala kemungkinan dan konsekuensi yang akan muncul  bukan? Jika ia menikahi akhwat lain padahal kamu sudah menunggunya lama sekali, itu bukanlah kesalahannya. Tidak sedikitpun kita pantas untuk membencinya, apalagi membenci akhwat pilihannya,  toh selama ini ia tak tahu bahwa ada kamu yang menunggu bukan? Dan apa hak kita untuk melakukan hal itu? Jika sudah seperti ini pasti ujung-ujungnya kita akan menyesal. Ya menyesal terlebih jika kita mendengar kabar bahwa ikhwan yang pernah kita tolak demi menunggu yang belum pasti itu telah berhasil, keluarganya sakinah, mawaddah dan rahmah. Sedangkan kita?

Akhwatfillah, memang saya pun menyadari betul bahwa jodoh itu takkan tertukar. Allah telah menetapkan jodoh bagi kita jauh sebelum kita terlahir ke dunia dan saling mengenal satu sama lainnya. Dan saya pun sepakat bahwa kita memiliki hak untuk menolak maupun menerima.  Maka dari hal itu, apa salahnya kita mencoba berikhtiar? Ya, mencoba menjalani proses yang seharusnya dilaksanakan. Toh saya percaya, jika memang bukan orang itu yang Allah tetapkan untuk kita, pasti ada saja jalan Allah yang menjadikan jalan itu berakhir sebelum tahap pernikahan. Dan kita pun harus meyakini, se-tidak maunya kita, bagaimanapun kita menolak, meski kita pernah mengatakan tidak, jika Allah sudah berkehendak dan berencana, Allah pasti membolak-balikan hati kita jika memang orang itu pilihan terbaik-Nya untuk kita.

Saya menjadi teringat kembali akan sebuah pesan nasihat : “Kalau kebetulan semuanya bagus, baik din,akhlak dan muamalahnya, apa nggak sayang melepasnya? Pikirkan juga kemungkinan-kemungkinan. Belum tentu nanti ada ikhwan dengan agama sebaik yang dahulu pertama melamar kamu”

So, ketika yang melamarmu bukan si dia? Jangan risau, jika yang kita dambakan itu telah tertulis di Lauhul Mahfudz untuk kita, dengan siapapun dulu kita berproses dalam rangka ikhtiar toh akhirnya in syaa Allah kita akan bersamanya, tentunya dengan rencana Allah Yang Maha Dahsyat dan Maha Indah.  



*Repost Rosita Dewiha by LINE

Kamis, 23 Juli 2015

Project OWOP; Musikalisasi Puisi

"Ajari aku menggunakan pena, akan ku tulis gemericik air, udara dingin, kabut senja, sampai daun gugur"

Ada di langit, aku tinggal di bumi. Tapi carilah aku di langit, sebab aku tertahan diantara bintang-bintang. Kau jemput aku dengan doa-doa setelah shalatmu, kau tengadahkan tanganmu saat bersujud, berdoalah untuk memintaku. Aku tertahan dan garis batas yang membentang diantara kita selebar langit dan bumi.

Aku tinggal di bumi, tapi carilah aku di langit, di sepertiga malammu saat Tuhan turun ke langit bumi, mintalah aku yang berada di genggaman tanganNya. Percuma mencariku di bumi, sebab kunci itu ada di langit. Kunci yang akan menghapus garis batas diantara kita, mengubah garis yang tadinya neraka menjadi surga. Aku berada di tempat yang tidak bisa kau temui di bumi, tapi kau bisa menemuiku di langit meski bukan wujud kita yang bertemu melainkan doa-doa kita yang menggetarkan singgasanaNya. Temukan aku di langit, di dalam doa-doa panjangmu, di dalam harapanmu. Meski kita tidak saling tau nama, tidak saling tau rupa, jemputlah aku di langit. Sebab aku tau kau mengenalku bukan karena ada nama dan rupa. Doa kita telah bertemu sebelum fisik kita. Mudah bagiNya membuat kita kemudian bertemu, tidak hanya bertemu namun juga disatukan. Sebagaimana doa-doa yang sebelumnya telah kita panjatkan.

Pertemuan kita yang pertama berada di langit kan? Sekarang kau tau mengapa aku memintamu mencariku di langit





Created By Enie, the one of Penghuni OWOP