Sabtu, 02 Januari 2016

Cinta Hingga Ke Surga

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Q.S Ar-Rum 21].

Allah mengatakan pernikahan adalah mitsaqan ghalizan. Ini adalah komitmen terberat dalam kehidupan. Catat baik-baik tentang masalah pernikahan, ini perjuangan. Banyak diantara kita yang sukses dengan karirnya namun tidak dengan mengurus istri, rumah tangga. Surga itu mahal, tidak di dapat dengan mudah. Membawa diri sendiri saja susah bagaimana membawa cinta sampai ke surga.
Sebelum pernikahan hal yang krusial adalah memilih pasangan. Syarat utamanya adalah agama dan kepribadiannya (secara personality kita suka).

Di hari pernikahan hanya ada satu point saja; bertaqwalah pada Allah. Perkenalkan diri kita pada Allah disaat kita senang, maka Allah akan melihat kita pada saat kita susah.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرً

"Laki-laki itu adalah pemimpin atas perempuan dengan sebab apa yang telah Allah lebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dan dengan sebab apa-apa yang mereka infaqkan dari harta-harta mereka. Maka wanita-wanita yang shalihah adalah  yang qanitah (ahli ibadah), yang menjaga (kehormatannya) taatkala suami tidak ada dengan sebab Alalh telah menjaganya. Adapun wanita-wanita yang kalian kawatirkan akan ketidaktaatannya maka nasihatilah mereka, dan tinggalkanlah di tempat-tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Akan tetapi jika mereka sudah mentaati kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan (untuk menyakiti) mereka, sesungguhnya Allah itu Maha tinggi Maha besar" [Q.S An-Nisaa:34]

Ketika kita kecewa dengan pasangan kita, bertaqwalah pada Allah. Bukankah Allah swt menjelaskan di dalam firmanNya:
"Dan kami menjadikan interaksi diantara kalian sebagai ujian. Dan Allah maha melihat apa yang kalian lakukan"

Hak itu penting, hak untuk di perhatikan, hak antara suami dan Istri. Mayoritas pasangan banyak bercerai karena hak tidak terpenuhi.
"Seorang Istri tidak akan menunaikan hak Allah sampai ia menunaikan hak suami"
"Seorang tidak akan merasakan manisnya iman sampai ia memenuhi hak suami nya" (HR Iman Hakim)

Di dalam riwayat lain: "suamimu adalah surga/nerakamu"
Setaat apapun seorang Istri bila tidak memberikan hak suami nya maka percuma ibadah tersebut. Bukanlah Istri yang sholeha.
Nabi saw bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap Istri"
Tidak mungkin orang yang berpacaran dapat mengetahui sifat-sifat buruk pasangan. Itu hanya bisa kita ketahui setelah pernikahan, ketika tinggal bersama, semua terbongkar. Karena Istri teman hidup kita, tidak bisa bersandiwara.

"Rumah kalian adalah tempat menyimpan rahasia"

Setelah pernikahan, PR kita adalah mempelajari diri kita dan pasangan kita. Baik karakter secara umum maupun khusus.
"Berikanlah nasehat kepada wanita dengan jalan yang baik, karena wanita berasal dari tulang rusuk yang paling bengkok"

Untuk menuju ke surga kuncinya adalah mempelajari dan memahami karakter pasangan.

Untuk laki-laki: Karakter kepemimpinan seorang laki-laki. Suami harus berani bersikap tegas terhadap istri oleh karena itu Allah masukkan sifat kepemimpinan padanya.
"الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء"

Untuk Istri: Dia harus menyerahkan segala keputusan pada suami. Bila ingin menasehati suami maka ada adabnya.






Masjid Agung Al-Azhar
Oleh Ustadz Nuzul Dzikri,Lc

Minggu, 08 November 2015

Tentang Dua Rindu

Matahari tidak terik seperti biasa, kembali aku berada di kota istimewa ini. Masih terdengar sayup-sayup kumandang adzan entah dari Masjid atau mushola yang mana. Ku lirik jam warna kesukaanku, "sudah lewat 15 menit yang lalu" pikirku.  Tak lama berselang hujan mengguyur dusun ini, aroma petrichor tidak begitu kental. Mungkin karena bercampur dengan debu dan asap akibat dari truk-truk pengangkut pasir yang antri untuk turun ke bawah. Ku pandangi kaki Merapi dari balik tirai hujan yang menyapa dusun mbah marijan tersebut. Salah satu hal favoritku, menikmati hujan dan membiarkan buliran beningnya jatuh tepat di wajahku. Ku pejamkan mata, pandanganku menerawang pada 'hidangan' yang berada di sekitarku. Bagiku ada nyanyian alam tersendiri. Suara jangkrik khas pegunungan--sunyi, lembah yang seolah memanggil untuk kembali bertemu dengan jalan terjal, sandungan batu, samudera awan yang bergerumul menyelimuti, menunggu senja, menjemput matahari yang akan meninggi mengawali hari diatas sana, suara ranting yang bergerak diantara dedaunan kering, juga embun yang menyapa di pucuk pohon. Ah alam, merindumu ternyata sesakit ini. Tak ada bedanya dengan rinduku pada sosok papa.
Dua wujud rindu yang sama-sama bertemu di garis pemisah jarak.
Dimensi alam masih bisa ku temui di lain waktu, tapi dimensi seorang putri kecil untuk ayahnya?





Jogyakarta, kala pagi menyapa

Selasa, 03 November 2015

Tetesan Kerinduan

Beberapa hari terakhir ini kehadiranmu amat ditunggu-tunggu oleh penunggu semesta, pun menjadi perbincangan paling populer. Sejumlah netizen memberitakan mengenai shalat istisqa yang dilaksanakan di berbagai daerah. Dan yaaah semalam tadi hadirmu membasahi tanah ibukota, semesta menyambut hangat kehadiranmu. Pluviophile...
Kusapu embun yang menutupi kacamataku, jilbab dongkerku sebagian mulai basah. Ku pejamkan mata, menikmati aroma petrichor  dan tetesan hujan yang jatuh di wajahku, membayangkan andai ibukota ku punya tempat yang istimewa untuk menikmati hadirmu seperti di puncak gunung. Sayangnya aku hanya bisa menunggumu di depan jendela. Ah romantis memang, selain senja dan langit. Be a special part for me. Bahkan saat ini mendung masih menyelimuti. Bukan bukan, ini bukan cerita Hujan Bulan Juni nya Sapardi Djoko Damono yang sedemikian dikemas dengan apik. Tapi ini adalah Hujan di awal November, sebulan sebelum penghujung tahun. Selamat bertemu kembali kenangan yang menyapa di antara baris rintik hujan--bersama sebuah nyanyian rindu.


Jakarta Hari Ini

Rabu, 21 Oktober 2015

Belasan Tahun Silam; Membuka Sebuah Kerinduan

Langit mulai mendung. Seorang gadis kecil tengah duduk di atap rumahnya bersama dengan seorang temannya. Entah kenapa kala itu ia mengajak temannya untuk bermain di atap rumahnya.
"Sini, duduk disini aja" Sahutnya pada temannya
"Ko disini? Nanti jatuh gimana? Jawab temannya ragu
" Ngga kok, enak lihat langit dari sini apalagi kalau malam ada bintang"
Mereka mulai duduk berdampingan sambil menguncang-uncangkan kaki mungil mereka.
"Yah gerimiiisss, turun yuk"
"Nanti aja"
"Ih tuhkan hujannya makin gede" Keluh temannya
"Kok tumben ya hujannya gede gini? Gak seperti biasanya" Jawab gadis tersebut
"Iya ya, seperti hujan orang meninggal kalau kata orang"
"Ah kamu ada-ada aja. Apa hubungannya" Jawab gadis tersebut sambil menguncangkan kedua kakinya.

Kriinggg... Kriinggg... Telfon rumah berwarna abu kuning di ruang tamu berbunyi berbarengan dengan obrolan mereka.
"Kaaakk, ada telfon dari om" Teriak kakek dari bawah tangga
"Kenapa?"
Kakek gadis kecil tersebut hanya menjawabnya dengan air muka sedih.
"Kok?" Gadis tersebut bertanya-tanya penuh kebingungan dalam hati seraya meraih gagang telfon di hadapannya.
"Papa sekarang lagi di Rumah Sakit AtmaJaya, meninggal sewaktu perjalanan menuju UGD" Jawab seseorang di seberang telfon
Gadis tersebut menutup gagang telfon dengan lemas, hanya mampu menatap temannya dengan pandangan luruh.
"Papa.. " Air matanya mulai jatuh perlahan, deras dan semakin larut.



Jakarta, awal Oktober di tahun 2003 silam

Senin, 19 Oktober 2015

Kota Peradaban Kedua

Pemuda yang biasanya tenang menghadapi segala sesuatunya malam itu ia kalut dan gelisah. Memikirkan akan mimpi dan cita-cita yang tinggal menunggu waktu mempersilakannya atau mengorbankan keluarga kecilnya.  Pemuda tersebut bersiap menunaikan sunnah 2 rakaatnya untuk meminta petunjuk keputusan apa yang akan diambilnya. Sajadah biru bergambar kubah masjid peninggalan almarhum ayahnya itu menjadi saksi munajatnya malam itu. Tilawah tak lupa ia lantunkan setelahnya.
Pemuda itu merebahkan badannya menatap langit-langit kamar, mengenang hal-hal yang amat istimewa bersama kedua orangtuanya dulu. Terbayang jelas wajah penuh sahaja dan kehangatan  abinya-- sosok hangat yang merangkul keluarga kecil nan sederhana hingga ketika Allah memanggilnya kembali.  Kenangan akan perjuangan umminya untuk menyekolahkannya hingga ke jenjang yang lebih tinggi masih terngiang dalam benaknya, “Tentu tidak mudah untuk ummi membawaku sampai di titik ini tanpa abi disampingnya. Maafkan aku mi jika pada akhirnya surga itu tergores” Ucapnya lirih
Belasan tahun berlalu tanpa kehadiran sosok abinya membuat dirinya harus berusaha keras menjadi pengganti abinya di tengah-tengah keluarga sederhananya, mengajar privat anak-anak tingkat SMP menjadi salah satu solusi untuk mempertahankan ekonomi keluarganya.  Pemuda kecil itu yang belum mengerti seutuhnya bagaimana kehilangan seorang abinya hanya tau dan merasakan bila dirinya kala itu amat terpukul ketika menyaksikan sesosok penuh sahaja terbaring di sebuah ruangan dengan alat-alat medis terpasang disana-sini. Ada ruang yang menyisakan luka membuat dirinya secara tiba-tiba berlari menuju lorong rumah sakit, duduk terdiam memeluk kedua lututnya membayangkan sosok yang baru saja dilihatnya, “apa yang sedang terjadi pada abi? sudah hampir 3 bulan lamanya tidak tidur dirumah dan sekarang tidak sadarkan diri. Bagaimana mungkin bila abi tidak akan pernah kembali lagi pada ummi, padaku, pada Shafiyyah juga Fathima? Abi, kami rindu dan menunggu kepulanganmu ke rumah kecil kita” Ucapnya lirih sambil menelungkupkan kedua tangan ke wajahnya.  Ketika beranjak remaja perlahan mulai mengerti bahwa dia harus membantu umminya mengerjakan segala sesuatunya, merapikan rumah, mengerjakan tugas sekolah tanpa bimbingan dari abinya seperti ketika abinya masih ada, dan membantu merawat 2 adik perempuannya.
***

Faiz Alfaridzi, laki-laki muda, badannya tegap, pemilik senyum simetris dan kedua bola mata yang coklat . Terlahir dari keluarga yang sederhana, umminya seorang pedagang kue keliling, mempunyai 2 adik perempuan Shafiyyah dan Fathima yang masih sekolah di tingkat Madrasah Aliyah.
Dia memiliki impian dan cita-cita yang besar. Setelah bangkit dari luka masa kecilnya Alfa mulai memahami bahwa dirinya mempunyai peran yang amat penting di tengah-tengah keluarga sederhananya. Menjadi seorang kepala keluarga merupakan awal langkah baru baginya, mulai dari menjadi office boy, tukang fotocopy hingga kini menjadi guru privat dan les biola dia lalui demi berlangsungnya kehidupan keluarganya. Umminya tidak pernah mengetahui bahwa anak laki-lakinya itu pernah bekerja sebagai office boy dan tukang fotokopy, sepengetahuannya Alfa hanya kuliah dan menjadi guru les. Alfa tidak ingin umminya tau bila dia bekerja sedemikian rupa karena umminya pernah berpesan untuk bersungguh-sungguh dalam pendidikannya saja. Alfa tidak ingin terluka kembali karena melihat air mata umminya jatuh, baginya cukup di hari kepergian abinya saja ummi meneteskan air mata karena terluka hatinya.

Hari-hari berlalu seperti biasa dengan aktifitas rutinnya, kuliah, mengajar priviat dan memperhatikan keluarga kecilnya ketika selesai beraktifitas diluar. Menanyakan perkembangan sekolah adik-adiknya dan usaha kecil umminya yang sudah dimulai sejak abinya meninggal karena kelainan jantung. Membayangkan berkas-berkas study nya sedang di proses.  Perlahan Alfaridzi mengutarakan keinginan akan mimpi dan cita-citanya yang besar.
“Kamu yakin nak? Apa tekadmu sudah bulat untuk melanjutkan study kedokteranmu disana?” Ummi kembali mempertanyakan niat anak laki-laki semata wayangnya itu
“In Syaa Allah mi, Alfa sudah bertekad untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bisa membantu orang lain agar tidak mengalami apa yang abi dulu alami” Kenang Alfa
“Semoga niat baikmu disaksikan dan dicatat oleh malaikat nak” Ucap Ummi sambil membelai rambut anak laki-lakinya diiringi senyum kecil.
“ Kamu boleh mempunyai mimpi besar dan mewujudkannya, tapi ada hal yang perlu kamu ingat.  Kita disini ada keluarga kecil yang membutuhkan sosok pengganti abi sebagai pemimpin, ada 2 adik perempuanmu yang membutuhkanmu. Kamu tau bagaimana keadaan finansial keluarga kita selepas kepergian abi. Dengan hasil penjualan kue ummi yang tidak seberapa dipakai untuk membiayai kehidupan kita, dibantu dengan kamu mengajar privat dan sisanya Allah yang mencukupi kekurangannya. Tidak ada orangtua yang tidak ingin melihat anaknya sukses dan membanggakan Kak” Ungkap ummi menahan air mata di sudut kelopak matanya yang mulai sendu.
Alfaridzi terdiam sejenak, mengalihkan pandangannya keluar jendela yang setengah tertutup gorden abu tua, mengisyaratkan dirinya bingung harus bagaimana.  “Istikharah lah nak, minta petunjuk pada Allah. Ummi akan menanti jawaban dari niat baikmu” Ucapnya seraya meninggalkan Alfaridzi yang masih menatap keluar jendela.
***

Di sudut ibukota waktu subuh menjelang. Masih dengan beralaskan sajadah  Alfaridzi terbangun, sadar bahwa dirinya ketiduran selepas qiyamul lail dinihari. Selang beberapa menit kemudian setelah bergegas untuk berwudhu suara adzan terdengar samar-samar dari kamar sederhananya yang dihiasi dengan gambar dan artikel seputar Timur Tengah tersebut. Alfaridzi segera melangkahkan kakinya menuju surau dekat rumahnya dengan Alqur’an pocket berwarna coklat di tangan kanannya. Salah satu hal rutin yang dilakukannya adalah menghabiskan waktu setelah shalat subuhnya dengan tilawah dan muraja’ah hafalannya sampai menjelang syuruq yang dilanjutkan dengan dhuha.
Ummi yang sedang menyiapkan kue-kue jualannya melirik ke arah Alfa, sementara Alfa melamun membayangkan sisa-sisa percakapan dengan umminya semalam
“Apapun jawabanmu sampaikanlah pada ummi nak” Ummi tiba-tiba membuyarkan lamunannya
“Alfa sudah menyelesaikan semua mi, Alfa akan membantu ummi saja bersama Shafiyyah dan Fathima, In Syaa Allah akan Allah gantikan dengan yang lain yang lebih baik” Jawab Alfa seraya senyum kecil membayangkan berkas-berkas studynya yang tidak jadi dikirim ke Madinah. Memutuskan untuk tidak melanjutkan studynya menjadi keputusan terberat baginya. Bagaimanapun Alfa harus mengikhlaskan mimpi besarnya demi menjaga hati umminya.
***

Ummi yang kini usahanya sudah mulai berkembang beriringan dengan Alfa yang saat ini sedang fokus membantu umminya juga sudah mempunyai tempat les biola sendiri serta kedua adiknya yang tengah melanjutkan study S1 nya.
Di sela-sela kesibukannya membantu umminya, tawaran beasiswa study kedokterannya kembali menghampiri untuk kedua kalinya. Dosennya mengirim attachment file kedokteran di Turki. Alfa kembali berfikir, apakah kali ini mimpinya akan benar-benar terwujud atau memang harus kembali mengikhlaskan bahkan melupakannya. Umminya yang sejak beberapa menit lalu memperhatikan anak laki-lakinya itu dari balik pintu kamarnya yang setengah terbuka mulai memahami keinginan anaknya yang sempat tertunda sebelumnya.
“Berangkatlah nak, ambil kesempatan itu” Ucap ummi mengagetkan Alfa
“Ummi…” Alfa hanya menatapnya dengan rasa tak percaya
“Ummi tau kamu masih menginginkannya bukan? Maaf nak, bila Ummi tidak bisa memenuhi inginmu sewaktu ingin ke Madinah kemarin, semoga kali ini bisa membawamu menuju gerbang suksesmu” Ucap ummi seraya menghampiri Alfa, tersenyum mengelus pundak anak laki-laki satu-satunya itu.
Alfa tersenyum penuh haru, matanya berkaca-kaca, tidak mengira bila mimpinya kini akan segera terwujud meskipun bukan di tempat impiannya, tempat para Nabi dan syuhada. Tapi Allah memilihkan tempat yang terbaik untuknya, tempat dimana Alfa akan belajar segala hal dengan izin dan doa pengharapan dari umminya. Alfaridzi mulai menyiapkan segalanya, melangkahkan kakinya di kota pusat peradaban Islam penghubung Asia dan Eropa tersebut.

Menjelang Wafatnya Sayyidah Fathimah Az-Zahra

Saya ingin menceritakan kisah seorang wanita yang kita semua telah mengenalnya. Dan bahkan kita mencintainya dari lubuk hati yang paling dalam. Bagaimana tidak, ternyata wanita yang akan kita ceritakan adalah putri Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam wa radhia anha- yang malu dari kain kafan.
Dia adalah sayyidah Fatimah Az-Zahra radhiyallahu anha..

Saya mohon wahai saudara dan saudariku untuk benar-benar membaca kisah ini dan untuk merasakan kejadian itu seperti kita benar-benar mendengarkan isi curahan hati sayyidah Fathimah secara langsung.

Ketika sayyidah Fathimah sedang sakit diambang kematian, maka Asma bintu Umais radhiyallahu anha datang berkunjung untuk menjenguknya.

Maka Fathimah berkata untuk Asma:
“Wahai Asma, aku begitu malu ketika harus keluar di esok hari di hadapan para lelaki (ketika aku telah meningal) dan tubuhku dibawa diatas peti mati”.

Peti mati ketika itu, hanyalah sebuah kayu datar yang terbuka. Dan Tubuh mayyit yang sudah tertutup oleh kain kafan akan diletakkan diatasnya dan ditutup lagi dengan sebuah kain sebagai tambahan.

Fathimah radhiyallahu anha sangat malu dan sedih ketika tubuhnya akan terbentuk oleh kain kafan, dia tidak ingin ada seorang lelaki dapat melihat bentuk dan lekuk tubuhnya.

Maka dengarkanlah kembali isi curhatan Fathimah yang sungguh mendalam:
ﺇِﻧِّﻲ ﻗَﺪِ ﺍﺳْﺘَﻘْﺒَﺤْﺖُ ﻣَﺎ ﻳُﺼْﻨَﻊُ ﺑِﺎﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﺃَﻥْ ﻳُﻄْﺮَﺡَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﺍﻟﺜَّﻮْﺏُ ﻓَﻴَﺼِﻔُﻬَﺎ
“Sesungguhnya aku merasa malu dengan apa yang terjadi untuk para wanita ketika mereka dipakaikan sebuah kain kafan, maka kafan itu membentuk tubuhnya”

Mendengarkan curhan hati dari Fathimah radhiyallahu anha, maka Asma bintu Umais berkata untuknya:
ﻳَﺎ ﺍﺑْﻨَﺔَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻟَﺎ ﺃُﺭِﻳﻚِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻪُ ﺑِﺎﻟْﺤَﺒَﺸَﺔِ
“Wahai putri Rasulullah, maukah aku kabarkan kepadamu sebuah peti mati yang aku lihat di Habasyah?”

Maka Asma membuat peti mati yang tertutup dari semua sisinya seperti sebuah kardus. Ketika peti mati sudah jadi, Asma kemudian menutup peti mati itu kembali dengan sebuah kain yang luas maka tubuh mayyit yang dibawa diatasnya tidak akan mungkin terbentuk atau tersifati.
Melihat perbuatan Asma, Fathimah begitu bahagia.

Seketika, Fathimah berkata untuk Asma:
ﺳﺘﺮﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﻤﺎ ﺳﺘﺮﺗﻨﻲ ﻣَﺎ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﻫَﺬَﺍ ﻭَﺃَﺟْﻤَﻠَﻪُ ﺗُﻌْﺮَﻑُ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻣِﺖُّ ﺃَﻧَﺎ ﻓَﺎﻏْﺴِﻠِﻴﻨِﻲ ﺃَﻧْﺖِ ﻭَﻋَﻠِﻲٌّ
“Semoga Allah menutup auratmu sebagaimana engkau telah berusaha untuk menutup auratku.

Betapa indahnya buatanmu ini, sehingga wanita yang meninggal bisa dibedakan dengan lelaki yang meninggal. Jika aku mati, maka mandikanlah diriku bersama Ali” (HR. Abu Nu’aim Al-Asbahani pada Hilyah Al-Aulia 2/43)

Subhanallah, dia malu padahal nantinya hanyalah seorang yang sudah wafat dan itupun sudah benar-benar tertutup dan terbungkus dengan 5 kain kafan !! Apalagi yang akan terlihat ?

Fathimah tidaklah mencurahkan isi hatinya ketika di pasar atau sebuah taman, namun sayyidah Fatimah mencurahkan isi hatinya ketika beliau diambang kematian.
Sayyidah Fathimah malu ketika beliau sudah wafat, maka bagaimana dengan wanita yang masih hidup tidak memiliki rasa malu ?

Seandainya Fathimah melewati sebuah pasar yang ada di zaman kita sekarang ini, dan beliau melihat para wanita yang rasa malunya telah mati. Maka apa yang akan beliau katakan ?

Wanita saat ini, sudah mati rasa malunya sehingga mereka berani untuk melepaskan hijabnya bahkan menggunakan pakaian sempit lagi minim. Wanita saat ini, sudah hilang rasa malunya sehingga mereka berani untuk memperindah dan memberikan parfum pada dirinya.

Maka beliau hanyalah akan menangis ketika melihat rasa malu dari wanita muslimah saat ini telah hilang dan mati.

Apa yang membuat sayyidah Fathimah radhiyallahu anha sampai pada keududukan yang tinggi seperti ini? Hal tersebut, karena sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang ada pada diri Fathimah radhiyallahu anha:
ﺍﻟﺤَﻴَﺎﺀُ ﻻَ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ
“Rasa malu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan” (HR. Bukhari)

Maka tangisilah diri kita, ketika kita tidak menangis melihat tingginya rasa malu sayyidah Fatimah Az-Zahra radhiyallahu anha.

Hadiahkan cerita ini untuk semua saudari kita yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal.

Semoga Allah selalu menutup Aurat kita, ayah dan ibu kita, saudara dan saudari kita, putra dan putri kita dan seluruh keluarga dan kerabat kita, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat di dunia maupun akhirat.
Amiin yaa Rabbal ‘aalamiin

Senin, 05 Oktober 2015

Belongs To: Saudari Seimanku

Assalamualaykum ukhti shaliha, calon bidadari surganya Allah. Apa kabar imanmu hari ini? Semoga Allah senantiasa membawamu menuju muara rahmanNya. Karena bertambahnya iman beriring dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Ingin ku bagi perjalananku sebagai seorang muslimah kepada kalian sahabatku yang ingin kubawa ke surgaNya bersama-sama. Menyelami setiap proses berjalan menujuNya.
Menutup aurat adalah salah satu perintahNya yang harus kita lakukan sebagai muslimah. Tentunya menutup aurat sesuai dengan apa yang Allah mau, bukan apa yang kita mau.
Allah berfirman:
"...Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar". (QS. An-Nisa ayat 13)
Mungkin kalian pernah mendengar sebuah cerita yang diceritakan kembali tentang seorang wanita yang menggambar berbeda dari teman-teman lainnya, sebuah gambar yang diceritakan ada sebuah mawar berduri dengan dihiasi warna hitam. Ya, sebuah gambar yang menceritakan bagaimana seharusnya seorang wanita. Menjadi yang berbeda di tengah keterasingan adalah hal yang tabu sekaligus istimewa. Jadilah muslimah yang memiliki dua kecantikan; cantik luar yang dilindungi hijab syar'i, cantik dalam yang dihiasi akhlak terpuji.
Perjalananku menapaki sebuah pintu 'hijrah' tentu tidak mudah. Banyak hal yang harus ku relakan untuk berjalan menujuNya. Menuju perbaikan diri sebagai wanita muslimah sesuai syariatNya. Banyaknya hinaan, cacian, cibiran, bahkan berujung tangisan. Tangisan yang kini telah membawaku menjadi pribadi yang lebih mengenal Allah ku, ingin ku bagi betapa nikmatnya berada dekat dengan Rabb kita, ingin ku bagi betapa indahnya bertemankan orang-orang shalih melalui perjumpaan taman-taman surga.
Teringat masa-masa pertama kali menggunakan hijab. Paris segi empat, celana jeans yang membentuk lekuk kaki, dan kemeja panjang yang ku kenakan. Hanya memahami bahwa wanita wajib memakai kerudung, tau ada dalil yang menyeru untuk memakai hijab namun belum paham seutuhnya hingga kini memakai hijab yang sesuai dengan syariatNya. Alhamdulillah...
Kapan mau berhijab?
"Ah, nanti dulu. Belum siap, belum dapet hidayah"
Hidayah gak dibuang gitu aja sama Allah, tapi kita jemput. Siapnya kapan dong? Tunggu di hijab secara sempurna pake kain kafan?
Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut seharusnya menjadi renungan:
Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan kita bersiap-siap dengan amalan shalih.
"Takut ah, akhlaknya belum baik. Mau perbaikin dulu, masa pake hijab tapi akhlaknya buruk"
Karena itulah Allah suruh kita memakai hijab sesuai Syariat, supaya akhlak kita semakin baik dan menghindari kita dari maksiat dimana hijab kita sebagai pengingat. Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru yang menganggap iman itu cukup dengan amalan hati ditambah perkataan lisan tanpa mesti di tambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan.
"Panas ah, nanti ribet"
Lebih panas mana sama api neraka? Kamunya aja kali yang bikin ribet
Allah itu buat aturan ga sembarangan, ada banyak manfaat di dalamnya.
Ukhti shaliha, masihkah kamu ragu untuk menutup kemolekan tubuhmu dengan hijab? masihkah?
Ingatlah, sesungguhnya api neraka akan membakar tubuh yang kamu sajikan untuk lelaki hidung belang, kamu bisa beralasan ini dan itu, Demi Allah, sesungguhnya, kita tak akan mampu menebak kapan nyawa ini akan diambil oleh Malaikat Maut!
Yang sudah berhijab coba perlahan dirubah sesuai dengan syariatNya. Dijamin deh kecantikan kamu nambah seribu persen
Eits, jangan lupa ya perbaiki niat untuk Allah semata, bukan karena ingin terlihat cantik dihadapan orang banyak. Karena cantik sesungguhnya adalah di mata Allah dan untuk pasangan halalmu☺
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (31)
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.  Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannyadan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur: 30-31).
Emang ciri-ciri hijab syar'i apa aja?
1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
2. Tidak tipis dan transparan
Hadits riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata, Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil balig) maka tidak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan". (HR Abu Daud dan Baihaqi).
3. Longgar dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk dan bentuk tubuh (tidak ketat).
Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak-lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR Muslim).
4. Bukan pakaian laki-laki atau menyerupai pakaian laki-laki.
Untuk yang sudah berhijab syar'i semoga Allah istiqomahkan untuk terus berada di tengah keterasingan sekarang ini. Jangan lupa untuk selalu perbaharui niat. Untuk istiqomah itu ga mudah lho
Banyaknya tuduhan-tuduhan yang menimpa kala itu membuat goyah benteng pertahananku. Dibilang sebagai orang yang ikut aliran sesat, teroris, jadi seperti ibu-ibu. Nanti gimana kalo punya anak? Susah dong nyusuinnya? Orang anak ulama, kyai, habib dll aja biasa aja kok hijab nya. Terus kalo kerja gimana? Kan ga boleh pake yang panjang-panjang gitu, kuno, simpel, ga modis, ga cantik. Nanti dapet jodohnya susah lho, ga ada yang mau deketin kamu. Ga bisa bebas kemana-mana, pergaulan jadi terbatas.
So my dearest, ukhti shaliha ku..
Ga usah takut dicap teroris sebab Allah bersama kita. Kalaupun polri atau Amerika sekalipun menuduh kita yang tidak-tidak lalu kemudian diadili maka engkau mati syahid sebab mempertahankan keimanan dan difitnah.
Jadi seperti ibu-ibu? Hemm kita kan emang calon Ibu untuk anak-anak kita kelak
Ga usah bingung dan ga perlu di bingungin gimana, justeru aurat kita lebih tertutup dan terjaga dari mata laki-laki yang bukan mahrom kita. Bayangin kalo 'perhiasan' kamu bisa terlihat oleh setiap pasang mata laki-laki yang jelas-jelas itu adalah hak untuk suamimu aja. Pasti gamau dong
Mau ulama, kyai, atau apapun kalo itu bukan yang Allah mau terus aku bisa apa selain taat? Nanti Allah murka lho
Kalo pekerjaan kamu menghalangi kamu untuk menaati peraturanNya udah tinggalin aja. Allah sediakan banyak tempat untuk mencari rezeki, dan Allah akan gantikan dengan yang lebih baik kalo kamu ninggalin sesuatu karenaNya. Itu janji Allah langsung lho, ga percaya? Buktinya aku sekarang masih bekerja dengan modal percaya pada janjiNya akan berikan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Disertai dengan ikhtiar pastinya. Rezeki itu bukan kita yang beli tapi Allah yang akan bagi. Gapapa ga terlihat cantik, aku malu diliatin banyak orang. Jadi nanti cantiknya buat suami aku aja he he
Iya ga ada yang mau deketin soalnya cuma laki-laki pilihan yang boleh deketin wanita pilihan. Jodoh itu kan diperoleh bukan dari seberapa cantik dan modis penampilan kita, tapi sejauh mana kita taat dan bersabar menunggu Allah memberikan yang tepat di waktu yang tepat. Tentunya Allah ridha dengan jalan dan pilihan yang kita ambil.
Kata siapa ga bisa kemana-mana? Banyak kok yang bisa traveling dengan pakaian syar'i kita. Bukan terbatas, tapi memang Allah membatasi kita supaya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Supaya kita tidak sembarangan bergaul dengan yang bukan mahrom kita. Kita dijaga sama Allah lewat syariatNya.
So, what are you waiting for?