Senin, 25 Januari 2016

Der Winter #2

Udara Paris Van Java pagi ini angin bertiup dari arah utara melambaikan setiap nyiur yang menyambut setiap penduduk untuk beraktifitas. Sayangnya enggan untuk sekedar keluar rumah, udara lumayan sejuk selepas hujan yang mengguyur semalaman tadi.
Aleeya sudah duduk dihadapan laptopnya, di salah satu ruang ternyamannya. Kembali membuka tugasnya dan memulai hobbinya, mengirim artikel ke sebuah harian media cetak Bandung. Segelas coklat hangat menemaninya pagi itu. Matanya masih menahan kantuk sisa semalam membuat tugas untuk murid-muridnya.

"Lee, kau ada di rumah hari ini? Aku berencana akan terbang kesana sore ini"

Sebuah email kembali masuk darinya. Aleeya mengerjapkan matanya, berusaha membuka lebar-lebar kedua matanya. "Oh Keenan! Ku mohon jangan hari ini, Kee" Aleeya menghembuskan napas, kemudian terpekur di mejanya. Selang beberapa menit kemudian Aleeya membalas email darinya.

"Sudah bosankah kau disana, Kee? Alasan apa yang membuatmu ingin ke Bandung hari ini? Tidak bisakah di lain waktu? Aku sibuk saat ini. Maaf"

"Aku ingin bertemu kau, Lee. Bertemu dan bermain dengan anak didikmu". Keenan membalas dengan menyelipkan emoticon smile di akhir kalimatnya.

"Haruskah kita bertemu saat ini, Kee? Sungguh, entah mengapa aku tidak ingin bertemu denganmu saat ini". Aleeya mendongakkan kepalanya ke langit-langit kamar, mengabaikan balasan email dari Keenan. Air matanya mulai menetes perlahan.

"Bila kau tidak berkenan aku akan tetap terbang ke Bandung sore ini, Lee. Aku sudah memesan tiket penerbangan, setidaknya aku tetap bisa mengunjungi tempat itu walaupun tidak bersama denganmu. Kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran. KL.". Keenan membalasnya kembali dengan memberikan simbol pertemanan mereka sewaktu bermain di atas bukit dulu.

"Sejujurnya aku rindu dengan kebersamaan kita dulu, kebersamaan yang kini telah pudar perlahan terbunuh aktifitas kita masing-masing. Kotak kecil yang kau buat dari bambu bertuliskan KL itu kini masih ada, Kee. Berdebu, serupa dengan kisah pertemanan kita saat ini. Andai kau tidak mengambil keputusan itu, tapi aku juga tidak bisa dan tidak mungkin mencegahmu untuk tidak berangkat kesana. Aku hanya mampu menyampaikan pesanku pada Tuhan, selain melalui surel ini tentangmu--aku merindumu, Kee..". Awan kembali mendung disusul dengan rintik-rintik hujan yang mulai menciptakan embun di kaca jendelanya. Aleeya menutup jendelanya.
***

Pukul 15.45 waktu Bandung
Mendung masih bergelayut di langit Bandung, Aleeya sudah berada di atas bukit tempat bermainnya dulu bersama Keenan. Kemeja lengan panjang, jins berwarna belel dan sepatu kets navynya menemainya sore itu. Semilir angin sore mengibaskan rambut hitam panjangnya yang terurai. Duduk memandang alam dari atas bukit adalah cara Aleeya melepas rindu pada sosok yang kini tanpa sadar telah menghuni ruang pojok hatinya. Selama kurang lebih lima belas tahun mereka bersama-sama, kini jarak itu telah nyata adanya. Sekitar dua puluh menit Aleeya duduk diatas sana menghembuskan napas kerinduan, sebentar memang. Dirinya tidak ingin berlama-lama tanpa Keenan diatas sana, percuma katanya. Hanya semakin menyesakkan dada, membuat rindu itu hadir semakin jauh.
"Aku percaya Kee, bahwa kau memang akan kembali ke tempat ini. Tapi entah, siapa yang akan membersamaimu di tempat kita ini". Aleeya bergumam pada diri harus segera beranjak pergi dari tempat itu. Hujan kembali mengguyur kota Bandung.
Selang beberapa waktu kemudian pesawat Keenan mendarat di Bandara Internasional Husein Sastranegara, tepatnya pukul 15.50. Keenan bersiap menuju bukit itu, hujan yang mengguyurnya tidak menahan langkahnya. Keenan berjalan menyusuri pinggiran jalan mencari taksi untuk membawanya ke tempat kenangan itu. Setelah sepuluh menit duduk di dalam taksi, ia mengeluarkan ponselnya. Mengarah pada aplikasi emailnya yang secara sengaja dipasang sebelum keberangkatannya ke Bandung. Seraya menghembuskan napasnya dengan penuh harap dia bergumam dalam hati, "Baiklah, aku akan ke tempat itu, Lee. Tanpamu".
"Mas, bengong aja. Pasti lagi nunggu pesan balasan ya dari teman wanitanya?" Supir taksi tiba-tiba mengeluarkan suara.
"Heh, ah bapak ini bisa saja" Keenan mengernyitkan dahi, alisnya yang menyatu amat kentara ketika dirinya seperti itu.
"Ini Pak, sisanya untuk Bapak" Keenan mengeluarkan dua lembar seratus ribuan, kemudian dia berjalan menyusuri sedikit kelokan jalan menuju atas bukit. Sesampainya diatas sana, Keenan mengambil posisi duduknya. Posisi yang serupa ketika bersama Aleeya.
Keenan duduk memanjangkan kakinya, menikmati udara kota Bandung sore itu.
"Sudah lama sekali rasanya aku tidak mengunjungi tempat ini, tempat kisah pertemanan kita berawal. Aleeya Syailendra, aku rindu saat aku akan mengambil gambarmu di tempat ini, rindu membuatmu kesal karena tingkahku dulu". Keenan tersenyum kecil, memorinya sedang berusaha menghubungkan peristiwa-peristiwa penuh cerita tersebut. Matanya terpejam sejenak mengingat segala hal yang pernah dilakukannya bersama Aleeya kecil. Sesaat kemudian tersadar, ada ranting di samping tempatnya duduk. Keenan bingung, berusaha menerka namun ia tak ingin salah prasangka.
Tempat itu adalah tempat Keenan dan Aleeya semasa kecil menghabiskan hari, cukup sepi. Tak ada satupun orang yang mengetahuinya selain mereka berdua dan papa Keenan yang kini telah meninggalkannya lebih dulu. "Kau kah yang datang ke tempat ini, Lee? Tapi kapan? Bersama siapa kau ke tempat ini? Kau pernah mengatakan padaku, bahwa kau tidak berani naik ke atas bukit ini sendiri. Kau juga pernah berjanji kala itu setelah aku selesai membuatkan kotak dari bambu itu, bahwa kau tidak akan mengunjungi tempat ini tanpaku. Atau kau..." Keenan kembali diam, mencoba mencernanya. "Ah sudahlah, mungkin hanya ranting yang jatuh, bukan dirimu yang hobbi mengukir sesuatu dengan ranting ini" Keenan berusaha menenangkan dirinya.

Gerimis yang menyapanya sejak kedatangannya di bandara sore itu ternyata tak kunjung berhenti, Bandung dalam beberapa hari ini sedang diguyur hujan secara tiba-tiba. Rintikan hujan membuat Keenan sejenak merebahkan diri diatas rumput yang basah, membiarkan wajahnya terkena air langsung dari langit.
"Kau tau, Lee? Saat ini di Jerman sana sedang musim dingin, aku memutuskan untuk ke kotamu dan ternyata disini juga hujan. Mungkin berbeda dinginnya, dingin di kotamu mengantarkanku pada seberkas memori kita yang masih tertahan disini".
***

Pukul delapan malam Keenan sudah berada di salah satu penginapan, bersiap-siap merapihkan diri. Tak lama ia membuka laptopnya, mengirimkan sebuah pesan kepada Aleeya.
Aleeya sadar sebuah pesan masuk, namun diabaikannya. Ia lebih memilih menyandarkan kepala pada kursi di hadapan mejanya. Sesaat kemudian ia tersadar Keenan akan datang ke kotanya. Dibukanya kotak masuk pada emailnya.
"Lee, aku sudah sampai di kotamu sore tadi diiringi hujan yang mengguyur dengan damai. Aku berhasil mengunjungi tempat kita dulu, tak banyak berubah. Mungkin hanya ceritanya saja yang kini berubah. Lupakan. Biar ku tebak, pasti kau sedang menikmati malammu dari balik jendela. Yang ku tahu, langit malam Bandung indah"

Aleeya bingung membalasnya, jari-jarinya hanya memainkan papan ketik laptopnya yang tak menghasilkan satu kalimat pun untuknya. Dirinya kembali menyandarkan kepalanya ke kursi.
Beberapa saat kemudian keluar sebuah kalimat balasan.
"Syukurlah kau mendarat di kota ku dengan selamat. Selamat menikmati kota Bandung kembali"
Aleeya menutup laptopnya, merebahkan tubuhnya di balik selimut yang lebih hangat dari cuaca bandung saat ini.
Keenan melihat balasan surel dari Aleeya, dipikirnya akan mendapatkan balasan yang panjang, semisal cerita mengenang masa kecilnya. Tapi lagi-lagi Keenan harus berbesar hati menerima balasan Aleeya yang sedemikian singkat dan tak begitu bermakna.
"Tenang, Lee. Aku dapat pastikan kita akan bertemu kembali di lain musim, di tempat kita berawal".

Minggu, 24 Januari 2016

Autumn On You

Genap empat tahun kita tak bertemu kembali setelah kau mengambil bab keputusan penting itu. Senja kala itu membawaku pada putaran memori usang tentang kita--yang pada kenyataannya memang tak pernah memulai. Lantas bagaimana akan ku katakan bahwa itu sudah berakhir? Momiji di kedua tanganku kini telah berubah wujud, kuning hampir kecoklatan. Dulu kau katakan, momiji yang berguguran mempunyai waktu dan caranya tersendiri. Ada kalanya kapan dia harus berubah warna. Dulu kau katakan, anggap saja satu daun yang berguguran itu mewakili satu kekhawatiran kita yang luruh. Terbang bersama angin yang membawanya dengan tabah. Maka kini ku katakan, aku telah meluruhkan semua kekhawatiran yang kau sebut. Kekhawatiran yang serupa di awal, bahwa kata 'kita' memang seharusnya seperti momiji, yang berubah warna pada waktunya lalu menyaksikan daun-daun itu terbawa angin beriring jarak yang terlihat semakin menjauh dan tak pernah terdengar riuh.

Putri Adhytia
Jakarta, 16 Januari 2016

#MalamNarasi

Minggu, 17 Januari 2016

Menggenap?

Menggenap merupakan perihal bab pengambilan keputusan terbesar, banyaknya pertimbangan yang membuat diri maju mundur dalam menentukan pilihan. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, sudah siapkah mengambil sebuah langkah konkrit--dimana meleburnya dua kepala menjadi satu tujuan bermuara surgaNya? Bila belum, maka persiapkan kembali segera segalanya, perbaiki niat dan tujuan. Bila sudah siap, melangkahlah maju. Katakan pada diri, aku siap menggenap bersamanya dengan seluruh kekuatan yang ada untuk membangun sebuah peradaban kecil. Sekecil apapun sebuah keraguan maka akan membuka pintu-pintu godaan yang buruk untuk langkah kita.

Tidak kah kamu ingin menjadi dua bahkan lebih?
Tidak kah kamu ingin menyemai sebuah nilai ketulusan dari dua orang yang akan menjadi utuh?
Tidak kah kamu ingin merasakan manisnya sebuah ikatan suci yang menggemparkan arsyNya?
Tidak kah kamu ingin melihat surga kecil di rumahmu kelak?
Tidak kah? Tidak kah?

Jangan pernah lupa, jalan menujuNya juga berliku. Perjalanan dua orang yang menjadi satu tidaklah mudah, mengemudi dua hati perlu penyesuaian. Ada masanya surga menjadi terasa jauh tersebab amarah yang menyulut.

Senin, 11 Januari 2016

Der Winter

"Desember mu t'lah usai, ku harap bersamaan pula dengan ’musim bunga' mu. Musim yang kau perbincangan akan bersemi menutup akhir tahunmu lalu. Nyatanya? Kini kau masih setia bersama pekerjaan barumu, masih bermanja dibalik hangatnya selimut bulan Januari"

Aleeya menghela napas panjang, menekan tombol enter di papan keyboard yang sejak sejam lalu ia mainkan layaknya memainkan sebuah piano. Entah kenapa dirinya sering kali merasa kaku untuk mengirimkan kalimat-kalimat berkonotasikan perasaan kepada teman pria yang sudah lama dikenalnya itu.
Aleeya mengklik inbox emailnya, ada beberapa pesan yang di bold hitam tapi hanya satu yang menjadi fokusnya.

"Ku pikir kau mengirim pesan untuk menyemangatiku selepas Desember kemarin huh"

Aleeya hanya membacanya sambil menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum kecil. Keenan, teman pria yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak. Mereka kini terpisah jarak karena harus menjalani hari-harinya menjadi pengusaha muda menggantikan posisi ayahnya di Negeri Nazi tersebut. Pertemanan yang sudah lama terjalin mengantarkannya pada sebuah keputusan yang harus diambil Aleeya. Sedang Aleeya kini menjalani aktifitasnya sebagai guru sastra di sebuah sekolah yang cukup ternama di Bandung.

"Lee, coba kamu berdiri disana. Aku mau ambil gambar kamu dari sini" Ucap Kee yang sudah bersiap-siap dengan kameranya
"Kamu bohong, pasti nanti kamu ambil gambar bunga itu bukan aku" Jawab Lee dengan muka kesalnya.

Aleeya kembali memandang layar yang ada di hadapannya kini, ia mengenang masa-masa kecilnya bersama Keenan yang berlatar pada bukit dan rumah kecil dari bambu yang biasa mereka singgahi. Air matanya menetes pada urutan huruf-huruf papan ketik, membiaskan kerinduannya pada masa lalu.
"Aku rindu Kee, rindu kebersamaan kita dahulu. Rindu akan tingkahmu yang konyol sewaktu kita di bukit kala itu. Kini kau telah menemukan duniamu disana, kita sibuk dengan urusan kita satu sama lain. Atau mungkin aku yang bersikap terlalu dingin padamu belakangan ini? Tidak Kee, sesungguhnya aku hanya ingin pertemanan kita tetap terjaga layaknya kau menjaga dia disana".

Sebuah pesan kembali masuk
"Kau baik-baik saja, Lee? Bagaimana kabar anak-anak didikanmu? Pasti mereka lebih pintar darimu"
"Aku cukup baik Kee, bahkan pada saat kau memperkenalkan dirinya padaku beberapa musim lalu". Seketika rentetan kalimat-kalimat yang sudah Aleeya ketik tersebut hilang. Aleeya mengarahkan kursor menekan tombol delete.

"Kau pikir aku akan bagaimana saat ini, huh? Setidaknya aku berhasil mengajarkan mereka pada hal-hal yang membuat diri mereka berkembang". Aleeya membalasnya dengan kalimat baru.
Keenan kembali membalas
"Sampaikan salamku untuk mereka, Lee. Tunggu aku, ku mohon".

Kee is offline

"Apa maksudmu, Kee? Kau sudah menghabiskan beberapa musim bersamanya, lalu kini kau memintaku untuk menunggu?" Aleeya menutup laptopnya, mengakhiri malamnya dengan meninggalkan post it bertuliskan "Musim kita berbeda, Keenan" di meja kamarnya.

Minggu, 10 Januari 2016

Bukan aku tak ingin pulang
Hanya saja masih tertahan disini
Tertahan karena aku belum menemukan tempatku untuk kembali
Kembali menunggu semuanya--baik-baik saja

Ah tidak
Tenang saja, sedang aku perbaiki segalanya
Tenang saja, sedang aku usahakan segalanya
Kelak kita akan sama-sama berdiri di masa itu
Perlahan..

Selasa, 05 Januari 2016

Katamu itu puisi, iya puisi untuk seseorang yang amat jelas kau kagumi--mungkin juga kau menyimpan sesuatu lebih. Ah lagi-lagi harus bicara tentang cinta, satu kata itu mampu menghadirkan sisi melankolis seseorang dalam seketika. Aku tak tahu harus bagaimana menyikapinya, inginku hanya menarik diri dari kata yang kau maksud. Tapi lagi-lagi kau menarik ku dalam cerita dongengmu yang saat ini tentu saja masih menyisakan ilusi. Tak pernah pula tergerak hatiku untuk menyambutnya, hanya saja sebatas ikatan pertemanan yang menurutku teramat sayang bila diabaikan, merusak hubungan yang sudah terjalin dengan baik bukan? Tentunya sebagai teman.
Duniamu kini berubah menjadi dongeng peradaban dengannya, sesekali aku hanya menyaut sebagai tanda aku menghargaimu sebagai temanku. Ah sudahlah, kurasa masing-masing dari kita saat ini masih mencari dalam kegamangan. Tak perlu aku berpanjang lebar menjelaskannya kembali padamu, kurasa kau sudah mengerti langkah apa yang seharusnya kau ambil. Aku berdoa dalam setiap harapku, semoga kelak kau temukan apa yang kau cari dalam beberapa waktu ini. 
Soon..

Minggu, 03 Januari 2016

Pusat-Pusat Peradaban Islam

A. MAKKAH AL-MUKARRAMAH
Mekkah merupakan tempat lahirnya agama Islam, dimana Nabi Muhammad lahir dan memperoleh wahyu Alquran di Kota Mekkah. Awalnya Mekkah merupakan pusat peradaban jahiliyyah.  Di kota ini juga terdapat Ka’bah  di Masjidil Haram yang merupakan kiblat umat Islam dalam shalat. Makkah juga menjadi pusat kajian ilmu-ilmu keagamaan, khususnya pusat kajian ilmu hadits dan fiqih.  Dari Madina setelah kekuatan Nabi Muhammad dan para sahabat menjadi besar beliau merebut kembali kota Makkah dengan cara menaklukkan kota itu secara damai, pada tahun 8 H (630 M) yang dikenal Fathul Makkah, yaitu terbukanya kota Makkah.[1]
Mekkah pada masa nabi muhammad lebih dititik beratkan pada menata masyarakatnya pada aqidah. sedangkan untuk ilmu-ilmu lain banyak diterapkan di Madinah. Mekkah menjadi pusat Keagamaan umat islam dunia. Mereka banyak berdatangan ke Mekkah untuk Haji dan umroh. serta memperdalam ilmu agamanya [2]

B. MADINAH AL-MUNAWWARAH
Kota Madinah pada awalnya bernama Yatsrib, dari Madinah Nabi meneruskan perjuangan menyabarkan agama Islam. Di Madinah selama 13 tahun nabi membina dan mengembangkan masysrakat Islam. Bahkan di Madinah ini, Nabi membangun sistem kehidupam bermasysrakat Islam yang dicita-cikannya.
Di kota ini pula terdapat masjid Nabi yang terkenal dengan dengan nama Masjid Nabawi. Di samping masjid dibangun ruangan tertutup untuk para fakir miskin kaum muslimin. Masjid diberi pintu dua, yaitu pintu Aisyah dan pintu Atiqah. Pada zaman Rasul dan para khulafaur rasyidin. Masjid Madinah menjadi kantor besar yang didalamnya diurus segala urusan pemerintahan. Di kota iniNabi Muhammad dimakamkan. Kota Madinah merupakan kota suci umat Islam setelah Makkah. Dari kota ini lahir para ilmuwan muslin dan para ulama yang menghiasi kota Madinah juga menjadi pusat kajian keilmuankeagamaan Islam, khususnya ilmu hadits, ilmu fiqih, dan ilmu tafsir Alquran. [3]
Peradaban Madinah berkembang ketika nabi muhammad datang ke Kota itu, dimana onta nabi muhammad berhenti disuatu bidang lahan untuk pembangunan masjid Nabawi. Pada saat itu kaum muslimin melakukan berbagai aktifitasnya di dalam masjid ini, baik beribadah, memutuskan suatu perkara, jual beli maupun perayaan-perayaan. Tempat ini menjadi faktor pemersatu umat. Selanjutnya kota ini menjadi pusat kekhalifahan sebagai penerus Nabi Muhammad. Terdapat tiga khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Pada masa Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan ke Kufah di Irak karena terjadi gejolak politik akibat terbunuhnya khalifah Utsman.
Secara sistematik, proses peradaban yang dilakukan oleh nabi pada masyarakat islam di Yatsrib adalah:
1. Nabi Muhammad mengubah nama dari Yastrib menjadi Madinah Al-Munawarah. Perubahan nama itu bukan secara kebetulan, perubahan itu menggambarkan cita-cita nabi Muhammad Saw. yaitu membentuk suatu masyarakat yang tertib dan maju serta berperadaban.
2. Membangun masjid bukan sebagai tempat ritual saja, tapi juga menjadi sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin dengan musyawarah dalam merundingkan masalah-masalah yang dihadapi. Masjid juga sebagai pusat pemerintahan.
3. Nabi Muhammad membentuk kegiatan Mu’akhat (persaudaraan) yang mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar.
4. Membentuk persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam.
5. Membentuk tentara untuk mengantisipasi gangguan yang dilakukan musuh.
Hubungan antara muslim dengan muslim lainya berdasarkan piagam madinah terdapat 5 prinsip
i)     Bertetangga baik
ii)    Saling membantu
iii)   Membela yang dianiaya
iv)   Saling menasehati                
v)    Menghormati kebebasan agama [4]

C. BAGHDAD
Menurut cerita rakyat, daerah ini sebelumnya adalah tempat peristirahatan Kisra Anusyirwan, seorang raja Persia yang masyhur di musim panas. Baghdad sendiri mempunyai arti “Taman Keadilan”. Masa keemasan Kota Baghdad terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al- Rasyid (786- 806 M) dan Al-Ma’mun (813-833 M). Peradaban yang dicapai pada masa Khalifah Al- Manshur diantaranya pada pembangunan fisik, dengan mendesain kota ini berbentuk bundar, yang di sekililingnya dibangun dinding tembok yang besar dan tinggi. Di sebelah luar dinding tembok digali parit besar yang berfungsi sebagai saluran air dan sekaligus sebagai benteng. Disediakannya empat buah pintu gerbang di sekitar kota ini untuk setiap orang yang ingin memasuki kota ini. Keempat pintu gerbang itu adalah Bab al- Kufah yang terletak di sebelah barat daya, Bab al- Syam di barat laut, Bab al- Bashrah di tenggara, dan Bab al- Khurasandi timur laut. Di masing-masing pintu gerbang di bangun 28 menara untuk tempat pengawal negara yang mengawasi keadaan di luar. Terdapat tempat peristirahatan dengan ukiran indah dan menyenangkan pada setiap pintu gerbang bagian atas.
Baghdad didirikan pada tahun 762 M oleh khalifah Al-Manshur dari Dinasti Abasiyah. Satu tim ahli dibentuk untuk memilih sebuah bidang tanah yang cukup luas, yang terletak antara Sungai Tigris dan Sungai Eufrat. Istana khalifah terletak di tengah-tengah kota Baghdad dengan gaya seni arsitektur Persia, yang dikenal dengan Al-Qashr Az-Zahabi (Istana Emas). Istana ini dilengkapi dengan bangunan masjid, tempat pengawal istana, polisi dan tempat tinggal putra-putri serta keluarga khalifah. Kota Baghdad menjadi lebih masyhur lagi karena perannya sebagai pusat perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam di dunia setelah masa Al-Manshur. Banyak buku filsafat yang sebelumnya dipandang sudah mati, yang kemudian dihidupkan kembali dengan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Khalifah Al- Ma’mun memiliki perpustakaan yang dipenuhi dengan beribu-ribu ilmu pengetahuan yang bernama Bait Al-Hikmah. Banyak para ilmuwan dari berbagai daerah datang ke kota ini untuk mendalami ilmu pengetahuan. [5]
Sejak berdirinya Baghdad sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Dari baghdad lahir karya-karya sastra indah diantaranya Alfu Lailah wa Lailah (1001 malam). Dan juga para ilmuwan, ulama, filsuf, dan sastrawan diantaranya: Al-Khawarizmi (tokoh astronomi, matematika, penemu al jabar), AL-Kindi (filsuf arab pertama), Al-Farabi (filsuf besar), Ar-Razi (filsuf, ahli fisika, dan kedokteran), Imam Al-Ghazali (ilmuwan dan ulama ternama), Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani (pendiri tarekat Qadariyah). Pada masa Abbasiyah di kota Baghdad juga berdiri akademik dan sekolah tinggi. Perguruan tinggi yang terkenal adalah An-Nizhamiyah, didirikan oleh Nizamul Mulk (5H) dan perguruan Al-Mustanshiriyah yang didirikan oleh khalifat Al-Muntashir Billah (7H).
Karena serangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 1258 M kota ini hancur berantakan. Pada tahun 1400 M, kota ini diserang oleh pasukan Timur Lenk, tahun 1508 M dihancurkan oleh tentara Kerajaan Safawi. [6]

D. KAIRO (MESIR)
Setelah panglima Jauhar As-Siqili menduduki Mesir pada tahun 358 H, Jauhar As-Siqili memulai pembangunan kota baru untuk mendaji ibu kota Dinasti Fathimiyah. Kota ini mula-mula diberi nama “Manshuriyah” dinisbatkan kepada Mansur Al-Mu’iz Lidinilah. Setelah Mu’iz sendiri sampai di Mesir namanya diubah menjadi Qahiriyah Mu’iziyah. Wilayah Dinasti Fathimiyah meliputi Afrika Utara, Sicilia, dan Syiria.
Kota Kairo mengalami puncak kejayaan pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi. Dinasti Fathimiyah dapat ditumbangkan oleh dinasti Ayyubiyah yang didirikan oleh Salahuddun Al-Ayyubi seorang pahlawan dalam perang salib. Shalahuddin tetap mempertahankan lembaga-lembaga ilmiyah yang didirikan oleh Dinasti Fathimiyyyah tetapi mengubah orientasi keagamaannya dari Syi’ah menjadi Ahlus Sunnah. Kekuasaaan Dinasti Ayyubiyah di Mesir di teruskan oleh Dinasti Mamalik. Dinasti ini mampumempertahankan pusat kekuasaannya dari serangan bangsa Mongol dan bahkan dapat mengalahkantentara Mongol di Ain Jalut di bawah pimpinan Baybars yang berkuasa dari tahun 1260-1277 M.  Pada tahun 1517 M, Dinasti Mamalik dapat dikalahkan oleh Dinasti Usmani di Turki dan sejak itu Kairo hanya dijadikan sebagai Ibukota provinsi Kerajaan Usmani. [7]
Bentuk kota Kairo ini hampir merupakan segi empat. Di  sekelilingnya dibangun pagar tembok besar dan tinggi, yang sampai sekarang masih ditemui peninggalannya. Pagar tembok ini  memanjang dari Masjid Ibn Thulun sampai ke Qal’at Al- Jabal, memanjang dari Jabal Al-Muqattam sampai ke tepi Sungai Nill. Setelah pembangunan kota Kairo rampung lengkap dengan istananya, Jauhar As-Saqili mendirikan Masjid Al-Azhar, 17 Ramadhan 359 H/970 M. Masjid ini berkembang menjadi sebuah universitas besar yang sampai sekarang masih berdiri megah. Nama Al-Azhar diambil dari Al-Zahra’, julukan Fathimiah, puteri Nabi Muhammad SAW dan istri ‘Ali ibn Abi Thalib. Dalam pemerintahannya Al-Mu’iz melaksanakan tiga kebijaksanaan besar, yaitu pembaharuan dalam bidang administrasi, pembangunan ekonomi, dan toleransi beragama. Dalam bidang administrasi, beliau mengangkat seorang wazir untuk melaksanakan tugas-tugas kenegaraan. Dalam bidang ekonomi, beliau memberi gaji khusus kepada tentara, personalia istana, dan pejabat pemerintahan lainnya.
Pada masa Al-Aziz menggunakan program baru dengan mendirikan masjid- masjid, istana, jembatan, dan kanal- kanal baru. Pada masa Aziz Billah dan Hakim Bianrillah, terdapat seorang mahaguru bernama Ibn Yunus menemukan pendulum dan ukuran waktu dengan ayunannya. Karyanya Zij Al-Akbar Al-Hakimi diterjemahkan ke berbagi bahasa. Beliau meninggal pada tahun 1009 M kemudian penemuan- penemuannya diteruskan oleh Ibn Al-Nabdi (1040) dan Hasan Ibn Haitham, seorang astronom dan ahli optika, yang tersebut terakhir ini menemukan sinar cahaya datang dari objek ke mata dan bukan keluar dari mata lalu mengenai dunia luar.
Pada masa Al-Hakim (996-1021 M) didirikan Bait Al-Hikmah, terinspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan oleh Al-Makmun di Baghdad. Di lembaga ini banyak sekali koleksi buku-buku. Lembaga ini juga merupakan pusat pengkajian astronomi, kedokteran, dan ajaran-ajaran islam terutama Syi’ah. Pada masa-masa selanjutnya, Dinasti Fathimiah mulai mendapat gangguan-gangguan politik. Akan tetapi Kairo tetap menjadi sebuah kota besar dan penting. Ketika jayanya, di Kairo telah memiliki kurang lebih 20.000 toko milik khalifah. Kafilah-kafilah, tempat-tempat pemandian dan sarana umum lainnya telah didirikan oleh khalifah. Istana khalifah dihuni 30.000 orang, 12.000 orang diantaranya adalah pembantu dan 1.000 pengawal berkuda. [8]

E. DAMASKUS DI SYIRIA
Damaskus pada zaman sebelum Islam adalah ibu kota Kerajaan Romawi Timur di Syiria.  Damaskus merupakan kota lama  yang dibangun kembali dalam zaman daulah Bani Umayyah dan dijadikan ibu kota negara sejak pemerintahan Muawiyyah bin Abi Sufyan, khalifah pertama Bani Umayyah. Di kota Damaskus banyak didirikan gedung-gedung yang indah, yang bernilai seni, disamping kotanya sendiri dibangun sedemikian rupa teratur dan indahnya, dengan jalan-jalan yang lebih rimbun, kanal-kanal yang bersimpang siur berfungsi sebagai jalan dan pengairan, taman-taman rekreasi yang menakjubkan. Di Damaskus terdapat Masjid Damaskus yang megah dan agung, masjid ini dibangun oleh Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik dengan arsiteknya Abu Ubaidah bin Jarrah. [9]

F. KAIRAWAN
Kairawan merupakan kota baru yang terletak di Afrika Utara. Kota ini dibangun pada masa Dinasti Umayyah. Sesuai dengan kota-kota Islam yang lain, Kairawan dibangun dengan gaya arsitektur Islam, yang dilengkapi dengan berbagai gedung, masjid, taman, daerah perdagangan, daerah industri, daerah militer dan sebagainya.
Di kota Kairawan terdapat Masjid Kairawan yang dibangun pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik oleh Aqabah, gubernur Afrika Utara. Masjid ini adalah Masjid yang termasyhur. Berkali-kali masjid ini mengalami perbaikan dan perlebaran oleh para gubernur yang silih berganti menjabat, sehingga akhirnya menjadi satu muslimin di Afrika Utara, terutama dengan kubahnya yang terkenal dengan “Qubatul Bahwi”.  Kota Kairawan kemudian menjadi kota internasional, karena di dalamnya berdiam bangsa-bangsa Arab, Barbar, Persia, Romawi, dan lain-lain. Kairawan juga merupakan kota ilmu, disamping sebagai kota militer. [10]

G.    ISFAHAN DI PERSIA
     Kota Isfahan merupakan ibu kota kerjaan Safawi. Kota Isfahan merupakan tua yang didirikan oleh Yazdjird yang merupakan Raja Persia. Kota Isfahan ini dikuasai Islam tahun 19H/640 M pada masa Umar bin Khattab. Kota ini terletak diatas Kota Zanndah, dan diatasnya membenteng 3 buah jembatan yang megah dan indah. Pada tahun 625 H/1228M terjadi pertempuran besar di Isfahan, ketika tentara Mongol menyerbu negri-negri Islam dan menjadikan Isfahan sebagai salah satu bagian wilayah kekuasaaan Mongol itu. Ketika Timur Lenk menyerbu negri-negri Islam pada tahun 790H /1388 M, kota Isfahan ikut jatuh dibawah  kekuasaan Timur Lenk setelah itu, kota Isfahan dikuasai oleh kerajaan Turki Usmani pada tahun 955 H/1548 M. Pada tahun 1134 H/ 1721 M terjadi pertempuran antara Husain Shafawi dengan Mahmud Al-Afghani, yang mengakhiri riwayat kerajaan Shafawi. Di kota ini berdiri bangunan-bangunan indah seperti istana, sekolah-sekolah, masjid-masjid, menara, pasar, dan rumah-rumah dengan ukuran arsitektur yang indah. [11]

H. ISTANBUL DI TURKI
            Kota istanbul merupakan Ibu kota kerajaan Turki Usmani. Awalnya merupakan ibu kota kerajaan Romawi Timur dengan nama Konstantinopel. Konstantinopel sebelumnya sebuah kota bernama Bizantium, kemudian diganti dengan nama Kontsantipel oleh kaisar Constantin, kaisar Romawi Timur. Konstantinopel jatuh ke tangan Islam pada masa Dinasti Turki Usmani dibawah pimpinan Sultan Muhammad II yang bergelar Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453, dan di jadikan ibukota kerajaan Turki Usmani.
            Oleh Sultan Muhammad Al-Fatih, kota Konstantinopel yang artinya kota Constantin, di ubah namanya menjadi Istanbul yang artinya kota Islam. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Eropa Timur, Asia kecil, dan Aftika Utara. Bahkan daerah-daerah yang lebih jauh juga mengakui kekuasaan Istanbul. Dalam bidang arsitektur, masjid-masjid yang dibangun membuktikan kemajuannya. Masjid merupakan suatu ciri dari sebuah kota Islam, tempat kaum Muslimin menjalankan kewajiban ibadahnya. Gereja Aya Sophia, setelah ditaklukkan kaum Muslimin diubah menjadi masjid Agung yang terpenting di Istanbul. Pengaruh jatuhnya Kontantinopel besar sekali bagi Turki Usmani. Kota tua itu adalah pusat kerajaan Bizantium yang menyimpan banyak ilmu pengetahuan dan menjadi pusat agama Kristen ortodoks.
            Istanbul merupakan pusat peradaban Islam pada masa kekuasaan Turki Usmani yang terpenting bukan karena keindahan kota, akan tetapi karena di kota bekas pusat kekuasaan Romawi Timur terdapat pusat-pusat kajian keilmuan yang mendorong puncak kejayaan peradaban umat Islam. [12]
Setelah Muhammad Al-Fatih menjadikan Istambul sebgai ibu kota kerajaan Turki Usmani, beliau melakukan penataan hal-ihwal orang-orang Kristen Yunani (Romawi). Dalam penataan tersebut beliau tetap memberikan kebebasan kepada pihak gereja, seperti yang dilakukan para pendahulunya dan mengakui agama lain sesuai dengan ajaran islam yang menghormati keyakinan suatu agama. Penduduk Istanbul memang heterogen dalam bidang agama. Menurut sensus tahun 1477, penduduk Istanbul berdasarkan agama adalah sebagai berikut: Muslim 8951 rumah tangga (60%),  penganut Kristen Ortodoks (Yunani) 3151 rumah tangga (21,5%), Yahudi 1647 rumah tangga (11%), lain-lain 1054 rumah tangga (7,5% ).
Sebagai ibu kota, di sinilah tempat berkembangnya kebudayaan Turki yang merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan. Bangsa Turki Utsmani banyak mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia. Sebagai bangsa berasal dari Asia Tengah, Turki memang suka berasimilasi dan senang bergaul dengan bangsa lain. Dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan, kebudayan Bizantium banyak mempengaruhi kerajaan Turki Utsmani ini. Namun, jauh sebelum mereka berasimilasi dengan bangsa-bangsa tersebut, sejak pertama kali mereka masuk Islam bangsa Arab sudah menjadi guru mereka dalam bidang agama, ilmu, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan hukum. Huruf Arab dijadikn huruf resmi kerajaan. Kekuasaan tertinggi memang berada di tangan Sultan, tetapi roda pemerintahan dijalankan oleh Shadr Al-A’zham (Perdana menteri) yang berkedudukan di ibu kota. Jabatan-jabatan penting, termasuk perdana menteri, seringkali justru diserahkan kepada orang-orang asal Eropa, dengan syarat menyatakan diri secara formal masuk Islam.
Dalam bidang arsitektur, masjid-masjid yang dibangun di sana membuktikan kemajuannya. Masjid memang merupakan suatu ciri dari sebuah kota Islam, tempat kaum muslimin mendapat fasilitas lengkap untuk menjalankan kewajiban agamanya, Gereja Aya Sophia, setelah penaklukan diubah menjadi sebuah masjid agung yang terpenting di Istambul. Gambar-gambar makhluk hidup yang ada sebelumnya ditutup, mihrab didirikan, dindingnya dihiasi dengan kaligrafi yang indah, dan menara-menara dibangun. Masjid-masjid penting lainnya adalah Masjid Agung Al-Muhammadi atau Masjid Agung Sultan Muhammad Al-Fatih, Masjid Abu Ayyub Al-Anshari (tempat penaklukan para Sultan Utsmani), Masjid Bayazid dengan gaya Persia, dan Masjid Sulaiman Al-Qanuni.
            Di samping masjid, para sultan juga mendirikan istana-istana dan vila-vila yang megah, sekolah, asrama, rumah sakit, panti asuhan, penginapan, pemandian umum, pusat-pusat Tharekat, dan lain- lain. Rumah-rumah dan vila yang mewah juga dimiliki oleh pedagang-pedagang kaya. Istana dan vila biasanya dilengkapi dengan taman dan tembok di sekelilingnya. Jalan- jalan yang menghubungkan antara satu daerah dengan daerah lain, terutama dengan ibu kota dibangun. [13]

I.  DELHI (INDIA)
            Delhi merupakan ibukota kerajaan Islam India sejak tahun 608 H/1211 M. Sebagai ibukota kerajaan Islam Delhi menjadi pusat kebudayaan dan peradaban Islan dianak benua India. Delhi terletak di sebalah sungai Jamna. Mula-mula Delhi dikuasai islam, ditaklukkan oleh Quthb Ad-Din Aybak. Tahun 602 H/ 1204 M oleh Quthb Ad-Din Aybak dijadikan ibukota kerajaan Islam Mongol. Zhahiruddin Babur raja Dinasti Mongol pertama, merebut Delhi dari tangan Dinasti Lodi. [14]
Sebelum Islam masuk kesana, Delhi berada di bawah kekuasaan keturunan Johan Rajput. Dinasti Mamluk ini berkuasa sampai tahun 689 H(1290), kemudian diganti oleh dinasti Khaji (1296-1326M), kemudian diganti oleh dinasti Tughlug (1320-1413M). Setiap dinasti Islam memperluas kota itu dengan mendirikan “kota-kota” baru di Delhi semula, yaitu kota yang berada di dalam benteng Lalkot. Delhi sekarang mencakup semua kota-kota baru itu. Semuanya dikenal sebagai ”Tujuh Kota Delhi”. Dinasti Mamluk memperluas tembok kota Hindu dengan apa yang dikenal kota Kil’a Ray Pithora. Inilah kota pertama dari tujuh kota Delhi tersebut. Sementara itu Dinasti Khalji menambah bangunan Masjid dengan atap yang indah dan beberapa menara lagi. Kesebelah barat, dinasti ini memperluas benteng Lalkot yang lama dengan maksud mempertahankan kota dari serangan bangsa Mongol. Dengan demikian ia memindahkan ibukota ke Siri, sekitar 2 km. Inilah kota yang kedua. Di dalam kota, dinasti ini mendirikan sebuah istana megah tersendiri.
Pada dinasti Tughlug, raja pertama mendirikan Tughlughabad, kota sekitar 8 km di sebelah timur Kil’a Ray Pithora, yang kemudian dijadikan sebagai pusat pemerintahan Pada tahun 730 H/1320 M. Di tengah kota didirikan masjid, perumahan, perkantoran, dan jalan-jalan yang dikelilingi oleh benteng yang kuat. Muhammad Ibn Tughlug juga melaksanakan sebuah proyek raksasa, yaitu mendirikan Adilabad yang kemudian dikenal dengan kota Jahanpah. Hal yang sama juga dilakukan oleh Fairuz Tughlug dengan mendirikan kota fairuzabad, sekita 3 km disebelah barat laut kota yang kemudian dikenal dengan Syahjahanabad. Setelah Delhi dihancurkan tentara Timur Lenk, kekuasaan raja-raja yang berkedudukan di Delhi merosot tajam. Ketika itulah dinasti Lodi mengambil kota agra sebagai ibu kota, sementara Delhi menjadi kota yang kurang penting. [15]
            Kota Agra itu pula untuk pertama kalinya menjadi ibu kota kerajaan Mongol, ketika Zhahiruddin Babur mengalahkan dinasti Lodi. Raja mongol Syah Jehan (1628-1658) mendirikan kota Syahjahanabad. Syah Jehan mendirikan monumen yang sangat bersejarah yang sangat indah dan menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia, yaitu Taj Mahal, sebuah monumen untuk mengenang istri tercintanya Mumtaz Mahal. [16]
Setiap dinasti Islam uang berkuasa di India dan menjadikan Delhi sebagai ibu kotanya, seakan-akan mereka berlomba-lomba untuk membangun dan memperindah Istana, Benteng, Masjid, Madrasah dan Makam. Di Delhi dan sekitarnya banyak berdiri Makam-makam megah, bukan saja makam penguasa islam tetapi juga makam-makam para Wali. Kalau saja Timur Lenk tidak menghancurkan kota Delhi, tentu akan banyak sekali bangunan mewah dan indah yang dapat disaksikan. Delhi islam yang dapat kita saksikan sekarang adalah Delhi yang hanya dibangun oleh kerajaan Mughal. [17]

J. ANDALUSIA (SPANYOL)
a.  Cordova
            Cordova adalah kota lama yang dibangun kembali dengan gaya Islam. Dari kota ini lahirlah filsuf Ibnu Rusyd (Averros). Kota ini pertama kali dimasuki Islam pada tahun 711 M oleh pasukan Islam dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Ketika Abdurrahman Ad-Dakhil masuk ke Andalusia, telah menjadikan Cordova sebagai ibu kota dan kota yang indah. Ia menciptakan taman dengan dipenuhi tuffah (apel) dan pohon delima. Semasa pemerintahan Abdurrahman An-Nasir, Cordova diperindah dan diperluas. Pada masanya terdapat pula Universitas Cordova yang dijadikan satu dengan Masjid Cordova, pada saat itu Cordova menjasi kota budaya di daratan Eropa. Cordova, Konstantinopel dan Baghdad merupakan tiga pusat kebudayaan dunia. [18]
Sebagai ibu kota pemerintahan, Cordova di masa bani Umayyah mengalami perkembangan yang pesat. Banyak bangunan-bangunan baru yang didirikan seperti Istana dan Masjid-masjid. Kota ini diperluas dengan memperbesar tembok yang mengelilinginya. Sebuah jembatan dengan gaya arsitektur Islam yang mempunyai 16 lengkungan dalam gaya romawi, menghubungkan Cordova dengan daerah pinggiran diseberang sungai. Disebelah barat jembatan itu berdiri Istana al Caza. Perkembangan kota ini mencapai puncaknya pada abd. Al-Rahman al-Nashir dipertengahan abad ke-10 M. Pada masa pemerintahan Islam Cordova terkenal juga sebagai pusat kerajinan barang-barang dari perak, sulaman-sulaman dari sutra dan kulit yang mempunyai bentuk khusus. Pada tahun 1236 M Cordova direbut oleh tentara kristen dibawah pimpinan Ferdinand III dari Castila. Setelah itu, supremasi islam di Spanyol mulai mengalami zaman kemunduran.
Pada masa pemerintahan bani Umayyah di Spanyol, Cordova menjadi pusat ilmu pengetahuan. Di kota ini berdiri Universitas Cordova. Banyak ilmuwan dari dunia Islam bagian timur yang tertarik untuk mengajar di Universitas ini. Disamping itu, di kota ini juga terdapat sebuah perpustakaan besar yang mempunyai koleksi buku kira-kira 400 judul. Daftar sebagian dari buku-buku itu terkumpul dalam 44 jilid buku besar. Kemajuan ilmu pengetahuan disana tidak dapat terlepas dari dua orang Kholifah pencinta ilmu yaitu, Abd. Al-Rahman al-Nashir dan anaknya al-Hakam. Yang disebut terakhir ini memerintahkan pegawainya untuk mencari dan membeli buku-buku ilmu pengetahuan, baik klasik maupun kontemporer. Bahkan, ia ikut langsung dalam pengumpulan buku itu. Ia menulis surat kepada penulis-penulis terkenal untuk mendapat karyanya dengan imbalan yang tinggi. Pada masanya lah tercapai apa yang dinamakan masa keemasan ilmu pengetahuan dan sastra di Spanyol Islam.
Cordoba telah menghasilkan banyak ulama untuk kita dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti Ibnu Abdil Barr, Ibn Hazm az-Zhahiri, Ibnu Rusyd, az-Zahrawi, al-Idrisi, al-Abbas bin Farnas, al-Qurthubi dan lainnya. Cordoba tetap dalam keunggulan seperti ini dibandingkan dengan kota-kota lain di Spanyol hingga runtuhnya masa dinasti Umayyah pada tahun 404 H atau 1013 M, ketika tentara Barbar memberontak dan menggulingkan kekhilafahan. Mereka menghancurkan istana-istana para Khalifah, meluluhlantahkan kota serta merampas keindahannya. Sejak saat itu padamlah sinar kemajuan di kota tersebut dan pindah ke kota selanjutnya, Asybiliah (Sevilla).
Masjid Jami’ terhitung sebagai satu karya besar dalam bidang seni bangunan yang didirikan pada masa Abdurrahman ad-Dakhil. Dan Masjid Cordoba tetap eksis hingga sekarang ini dengan seni dan artefak ala Islam lengkap dengan mihrab-mihrabnya. Akan tetapi sekarang telah berubah fungsi menjadi Gereja Katedral setelah Cordoba berhasil ditaklukkan dan setelah dirombak dengan membuang banyak kubah serta ornamen keislamannya.Sekalipun demikian, Masjid ini mampu mempertahankan sebagian keunggulannya, hingga jatuh ke tangan Fernando III pada tanggal 23 Syawwal 633 H. Kaum muslimin dipaksa meninggalkannya dan usailah sudah lembaran kebudayaan kaum muslimin yang luar biasa, berlangsung selama 5 abad di kota tersebut.        
b. Granada
            Kota Granada terletak ditepi sungai genil di kaki gunung Sierra Nevada, berdekatan dengan pantai laut mediterania (Laut Tengah). Kota ini berada dibawah kekuasaan Islam hampir bersamaan dengan kota-kota lain di Spanyol yang ditaklukan oleh tentara Bani Umayyah di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair tahun 711 M. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah di Spanyol, kota ini disebut Andalusia Atas.
Pada masa itu, Granada mengalami perkembangan pesat. Setelah Bani Umayyah mengalami kemunduran, tahun 1031 M, dalam jangka 60 tahun, Granada diperintah oleh Dinasti Zirids. Setelah itu, Granada jatuh kebawah pemerintahan Al-Mubarithun, sebuah dinasti barbar di Afrika Utara pada tahun 1090-1149 M. Sejak abad ke13, Granada diperintah oleh Dinasti Nasrid selama lebih kurang 250 tahun. Granada terkenal dengan tembok dan 20 menara mengitarinya. Pada masa pemerintahan Muhammad V (1354-1391 M), Granada mencapai puncak kejayaannya, baik dalam bidang arsitektur maupun dalam bidang politik. Pada tahun 1492, kota ini jatuh ke tangan penguasa Kristen, raja Ferdinand dan Issabela. Selanjutnya, tahun 1610 M orang-orang Islam diusir dari kota ini oleh penguasa Kristen. [19]
            Granada merupakan kota besar di Andalusia, yang pernah menjadi kebanggaan kaum muslimin Andalusia. Kebesaran kota Granada terlihat pada peninggalannya yang berupa istana Alhambra yang didirikan oleh Muhammad bin Al-Ahmar dari Dinasti Ahmar. Granada menjadi kota terbesar ke lima di Spanyol.
            Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah Granada mengalami perkembangan pesat. Granada dikelilingi oleh tembok, adapun penduduknya terdiri dari campuran berbagai bangsa terutama bangsa Arab, Barbar dan Spanyol yang menganut tiga agama besar Islam, Kristen dan Yahudi. [20]
c.  Sevilla
            Kota Sevilla dibangun pada masa Dinasti Al-Muwahhidin. Kota ini pernah menjadi ibu kota Andalusia. Semuala kota ini adalah rawa-rawa, pada masa Romawi kota ini bernama Romula Agusta kemudian berubah menjadi Hispah sebelum menjadi Asyibiliyah. Sevilla berada di bawah kekuasaan Islam, kurang lebih selama 500 tahun, tidak heran jika banyak dijumpai sisa-sisa peninggalan seni dan budaya Islam. Salah satu bangunan kebanggaan  umat Islam kini telah berubah dari masjid besar menjadi gereja yaitu Santa Maria de la Sede. [21]

K.    TRANSOXANIA
1.      Samarkand
            Samarkand berada di sebelah sungai As-Saghad. Riwayat tentang kota Samarkand yang tertua disebutkan dalam berita-berita tentang peperangan-peperangan Iskandar Zulkarnain. Dalam beberapa catatan disebutkan bahwa kota Samarkand beberapa kali diduduki oleh Iskandar ketika ia dan pasukannya berperang melawan Spitamenes. Akan tetapi, menurut riwayat-riwayat tertua dalam bahasa Arab, Iskandarlah yang mendirikan kota Samarkand.
            Di Samarkand terdapat makan terkenal yang masih sangat dihormati dan dikunjungi orang, yaitu makan Qasim bin Abbas, yang dipandang sebagai pembawa agama Islam ke negri ini pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Di Samarkand juga terdapat malam ulama theology terkenal yaitu Abu Mansur Al-Maturidi yaitu pendiri aliran Maturidiyah penopang paham Ahlus Sunnah. Salah seorang walisongo yaitu Maulana Malik Ibrahin juga disebutkan konon berasal dari daerah Samarkand, karena ia berasal dari keturunan Ibrahim As-Samarkandi yang kemudian di Jawa dikenal dengan sebutan Ibrahim Asmarakandi. [22]
2.      Bukhara
            Bukhara diperkirakan sudah ada sebelum Islam, kota ini sudah ada ketika Iskandar Zulkarnaian datang ke sana. Pengaruh Persia sangat menonjol pada bangunan-bangunan kuno. Demukian pula pengaruh Cina. Sebelum Islam datang ke Bukhara penganut agama Budha cukup banyak. Berulang kali umat Islam mengadakan ekspedisi ke wilayah Bukhara ini, akan tetapi mengalami kegagalan. Barulah pada masa Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad menyerahkan urusan pemerintahan ke Samarkand dan Bukhara. Di kota ini terdapat makam yang dihormati dan menjadi tempat ziarah umat Islam, yaitu Makan Baharuddin An-Naqsyabandi, seorang pendiri aliran dalam bidang sufistik, yaitu tarekat Naqsyabandiyah. Di samping itu dari kota Bukhara lahir ulama hadits terkenal yaitu Imam Bukhori yang menulis kitab Shahih Bukhari. Kota Bukhara dikenal sebagai pusat ilmu-ilmu keagamaan Islam. Transoxania pernah dihancurkan oleh Jenghiz Khan dan dibangun kembali oleh Timur Lenk dan dijadikan ibu kota kerajaannnya. [23]

L. ACEH
            Aceh mewakili pusat dunia Islam di Asia Tenggara. Pada masa kejayaannya Aceh merupakan pusat peradaban di wilayah dunia Islam bagian Timur, yaitu Asia Tenggara. Bahkan Aceh merupakan pintu transmisi jalur perjalanan penyebaran agama Islam ke seluruh wilayah, Aceh terkenal dengan sebutan Serambi Mekah. Aceh merupakan pintu gerbang masuknya Islam ke seluruh wilayah Nusantara. Di Aceh pernah berdiri kerajaan-kerajaan Islam yang pertama, yaitu kerajaan Peurlak, Kerajaan Samudra Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam.
            Beberapa ulama Aceh yang terkenal dengan karya-karyanya adalah Nuruddin Ar-Raniri, Hamzah Fansuri, Abdurrauf Singkel, Syamsuddin Sumatrani, dll. Aceh  juga merupakan kekuatan yang sangat ditakuti semasa penjajahan belanda, karena Aceh memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dalam menghadapi penjajahan Belanda. [24]




















 1. Samsul Munir, Sejarah peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm 281-282
 2. Dedi Supriadi. Sejarah Peradaban Islam,  (Bandung: Pustaka setia, 2008),  hlm 63
 3. Samsul Munir., Op. Cit., 282-284
 4. Dedi Supardi., Op. Cit., hlm 64-65
 5. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003),  hlm. 277-281
 6. Samsul Munir., Op. Cit., hlm 285
 7. Ibid., hlm 286
 8. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003) hlm.281-283
 9. Samsul Munir., Op. Cit., hlm 287
10.Ibid., hlm 288
11.Ibid., hlm 289-290
12.Ibid., hlm 290-2919
13.Badri Yatim, Op., Cit., hal.287-28914.Badri Yatim,Op.Cit., hlm. 290-291
14.Samsul Munir., Op.Cit., hlm 291
15.Badri Yatim,Op.Cit., hlm. 290-291
16.Samsul Munir, Op. Cit., hlm 292
17.Badri Yatim, Op. Cit., hlm. 291
18.Samsul Munir, Op. Cit., hlm 293-294
19.Badri Yatim, Op. Cit., hlm. 294-295
20.Samsul Munir, Op. Cit., hlm 295-296
21.Ibid., hlm 294
22.Ibid., hlm 296-297
23.Ibid., hlm 297-298
24.Ibid., hlm 299-300