Rabu, 03 Februari 2016

Surat Untuk Enie Handyas

Malam ini Ibukota ku dingin, En. Entah disana bagaimana cuacanya. Aku tersentak mendapati sebuah pesan berisikan kalimat untuk turut mendoakan kesembuhanmu--yang saat ini tengah terbaring di sebuah kamar bertemankan selang infus. Sempat beberapa waktu lalu kita masih berkomunikasi lewat media WhatsApp. Tangisku tumpah di kamar, En. Aku baru saja ingin beristirahat, merasa lelah beberapa hari ini kondisi sedang tidak begitu sehat. Mendengar kabarmu saat ini menyadarkanku, bahwa aku seharusnya masih bisa beraktifitas dengan memaksimalkan segala usaha. Tapi siapa sangka, kamu sudah lebih dulu menginap di sebuah rumah yang beraroma sejumlah obat-obatan. Dan kamu sudah lebih dulu kuat dengan keadaanmu. Sepupumu mengatakan, sejak dua minggu yang lalu, mulai menghentikan aktifitasmu. Enie Handyas, sejujurnya aku tidak mengenal rupa dan wujudmu. Aku berusaha mengenalimu lewat tulisan-tulisanmu yang rutin ku sambangi setiap kali aku akan mulai menulis, mengenalimu lewat pesan personal yang kita lakukan dan lewat pertemuan dunia maya yang terajut dengan hangat--melalui karya-karya dalam komunitas kepenulisan kita. Awalnya ku pikir, Enie adalah sesosok wanita yang usianya diatasku. Tapi ternyata? Kamu adik ku, iya adik. Tapi memang benar, kamu dewasa. Setidaknya dalam pandanganku, En.
Kamu tahu, En? Ingin rasanya aku terbang untuk sekedar menjengukmu saat ini. Membisikkan sebuah doa berharap kesembuhanmu dan menggenggam tanganmu untuk sekedar mengatakan ”aku mengagumi pribadimu, En. Tetaplah menjadi Enie yang kuat di setiap keadaan".
Kamu tahu, En? Ada seseorang yang tengah berusaha untuk menemuimu saat ini. Tak perlu ku beri tahu. Betapa banyak orang yang menunggumu sadar kembali, En. Terakhir kita berbicara untuk melebihkan sabar masing-masing diri, menguatkan hati dan tetap berjalan untuk sesuatu yang sedang kita perjuangkan.

Allah pasti tahu batas mampumu, Allah tahu segala harap dan rindumu yang masih tertahan.
Syafakillah Syifa'an 'aajilaan..
Semoga Allah mengangkat penyakitmu dan menjadikannya sebagai penggugur dosa-dosa.




Peluk hangat dari Jakarta yang tengah dingin selepas hujan di penghujung Januari

Senin, 25 Januari 2016

Der Winter #2

Udara Paris Van Java pagi ini angin bertiup dari arah utara melambaikan setiap nyiur yang menyambut setiap penduduk untuk beraktifitas. Sayangnya enggan untuk sekedar keluar rumah, udara lumayan sejuk selepas hujan yang mengguyur semalaman tadi.
Aleeya sudah duduk dihadapan laptopnya, di salah satu ruang ternyamannya. Kembali membuka tugasnya dan memulai hobbinya, mengirim artikel ke sebuah harian media cetak Bandung. Segelas coklat hangat menemaninya pagi itu. Matanya masih menahan kantuk sisa semalam membuat tugas untuk murid-muridnya.

"Lee, kau ada di rumah hari ini? Aku berencana akan terbang kesana sore ini"

Sebuah email kembali masuk darinya. Aleeya mengerjapkan matanya, berusaha membuka lebar-lebar kedua matanya. "Oh Keenan! Ku mohon jangan hari ini, Kee" Aleeya menghembuskan napas, kemudian terpekur di mejanya. Selang beberapa menit kemudian Aleeya membalas email darinya.

"Sudah bosankah kau disana, Kee? Alasan apa yang membuatmu ingin ke Bandung hari ini? Tidak bisakah di lain waktu? Aku sibuk saat ini. Maaf"

"Aku ingin bertemu kau, Lee. Bertemu dan bermain dengan anak didikmu". Keenan membalas dengan menyelipkan emoticon smile di akhir kalimatnya.

"Haruskah kita bertemu saat ini, Kee? Sungguh, entah mengapa aku tidak ingin bertemu denganmu saat ini". Aleeya mendongakkan kepalanya ke langit-langit kamar, mengabaikan balasan email dari Keenan. Air matanya mulai menetes perlahan.

"Bila kau tidak berkenan aku akan tetap terbang ke Bandung sore ini, Lee. Aku sudah memesan tiket penerbangan, setidaknya aku tetap bisa mengunjungi tempat itu walaupun tidak bersama denganmu. Kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran. KL.". Keenan membalasnya kembali dengan memberikan simbol pertemanan mereka sewaktu bermain di atas bukit dulu.

"Sejujurnya aku rindu dengan kebersamaan kita dulu, kebersamaan yang kini telah pudar perlahan terbunuh aktifitas kita masing-masing. Kotak kecil yang kau buat dari bambu bertuliskan KL itu kini masih ada, Kee. Berdebu, serupa dengan kisah pertemanan kita saat ini. Andai kau tidak mengambil keputusan itu, tapi aku juga tidak bisa dan tidak mungkin mencegahmu untuk tidak berangkat kesana. Aku hanya mampu menyampaikan pesanku pada Tuhan, selain melalui surel ini tentangmu--aku merindumu, Kee..". Awan kembali mendung disusul dengan rintik-rintik hujan yang mulai menciptakan embun di kaca jendelanya. Aleeya menutup jendelanya.
***

Pukul 15.45 waktu Bandung
Mendung masih bergelayut di langit Bandung, Aleeya sudah berada di atas bukit tempat bermainnya dulu bersama Keenan. Kemeja lengan panjang, jins berwarna belel dan sepatu kets navynya menemainya sore itu. Semilir angin sore mengibaskan rambut hitam panjangnya yang terurai. Duduk memandang alam dari atas bukit adalah cara Aleeya melepas rindu pada sosok yang kini tanpa sadar telah menghuni ruang pojok hatinya. Selama kurang lebih lima belas tahun mereka bersama-sama, kini jarak itu telah nyata adanya. Sekitar dua puluh menit Aleeya duduk diatas sana menghembuskan napas kerinduan, sebentar memang. Dirinya tidak ingin berlama-lama tanpa Keenan diatas sana, percuma katanya. Hanya semakin menyesakkan dada, membuat rindu itu hadir semakin jauh.
"Aku percaya Kee, bahwa kau memang akan kembali ke tempat ini. Tapi entah, siapa yang akan membersamaimu di tempat kita ini". Aleeya bergumam pada diri harus segera beranjak pergi dari tempat itu. Hujan kembali mengguyur kota Bandung.
Selang beberapa waktu kemudian pesawat Keenan mendarat di Bandara Internasional Husein Sastranegara, tepatnya pukul 15.50. Keenan bersiap menuju bukit itu, hujan yang mengguyurnya tidak menahan langkahnya. Keenan berjalan menyusuri pinggiran jalan mencari taksi untuk membawanya ke tempat kenangan itu. Setelah sepuluh menit duduk di dalam taksi, ia mengeluarkan ponselnya. Mengarah pada aplikasi emailnya yang secara sengaja dipasang sebelum keberangkatannya ke Bandung. Seraya menghembuskan napasnya dengan penuh harap dia bergumam dalam hati, "Baiklah, aku akan ke tempat itu, Lee. Tanpamu".
"Mas, bengong aja. Pasti lagi nunggu pesan balasan ya dari teman wanitanya?" Supir taksi tiba-tiba mengeluarkan suara.
"Heh, ah bapak ini bisa saja" Keenan mengernyitkan dahi, alisnya yang menyatu amat kentara ketika dirinya seperti itu.
"Ini Pak, sisanya untuk Bapak" Keenan mengeluarkan dua lembar seratus ribuan, kemudian dia berjalan menyusuri sedikit kelokan jalan menuju atas bukit. Sesampainya diatas sana, Keenan mengambil posisi duduknya. Posisi yang serupa ketika bersama Aleeya.
Keenan duduk memanjangkan kakinya, menikmati udara kota Bandung sore itu.
"Sudah lama sekali rasanya aku tidak mengunjungi tempat ini, tempat kisah pertemanan kita berawal. Aleeya Syailendra, aku rindu saat aku akan mengambil gambarmu di tempat ini, rindu membuatmu kesal karena tingkahku dulu". Keenan tersenyum kecil, memorinya sedang berusaha menghubungkan peristiwa-peristiwa penuh cerita tersebut. Matanya terpejam sejenak mengingat segala hal yang pernah dilakukannya bersama Aleeya kecil. Sesaat kemudian tersadar, ada ranting di samping tempatnya duduk. Keenan bingung, berusaha menerka namun ia tak ingin salah prasangka.
Tempat itu adalah tempat Keenan dan Aleeya semasa kecil menghabiskan hari, cukup sepi. Tak ada satupun orang yang mengetahuinya selain mereka berdua dan papa Keenan yang kini telah meninggalkannya lebih dulu. "Kau kah yang datang ke tempat ini, Lee? Tapi kapan? Bersama siapa kau ke tempat ini? Kau pernah mengatakan padaku, bahwa kau tidak berani naik ke atas bukit ini sendiri. Kau juga pernah berjanji kala itu setelah aku selesai membuatkan kotak dari bambu itu, bahwa kau tidak akan mengunjungi tempat ini tanpaku. Atau kau..." Keenan kembali diam, mencoba mencernanya. "Ah sudahlah, mungkin hanya ranting yang jatuh, bukan dirimu yang hobbi mengukir sesuatu dengan ranting ini" Keenan berusaha menenangkan dirinya.

Gerimis yang menyapanya sejak kedatangannya di bandara sore itu ternyata tak kunjung berhenti, Bandung dalam beberapa hari ini sedang diguyur hujan secara tiba-tiba. Rintikan hujan membuat Keenan sejenak merebahkan diri diatas rumput yang basah, membiarkan wajahnya terkena air langsung dari langit.
"Kau tau, Lee? Saat ini di Jerman sana sedang musim dingin, aku memutuskan untuk ke kotamu dan ternyata disini juga hujan. Mungkin berbeda dinginnya, dingin di kotamu mengantarkanku pada seberkas memori kita yang masih tertahan disini".
***

Pukul delapan malam Keenan sudah berada di salah satu penginapan, bersiap-siap merapihkan diri. Tak lama ia membuka laptopnya, mengirimkan sebuah pesan kepada Aleeya.
Aleeya sadar sebuah pesan masuk, namun diabaikannya. Ia lebih memilih menyandarkan kepala pada kursi di hadapan mejanya. Sesaat kemudian ia tersadar Keenan akan datang ke kotanya. Dibukanya kotak masuk pada emailnya.
"Lee, aku sudah sampai di kotamu sore tadi diiringi hujan yang mengguyur dengan damai. Aku berhasil mengunjungi tempat kita dulu, tak banyak berubah. Mungkin hanya ceritanya saja yang kini berubah. Lupakan. Biar ku tebak, pasti kau sedang menikmati malammu dari balik jendela. Yang ku tahu, langit malam Bandung indah"

Aleeya bingung membalasnya, jari-jarinya hanya memainkan papan ketik laptopnya yang tak menghasilkan satu kalimat pun untuknya. Dirinya kembali menyandarkan kepalanya ke kursi.
Beberapa saat kemudian keluar sebuah kalimat balasan.
"Syukurlah kau mendarat di kota ku dengan selamat. Selamat menikmati kota Bandung kembali"
Aleeya menutup laptopnya, merebahkan tubuhnya di balik selimut yang lebih hangat dari cuaca bandung saat ini.
Keenan melihat balasan surel dari Aleeya, dipikirnya akan mendapatkan balasan yang panjang, semisal cerita mengenang masa kecilnya. Tapi lagi-lagi Keenan harus berbesar hati menerima balasan Aleeya yang sedemikian singkat dan tak begitu bermakna.
"Tenang, Lee. Aku dapat pastikan kita akan bertemu kembali di lain musim, di tempat kita berawal".

Minggu, 24 Januari 2016

Autumn On You

Genap empat tahun kita tak bertemu kembali setelah kau mengambil bab keputusan penting itu. Senja kala itu membawaku pada putaran memori usang tentang kita--yang pada kenyataannya memang tak pernah memulai. Lantas bagaimana akan ku katakan bahwa itu sudah berakhir? Momiji di kedua tanganku kini telah berubah wujud, kuning hampir kecoklatan. Dulu kau katakan, momiji yang berguguran mempunyai waktu dan caranya tersendiri. Ada kalanya kapan dia harus berubah warna. Dulu kau katakan, anggap saja satu daun yang berguguran itu mewakili satu kekhawatiran kita yang luruh. Terbang bersama angin yang membawanya dengan tabah. Maka kini ku katakan, aku telah meluruhkan semua kekhawatiran yang kau sebut. Kekhawatiran yang serupa di awal, bahwa kata 'kita' memang seharusnya seperti momiji, yang berubah warna pada waktunya lalu menyaksikan daun-daun itu terbawa angin beriring jarak yang terlihat semakin menjauh dan tak pernah terdengar riuh.

Putri Adhytia
Jakarta, 16 Januari 2016

#MalamNarasi

Minggu, 17 Januari 2016

Menggenap?

Menggenap merupakan perihal bab pengambilan keputusan terbesar, banyaknya pertimbangan yang membuat diri maju mundur dalam menentukan pilihan. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, sudah siapkah mengambil sebuah langkah konkrit--dimana meleburnya dua kepala menjadi satu tujuan bermuara surgaNya? Bila belum, maka persiapkan kembali segera segalanya, perbaiki niat dan tujuan. Bila sudah siap, melangkahlah maju. Katakan pada diri, aku siap menggenap bersamanya dengan seluruh kekuatan yang ada untuk membangun sebuah peradaban kecil. Sekecil apapun sebuah keraguan maka akan membuka pintu-pintu godaan yang buruk untuk langkah kita.

Tidak kah kamu ingin menjadi dua bahkan lebih?
Tidak kah kamu ingin menyemai sebuah nilai ketulusan dari dua orang yang akan menjadi utuh?
Tidak kah kamu ingin merasakan manisnya sebuah ikatan suci yang menggemparkan arsyNya?
Tidak kah kamu ingin melihat surga kecil di rumahmu kelak?
Tidak kah? Tidak kah?

Jangan pernah lupa, jalan menujuNya juga berliku. Perjalanan dua orang yang menjadi satu tidaklah mudah, mengemudi dua hati perlu penyesuaian. Ada masanya surga menjadi terasa jauh tersebab amarah yang menyulut.

Senin, 11 Januari 2016

Der Winter

"Desember mu t'lah usai, ku harap bersamaan pula dengan ’musim bunga' mu. Musim yang kau perbincangan akan bersemi menutup akhir tahunmu lalu. Nyatanya? Kini kau masih setia bersama pekerjaan barumu, masih bermanja dibalik hangatnya selimut bulan Januari"

Aleeya menghela napas panjang, menekan tombol enter di papan keyboard yang sejak sejam lalu ia mainkan layaknya memainkan sebuah piano. Entah kenapa dirinya sering kali merasa kaku untuk mengirimkan kalimat-kalimat berkonotasikan perasaan kepada teman pria yang sudah lama dikenalnya itu.
Aleeya mengklik inbox emailnya, ada beberapa pesan yang di bold hitam tapi hanya satu yang menjadi fokusnya.

"Ku pikir kau mengirim pesan untuk menyemangatiku selepas Desember kemarin huh"

Aleeya hanya membacanya sambil menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum kecil. Keenan, teman pria yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak. Mereka kini terpisah jarak karena harus menjalani hari-harinya menjadi pengusaha muda menggantikan posisi ayahnya di Negeri Nazi tersebut. Pertemanan yang sudah lama terjalin mengantarkannya pada sebuah keputusan yang harus diambil Aleeya. Sedang Aleeya kini menjalani aktifitasnya sebagai guru sastra di sebuah sekolah yang cukup ternama di Bandung.

"Lee, coba kamu berdiri disana. Aku mau ambil gambar kamu dari sini" Ucap Kee yang sudah bersiap-siap dengan kameranya
"Kamu bohong, pasti nanti kamu ambil gambar bunga itu bukan aku" Jawab Lee dengan muka kesalnya.

Aleeya kembali memandang layar yang ada di hadapannya kini, ia mengenang masa-masa kecilnya bersama Keenan yang berlatar pada bukit dan rumah kecil dari bambu yang biasa mereka singgahi. Air matanya menetes pada urutan huruf-huruf papan ketik, membiaskan kerinduannya pada masa lalu.
"Aku rindu Kee, rindu kebersamaan kita dahulu. Rindu akan tingkahmu yang konyol sewaktu kita di bukit kala itu. Kini kau telah menemukan duniamu disana, kita sibuk dengan urusan kita satu sama lain. Atau mungkin aku yang bersikap terlalu dingin padamu belakangan ini? Tidak Kee, sesungguhnya aku hanya ingin pertemanan kita tetap terjaga layaknya kau menjaga dia disana".

Sebuah pesan kembali masuk
"Kau baik-baik saja, Lee? Bagaimana kabar anak-anak didikanmu? Pasti mereka lebih pintar darimu"
"Aku cukup baik Kee, bahkan pada saat kau memperkenalkan dirinya padaku beberapa musim lalu". Seketika rentetan kalimat-kalimat yang sudah Aleeya ketik tersebut hilang. Aleeya mengarahkan kursor menekan tombol delete.

"Kau pikir aku akan bagaimana saat ini, huh? Setidaknya aku berhasil mengajarkan mereka pada hal-hal yang membuat diri mereka berkembang". Aleeya membalasnya dengan kalimat baru.
Keenan kembali membalas
"Sampaikan salamku untuk mereka, Lee. Tunggu aku, ku mohon".

Kee is offline

"Apa maksudmu, Kee? Kau sudah menghabiskan beberapa musim bersamanya, lalu kini kau memintaku untuk menunggu?" Aleeya menutup laptopnya, mengakhiri malamnya dengan meninggalkan post it bertuliskan "Musim kita berbeda, Keenan" di meja kamarnya.

Minggu, 10 Januari 2016

Bukan aku tak ingin pulang
Hanya saja masih tertahan disini
Tertahan karena aku belum menemukan tempatku untuk kembali
Kembali menunggu semuanya--baik-baik saja

Ah tidak
Tenang saja, sedang aku perbaiki segalanya
Tenang saja, sedang aku usahakan segalanya
Kelak kita akan sama-sama berdiri di masa itu
Perlahan..

Selasa, 05 Januari 2016

Katamu itu puisi, iya puisi untuk seseorang yang amat jelas kau kagumi--mungkin juga kau menyimpan sesuatu lebih. Ah lagi-lagi harus bicara tentang cinta, satu kata itu mampu menghadirkan sisi melankolis seseorang dalam seketika. Aku tak tahu harus bagaimana menyikapinya, inginku hanya menarik diri dari kata yang kau maksud. Tapi lagi-lagi kau menarik ku dalam cerita dongengmu yang saat ini tentu saja masih menyisakan ilusi. Tak pernah pula tergerak hatiku untuk menyambutnya, hanya saja sebatas ikatan pertemanan yang menurutku teramat sayang bila diabaikan, merusak hubungan yang sudah terjalin dengan baik bukan? Tentunya sebagai teman.
Duniamu kini berubah menjadi dongeng peradaban dengannya, sesekali aku hanya menyaut sebagai tanda aku menghargaimu sebagai temanku. Ah sudahlah, kurasa masing-masing dari kita saat ini masih mencari dalam kegamangan. Tak perlu aku berpanjang lebar menjelaskannya kembali padamu, kurasa kau sudah mengerti langkah apa yang seharusnya kau ambil. Aku berdoa dalam setiap harapku, semoga kelak kau temukan apa yang kau cari dalam beberapa waktu ini. 
Soon..