"Ajari aku mengenal sebuah hal baru bahwa keyakinan adalah persoalan sebuah pilihan”
Suara adzan subuh masih menggema di seantero desa Bali. Langit tampak lebih gelap dari biasanya, Sheela sudah terbangun sejak sejam yang lalu, bersiap-siap mengawali harinya seperti biasa. Selepas shalat subuh dia selalu mengajarkan anak-anak kecil untuk mengeja huruf-huruf Al-Qur’an. Dengan keberadaannya sebagai seorang muslim dia mengerti sepenuhnya bagaimana harus bersikap, menyebarkan ajaran Islam di kampung minoritas dengan caranya dan menghargai sesama serta toleransi.
Sheela, gadis berusia dua puluh empat tahun. Tinggal bersama kedua orangtuanya dengan latar belakang keluarga yang religius sejak kecil.
Pagi kali ini Bali dibungkus hujan deras, aktifitas mengajar anak-anak diliburkan dahulu. Sheela kembali mengulang hafalannya di teras rumah. Diam-diam ada seorang pemuda yang memperhatikannya dari balik gapura khas Bali, mendengarkan Sheela yang sedang mengulang hafalan. Suaranya samar-samar terhalang hujan yang sudah mulai sedikit reda, namun tetap menyejukkan telinga. Sheela menghentikan hafalannya, merasa seperti ada yang memperhatikannya. Kemudian pemuda itu langsung mengayuh kembali sepedanya, khawatir terjebak di tengah hujan sedang memperhatikan wanita.
“Sheela, ayo masuk dulu. Ibu sudah siapkan sarapan” ayahnya memberitahu dari dalam
“Iya, Yah. Sebentar”
Sheela kembali memperhatikan sosok di balik gapura terakhir kali sebelum masuk ke dalam.
Hampir seminggu berlalu dengan hal yang sama, Sheela urung bertanya pada ayahnya siapa pemuda tersebut yang selalu memperhatikannya di setiap pagi ketika mengulang hafalan maupun mengajar anak-anak. Selang beberapa hari berlalu, pemuda tersebut memberanikan diri untuk menyapa Sheela di tengah perjalanan ketika hendak membeli sesuatu, “Permisi… kamu yang tinggal di desa seberang?”
“Iya, Bli. Kenapa?”
“Kamu asli sini?” Tanyanya dengan sopan
“Maaf, memangnya ada apa ya?” Sheela merasa tidak nyaman
“Kenalkan, saya Ananta”
“Sheela” Sheela menangkupkan kedua tangannya ke dada
“Kamu muslim?” Tanyanya lagi
“Iya, maaf saya harus pulang” Sheela pamit seraya tersenyum tipis
“Tunggu! Maaf sebelumnya, beberapa waktu lalu saya lancang memperhatikan kamu dari balik gapura. Saya tidak bermaksud apa-apa, hanya saja ingin tahu apa yang sedang kalian lakukan setiap pagi. Awalnya saya tidak sengaja lewat depan gapura itu, ketika hujan turun saya sempat berteduh sebentar”
“Iya, tidak apa-apa. Bli bisa bertemu dengan ayah saya kalau mau tahu lebih banyak tentang hal itu. Permisi…” Sheela pamit untuk segera pulang.
***
Awan di langit Bali sedang cerah, Sheela seperti biasa mengajarkan anak-anak kecil mengaji. Ananta kembali memperhatikan aktifitas Sheela setiap pagi itu, kali ini dia berkunjung langsung ke rumah Sheela. Bertemu langsung dengan ayah Sheela.
“Ada yang bisa dibantu?” Ayah Sheela menyapa lebih dulu melihat Ananta memasuki halaman rumahnya
“Saya Ananta, warga seberang yang beberapa hari lalu–maaf memperhatikan…” Ananta menunjuk sopan ke arah Sheela dengan budaya khas Bali. Dengan cepat melanjutkan kembali kalimatnya, “Tidak sengaja ketika sedang melewati jalan depan saat berteduh karena hujan. Maaf, hanya ingin tahu tentang kegiatan yang rutin dilakukan setiap pagi disini. Sheela bilang bertemu dengan ayahnya langsung” Ananta menjelaskan lalu menunduk
“Oh.. iya saya ayahnya. Memang kami rutin mengadakan aktifitas ini setiap pagi seusai shalat subuh” Ayah Sheela menjelaskan seraya mempersilakan tamunya duduk lalu memerintahkan istrinya untuk menyiapkan jamuan.
“Bagi kami, itulah dakwah yang bisa kami lakukan di tengah masyarakat Bali sebagai muslim” Ayah Sheela sudah tahu tanpa bertanya kepercayaan Ananta.
“Kamu tertarik dengan apa yang dilakukan Sheela?”
“Hem.. iya. Saya pikir jarang sekali aktifitas seperti ini dilakukan oleh wanita muda, khususnya di desa kami seberang sana”
Ananta memang bukan penganut muslim, dia juga bukan tidak tahu aktifitas seorang muslim. Hanya saja hatinya tergerak ketika melihat sesosok Sheela untuk kali pertama di depan gapura rumahnya ketika hujan sedang memainkan iramanya yang sendu. Terlahir dari keluarga yang berlatar belakang penganut Hindu yang begitu taat. Tak pernah sekalipun dirinya alpa dari menyembah Tuhannya. Kali ini dia memberanikan diri untuk mengenalkan dirinya pada keluarga muslim taat pula. Hanya satu kemungkinan yang membuatnya amat berani melangkah; cinta. Ananta mulai merasakan ada yang berbeda ketika melihat Sheela sebagai wanita muslim. Betapa hatinya merasa bersalah seketika itu.
“Begitulah Sheela, sepanjang hari dia hanya ingin melakukan hal-hal yang menguatkan keimanannya. Kami tinggal disini sejak tujuh tahun yang lalu, saat saya ditugaskan di Bali, di desa ini. Kami dari Jakarta, tapi Ibu Sheela memang asal Bali” Ayah Sheela menjelaskan dengan ramah.
“Bagaimana rasanya menjadi warga Bali, Pak? Tentu berbeda ketika di Jakarta ya hehe..”
“Yaaah begitulah, kamu sudah berapa lama tinggal disini?”
“Sudah dua belas tahun, Pak” Ananta tersenyum menjawabnya.
Ruang pembicaraan tiba-tiba lengang, menyisakan mereka yang sedang bermain dengan pikiran masing-masing dan suara ngaji anak-anak yang terdengar samar-samar beberapa jarak dari mereka. Ananta hendak pamit ketika itu, namun langkahnya tertahan ketika Sheela menghampirinya. “Sudah selesai ya, Yah?” Sheela bertanya menatap ayahnya yang masih terduduk di kursi kayu rumahnya.
“Oh, iya. Saya juga sudah mau pulang, ada yang harus saya kerjakan” Ananta dengan cepat menjawab, ingin mengakhiri perasaan tegangnya berada di rumah seorang wanita yang baru dikenalnya sedang bersama ayahnya. Sheela sedikit bingung dengan tingkahnya yang seperti itu. Ananta pun beranjak meninggalkan rumah mereka. Ayah sudah merasakan pemuda ini sepertinya menyimpan rasa untuk putri sulungnya tersebut, namun enggan berbicara langsung kepada Sheela. “Biarlah, ayah ingin tahu dulu lebih jauh seperti apa” Gumamnya dalam hati.
Ananta pamit untuk pergi ke pura, seperti biasa setiap pukul enam pagi ia melakukan sembahyang wajibnya. Ananta duduk bersila hendak melakukan sembahyang. Sementara di tempat yang lain, Sheela sedang melanjutkan setoran hafalan dengan ayahnya. Matahari mulai muncul di atas horizon timur Bali, Sheela melanjutkan aktifitasnya melakukan shalat sunnah dhuha. Bu Wayan mulai menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Beliau tidak terlalu tahu pemuda yang baru saja menyambangi kediamannya, hanya mendengar suaminya pagi tadi selepas subuh sedang berbicara dengan seseorang di teras rumahnya. “Tadi pagi ada tamu ya, Yah?” Tanyanya.
“Iya bu, warga seberang” Ayah menjawabnya seraya mengambil nasi. Bu Wayan hanya menjawabnya dengan ber-oh, sementara Sheela menatap Ayahnya seketika. Raut wajahnya berkata untuk tidak memberitahu Ibunya terlebih dahulu.
***
Tanpa terasa tiga puluh lima hari berlalu dengan cepat, ramadhan menghitung jam. Bu Wayan biasa menyiapkan menu istimewa di malam sahur pertama. Sheela semakin dekat dengan Ananta, mereka sering berkomunikasi setelah masing-masing menyelesaikan aktifitasnya. Lebih sering ketika sore hari, Ananta mengajaknya berbicara. Ananta memang tertarik berdiskusi mengenai Islam dengan Sheela. Ayah mulai mengkhawatirkan putri sulungnya. Takut putrinya sudah tidak bisa memakai akal rasionalnya hanya karena tertutup oleh sesuatu yang bernamakan cinta.
“Sheela, ayah ingin bicara” sapa ayahnya ketika Sheela sedang membaca buku di kamarnya. “Iya, Yah. Ada apa?”
“Kamu sudah sedekat apa dengan pemuda seberang itu?”
“Maksud ayah, Ananta?” Sheela menjawabnya dengan hati-hati, membayangkan beberapa hari lalu Ananta sudah mengungkapkan perasaannya walau dirinya tidak meminta Sheela menjadi kekasihnya. Mereka sadar, kepercayaan mereka berbeda. Sama-sama ingin mempertahankan kepercayaan yang diyakininya tanpa pernah berniat mengubahnya sedikitpun.
“Sheela dan Ananta hanya teman biasa, Yah”.
“Kamu bisa mengatakan seperti itu, tapi kedekatan kalian tidak bisa dibantah. Ada rasa yang membuat kalian terhubung, namun tersekat dengan sebuah keyakinan. Berhentilah, ayah yakin kamu mengerti, kamu memahami bahwa hal ini adalah keliru”
Mata Sheela mulai membentuk kristal bening. Sheela melangkah sejengkal untuk kemudian memeluk erat ayahnya, membenamkan kepalanya di dada ayahnya. “Sheela tahu, Yah. Sheela mengerti bahwa ini adalah sebuah kesalahan, berani mencintai seseorang yang jelas bukan siapa-siapa. Terlebih kita berbeda penuh soal keyakinan”
“Dengar, sayang. Mencintai bukan suatu kesalahan, sebab memang di datangkan oleh Allah sebagai fitrah setiap manusia. Tapi tolong, jaga rasa itu tetap pada aturan-Nya. Jangankan kamu mencintai Ananta, bahkan bila kamu mencintai seorang laki-laki muslim sekalipun ayah tetap tak izinkan kamu melewati aturan-Nya. Kecuali lewat satu jalan yang memang Allah halalkan. Kamu mencintai Ananta, tapi ayah bisa apa? Ayah tidak punya kuasa untuk menjadikan Ananta sebagai seorang muslim agar kamu tetap bisa bersamanya. Itu hak istimewa Allah langsung. Kita sama-sama tahu bahwa Ananta dan keluarganya adalah seorang Hindu yang taat”
Ananta sedang menghadap Sanghyang Widhi, dirinya tak kalah kalut dengan apa yang sedang dialaminya. Ananta beberapa waktu terakhir ini juga menjadi lebih dekat dengan Tuhannya, meminta petunjuk dan ketenangan hatinya. Keluarganya sudah mengetahui perihal kedekatannya dengan seorang gadis muslim, kedua orangtuanya menentangnya habis-habisan. Meminta dirinya untuk tidak berhubungan lagi dengan Sheela–gadis muslim yang membuat dirinya jatuh hati lebih dalam terutama dengan Tuhan. Bahkan ayahnya bersikeras untuk menemui langsung keluarga Sheela, meminta untuk tidak berhubungan lagi dengan Ananta. Tapi Ananta mencegahnya, berusaha menahan amarah keluarganya. “Baik! Saya akan menjauhi Sheela, sesuai dengan permintaan kalian” Ananta berbicara menengahi.
“Bila mencintaimu adalah sebuah kekeliruan, maafkan aku yang sudah berani meyakinkan apa yang ada di hati. Bila beda yang membuat kita harus berjarak maka izinkanku untuk tetap menitipkanmu pada Tuhan. Sebab Dia tak pernah salah untuk setiap pertemuan dari masing-masing kita. Ajari aku bahwa keyakinan adalah persoalan pilihan”
***
Lembayung senja hampir menutup hari ke dua puluh delapan ramadhan. Selama itu pula Sheela dan Ananta tidak bertemu dan menjalin komunikasi seperti sebelumnya. Saat itu juga Sheela dan keluarganya bersiap-siap hendak berlebaran di Ibukota. Ayahnya memutuskan ke Jakarta untuk mengembalikan suasana hati putrinya. Menurutnya di Jakarta lebih banyak keluarga dan kerabat, juga moment berkumpul seluruh keluarga besar sehingga Sheela bisa lebih baik suasana hatinya. Karena keluarga Bu Wayan sudah tinggal beberapa orang saja dan mereka tidak menetap di Bali, tapi pindah setelah mempunyai keluarga masing-masing. Pintu rumah tiba-tiba ada yang mengetuk. Bu Wayan yang membukakannya. “Ananta..” Bu Wayan sempat terkaget selama beberapa menit. Ananta memberi salam hormat padanya. “Maaf menganggu waktunya yang mungkin sedang sibuk menyiapkan hari raya. Boleh saya berbicara sebentar dengan Sheela?”
“Silakan duduk, Ibu panggilkan dulu”. Bu Wayan memberitahu suaminya bahwa Ananta ada diluar menunggu Sheela. Ayahnya sempat berpikir sejenak, membiarkan mereka bertemu kembali atau tidak. Namun perkataan istrinya mampu melunakkan hatinya, “Sebentar saja, Yah. Beri mereka waktu, barangkali ada hal yang penting yang ingin disampaikan pada anak kita. Sebelum Sheela ke Jakarta, Yah”
“Baiklah, tetap awasi mereka dari sini”
***
“Saya mendapat kabar bahwa kamu akan ke Jakarta dari murid-muridmu, mereka bercerita bahwa mereka akan kehilangan guru mereka sementara ini. Kamu hendak berlebaran disana bukan?” Ananta membuka percakapan
“Iya, dua hari lagi hari raya kami tiba. Kami harus bersiap-siap untuk berlebaran bersama keluarga besar di Jakarta” Sheela menjawab tersenyum tipis.
“Tenang, keluarga saya tidak mengetahui bahwa saya menemui kamu hari ini” Ananta membalasnya melihat kekhawatiran dari mata Sheela
“Syukurlah. Ada hal penting apa yang ingin Bli sampaikan?” Sheela bertanya riang, padahal ia sedang menyembunyikan perasaannya
“Saya membuatkan sesuatu untukmu. Tapi maaf, masih proses finishing. Maaf Juga bila ternyata itu seperti menyimbolkan. Saya bingung karena saya hanya mahir membuat barang itu. Hanya sebuah lampion. Tidak istimewa, saya membuatnya di sela-sela waktu luang beberapa waktu lalu. Beberapa saya buat beragam, untuk murid-murid kamu”
***
Hari keberangkatan menuju Jakarta tiba, tepat sehari sebelum hari raya Idul Fitri Sheela dan keluarganya berangkat menuju bandara pukul tujuh malam, dua jam sebelum keberangkatan. Malam takbiran di Bali tidak seperti di Jakarta yang begitu hangat dengan suasana takbir dari masjid-masjid penjuru kota. Sheela teringat lampion pemberian Ananta. Di tempat yang berbeda Ananta sedang terpaku pada lampion di hadapannya, tak lama ia menuliskan sebuah kalimat di sebuah kertas yang akan ia terbangkan bersama lampionnya malam itu.
“Sekat kita teramat jauh, tak ada yang mampu kita lakukan selain berdoa untuk kebaikan kita masing-masing. Harapanku, Tuhan menjagamu dengan baik. Keyakinanku tetap satu, Tuhan tidak pernah salah dalam mempertemukan. Ada banyak pelajaran yang bisa kita maknai dengan baik. Kita peluk erat setiap kisah yang t’lah lalu. Titip dia Sanghyang Widhi…”
“Selamat hari raya, Sheela Dimitri…” Ananta berucap lirih seraya menerbangkan lampionnya.
***
Sheela sudah melewati boarding pass. Mengambil tempat duduk sesuai nomor yang tertera di tiket penerbangan. Burung besi yang akan segera mengudara memberi aba-aba kepada seluruh penumpang. Sheela masih terdiam di kursinya, menatap kotak pemberian Ananta yang berisi sebuah lampion untuk hiasan kamar.
“Aku tak pernah punya kuasa untuk merubah setiap alur dari-Mu. Takdir-Mu tak pernah salah memilih pada siapa yang dipertemukan dengan siapa. Satu yakinku, Engkau Allah yang tak pernah mendzholimi setiap insan-Mu. Jaga kami dengan sebaik-baik penjagaan-Mu ya Rabb. Rabbighfirlii…”
Sheela kembali meneteskan air mata. Memilih menyimpan baik-baik lampionnya, menyimpan kembali setiap perjalanan yang telah berada di belakangnya. Rapih. Seperti dahulu sebelum bertemu dan mengenal Ananta.