Rabu, 13 April 2016

Selasa, 29 Maret 2016

Lampion Di Hari Raya

"Ajari aku mengenal sebuah hal baru bahwa keyakinan adalah persoalan sebuah pilihan
Suara adzan subuh masih menggema di seantero desa Bali. Langit tampak lebih gelap dari biasanya, Sheela sudah terbangun sejak sejam yang lalu, bersiap-siap mengawali harinya seperti biasa. Selepas shalat subuh dia selalu mengajarkan anak-anak kecil untuk mengeja huruf-huruf Al-Qur’an. Dengan keberadaannya sebagai seorang muslim dia mengerti sepenuhnya bagaimana harus bersikap, menyebarkan ajaran Islam di kampung minoritas dengan caranya dan menghargai sesama serta toleransi.
Sheela, gadis berusia dua puluh empat tahun. Tinggal bersama kedua orangtuanya dengan latar belakang keluarga yang religius sejak kecil.
Pagi kali ini Bali dibungkus hujan deras, aktifitas mengajar anak-anak diliburkan dahulu. Sheela kembali mengulang hafalannya di teras rumah. Diam-diam ada seorang pemuda yang memperhatikannya dari balik gapura khas Bali, mendengarkan Sheela yang sedang mengulang hafalan. Suaranya samar-samar terhalang hujan yang sudah mulai sedikit reda, namun tetap menyejukkan telinga. Sheela menghentikan hafalannya, merasa seperti ada yang memperhatikannya. Kemudian pemuda itu langsung mengayuh kembali sepedanya, khawatir terjebak di tengah hujan sedang memperhatikan wanita.
“Sheela, ayo masuk dulu. Ibu sudah siapkan sarapan” ayahnya memberitahu dari dalam
“Iya, Yah. Sebentar”
Sheela kembali memperhatikan sosok di balik gapura terakhir kali sebelum masuk ke dalam.
Hampir seminggu berlalu dengan hal yang sama, Sheela urung bertanya pada ayahnya siapa pemuda tersebut yang selalu memperhatikannya di setiap pagi ketika mengulang hafalan maupun mengajar anak-anak. Selang beberapa hari berlalu, pemuda tersebut memberanikan diri untuk menyapa Sheela di tengah perjalanan ketika hendak membeli sesuatu, “Permisi… kamu yang tinggal di desa seberang?”
“Iya, Bli. Kenapa?”
“Kamu asli sini?” Tanyanya dengan sopan
“Maaf, memangnya ada apa ya?” Sheela merasa tidak nyaman
“Kenalkan, saya Ananta”
“Sheela” Sheela menangkupkan kedua tangannya ke dada
“Kamu muslim?” Tanyanya lagi
“Iya, maaf saya harus pulang” Sheela pamit seraya tersenyum tipis
“Tunggu! Maaf sebelumnya,  beberapa waktu lalu saya lancang memperhatikan kamu dari balik gapura. Saya tidak bermaksud apa-apa, hanya saja ingin tahu apa yang sedang kalian lakukan setiap pagi. Awalnya saya tidak sengaja lewat depan gapura itu, ketika hujan turun saya sempat berteduh sebentar”
“Iya, tidak apa-apa. Bli bisa bertemu dengan ayah saya kalau mau tahu lebih banyak tentang hal itu. Permisi…” Sheela pamit untuk segera pulang.
***
Awan di langit Bali sedang cerah, Sheela seperti biasa mengajarkan anak-anak kecil mengaji. Ananta kembali memperhatikan aktifitas Sheela setiap pagi itu, kali ini dia berkunjung langsung ke rumah Sheela. Bertemu langsung dengan ayah Sheela.
“Ada yang bisa dibantu?” Ayah Sheela menyapa lebih dulu melihat Ananta memasuki halaman rumahnya
“Saya Ananta, warga seberang yang beberapa hari lalu–maaf memperhatikan…” Ananta menunjuk sopan ke arah Sheela dengan budaya khas Bali. Dengan cepat melanjutkan kembali kalimatnya, “Tidak sengaja ketika sedang melewati jalan depan saat berteduh karena hujan. Maaf, hanya ingin tahu tentang kegiatan yang rutin dilakukan setiap pagi disini. Sheela bilang bertemu dengan ayahnya langsung” Ananta menjelaskan lalu menunduk
“Oh.. iya saya ayahnya. Memang kami rutin mengadakan aktifitas ini setiap pagi seusai shalat subuh” Ayah Sheela menjelaskan seraya mempersilakan tamunya duduk lalu memerintahkan istrinya untuk menyiapkan jamuan.
“Bagi kami, itulah dakwah yang bisa kami lakukan di tengah masyarakat Bali sebagai muslim” Ayah Sheela sudah tahu tanpa bertanya kepercayaan Ananta.
“Kamu tertarik dengan apa yang dilakukan Sheela?”
“Hem.. iya. Saya pikir jarang sekali aktifitas seperti ini dilakukan oleh wanita muda, khususnya di desa kami seberang sana”
Ananta memang bukan penganut muslim, dia juga bukan tidak tahu aktifitas seorang muslim. Hanya saja hatinya tergerak ketika melihat sesosok Sheela untuk kali pertama di depan gapura rumahnya ketika hujan sedang memainkan iramanya yang sendu. Terlahir dari keluarga yang berlatar belakang penganut Hindu yang begitu taat. Tak pernah sekalipun dirinya alpa dari menyembah Tuhannya. Kali ini dia memberanikan diri untuk mengenalkan dirinya pada keluarga muslim taat pula. Hanya satu kemungkinan yang membuatnya amat berani melangkah; cinta. Ananta mulai merasakan ada yang berbeda ketika melihat Sheela sebagai wanita muslim. Betapa hatinya merasa bersalah seketika itu.
“Begitulah Sheela, sepanjang hari dia hanya ingin melakukan hal-hal yang menguatkan keimanannya. Kami tinggal disini sejak tujuh tahun yang lalu, saat saya ditugaskan di Bali, di desa ini. Kami dari Jakarta, tapi Ibu Sheela memang asal Bali” Ayah Sheela menjelaskan dengan ramah.
“Bagaimana rasanya menjadi warga Bali, Pak? Tentu berbeda ketika di Jakarta ya hehe..”
“Yaaah begitulah, kamu sudah berapa lama tinggal disini?”
“Sudah dua belas tahun, Pak” Ananta tersenyum menjawabnya.
Ruang pembicaraan tiba-tiba lengang, menyisakan mereka yang sedang bermain dengan pikiran masing-masing dan suara ngaji anak-anak yang terdengar samar-samar beberapa jarak dari mereka. Ananta hendak pamit ketika itu, namun langkahnya tertahan ketika Sheela menghampirinya. “Sudah selesai ya, Yah?” Sheela bertanya menatap ayahnya yang masih terduduk di kursi kayu rumahnya.
“Oh, iya. Saya juga sudah mau pulang, ada yang harus saya kerjakan” Ananta dengan cepat menjawab, ingin mengakhiri perasaan tegangnya berada di rumah seorang wanita yang baru dikenalnya sedang bersama ayahnya. Sheela sedikit bingung dengan tingkahnya yang seperti itu. Ananta pun beranjak meninggalkan rumah mereka. Ayah sudah merasakan pemuda ini sepertinya menyimpan rasa untuk putri sulungnya tersebut, namun enggan berbicara langsung kepada Sheela. “Biarlah, ayah ingin tahu dulu lebih jauh seperti apa” Gumamnya dalam hati.
Ananta pamit untuk pergi ke pura, seperti biasa setiap pukul enam pagi ia melakukan sembahyang wajibnya. Ananta duduk bersila hendak melakukan sembahyang. Sementara di tempat yang lain, Sheela sedang melanjutkan setoran hafalan dengan ayahnya. Matahari mulai muncul di atas horizon timur Bali, Sheela melanjutkan aktifitasnya melakukan shalat sunnah dhuha. Bu Wayan mulai menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Beliau tidak terlalu tahu pemuda yang baru saja menyambangi kediamannya, hanya mendengar suaminya pagi tadi selepas subuh sedang berbicara dengan seseorang di teras rumahnya. “Tadi pagi ada tamu ya, Yah?” Tanyanya.
“Iya bu, warga seberang” Ayah menjawabnya seraya mengambil nasi. Bu Wayan hanya menjawabnya dengan ber-oh, sementara Sheela menatap Ayahnya seketika. Raut wajahnya berkata untuk tidak memberitahu Ibunya terlebih dahulu.
***
Tanpa terasa tiga puluh lima hari berlalu dengan cepat, ramadhan menghitung jam. Bu Wayan biasa menyiapkan menu istimewa di malam sahur pertama. Sheela semakin dekat dengan Ananta, mereka sering berkomunikasi setelah masing-masing menyelesaikan aktifitasnya. Lebih sering ketika sore hari, Ananta mengajaknya berbicara. Ananta memang tertarik berdiskusi mengenai Islam dengan Sheela. Ayah mulai mengkhawatirkan putri sulungnya. Takut putrinya sudah tidak bisa memakai akal rasionalnya hanya karena tertutup oleh sesuatu yang bernamakan cinta.
“Sheela, ayah ingin bicara” sapa ayahnya ketika Sheela sedang membaca buku di kamarnya. “Iya, Yah. Ada apa?”
“Kamu sudah sedekat apa dengan pemuda seberang itu?”
“Maksud ayah, Ananta?” Sheela menjawabnya dengan hati-hati, membayangkan beberapa hari lalu Ananta sudah mengungkapkan perasaannya walau dirinya tidak meminta Sheela menjadi kekasihnya. Mereka sadar, kepercayaan mereka berbeda. Sama-sama ingin mempertahankan kepercayaan yang diyakininya tanpa pernah berniat mengubahnya sedikitpun.
“Sheela dan Ananta hanya teman biasa, Yah”.
“Kamu bisa mengatakan seperti itu, tapi kedekatan kalian tidak bisa dibantah. Ada rasa yang membuat kalian terhubung, namun tersekat dengan sebuah keyakinan. Berhentilah, ayah yakin kamu mengerti, kamu memahami bahwa hal ini adalah keliru”
Mata Sheela mulai membentuk kristal bening. Sheela melangkah sejengkal untuk kemudian memeluk erat ayahnya, membenamkan kepalanya di dada ayahnya. “Sheela tahu, Yah. Sheela mengerti bahwa ini adalah sebuah kesalahan, berani mencintai seseorang yang jelas bukan siapa-siapa. Terlebih kita berbeda penuh soal keyakinan”
“Dengar, sayang. Mencintai bukan suatu kesalahan, sebab memang di datangkan oleh Allah sebagai fitrah setiap manusia. Tapi tolong, jaga rasa itu tetap pada aturan-Nya. Jangankan kamu mencintai Ananta, bahkan bila kamu mencintai seorang laki-laki muslim sekalipun ayah tetap tak izinkan kamu melewati aturan-Nya. Kecuali lewat satu jalan yang memang Allah halalkan. Kamu mencintai Ananta, tapi ayah bisa apa? Ayah tidak punya kuasa untuk menjadikan Ananta sebagai seorang muslim agar kamu tetap bisa bersamanya. Itu hak istimewa Allah langsung.  Kita sama-sama tahu bahwa Ananta dan keluarganya adalah seorang Hindu yang taat”
Ananta sedang menghadap Sanghyang Widhi, dirinya tak kalah kalut dengan apa yang sedang dialaminya. Ananta beberapa waktu terakhir ini juga menjadi lebih dekat dengan Tuhannya, meminta petunjuk dan ketenangan hatinya. Keluarganya sudah mengetahui perihal kedekatannya dengan seorang gadis muslim, kedua orangtuanya menentangnya habis-habisan. Meminta dirinya untuk tidak berhubungan lagi dengan Sheela–gadis muslim yang membuat dirinya jatuh hati lebih dalam terutama dengan Tuhan. Bahkan ayahnya bersikeras untuk menemui langsung keluarga Sheela, meminta untuk tidak berhubungan lagi dengan Ananta. Tapi Ananta mencegahnya, berusaha menahan amarah keluarganya. “Baik! Saya akan menjauhi Sheela, sesuai dengan permintaan kalian” Ananta berbicara menengahi.
“Bila mencintaimu adalah sebuah kekeliruan, maafkan aku yang sudah berani meyakinkan apa yang ada di hati. Bila beda yang membuat kita harus berjarak maka izinkanku untuk tetap menitipkanmu pada Tuhan. Sebab Dia tak pernah salah untuk setiap pertemuan dari masing-masing kita. Ajari aku bahwa keyakinan adalah persoalan pilihan”

***
Lembayung senja hampir menutup hari ke dua puluh delapan ramadhan. Selama itu pula Sheela dan Ananta tidak bertemu dan menjalin komunikasi seperti sebelumnya. Saat itu juga Sheela dan keluarganya bersiap-siap hendak berlebaran di Ibukota. Ayahnya memutuskan ke Jakarta untuk mengembalikan suasana hati putrinya. Menurutnya di Jakarta lebih banyak keluarga dan kerabat, juga moment berkumpul seluruh keluarga besar sehingga Sheela bisa lebih baik suasana hatinya. Karena keluarga Bu Wayan sudah tinggal beberapa orang saja dan mereka tidak menetap di Bali, tapi pindah setelah mempunyai keluarga masing-masing. Pintu rumah tiba-tiba ada yang mengetuk. Bu Wayan yang membukakannya. “Ananta..” Bu Wayan sempat terkaget selama beberapa menit. Ananta memberi salam hormat padanya. “Maaf menganggu waktunya yang mungkin sedang sibuk menyiapkan hari raya. Boleh saya berbicara sebentar dengan Sheela?”
“Silakan duduk, Ibu panggilkan dulu”. Bu Wayan memberitahu suaminya bahwa Ananta ada diluar menunggu Sheela. Ayahnya sempat berpikir sejenak, membiarkan mereka bertemu kembali atau tidak. Namun perkataan istrinya mampu melunakkan hatinya, “Sebentar saja, Yah. Beri mereka waktu, barangkali ada hal yang penting yang ingin disampaikan pada anak kita. Sebelum Sheela ke Jakarta, Yah”
“Baiklah, tetap awasi mereka dari sini”
***
“Saya mendapat kabar bahwa kamu akan ke Jakarta dari murid-muridmu, mereka bercerita bahwa mereka akan kehilangan guru mereka sementara ini. Kamu hendak berlebaran disana bukan?” Ananta membuka percakapan
“Iya, dua hari lagi hari raya kami tiba. Kami harus bersiap-siap untuk berlebaran bersama keluarga besar di Jakarta” Sheela menjawab tersenyum tipis.
“Tenang, keluarga saya tidak mengetahui bahwa saya menemui kamu hari ini” Ananta membalasnya melihat kekhawatiran dari mata Sheela
“Syukurlah. Ada hal penting apa yang ingin Bli sampaikan?” Sheela bertanya riang, padahal ia sedang menyembunyikan perasaannya
“Saya membuatkan sesuatu untukmu. Tapi maaf, masih proses finishing. Maaf Juga bila ternyata itu seperti menyimbolkan. Saya bingung karena saya hanya mahir membuat barang itu. Hanya sebuah lampion. Tidak istimewa, saya membuatnya di sela-sela waktu luang beberapa waktu lalu. Beberapa saya buat beragam, untuk murid-murid kamu”
***
Hari keberangkatan menuju Jakarta tiba, tepat sehari sebelum hari raya Idul Fitri Sheela dan keluarganya berangkat menuju bandara pukul tujuh malam, dua jam sebelum keberangkatan. Malam takbiran di Bali tidak seperti di Jakarta yang begitu hangat dengan suasana takbir dari masjid-masjid penjuru kota. Sheela teringat lampion pemberian Ananta. Di tempat yang berbeda Ananta sedang terpaku pada lampion di hadapannya, tak lama ia menuliskan sebuah kalimat di sebuah kertas yang akan ia terbangkan bersama lampionnya malam itu.
“Sekat kita teramat jauh, tak ada yang mampu kita lakukan selain berdoa untuk kebaikan kita masing-masing. Harapanku, Tuhan menjagamu dengan baik. Keyakinanku tetap satu, Tuhan tidak pernah salah dalam mempertemukan. Ada banyak pelajaran yang bisa kita maknai dengan baik. Kita peluk erat setiap kisah yang t’lah lalu. Titip dia Sanghyang Widhi…”
“Selamat hari raya, Sheela Dimitri…” Ananta berucap lirih seraya menerbangkan lampionnya.
***
Sheela sudah melewati boarding pass. Mengambil tempat duduk sesuai nomor yang tertera di tiket penerbangan. Burung besi yang akan segera mengudara memberi aba-aba kepada seluruh penumpang. Sheela masih terdiam di kursinya, menatap kotak pemberian Ananta yang berisi sebuah lampion untuk hiasan kamar.
“Aku tak pernah punya kuasa untuk merubah setiap alur dari-Mu. Takdir-Mu tak pernah salah memilih pada siapa yang dipertemukan dengan siapa. Satu yakinku, Engkau Allah yang tak pernah mendzholimi setiap insan-Mu. Jaga kami dengan sebaik-baik penjagaan-Mu ya Rabb. Rabbighfirlii…”
Sheela kembali meneteskan air mata. Memilih menyimpan baik-baik lampionnya, menyimpan kembali setiap perjalanan yang telah berada di belakangnya. Rapih. Seperti dahulu sebelum bertemu dan mengenal Ananta.

Rabu, 09 Maret 2016

Menuju-Mu

"Allahu Akbar.. Allahu Akbar.."
Suara adzan subuh masih terdengar merdu dari surau. Muadzin yang sehari-hari dipanggil Ihsan tersebut sudah terbiasa menyiapkan harinya dengan istimewa, bangun ketika qiyamul lail lalu menunggu waktu subuh dengan memperbanyak dzikir dan tilawah. Hari ini, ia mengumandangkan adzan dengan haru dan tangisan. Suaranya sempat terhenti pada lafadz "Hayya 'alasholaah". Seorang kakek yang menjadi makmum setianya di surau, merasa bingung ada apa dengan Ihsan? Tak seperti biasanya Ihsan seperti itu ketika mengumandangkan adzan.
"Ada apa denganmu, Nak sewaktu mengumandangkan adzan tadi? Suaramu sempat terhenti" tanya si kakek selepas shalat subuh.
Ihsan masih termenung memandang alam raya subuh itu, "Hari ini  akan gelap, Mbah selama dua jam ke depan. Lihat langitnya, Mbah. Ini sudah lepas subuh tapi masih gelap, tidak seperti biasanya. Bahkan orang-orang juga masih terlelap, tidak mendengar panggilan adzan subuh tadi. Hanya kita dan beberapa jamaah. Menurut perhitungan hari ini akan terjadi gerhana matahari total--dimana langit sempurna gelap tampak cahaya putih melingkar seperti cincin. Itu menurut ilmu sains. Tapi menurut Allah? Saya hanya mengkhawatirkan masa kita, masa dimana dua jam ke depan nanti ada pada kuasa-Nya"

"Dulu, Rasulullah juga mengkhawatirkan hal serupa, Nak. Beliau khawatir bila tiba gerhana lalu alam raya ini tidak kembali pada kursi edarnya. Kemudian beliau bergegas memerintahkan penduduk untuk melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat dengan memperpanjang ruku dan sujud serta bersedekah dan menyebut asma-Nya.
"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044
"Bergegaslah, Nak. Seru masyarakat dengan bertakbir, gelar kembali sajadah dan siapkan khutbah terbaikmu" ucap si kakek seraya meninggalkan Ihsan yang masih terpaku.



Jakarta, 09 Maret 2016
Putri Adhytia

Rabu, 03 Februari 2016

Surat Untuk Enie Handyas

Malam ini Ibukota ku dingin, En. Entah disana bagaimana cuacanya. Aku tersentak mendapati sebuah pesan berisikan kalimat untuk turut mendoakan kesembuhanmu--yang saat ini tengah terbaring di sebuah kamar bertemankan selang infus. Sempat beberapa waktu lalu kita masih berkomunikasi lewat media WhatsApp. Tangisku tumpah di kamar, En. Aku baru saja ingin beristirahat, merasa lelah beberapa hari ini kondisi sedang tidak begitu sehat. Mendengar kabarmu saat ini menyadarkanku, bahwa aku seharusnya masih bisa beraktifitas dengan memaksimalkan segala usaha. Tapi siapa sangka, kamu sudah lebih dulu menginap di sebuah rumah yang beraroma sejumlah obat-obatan. Dan kamu sudah lebih dulu kuat dengan keadaanmu. Sepupumu mengatakan, sejak dua minggu yang lalu, mulai menghentikan aktifitasmu. Enie Handyas, sejujurnya aku tidak mengenal rupa dan wujudmu. Aku berusaha mengenalimu lewat tulisan-tulisanmu yang rutin ku sambangi setiap kali aku akan mulai menulis, mengenalimu lewat pesan personal yang kita lakukan dan lewat pertemuan dunia maya yang terajut dengan hangat--melalui karya-karya dalam komunitas kepenulisan kita. Awalnya ku pikir, Enie adalah sesosok wanita yang usianya diatasku. Tapi ternyata? Kamu adik ku, iya adik. Tapi memang benar, kamu dewasa. Setidaknya dalam pandanganku, En.
Kamu tahu, En? Ingin rasanya aku terbang untuk sekedar menjengukmu saat ini. Membisikkan sebuah doa berharap kesembuhanmu dan menggenggam tanganmu untuk sekedar mengatakan ”aku mengagumi pribadimu, En. Tetaplah menjadi Enie yang kuat di setiap keadaan".
Kamu tahu, En? Ada seseorang yang tengah berusaha untuk menemuimu saat ini. Tak perlu ku beri tahu. Betapa banyak orang yang menunggumu sadar kembali, En. Terakhir kita berbicara untuk melebihkan sabar masing-masing diri, menguatkan hati dan tetap berjalan untuk sesuatu yang sedang kita perjuangkan.

Allah pasti tahu batas mampumu, Allah tahu segala harap dan rindumu yang masih tertahan.
Syafakillah Syifa'an 'aajilaan..
Semoga Allah mengangkat penyakitmu dan menjadikannya sebagai penggugur dosa-dosa.




Peluk hangat dari Jakarta yang tengah dingin selepas hujan di penghujung Januari

Senin, 25 Januari 2016

Der Winter #2

Udara Paris Van Java pagi ini angin bertiup dari arah utara melambaikan setiap nyiur yang menyambut setiap penduduk untuk beraktifitas. Sayangnya enggan untuk sekedar keluar rumah, udara lumayan sejuk selepas hujan yang mengguyur semalaman tadi.
Aleeya sudah duduk dihadapan laptopnya, di salah satu ruang ternyamannya. Kembali membuka tugasnya dan memulai hobbinya, mengirim artikel ke sebuah harian media cetak Bandung. Segelas coklat hangat menemaninya pagi itu. Matanya masih menahan kantuk sisa semalam membuat tugas untuk murid-muridnya.

"Lee, kau ada di rumah hari ini? Aku berencana akan terbang kesana sore ini"

Sebuah email kembali masuk darinya. Aleeya mengerjapkan matanya, berusaha membuka lebar-lebar kedua matanya. "Oh Keenan! Ku mohon jangan hari ini, Kee" Aleeya menghembuskan napas, kemudian terpekur di mejanya. Selang beberapa menit kemudian Aleeya membalas email darinya.

"Sudah bosankah kau disana, Kee? Alasan apa yang membuatmu ingin ke Bandung hari ini? Tidak bisakah di lain waktu? Aku sibuk saat ini. Maaf"

"Aku ingin bertemu kau, Lee. Bertemu dan bermain dengan anak didikmu". Keenan membalas dengan menyelipkan emoticon smile di akhir kalimatnya.

"Haruskah kita bertemu saat ini, Kee? Sungguh, entah mengapa aku tidak ingin bertemu denganmu saat ini". Aleeya mendongakkan kepalanya ke langit-langit kamar, mengabaikan balasan email dari Keenan. Air matanya mulai menetes perlahan.

"Bila kau tidak berkenan aku akan tetap terbang ke Bandung sore ini, Lee. Aku sudah memesan tiket penerbangan, setidaknya aku tetap bisa mengunjungi tempat itu walaupun tidak bersama denganmu. Kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran. KL.". Keenan membalasnya kembali dengan memberikan simbol pertemanan mereka sewaktu bermain di atas bukit dulu.

"Sejujurnya aku rindu dengan kebersamaan kita dulu, kebersamaan yang kini telah pudar perlahan terbunuh aktifitas kita masing-masing. Kotak kecil yang kau buat dari bambu bertuliskan KL itu kini masih ada, Kee. Berdebu, serupa dengan kisah pertemanan kita saat ini. Andai kau tidak mengambil keputusan itu, tapi aku juga tidak bisa dan tidak mungkin mencegahmu untuk tidak berangkat kesana. Aku hanya mampu menyampaikan pesanku pada Tuhan, selain melalui surel ini tentangmu--aku merindumu, Kee..". Awan kembali mendung disusul dengan rintik-rintik hujan yang mulai menciptakan embun di kaca jendelanya. Aleeya menutup jendelanya.
***

Pukul 15.45 waktu Bandung
Mendung masih bergelayut di langit Bandung, Aleeya sudah berada di atas bukit tempat bermainnya dulu bersama Keenan. Kemeja lengan panjang, jins berwarna belel dan sepatu kets navynya menemainya sore itu. Semilir angin sore mengibaskan rambut hitam panjangnya yang terurai. Duduk memandang alam dari atas bukit adalah cara Aleeya melepas rindu pada sosok yang kini tanpa sadar telah menghuni ruang pojok hatinya. Selama kurang lebih lima belas tahun mereka bersama-sama, kini jarak itu telah nyata adanya. Sekitar dua puluh menit Aleeya duduk diatas sana menghembuskan napas kerinduan, sebentar memang. Dirinya tidak ingin berlama-lama tanpa Keenan diatas sana, percuma katanya. Hanya semakin menyesakkan dada, membuat rindu itu hadir semakin jauh.
"Aku percaya Kee, bahwa kau memang akan kembali ke tempat ini. Tapi entah, siapa yang akan membersamaimu di tempat kita ini". Aleeya bergumam pada diri harus segera beranjak pergi dari tempat itu. Hujan kembali mengguyur kota Bandung.
Selang beberapa waktu kemudian pesawat Keenan mendarat di Bandara Internasional Husein Sastranegara, tepatnya pukul 15.50. Keenan bersiap menuju bukit itu, hujan yang mengguyurnya tidak menahan langkahnya. Keenan berjalan menyusuri pinggiran jalan mencari taksi untuk membawanya ke tempat kenangan itu. Setelah sepuluh menit duduk di dalam taksi, ia mengeluarkan ponselnya. Mengarah pada aplikasi emailnya yang secara sengaja dipasang sebelum keberangkatannya ke Bandung. Seraya menghembuskan napasnya dengan penuh harap dia bergumam dalam hati, "Baiklah, aku akan ke tempat itu, Lee. Tanpamu".
"Mas, bengong aja. Pasti lagi nunggu pesan balasan ya dari teman wanitanya?" Supir taksi tiba-tiba mengeluarkan suara.
"Heh, ah bapak ini bisa saja" Keenan mengernyitkan dahi, alisnya yang menyatu amat kentara ketika dirinya seperti itu.
"Ini Pak, sisanya untuk Bapak" Keenan mengeluarkan dua lembar seratus ribuan, kemudian dia berjalan menyusuri sedikit kelokan jalan menuju atas bukit. Sesampainya diatas sana, Keenan mengambil posisi duduknya. Posisi yang serupa ketika bersama Aleeya.
Keenan duduk memanjangkan kakinya, menikmati udara kota Bandung sore itu.
"Sudah lama sekali rasanya aku tidak mengunjungi tempat ini, tempat kisah pertemanan kita berawal. Aleeya Syailendra, aku rindu saat aku akan mengambil gambarmu di tempat ini, rindu membuatmu kesal karena tingkahku dulu". Keenan tersenyum kecil, memorinya sedang berusaha menghubungkan peristiwa-peristiwa penuh cerita tersebut. Matanya terpejam sejenak mengingat segala hal yang pernah dilakukannya bersama Aleeya kecil. Sesaat kemudian tersadar, ada ranting di samping tempatnya duduk. Keenan bingung, berusaha menerka namun ia tak ingin salah prasangka.
Tempat itu adalah tempat Keenan dan Aleeya semasa kecil menghabiskan hari, cukup sepi. Tak ada satupun orang yang mengetahuinya selain mereka berdua dan papa Keenan yang kini telah meninggalkannya lebih dulu. "Kau kah yang datang ke tempat ini, Lee? Tapi kapan? Bersama siapa kau ke tempat ini? Kau pernah mengatakan padaku, bahwa kau tidak berani naik ke atas bukit ini sendiri. Kau juga pernah berjanji kala itu setelah aku selesai membuatkan kotak dari bambu itu, bahwa kau tidak akan mengunjungi tempat ini tanpaku. Atau kau..." Keenan kembali diam, mencoba mencernanya. "Ah sudahlah, mungkin hanya ranting yang jatuh, bukan dirimu yang hobbi mengukir sesuatu dengan ranting ini" Keenan berusaha menenangkan dirinya.

Gerimis yang menyapanya sejak kedatangannya di bandara sore itu ternyata tak kunjung berhenti, Bandung dalam beberapa hari ini sedang diguyur hujan secara tiba-tiba. Rintikan hujan membuat Keenan sejenak merebahkan diri diatas rumput yang basah, membiarkan wajahnya terkena air langsung dari langit.
"Kau tau, Lee? Saat ini di Jerman sana sedang musim dingin, aku memutuskan untuk ke kotamu dan ternyata disini juga hujan. Mungkin berbeda dinginnya, dingin di kotamu mengantarkanku pada seberkas memori kita yang masih tertahan disini".
***

Pukul delapan malam Keenan sudah berada di salah satu penginapan, bersiap-siap merapihkan diri. Tak lama ia membuka laptopnya, mengirimkan sebuah pesan kepada Aleeya.
Aleeya sadar sebuah pesan masuk, namun diabaikannya. Ia lebih memilih menyandarkan kepala pada kursi di hadapan mejanya. Sesaat kemudian ia tersadar Keenan akan datang ke kotanya. Dibukanya kotak masuk pada emailnya.
"Lee, aku sudah sampai di kotamu sore tadi diiringi hujan yang mengguyur dengan damai. Aku berhasil mengunjungi tempat kita dulu, tak banyak berubah. Mungkin hanya ceritanya saja yang kini berubah. Lupakan. Biar ku tebak, pasti kau sedang menikmati malammu dari balik jendela. Yang ku tahu, langit malam Bandung indah"

Aleeya bingung membalasnya, jari-jarinya hanya memainkan papan ketik laptopnya yang tak menghasilkan satu kalimat pun untuknya. Dirinya kembali menyandarkan kepalanya ke kursi.
Beberapa saat kemudian keluar sebuah kalimat balasan.
"Syukurlah kau mendarat di kota ku dengan selamat. Selamat menikmati kota Bandung kembali"
Aleeya menutup laptopnya, merebahkan tubuhnya di balik selimut yang lebih hangat dari cuaca bandung saat ini.
Keenan melihat balasan surel dari Aleeya, dipikirnya akan mendapatkan balasan yang panjang, semisal cerita mengenang masa kecilnya. Tapi lagi-lagi Keenan harus berbesar hati menerima balasan Aleeya yang sedemikian singkat dan tak begitu bermakna.
"Tenang, Lee. Aku dapat pastikan kita akan bertemu kembali di lain musim, di tempat kita berawal".

Minggu, 24 Januari 2016

Autumn On You

Genap empat tahun kita tak bertemu kembali setelah kau mengambil bab keputusan penting itu. Senja kala itu membawaku pada putaran memori usang tentang kita--yang pada kenyataannya memang tak pernah memulai. Lantas bagaimana akan ku katakan bahwa itu sudah berakhir? Momiji di kedua tanganku kini telah berubah wujud, kuning hampir kecoklatan. Dulu kau katakan, momiji yang berguguran mempunyai waktu dan caranya tersendiri. Ada kalanya kapan dia harus berubah warna. Dulu kau katakan, anggap saja satu daun yang berguguran itu mewakili satu kekhawatiran kita yang luruh. Terbang bersama angin yang membawanya dengan tabah. Maka kini ku katakan, aku telah meluruhkan semua kekhawatiran yang kau sebut. Kekhawatiran yang serupa di awal, bahwa kata 'kita' memang seharusnya seperti momiji, yang berubah warna pada waktunya lalu menyaksikan daun-daun itu terbawa angin beriring jarak yang terlihat semakin menjauh dan tak pernah terdengar riuh.

Putri Adhytia
Jakarta, 16 Januari 2016

#MalamNarasi

Minggu, 17 Januari 2016

Menggenap?

Menggenap merupakan perihal bab pengambilan keputusan terbesar, banyaknya pertimbangan yang membuat diri maju mundur dalam menentukan pilihan. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, sudah siapkah mengambil sebuah langkah konkrit--dimana meleburnya dua kepala menjadi satu tujuan bermuara surgaNya? Bila belum, maka persiapkan kembali segera segalanya, perbaiki niat dan tujuan. Bila sudah siap, melangkahlah maju. Katakan pada diri, aku siap menggenap bersamanya dengan seluruh kekuatan yang ada untuk membangun sebuah peradaban kecil. Sekecil apapun sebuah keraguan maka akan membuka pintu-pintu godaan yang buruk untuk langkah kita.

Tidak kah kamu ingin menjadi dua bahkan lebih?
Tidak kah kamu ingin menyemai sebuah nilai ketulusan dari dua orang yang akan menjadi utuh?
Tidak kah kamu ingin merasakan manisnya sebuah ikatan suci yang menggemparkan arsyNya?
Tidak kah kamu ingin melihat surga kecil di rumahmu kelak?
Tidak kah? Tidak kah?

Jangan pernah lupa, jalan menujuNya juga berliku. Perjalanan dua orang yang menjadi satu tidaklah mudah, mengemudi dua hati perlu penyesuaian. Ada masanya surga menjadi terasa jauh tersebab amarah yang menyulut.