-Persembahan untuk para pengemban amanah Dakwah yang terus berjuang tanpa lelah-
Karena sayangNya padamu, Dia pilihkan jalan ini untukmu
Pernahkah kamu bertanya mengapa Allah memilihmu? Karena Allah mencintaimu
"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar" (Q.S Al-Hujurat:15)Saudaraku...
Allah menguji keikhlasan dalam kesendirian dan keramaian
Allah memberi kedewasaan ketika masalah berdatangan
Allah melatih ketegaran dalam kesakitan
Tetaplah istiqomah, sertakan Allah dalam setiap langkah
Hati yang siap memikul amanah adalah hati yang kuat, teguh dan tulus
Tak berharap apapun, tapi sanggup memberi dengan segenap apapun. Sebab hanya dari Allah berharap balasan. Jangan minta dikurangi bebanmu, tapi mintalah punggung ini agar kuat membawanya
Saudaraku...
Berjuanglah untuk kebaikan dan kebenaran sepahit dan sesulit apapun
Bersatulah dalam jamaah, sebenci dan sekecewa apapun.
Karena berjamaah lebih baik dari pada sendirian
Bangkitlah ketika jatuh dan jangan menyerah
Sampaikanlah dakwah setiap saat, agar saudaramu merasa memiliki dan dimiliki
"Jangan tinggalkan yang dibelakangmu, tunggulah dengan kesabaran dan keikhlasan" -Hasan Al-Banna-Saudaraku...
Memang tak mudah bertahan di sebuah jalan bernama dakwah ini. Maka berbahagialah, Allah masih memberi kita kesempatan untuk merasakan indahnya jalan ini. Karena pada hakikatnya, bukan dakwah yang membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan dakwah.
Lelah? Itu pasti. Bahkan para sahabat Rasul pun merasakannya, mereka bertanya "Ya Rasul kapankah kita beristirahat dari semua ini?" Jawab Rasul, "Ketika kelak kaki kita telah menapak di surgaNya"
"..... Maukah kau bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat" (Q.S 15:20)Saudaraku...
Kita patut bersyukur karena Allah memberi kita kesempatan berjuang di jalan ini. Karena kita adalah salah satu diantara orang-orang pilihannya. Tangis, tawa, semangat dan lelah, duka dan bahagia pasti kelak akan menghiasi perjalanan kita. Bulatkan tekad, kuatkan azzam diri, Semoga Allah senantiasa memberikan keistiqomahan pada kita ada di jalan ini, Jalan Cinta Para Pejuang. Sampai kelak Allah benar-benar mengizinkan kita menapaki surgaNya
"Karena dakwah adalah cinta, dan cinta akan meminta semuanya darimu. Sampai fikiranmu, sampai perhatianmu, berjalan, duduk dan tidurmu. Bahkan disaat lelapmu isi mimpimu pun tentang dakwah, tentang umat yang kau cinta. Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari. Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah. Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang. Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih tragis. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga hasrat untuk mengeluh tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik. Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya ditinggalkan, hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman. Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar