Kumandang takbir memanggilku, lebih baik tunaikan kewajiban dulu, semoga selepas asar nanti hujan reda pikirku. Separuh hati juga bergumam sendiri mengatakan hal itu, karena aku tidak rela bila hujan berakhir dengan cepat. Masih ingin menikmatinya, berlama-lama memandang butiran bening membentuk sekat tipis yang tercipta dari langit.
Selepas asar ku tengok kembali keluar ruangan, masih hujan bahkan deras. Sejenak kemudian aku melamun sambil tersenyum sendiri menggelengkan kepala membayangkan pasti sebagian besar orang-orang sedang merutuki peristiwa alamiah ini, sementara aku lebih menikmatinya sambil tilawah melanjutkan bacaanku meskipun aku beranjak ingin keluar menikmati moment matahari kembali ke peraduannya, menenggelamkan cahayanya yang mampu membuatku teramat terpikat dengan orange nya, Senja.
Ku lirik jam tangan biru yang sudah hampir rusak di pergelangan tangan kiriku, pukul setengah lima kurang lima menit dan langit diluar masih agak mendung, gerimis sendu di hari sabtu. Ku putuskan untuk merapihkan laptop dan file-file dari meja kerjaku. Aku tetap akan kesana meskipun cuaca lebih mendukung untuk merebahkan badan ini dibalik badcover, pikirku. Ku sempatkan membuka bbm memasukan sebuah personal messanger
"Seperti biasa aku akan mengobati dan melepas rindu di tepi dermaga, wait me" kuselipkan emoticon senyum bertanda loveTak lupa mengabarkan pada teman bahwa aku akan pulang. Tidak lama masuk balasan, "tunggu yaa, lagi dijalan. Kubuka papan ketik yang basah karena terkena tetesan hujan, enter a message "iya, di halte ya". Send
Lumayan lama aku menunggu, dan aku risih karena diperhatikan orang-orang yang sedang berlalu lalang. Entahlah
Cukup memakan waktu beberapa menit untuk aku pulang ke rumah mengambil helm sebelum melanjutkan perjalananku kali ini. Sepertinya akan seru karena aku menerobos hujan demi menghabiskan waktu sore ku menikmati langit jakarta di tepi dermaga.
Ku lirik jam tangan kembali di tengah perjalanan, pukul enam kurang lima belas menit dan langit jakarta sore itu sudah mulai memunculkan segaris orange yang tertutup mendung. Entah kecepatan motor kala itu berapa km/jam, yang jelas kami menerobos macetnya ujung jakarta dengan kelihaian temanku mengemudikan honda beat hitam yang biasa dibawanya untuk touring, menyelip diantara kerumunan angkot-angkot dan mobil pribadi satu persatu.
Tiba-tiba "dua orang enam puluh lima ribu" Sampailah di pelataran parkir pintu masuk, Ancol Beach. Begitulah tulisan yang tertera di plang kawasan sekitar. Ternyata disana baru turun hujan dan itupun hanya rintik-rintik. Melanjutkan perjalanan melewati dermaga-dermaga menelusuri tempat yang ingin ku nikmati senja nya. Aplikasi adzan di smartphone ku berbunyi, sepertinya lagi-lagi aku tidak bisa menikmati moment favoritku. Langit sudah berubah warna menjadi kelabu, dan memang dari awal aku sudah menebak senja kali ini berbarengan dengan moment favorit ku yang lainnya, Hujan. Adzan dan kedatanganku juga pas berbarengan, bisa apa selain memilih menemui Sang Pencipta dua moment favoritku? Nothing! Tidak ada yang lebih baik selain mendahulukan pertemuan dengan yang mencipta dibanding dengan yang dicipta.
Singgah sebentar di tempat penyedia makanan karena sudah di demo oleh penghuni perut. Pembahasan meet up kali ini lagi-lagi tentang 'jodoh'. Menarik memang, selain ilmu juga ada sekelumit cerita-cerita baru yang siap di deklarasikan di meja bersama hangatnya ayam tepung dan kentang goreng. Tapi aku sudah mulai jenuh membahas akan hal ini, ah entahlah.
Melanjutkan perjalanan di tengah gerimisnya sabtu malam kemarin, tertangkap muda-mudi yang sedang menghabiskan malamnya berdua bersama yang sebenarnya bukan kekasih mereka, entah apa yang mereka lakukan di tengah gemericiknya air memandang laut lepas yang jelas-jelas hanya menyisakan perahu kecil tanpa deburan ombak dan tanpa nelayannya, juga gelap. Orang yang jelas-jelas sudah menjadi kekasih sungguhan pun lebih memilih menikmati sabtu malam mereka dirumah sambil menonton televisi atau mungkin berselimut badcover mengistirahatkan tubuh lelah mereka di kamar ternyaman. Satu hal yang baru ku sadari, ah iya ini adalah malam dimana orang-orang 'nongkrong' tanpa arah dan tujuan yang jelas. Aku jelas mendadak merubah rencana semula yang awalnya hanya ingin menikmati senja menjadi hunting lokasi pemotretan mendadak di sekitaran pantai di pukul delapan malam.
Hujan sengaja jatuh membasahi rindu yang tabah. Kembali memandang riak air, angan-anganku sedang berusaha menyambungkan kotaku dan kotamu--menggantung jarak di dinding paling belakang rumah rindu.
Senja adalah moment dimana sang surya menenggelamkan wajahnya, kembali ke peraduan semesta siap menyambut malam. Senja adalah sebagai tanda penutup aktifitas kita menuju pembaringan istirahat untuk menyiapkan kembali tenaga kita di pagi hari. Senja adalah nadir sampai dimana sang musafir berjalan melintasi takdir. Karena senja adalah doa-doa yang terpanjat, menitip rindu berharap mampu tersampaikan meski dalam duka.
